
3
Putih
Abu-Abu
Rasa
itu mulai berkecambah dan bersemi indah. Tak peduli dengan keadaan musim yang
silih berganti. Bagi mereka yang sedang jatuh cinta, hanya ada satu musim,
yaitu musim semi.
Mendamba
yang dicinta untuk menjadi seutuhnya terkadang membuat lupa dengan keadaan yang
sedang pelik. Nanti, waktu akan menjawabnya. Apa kau pantas untuk dimiliki
seutuhnya oleh sang pujangga?
Bagaimana
jika keadaan terbalik? Takdir itu lucu, terkadang yang ditunggu-tunggu tak
kunjung temu, yang tak ditunggu malah datang tiba-tiba layaknya hantu.
Jika
ada yang bilang benci itu bisa merubah rasa menjadi cinta, apa sebabnya? Jika
benci ya benci saja, tak usah merubah rasa. Tapi mau bagaimana lagi, tak ada
yang melarangnya. Hanya yang punya rasa harus tahu cara mengahadapinya.
Di kala senja dimusim yang bahagia.. Indahnya senja disore ini
dengan langit yang jingga, awan yang menebarkan senyuman, mentari yang mulai
perlahan memalingkan wajahnya dibalik awan, burung-burung kembali
keperaduannya, suara Azan yang mulai sayup-sayup terdengar menandakan umat
Islam wajib memenuhi panggilan-Nya.
Dengan sepeda kesayangannya Aisyah terus mengayuh dengan kencang
sambil sesekali melihat mentari yang sebentar lagi tenggelam.
“Kalau bukan karena tugas sekolah aku tidak akan pulang sampai
sesore ini, huuh! benar-benar hari yang melelahkan.” Aku bergumam sendiri di
atas sepeda seakan bisa diajak berbicara.
Tapi tiba-tiba dari belakang dengan kecepatan tinggi ada motor yang
hampir saja menabrak Sena.
“Hey, Hati-hati dong kalau bawa motor liat-liat jalan ada orang disini!”
gerutuku yang ditinggal pergi begitu saja oleh pemilik motor yang hampir saja
menyelakaiku, tapi aku masih mengingat dengan jelas jenis motor apa yang
dikendarainya.
Sesampainya
di rumah aku melihat motor yang tadi hampir menabrakku.
“Assalamulaikum
... Bu, Aku puu – .“ Belum sempat aku melanjutkan bicara.
“Hey,
Ai, apa kamu masih ingat denganku?” Aku mengerutkan kening dan mencoba
mengingat kembali siapa lelaki yang sekarang ada dihadapanku. Sangat jarang
sekali orang memanggilku dengan panggilan “Ai”
“Kaa
– kaa - kamu Aris, kan? Iya kamu Kak Aris?”
“Syukurlah
kamu masih mengingatku, Ai. Kamu apa kabar?” tanya Aris yang duduk bersama ibu
di ruang tamu.
“Baik,
Kak, kamu sendiri?” Aku balik bertanya.
“Ya,
seperti yang kamu lihat sekarang.” Aris terlihat membusungkan dadanya.
“Hmmm
... jadi Kakak yang tadi lewat dan hampir saja menabrakku?” Aku ikut duduk di
depan ibu.
“Oh,
jadi itu tadi kamu? Maaf aku buru-buru ingin cepat sampai di rumahmu, kamu
tidak apa-apa kan?”
Dengan
senyum Aku menjawab “Tidak apa-apa, Kak. Oh, ya ada apa Kakak kesini, tumben?”
Aku menatap antusias Aris.
“Mulai
besok aku pindah ke sekolahmu, karena orang tuaku pindah juga ke sini, tidak
masalahkan aku satu sekolah denganmu?” Nadanya bicaranya memohon.
“Tentu
saja aku tidak keberatan Kak”. Aku jelas bahagia mendengar kabar ini
Sejak
saat itulah akumulai dekat dengan Aris, bahkan tak jarang Aris berkunjung ke
rumahku karena keluargaku dan Aris masih ada ikatan keluarga. Dan dari situlah
mulai muncul perasaan-perasaan layaknya seseorang yang sedang jatuh cinta.
