Minggu, 11 Oktober 2020

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta?

Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama.

Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung sendiri untuk menjawabnya. Terutama untuk kamu yang sedang jatuh cinta. Benar kata orang, jatuh cinta itu membuat lupa segalanya. Dan salah satu orang yang susah dinasihati adalah orang yang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta itu fitrah bagi setiap manusia. Hanya saja perlu berhati-hati dalam menyikapi rasa. Tanya pada diri dan hati. Apa benar ini yang dinamakan cinta? Atau hanya nafsu semata?

 

Tidak sedikit orang yang jatuh cinta berakhir kecewa, patah hati, trauma bahkan putus harapan. Tidak sedikit juga orang yang jatuh cinta berakhir bahagia. Semua itu takdir dari Tuhan. Dia menunjukkan yang buruk dan baik untuk kita.

 

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah menginspirasi serta memotivasi saya menulis. Buku ini saya persembahkan untuk mereka yang abadi dalam tulisan saya. Entah itu yang nyata ataupun yang maya. Cerita dalam novel saya itu mengandung kenangan dan harapan.  Perjuangan melawan trauma serta keikhlasan karena kehilangan. Perjalanan hidup yang penuh jatuh bangun. Tapi percayalah, hatimu tidak akan sekuat ini jika sebelumnya pernah patah. Jadikan semua masa lalu sebagai pelajaran hidup.

 

Sedikit saya bercerita tentang perjalanan tulisan saya sampai menjadi sebuah buku novel. Kurang lebih setahun yang lalu, niat saya sudah kuat ingin menjadi penulis. Sampai saya bilang ke ibu saya begini “Mak, Ayu pengen jadi penulis.”  Mulai saat itu, mudah sekali rasanya saya mendapat pelatihan menulis. Apa lagi dulu saya bergabung dengan ODOP, di sana pula saya mulai konsisten untuk menulis setiap hati. Sampai saya kenal dengan Mbak Hiday, diajak gabung NAC. Alhamdulillah, lahirlah buku novel saya. Hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan mereka yang memudahkan saya untuk belajar menulis.

 

Kenapa saya memilih juduh ‘Kenapa Jatuh Cinta?

Karena itu pilihan terakhir setelah benar-benar buntu apa judul buku saya nanti.

Untuk para tokoh, saya bocorkan sedikit. Antara lain:

Shabira, Alif, Ahmad, Zukri, Akhdan, Shifwa, Ervani, Sary, Ruth, Winna, Aini dan terakhir Habibi.

Semua ada artinya masing-masing. Karena bagi saya pribadi, untuk menulis cerita, nama tokoh sangat penting kaitannya dengan isi cerita. Dan mereka tokoh penting dalam cerita. Jelas ada beberapa tokoh pembantu juga (kakek, ayah, ibu, kakak, dll).

 

Terakhir...

Cinta sejati itu tidak butuh alasan, meski yang dicinta cacat sekali pun.

“Fisikku tak sesempurna yang kamu lihat, ada cerita di balik semua itu.”

“Aku menulis sebagai tanda bahwa aku pernah hidup.”

“Mari bercerita pada dunia!”

 

 

 

Minggu, 12 Juli 2020

The Perfect Muslimah

The Perfect Muslimah. Indah akhlaknya, teduh parasnya, brilian otaknya, mantap ilmu agamanya, luas pergaulannya, dahsyat prestasinya, hebat kontribusinya. Auranya terjaga, pergaulannya terjaga, perilakunya terjaga. Matanya berkilau oleh air mata takwa, bibirnya basah dengan untaian petuah, rambutnya tertutup oleh juluran jilbabnya. Bicaranya dakwah, pendengarannya tilawah, geraknya jihad fii sabilillah. Hatinya penuh zikir, otaknya penuh pikir, dipercantik oleh jaganya lahir. The Perfect Muslimah. Kaulah gemintang yang menghias langit yang pekat. Kaulah rembulan yang cahayanya teduh tak memanaskan. Kaulah bidadari bumi yang kelak jadi bidadari tercantik di surga.

Judul: The perfect muslimah
Penulis: Ahmad rifa'i rif'an
Penerbit: PT. Elex media komputindo
Dimensi: xxx + 291 hlm, cetakan ketiga april 2013
ISBN: 978 602 02 0092 7


The Perfect Muslimah
Buku ini terbagi menjadi 6 (enam) bagian yang setiap bagian berisi ragam kisah yang sangat menginspirasi bagi saya pribadi  atau bagi pembaca lainnya.


BAGIAN 1 BRILIAN OTAKNYA
Cerdas akalnya. Ia terus mengasah akalnya hingga kecerdasanlah yang justru meminta untuk dilekatkan di otaknya. Wawasannya luas, ide-idenya brilian, cara berpikirnya logis, imaginasinya hebat, daya ingatnya kuat. Ia menjadi pribadi yang cerdas akalnya dan tinggi intelektualitasnya.
(The Perfect Muslimah-Prolog hal.xxii)
Kisah inspiratif tentang seorang mahasiswi yang otaknya makin brilian saat ia memutuskan untuk menjadi hafidzah (penghafal Qur'an). Ada juga bahasan tentang Menjadi Muslimah Prestatif serta beragam kisah motivasi tentang muslimah yang mempunyai otak brilian

BAGIAN 2 SUCI CINTANYA
Dalam bagian ini berisi beragam kisah tentang muslimah yang menjaga kesucian cintanya, bagaimana seorang muslimah bersikap menghadapi cinta sebelum halal baginya.
Menanti jodoh, rezeki, kematian, bukan dengan diam pasrah menunggu. Nantilah dengan berperilaku yang baik, berprasangka yang baik, dan memohon yang baik. Tuhan hanya menjodohkan manusia dengan orang yang tepat baginya.
(The Perfect Muslimah hal.67)

BAGIAN 3 LUAS PENGARUHNYA
Luas pergaulannya. Dia bukan pribadi yang nyaman dengan kesendiria. Dia bukan individualis. Dia orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Dia grapyak dengan siapapun. Teman-temanya bertebaran dimana-mana. Hampir semua orang ingin menjadi sahabatnya. Karena ia memiliki sifat-sifat indah. Sehingga saat ada orang yang mengenalnya, pasti akan bilang, "Dia sahabat baikku." 
(The Perfect Muslmimah-Prolog hal.xxiii) 
Pada bagian ketiga ini ada kisah inspiratif muslimah yang bingung antara karier yang cerah atau menjadi ibu rumah tangga yang hebat.
Ada sekelompok orang yang merelakan hidupnya hanya terabai dalam lembar sejarah, tapi ada pula yang menoreh prestasi dan kontribusi besar sehingga dunia merasakan kemanfaatannya. Ada yang hidupnya hanya numpang lewat, ada pula yang berlomba-lomba menebar manfaat.
(The Perfect Muslimah hal. 145)

BAGIAN 4 INDAH AKHLAKNYA
Indah akhlaknya. Tak ada sekata pun dari lisannya yang menyakiti sesama. Tak ada sekelebat pandangan pun mengarah pada yang tak dihalalkan. tak ada seucap yang didengarnya yang mengandung kerusakan. Tak ada seucap kata pun yang mengandung kedustaan. Ia sangat dicintai oleh sekitarnya. Ia mampu menjaga raga dan jiwanya dari tindakan yang tak diridhai oleh Tuhannya. 
(The Perfect Muslimah-Prolog hal. xxii)

BAGIAN 5 TEDUH PARASNYA
Parasnya indah, bukan karena kosmetik tebal yang menutupi naturalnya wajah. Bukan karena perawatan mahal yang membuat wajahnya indah. Tapi karena aura kesalehan memancar dari dalam. Kita biasa menyebutnya inner beauty. Kecantikan yang hadir dalam diri. Wajahnya cerah karena wudhu senantiasa membasahi wajahnya. Matanya indah karena tak pernah menyaksikan yang dilarang Tuhan. Bibirnya indah karena tak pernah mengucap kata-kata yang menyakitkan. Raganya indah karena tak pernah terlihat auratnya di hadapan bukan mahramnya. Jilbabnya menjulur hingga menutup dadanya. Busananya sederhana namun enak dipandang mata. Parasnya teduh bikin hati jadi adem. 
(The Perfect Muslimah-Prolog hal. xxiii)
Dalam bagian ini benar-benar menarik terutama bagi saya sebagai seorang perempuan. Setiap wanita pasti menginginkan sanjung dan puja akan kecantikannya bahkan kemolekan tubuhnya. Namun dalam bab ini kita kan mengambil pelajaran atau hikmah bahwa kecantikan fisik bukanlah segala-galanya, ia relatif. Keindahan jiwa dan mulianya hati lah yang akan terpancar menjadi pesona bagi orang yang memandangnya itulah cantikanya seorang muslimah.
Nafsu menilai berdasarkan cantik paras dan seksi tubuhnya. Akal menilai berdasarkan brilian otak dan lincah tingkahnya. Hati menilai berdasarkan indah akhlak dan ilmu agamanya. Turuti ketiganya jika mampu. Jika terpaksa harus memilih, maka utamakan hatimu. Karena ia yang akan menjanjika kebahagiaan yang hakiki. Dan abadi.
(The Perfect Muslimah hal 220)

