16
Lelaki Berwajah Teduh
“Eh, kalian
ngomongin apa sih tadi? Serius banget,” tanya Nova, rekan kerja sekaligus
sahabat aku dan Rifa.
“Kepo, ya?” ujarku, menyikut lengannya.
“Ada yang
mau melamar Aisyah, Va,” ucap Rifa membuat bola mata Nova membulat.
“Serius,
Syah? Kok nggak cerita-cerita,” sunggutnya sambil menguncang-guncang tubuhku.
“Tapi....”
“Tapi apa?”
Aku sengaja menggantung kata-kataku. Membuat penasaran Nova.
“Nanti saja
ceritanya. Kita shalat Asar dulu. Anak-anak sudah ke masjid.” Aku beranjak dari
duduk di susul Rifa.
Kami berdua
berjalan menuju masjid dekat sekolah untuk menunaikan ibadah shalat. Sedang
Nova, dia masih tertinggal di belakang kami. Bersunggut-sunggut kesal karena
pertanyaannya belum mendapat jawaban.
Para murid
berbaris rapi di depan keran air untuk mengambil wudu. Kumandan azan terdengar
merdu dari salah satu murid yang kebagian piket untuk azan sore itu.
Usai
memunaikan shalat para murid kembali ke sekolah. Bergerombol menyusuri jalan,
sesekali diselingi tawa dan gurauan. Pelajaran terakhir yaitu mengaji iqra’
atau pun Al-Quran. Mereka tertib setiap kelas menunggu antrian untuk mendapat
giliran mengaji.
Tak terasa bel tanda pulang berbunyi. Para
murid membereskan peralatan belajar dan mengajinya. Menaikkan kursi
masing-masing ke atas meja, menutup horden dan memasukkan buku pelajaran ke
lemari bagi yang piket kelas.
“Terus gimana kelanjutan cerita tadi?” Sekolah sudah
sepi, hanya menyisakan kami bertiga yang masih betah duduk-duduk di teras. Nova
masih saja ingin tahu ceritaku tadi siang bersama Rifa.
“Batal,”
sahutku pendek.
“Maksudnya?”
tanya Nova dengan kening berkerut.
“Jadi gini.
Beberapa minggu yang lalu, aku ngasih Cv taaruf ke Aisyah. Itu dari sepupuku.
Waktu dia mau ke rumah Aisyah tiba-tiba dibatalkan.” Akhirnya Rifa yang
menjelaskan pada Nova.
“Kenapa
dibatalkan?” tanya Nova, masih penasaran.
“Dia
dijodohin sama orang tuanya,” jawabku.
“Mmm ... aku
turut sedih ya, Syah.” Nova merangkul bahuku, Rifa juga mengikuti.
“Aku sudah
iklhas, kok. Mungkin belum jodoh.” Aku tersenyum memandang mereka.
“Aku juga
udah sering gitu, nemenin dari mulai dia belum kerja, sampai udah dapat kerja
terus dia sukses dengan pekerjaannya. Tapi ujung-ujungnya apa? Perempuan lain
yang dinikahi dia.” Cerita Nova yang tiba-tiba tanpa diminta.
“Aku ‘kan
udah bilang, jangan pacaran lagi,” celetuk Rifa disebelahnya.
“Aku nggak
pacaran, Fa,” sanggah Nova dengan wajah yang serius.
“Tapi chattingan, teleponan?” sambung Rifa
lagi.
“Hayo?”
tanyaku melihat Nova cengar-cengir.
“Nah itu
yang merusak hati. Kamu sendiri yang mengaharap dia. Sedang dia mungkin saja
nggak.”
“Iya, aku
menyesal sekarang,” keluh Nova, menunduk menatap lantai.
“Masa lalu
nggak usah diingat-ingat terus. Kita harus bangkit dari segala hal yang membuat
sedih,” ucapku menenagkan Nova.
“Ya sudah.
Ayo pulang,” ajak Rifa kemudian.
Nova melirik
jam di tangan, “Pukul lima,” ucapnya.
“Ayo.” Aku
berdiri melangkah ke tempat parkiran.
“Akhir bulan
kita ke panti asuhan, mau nggak?” usul Rifa.
“Boleh,
gimana kamu, Va?” tanyaku pada Nova.
“Aku juga
mau,” sahutnya.
“Baik, nanti
aku kabari lagi.” Rifa sudah menstater motornya.
Sampai rumah
terlihat motor terparkir di halaman. Sudah bisa kutebak siapa pemiliknya. Tapi tumben
sekali ke rumah tidak mengirimiku pesan terlebih dahulu.