Sikap
Aris terhadapku yang melebihi terhadap adiknya sendiri, mungkin karena sikap Aris
yang penuh dengan kasih sayang. Begitu juga Aris yang katakan kalau aku adalah
seorang wanita yang begitu luar biasa baginya. Tapi kami masih tetap menyimpan
perasaannya masing-masing karena mustahil jika harus menjalin hubungan dengan
saudara sendiri.
Tentu
saja aku sebagai seorang wanita tidak bisa terus memendam rasa, ini yang
membuatku tertekan merasakan rasa yang terlarang. Apalah daya kami jika setiap
hari selalu bertemu di sekolah, komunikasi yang lancar, bercengkrama, suka
dukanya hari dilewati bersama.
Sampai
di suatu senja saat aku dan Aris tengah duduk berdua di sebuah taman kecil
depan rumah, menikmati senja yang indah, semilir angin yang akan berganti
dengan angin malam.
Aris
memecah suasana tenang itu, “Ai, apa kamu tahu?” Sambil menatapku, Aris
melanjutkan kata-katanya “Aku tidak percaya kita akan sedekat ini, seingatku
dulu kau begitu polos dan manja, sampai sekarang kau tidak pernah berubah, dulu
aku menganggapmu sebagai adik kesayanganku, tapi sekarang aku ingin menganggapmu
lebih dari seorang adik.”
“Maksud,
Kakak?” Aku tidak mengerti apa yang dimaksud Aris.
“Maksudku,
aku ingin kau menjadi kekasihku, aku tahu ini tidak wajar aku rasakan tapi
jujur, aku tidak bisa memendam perasaan ini, aku ingin selalu menjagamu, Ai,
mencintaimu lebih dari seorang adik.” Mata Aris menatap serius padaku.
“Kak,
apa kamu tahu? Akupun merasakan hal yang sama sepertimu, merasa ini tidak
mungkin terjadi, tapi hatiku yang terus memaksa perasaan ini, aku juga
mencintaimu lebih dari seorang Kakak, merasa nyaman denganmu.” Anak rambutku
melayang tertiup angin, sama seperti rasaku, melayang ke awan.
Aris
merapikan rambutku, lalu mendekapku bersamaan dengan tenggelamya matahari senja
itu. “Mulai senja ini kita bangun cinta kita sampai senja tak muncul lagi,
terima kasih Ai, kau telah membalas cintaku.”
“Aku
yang seharusnya berterimakasih denganmu, telah hadir di hatiku mulai senja
ini.” Kami sama-sama tersenyum bahagia tanpa terasa beban, yang nanti akan kami
alami.
Di
masa putih abu-abu hati ini mulai bercumbu, dengan rindu yang selalu menggebu,
berontak ingin segera bertemu. Tak peduli dengan waktu yang selalu bergulir
tanpa jemu.
“Bagaimana
keadaanmu sekarang?” tanya laki-laki itu saat menjengukku.
“Baik.”
Aku menjawab singkat, mengulum senyum,.
“Nggak
usah mikir sekolah dulu. Yang penting kamu harus pulih.” sambungnya lagi,
meletakkan satu kantong plastik di dekatku. Entah apa isinya.
“Iya.”
Aku melirik pada kantong plastik yang dari luar terlihat mengembung.
“Semoga
kamu suka.” Tangannya menepuk-nepuk kantong plastik itu.
“Apa?”
tanyaku penasaran.
“Jeruk.”
Gigi rapinya berjejer saat senyum itu mengembang.
“Apa
orang yang sakit itu harus selallu dibawakan jeruk?” Aku berusaha untuk duduk,
ingin bersandar pada dinding ranjang.
“Engg
...” menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lalu sigap membantuku duduk.
“Aku
maunya es krim.” Aku sok menggelengkan kepala dengan kedua tangan terlipat di
depan dada.
“Iya,
nanti kalau kamu sudah pulih. Kita jalan-jalan dan memborong semua es krim.”