BAGIAN 6 TEGUH IMANNYA
Keyakinannya pada kebenaran agama yang diyakininya sama sekali tak diragukan. Itu yang membuatnya tak enggan mengabdikan diri di jalan kebaikan. Asalkan untuk kepentingan agama, ia tak pernah ragu untuk tampil pertama. 
(The Perfect Muslimah-Prolog hal xxii)
Salah satu kisah pada bagian keenam ini bahkan digambarkan Bidadari Cemburu Padamu, pada sosok muslimah yang teguh imannya. Mempunyai prinsip yang tidak mudah digoyahkan.
Saudariku, kau punya peluang menjadi manusia yang bahkan lebih hebat  dan lebih mulia ketimbang bidadari surga. Bukan karena indah paras dan jelita wajahmu, tapi karena shalatmu, puasamu, serta ibadah-ibadahmu kepada Allah. Caramu membuat bidadari cemburu adalah dengan mengabdikan sisa hidupmu sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hanya itu.
(The Perfect Muslimah hal. 252) 
Buku yang pas untuk para muslimah yang ingin menata dan memperbaiki kehidupannya; move up menjadi lebih baik sesuai koridor dan tuntunan Islam.
Penulis berkata bahwa 'Perfect Muslimah' tetaplah manusia biasa yg tak luput dari dosa. Hanya saja kebaikan dan kelebihannya yg terlampau besar seolah 'menelan' kesalahan-kesalahan kecil yang pernah dilakukannya. Maka buku ini bukan mendikte kita untuk menjadi muslimah yang sempurna tanpa cela. Buku ini membimbing dan memotivasi para muslimah agar berjuang memaksimalkan seluruh kemampuannya, untuk memberikan yg terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Sehingga kebaikan yang diasah terus-menerus itu akan membuat sosok seorang muslimah menjadi, atau paling tidak mendekati sempurna di mata Allah dan manusia.

Sabtu, 11 Juli 2020

Menjamah Rasa



Aku suka hujan
Apa lagi jika hujan turun kita sedang duduk berdua
Menikmati butir demi butir air yang membasahi bumi
Sejuk, begitulah rasaku saat bersamamu
Dingin, tapi tetap hangat dalam dekapanmu
Bau basah sisa hujan pun aku suka
Sama seperti bau badanmu yang tertinggal setelah melambaikan tangan padaku
Aku tetap suka
Jangan tanya kenapa aku menyukai hujan
Itu sama sulitnya saat kau bertanya, kenapa aku suka padamu
Aku tak bisa menjawab
Kubilang, biar seperti air hujan yang mengalir bebas, meresap kedalam tanah dan menyuburkan tanaman
Apa kau tahu kenapa hujan turun?
Karena Tuhan yang mau
Ah, tepat sekali
Begitulah aku
Rasaku hadir karena Tuhan menghadirkan
Jika hujan telah reda dan usai, apa rasaku juga sama?
Tidak!
Rasaku tetap seperti hujan yang turun
Mengalirkan kenangan-kenangan yang jatuh ke dasar hati
Meski menjadi beku
Tak akan bisa sehangat dulu
Karena kau hanya menjamah rasaku
Bukan untuk menetap menjadi milikku

Minggu, 19 April 2020

Tulang Rusuk yang Patah


16
Lelaki Berwajah Teduh

“Eh, kalian ngomongin apa sih tadi? Serius banget,” tanya Nova, rekan kerja sekaligus sahabat aku dan Rifa.

Kepo, ya?” ujarku, menyikut lengannya.

“Ada yang mau melamar Aisyah, Va,” ucap Rifa membuat bola mata Nova membulat.

“Serius, Syah? Kok nggak cerita-cerita,” sunggutnya sambil menguncang-guncang tubuhku.

“Tapi....”

“Tapi apa?” Aku sengaja menggantung kata-kataku. Membuat penasaran Nova.

“Nanti saja ceritanya. Kita shalat Asar dulu. Anak-anak sudah ke masjid.” Aku beranjak dari duduk di susul Rifa.

Kami berdua berjalan menuju masjid dekat sekolah untuk menunaikan ibadah shalat. Sedang Nova, dia masih tertinggal di belakang kami. Bersunggut-sunggut kesal karena pertanyaannya belum mendapat jawaban.

Para murid berbaris rapi di depan keran air untuk mengambil wudu. Kumandan azan terdengar merdu dari salah satu murid yang kebagian piket untuk azan sore itu.

Usai memunaikan shalat para murid kembali ke sekolah. Bergerombol menyusuri jalan, sesekali diselingi tawa dan gurauan. Pelajaran terakhir yaitu mengaji iqra’ atau pun Al-Quran. Mereka tertib setiap kelas menunggu antrian untuk mendapat giliran mengaji.

Tak terasa bel tanda pulang berbunyi. Para murid membereskan peralatan belajar dan mengajinya. Menaikkan kursi masing-masing ke atas meja, menutup horden dan memasukkan buku pelajaran ke lemari bagi yang piket kelas.

“Terus gimana kelanjutan cerita tadi?” Sekolah sudah sepi, hanya menyisakan kami bertiga yang masih betah duduk-duduk di teras. Nova masih saja ingin tahu ceritaku tadi siang bersama Rifa.

“Batal,” sahutku pendek.

“Maksudnya?” tanya Nova dengan kening berkerut.

“Jadi gini. Beberapa minggu yang lalu, aku ngasih Cv taaruf ke Aisyah. Itu dari sepupuku. Waktu dia mau ke rumah Aisyah tiba-tiba dibatalkan.” Akhirnya Rifa yang menjelaskan pada Nova.

“Kenapa dibatalkan?” tanya Nova, masih penasaran.

“Dia dijodohin sama orang tuanya,” jawabku.

“Mmm ... aku turut sedih ya, Syah.” Nova merangkul bahuku, Rifa juga mengikuti.

“Aku sudah iklhas, kok. Mungkin belum jodoh.” Aku tersenyum memandang mereka.

“Aku juga udah sering gitu, nemenin dari mulai dia belum kerja, sampai udah dapat kerja terus dia sukses dengan pekerjaannya. Tapi ujung-ujungnya apa? Perempuan lain yang dinikahi dia.” Cerita Nova yang tiba-tiba tanpa diminta.

“Aku ‘kan udah bilang, jangan pacaran lagi,” celetuk Rifa disebelahnya.

“Aku nggak pacaran, Fa,” sanggah Nova dengan wajah yang serius.

“Tapi chattingan, teleponan?” sambung Rifa lagi.

“Hayo?” tanyaku melihat Nova cengar-cengir.

“Nah itu yang merusak hati. Kamu sendiri yang mengaharap dia. Sedang dia mungkin saja nggak.”

“Iya, aku menyesal sekarang,” keluh Nova, menunduk menatap lantai.

“Masa lalu nggak usah diingat-ingat terus. Kita harus bangkit dari segala hal yang membuat sedih,” ucapku menenagkan Nova.

“Ya sudah. Ayo pulang,” ajak Rifa kemudian.

Nova melirik jam di tangan, “Pukul lima,” ucapnya.

“Ayo.” Aku berdiri melangkah ke tempat parkiran.

“Akhir bulan kita ke panti asuhan, mau nggak?” usul Rifa.

“Boleh, gimana kamu, Va?” tanyaku pada Nova.

“Aku juga mau,” sahutnya.

“Baik, nanti aku kabari lagi.” Rifa sudah menstater motornya.

Sampai rumah terlihat motor terparkir di halaman. Sudah bisa kutebak siapa pemiliknya. Tapi tumben sekali ke rumah tidak mengirimiku pesan terlebih dahulu.

“Assalamualaikum ...,” ucapku saat masuk rumah.

“Waalaikumsalam ...,” jawab ibu dan Sari, sepupuku.

“Eh, tumben ke sini nggak bilang-bilang dulu,” tanyaku melihat Sari sedang duduk bersama ibu di ruang tamu.

“Kejutan!” serunya, merentangkan kedua tangan.

“Aku nggak kaget kamu ke sini, ‘kan udah biasa,” balasku diselingi tawa.

“Ya sudah, Ibu tinggal ke dapur dulu.” Ibu yang melihat tingkah kami tak ingin mengusik, melanjutkan kegiatannya di dapur.

“Terus ada perlu apa kamu ke sini?” lanjutku, duduk di seberangnya.

“Mau pinjam jilbab,” pinta Sari sambil nyengir menampakkan gigi rapinya.

“Warna apa?”

“Hitam, belum kamu pake, ‘kan?”

“Memang buat apa?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

“Buat Utbk,” jawab Sari mengikutiku masuk kamar.

“Oh, kapan ujiannya? Semoga lulus ya,” ucapku, menyerahkan jilbab padanya.

“Seminggu lagi. Aamiin. Terima kasih,” balasnya dengan senyum.

Seperti biasa, pertemuan kami berlanjut dengan obrolan. Tak terasa waktu beranjak semakin sore. Setelah Sari pulang, aku menyegarkan tubuh dengan mandi. Hilangkan semua penat yang menumpuk seharian ini.

Waktu yang kami tunggu sudah di depan mata. Rencana ke panti asuhan telah disepakati bersama. Semua barang yang akan kami bawa pun telah siap dikemas. Ada pakaian bekas tapi masih layak pakai, jilbab, buku-buku; cerita, pelajaran dan tak lupa, kami juga meyiapkan makanan ringan untuk adikpadik panti.

Semua itu sumbangan dari masing-masig kami. Dengan tujuan membantu pemenuhan kebutuhan adik-adik panti. Dan panti asuhan yang akan kami kunjungi ini adalah panti yang sama saat aku dan Rifa bertemu.

Pukul 09.00, kami sudah siap berangkat. Mengendarai motor, aku yang berboncengan dengan Rifa sedang Nova dengan Sari. Sari kuajak ikut serta juga, dengan senang hati pula dia mau menerima ajakanku.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kami sampai ke tempat yang dituju. Panti asuhan yang asri ini tak pernah sepi dari pengunjung. Ada saja para donatur yang memberi santunan, atau bagi calon orang tua yang ingin mengadopsi anak.

Bangunan panti memiliki dua lantai. Lantai bawah untuk kantor dan ruang pertemuan serta kantin. Dan lantai atas tempat para penghuni panti tidur. Di depan halaman panti terdapat taman yang tertata rapi, juga arena bermain anak. Di sebelah kanan gedung panti, terdapat juga mushala, sedang lapangan bola terletak di belakang gedung.

Fasilitas yang memadai, membuat nyaman penghuni maupun pengunjung. Para pengasuh yang juga ramah, menyapa pengunjung dan telaten mengasuh adik-adik panti. Sisa usia mereka diabdikan untuk melindungi mereka.

Aku terpisah dari Rifa, Nova dan Sari. Mereka tadi langsung masuk ke ruang pertemuan. Aku sendiri menuju mushala untuk sekadar membasuh wajah di toilet.

Samar-samar terdengar olehku dari dalam mushala suara orang mengaji. Lantunan ayat yang dibaca menyejukkan hati. Aku menajamkan pendengaran, melihat ke arah dalam mushala. Terlihat di sana seorang lelaki tengah duduk menghadap kiblat dengan mushab Al-Quran di tangannya.

Tak bisa kulihat jelas siapa lelaki itu, karena posisinya membelakangiku. Tapi lantunan ayat-ayat yang dibacanya sukses membuatku terdiam, mematung seorang diri, menatap punggungnya.

Namun beberapa menit kemudian, dering ponsel yang cukup keras volumenya membuyarkan pandanganku. Sukses juga membuat lelaki itu terkejut dan mengarahkan pandang padaku yang berdiri di ambang pintu.

Sontak aku kaget, segera mengambil ponsel dalam tas. Dengan setengah berlari aku menjauh dari tempat itu dan menjawab panggilan di seberang sana. Sempat juga sebelum beranjak tadi kulihat wajah lelaki itu. Lelaki yang berwajah teduh.

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...