“Assalamualaikum
...,” ucapku saat masuk rumah.
“Waalaikumsalam
...,” jawab ibu dan Sari, sepupuku.
“Eh, tumben
ke sini nggak bilang-bilang dulu,” tanyaku melihat Sari sedang duduk bersama
ibu di ruang tamu.
“Kejutan!”
serunya, merentangkan kedua tangan.
“Aku nggak
kaget kamu ke sini, ‘kan udah biasa,” balasku diselingi tawa.
“Ya sudah,
Ibu tinggal ke dapur dulu.” Ibu yang melihat tingkah kami tak ingin mengusik,
melanjutkan kegiatannya di dapur.
“Terus ada
perlu apa kamu ke sini?” lanjutku, duduk di seberangnya.
“Mau pinjam
jilbab,” pinta Sari sambil nyengir menampakkan gigi rapinya.
“Warna apa?”
“Hitam,
belum kamu pake, ‘kan?”
“Memang buat
apa?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.
“Buat Utbk,”
jawab Sari mengikutiku masuk kamar.
“Oh, kapan
ujiannya? Semoga lulus ya,” ucapku, menyerahkan jilbab padanya.
“Seminggu
lagi. Aamiin. Terima kasih,” balasnya dengan senyum.
Seperti biasa,
pertemuan kami berlanjut dengan obrolan. Tak terasa waktu beranjak semakin
sore. Setelah Sari pulang, aku menyegarkan tubuh dengan mandi. Hilangkan semua
penat yang menumpuk seharian ini.
Waktu yang
kami tunggu sudah di depan mata. Rencana ke panti asuhan telah disepakati
bersama. Semua barang yang akan kami bawa pun telah siap dikemas. Ada pakaian
bekas tapi masih layak pakai, jilbab, buku-buku; cerita, pelajaran dan tak
lupa, kami juga meyiapkan makanan ringan untuk adikpadik panti.
Semua itu
sumbangan dari masing-masig kami. Dengan tujuan membantu pemenuhan kebutuhan adik-adik
panti. Dan panti asuhan yang akan kami kunjungi ini adalah panti yang sama saat
aku dan Rifa bertemu.
Pukul 09.00,
kami sudah siap berangkat. Mengendarai motor, aku yang berboncengan dengan Rifa
sedang Nova dengan Sari. Sari kuajak ikut serta juga, dengan senang hati pula
dia mau menerima ajakanku.
Kurang lebih
satu jam perjalanan, kami sampai ke tempat yang dituju. Panti asuhan yang asri
ini tak pernah sepi dari pengunjung. Ada saja para donatur yang memberi
santunan, atau bagi calon orang tua yang ingin mengadopsi anak.
Bangunan panti
memiliki dua lantai. Lantai bawah untuk kantor dan ruang pertemuan serta
kantin. Dan lantai atas tempat para penghuni panti tidur. Di depan halaman
panti terdapat taman yang tertata rapi, juga arena bermain anak. Di sebelah kanan
gedung panti, terdapat juga mushala, sedang lapangan bola terletak di belakang
gedung.
Fasilitas yang
memadai, membuat nyaman penghuni maupun pengunjung. Para pengasuh yang juga
ramah, menyapa pengunjung dan telaten mengasuh adik-adik panti. Sisa usia
mereka diabdikan untuk melindungi mereka.
Aku terpisah
dari Rifa, Nova dan Sari. Mereka tadi langsung masuk ke ruang pertemuan. Aku sendiri
menuju mushala untuk sekadar membasuh wajah di toilet.
Samar-samar
terdengar olehku dari dalam mushala suara orang mengaji. Lantunan ayat yang
dibaca menyejukkan hati. Aku menajamkan pendengaran, melihat ke arah dalam
mushala. Terlihat di sana seorang lelaki tengah duduk menghadap kiblat dengan
mushab Al-Quran di tangannya.
Tak bisa
kulihat jelas siapa lelaki itu, karena posisinya membelakangiku. Tapi lantunan
ayat-ayat yang dibacanya sukses membuatku terdiam, mematung seorang diri,
menatap punggungnya.
Namun beberapa
menit kemudian, dering ponsel yang cukup keras volumenya membuyarkan
pandanganku. Sukses juga membuat lelaki itu terkejut dan mengarahkan pandang
padaku yang berdiri di ambang pintu.
Sontak aku
kaget, segera mengambil ponsel dalam tas. Dengan setengah berlari aku menjauh
dari tempat itu dan menjawab panggilan di seberang sana. Sempat juga sebelum
beranjak tadi kulihat wajah lelaki itu. Lelaki yang berwajah teduh.