Guraunya mengundang tawa kami pecah.
Laki-laki
itu Aris. Dialah yang berbaik hati ingin mengantarku ke pukesmas saat musibah
kecelakaan itu menimpaku. Dia selalu datang menjengguku. Dulu, rupanya kami
satu sekolah. Namun aku tak mengenalnya karena berbeda ruang kelas.
Aku sampai,
terlihat ibu, ayah dan kakak menunggu di depan rumah. Pastilah mereka
harap-harap cemas saat jam pulang aku belum juga pulang. Apa lagi wajah ibu
terlihat amat sedih saat aku turun dari boncengan motor, dipapah orang yang
mengantarku. Ayah dan kakak degera turun tangan mengambil alih memapahku masuk
rumah.
Orang-orang
yang tak sengaja lewat, para tetangga datang berbondong-bondong ke rumah
melihat keadaanku. Tentu mereka penasaran apa yang terjadi dan apa yang
menyebabkan terjadi. Seseorang juga terlihat membawa tukang urut, takut
kalau-kalau ada yang patah di tubuhku, terutama bagian kaki.
“Ya
Allah, Nduk. Kamu kenapa? apa yang terjadi?” Ibu meraung-raung terpuruk melihat
keadaanku.
“Siapa
yang menabrakmu, Nduk?” Ayah ganti bertanya, wajahnya geram. Putri bungsunya
harus mengalami seperti ini.
Kakakku
sibuk mengambil kasur lantai dan bantal. Membaringkan tubuhku dengan hati-hati.
Aku hanya meringis, mengaduh, menggelen, tersenyum tipis saat ditanya-tanya. Sungguh
mulutku kelu, tak tahu apa yang ingin dijelaskan. Aku juga menangis,
berteriak-teriak saat tukang urut itu memijat kakiku. Luar biasa sakitnya. Bukan
dengan cara halus malah ditarik-tarik, pijatannya pun tak lembut membuat ngilu
seluruh tubuh.
Akhirnya
ibu menyuruh tukang urut itu berhenti dengan aktifitasnya. Tak tega melihatku
terus menangis merasakan sakit. Beberapa menit kemudian, aku sudah tenang. Sakit
itu masih berdenyut-denyut di kakiku, terutama bagian lutut. Ternyata tempurung
lututku bergeser naik ke atas, bengkak. Tak bisa sama sekali ditekuk.
Tangan
kananku lecet-lecet, telapak tangan terdapat baret-baret dan siku juga ada luka
memar. Sedangkan tangan kiri dan kaki kananku baik-baik saja tak ada lecet,
luka atau pun memar. Entah bagaimana posisi tubuhku saat tertabrak itu.
Menurut
saksi mata, tubuhku terpental tinggi, sepatuku terlepas sebelah kiri. Baju dan
rokku robek tergores aspal, hanya tasku yang masih tersandang dipunggung, hand bag-ku juga terlepas dari tangan. Mereka
juga bilang kalau yang menabarakku adalah seorang perempuan masih sekolah
menengah.
Sejak
kejadian itu aku izin tak masuk sekolah selama seminggu. Mengingat ujian
kelulusan semakin dekat, aku tetap memaksa sekolah dan ikut les. Meski jalanku masih
terseok-seok, aku tetap semangat menjalani aktifitas. Lututku sudah kembali
normal berkat Pamanku yang juga bisa mengurut dengan baik. Pada akhirnya pergi
dan pulang sekolah aku selalu diantar jemput. Sepedaku? aku tak mau lagi mengayuhnya.
Truma. Aris yang membawa sepedaku pulang, dia juga yang selalu menjenggukku
saat-saat masa pemulihan kakiku.
Dan sekarang
masa putih abu-abu aku lalui dengan Aris. Berjuang bersama, saling menyemangati
agar bisa lulus dengan nilai terbaik.
Cinta
putih abu-abu, membuat semangat menggebu, walau perpisahan menunggu, hanya
takdir yang bisa membuat kembali bertemu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar