Minggu, 19 April 2020

Tulang Rusuk yang Patah


16
Lelaki Berwajah Teduh

“Eh, kalian ngomongin apa sih tadi? Serius banget,” tanya Nova, rekan kerja sekaligus sahabat aku dan Rifa.

Kepo, ya?” ujarku, menyikut lengannya.

“Ada yang mau melamar Aisyah, Va,” ucap Rifa membuat bola mata Nova membulat.

“Serius, Syah? Kok nggak cerita-cerita,” sunggutnya sambil menguncang-guncang tubuhku.

“Tapi....”

“Tapi apa?” Aku sengaja menggantung kata-kataku. Membuat penasaran Nova.

“Nanti saja ceritanya. Kita shalat Asar dulu. Anak-anak sudah ke masjid.” Aku beranjak dari duduk di susul Rifa.

Kami berdua berjalan menuju masjid dekat sekolah untuk menunaikan ibadah shalat. Sedang Nova, dia masih tertinggal di belakang kami. Bersunggut-sunggut kesal karena pertanyaannya belum mendapat jawaban.

Para murid berbaris rapi di depan keran air untuk mengambil wudu. Kumandan azan terdengar merdu dari salah satu murid yang kebagian piket untuk azan sore itu.

Usai memunaikan shalat para murid kembali ke sekolah. Bergerombol menyusuri jalan, sesekali diselingi tawa dan gurauan. Pelajaran terakhir yaitu mengaji iqra’ atau pun Al-Quran. Mereka tertib setiap kelas menunggu antrian untuk mendapat giliran mengaji.

Tak terasa bel tanda pulang berbunyi. Para murid membereskan peralatan belajar dan mengajinya. Menaikkan kursi masing-masing ke atas meja, menutup horden dan memasukkan buku pelajaran ke lemari bagi yang piket kelas.

“Terus gimana kelanjutan cerita tadi?” Sekolah sudah sepi, hanya menyisakan kami bertiga yang masih betah duduk-duduk di teras. Nova masih saja ingin tahu ceritaku tadi siang bersama Rifa.

“Batal,” sahutku pendek.

“Maksudnya?” tanya Nova dengan kening berkerut.

“Jadi gini. Beberapa minggu yang lalu, aku ngasih Cv taaruf ke Aisyah. Itu dari sepupuku. Waktu dia mau ke rumah Aisyah tiba-tiba dibatalkan.” Akhirnya Rifa yang menjelaskan pada Nova.

“Kenapa dibatalkan?” tanya Nova, masih penasaran.

“Dia dijodohin sama orang tuanya,” jawabku.

“Mmm ... aku turut sedih ya, Syah.” Nova merangkul bahuku, Rifa juga mengikuti.

“Aku sudah iklhas, kok. Mungkin belum jodoh.” Aku tersenyum memandang mereka.

“Aku juga udah sering gitu, nemenin dari mulai dia belum kerja, sampai udah dapat kerja terus dia sukses dengan pekerjaannya. Tapi ujung-ujungnya apa? Perempuan lain yang dinikahi dia.” Cerita Nova yang tiba-tiba tanpa diminta.

“Aku ‘kan udah bilang, jangan pacaran lagi,” celetuk Rifa disebelahnya.

“Aku nggak pacaran, Fa,” sanggah Nova dengan wajah yang serius.

“Tapi chattingan, teleponan?” sambung Rifa lagi.

“Hayo?” tanyaku melihat Nova cengar-cengir.

“Nah itu yang merusak hati. Kamu sendiri yang mengaharap dia. Sedang dia mungkin saja nggak.”

“Iya, aku menyesal sekarang,” keluh Nova, menunduk menatap lantai.

“Masa lalu nggak usah diingat-ingat terus. Kita harus bangkit dari segala hal yang membuat sedih,” ucapku menenagkan Nova.

“Ya sudah. Ayo pulang,” ajak Rifa kemudian.

Nova melirik jam di tangan, “Pukul lima,” ucapnya.

“Ayo.” Aku berdiri melangkah ke tempat parkiran.

“Akhir bulan kita ke panti asuhan, mau nggak?” usul Rifa.

“Boleh, gimana kamu, Va?” tanyaku pada Nova.

“Aku juga mau,” sahutnya.

“Baik, nanti aku kabari lagi.” Rifa sudah menstater motornya.

Sampai rumah terlihat motor terparkir di halaman. Sudah bisa kutebak siapa pemiliknya. Tapi tumben sekali ke rumah tidak mengirimiku pesan terlebih dahulu.

“Assalamualaikum ...,” ucapku saat masuk rumah.

“Waalaikumsalam ...,” jawab ibu dan Sari, sepupuku.

“Eh, tumben ke sini nggak bilang-bilang dulu,” tanyaku melihat Sari sedang duduk bersama ibu di ruang tamu.

“Kejutan!” serunya, merentangkan kedua tangan.

“Aku nggak kaget kamu ke sini, ‘kan udah biasa,” balasku diselingi tawa.

“Ya sudah, Ibu tinggal ke dapur dulu.” Ibu yang melihat tingkah kami tak ingin mengusik, melanjutkan kegiatannya di dapur.

“Terus ada perlu apa kamu ke sini?” lanjutku, duduk di seberangnya.

“Mau pinjam jilbab,” pinta Sari sambil nyengir menampakkan gigi rapinya.

“Warna apa?”

“Hitam, belum kamu pake, ‘kan?”

“Memang buat apa?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

“Buat Utbk,” jawab Sari mengikutiku masuk kamar.

“Oh, kapan ujiannya? Semoga lulus ya,” ucapku, menyerahkan jilbab padanya.

“Seminggu lagi. Aamiin. Terima kasih,” balasnya dengan senyum.

Seperti biasa, pertemuan kami berlanjut dengan obrolan. Tak terasa waktu beranjak semakin sore. Setelah Sari pulang, aku menyegarkan tubuh dengan mandi. Hilangkan semua penat yang menumpuk seharian ini.

Waktu yang kami tunggu sudah di depan mata. Rencana ke panti asuhan telah disepakati bersama. Semua barang yang akan kami bawa pun telah siap dikemas. Ada pakaian bekas tapi masih layak pakai, jilbab, buku-buku; cerita, pelajaran dan tak lupa, kami juga meyiapkan makanan ringan untuk adikpadik panti.

Semua itu sumbangan dari masing-masig kami. Dengan tujuan membantu pemenuhan kebutuhan adik-adik panti. Dan panti asuhan yang akan kami kunjungi ini adalah panti yang sama saat aku dan Rifa bertemu.

Pukul 09.00, kami sudah siap berangkat. Mengendarai motor, aku yang berboncengan dengan Rifa sedang Nova dengan Sari. Sari kuajak ikut serta juga, dengan senang hati pula dia mau menerima ajakanku.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kami sampai ke tempat yang dituju. Panti asuhan yang asri ini tak pernah sepi dari pengunjung. Ada saja para donatur yang memberi santunan, atau bagi calon orang tua yang ingin mengadopsi anak.

Bangunan panti memiliki dua lantai. Lantai bawah untuk kantor dan ruang pertemuan serta kantin. Dan lantai atas tempat para penghuni panti tidur. Di depan halaman panti terdapat taman yang tertata rapi, juga arena bermain anak. Di sebelah kanan gedung panti, terdapat juga mushala, sedang lapangan bola terletak di belakang gedung.

Fasilitas yang memadai, membuat nyaman penghuni maupun pengunjung. Para pengasuh yang juga ramah, menyapa pengunjung dan telaten mengasuh adik-adik panti. Sisa usia mereka diabdikan untuk melindungi mereka.

Aku terpisah dari Rifa, Nova dan Sari. Mereka tadi langsung masuk ke ruang pertemuan. Aku sendiri menuju mushala untuk sekadar membasuh wajah di toilet.

Samar-samar terdengar olehku dari dalam mushala suara orang mengaji. Lantunan ayat yang dibaca menyejukkan hati. Aku menajamkan pendengaran, melihat ke arah dalam mushala. Terlihat di sana seorang lelaki tengah duduk menghadap kiblat dengan mushab Al-Quran di tangannya.

Tak bisa kulihat jelas siapa lelaki itu, karena posisinya membelakangiku. Tapi lantunan ayat-ayat yang dibacanya sukses membuatku terdiam, mematung seorang diri, menatap punggungnya.

Namun beberapa menit kemudian, dering ponsel yang cukup keras volumenya membuyarkan pandanganku. Sukses juga membuat lelaki itu terkejut dan mengarahkan pandang padaku yang berdiri di ambang pintu.

Sontak aku kaget, segera mengambil ponsel dalam tas. Dengan setengah berlari aku menjauh dari tempat itu dan menjawab panggilan di seberang sana. Sempat juga sebelum beranjak tadi kulihat wajah lelaki itu. Lelaki yang berwajah teduh.

Kamis, 16 April 2020

Tulang Rusuk yang Patah


15
Kembali Patah

Seusai shalat dhuha dan tilawah, aku termenung. Pikiran  menerawang kejadian kemarin. Kenapa bisa seperti itu? Pertemuanku dengan Zukri. Pesan Zukri kepadaku. Apa maksudnya sungguh aku tidak mengerti.  Ini di luar dugaan. Benar memang. Kita boleh berencana, tapi yang menentukan berhasil atau tidak hanya Allah yang berkehendak

Penantian demi penantian kini terasa semakin dekat menghampiri untuk pertemuan. Meski waktu telah ditentukan, serasa lamban pula dia berjalan. Debaran hati kian tak menentu, antara bahagia dan cemas. Dada sesak seakan kehabisan oksigen untuk bernapas. Hanya untaian shalawat peredam segala rasa.

Pukul 09.00 adalah waktu yang kutunggu-tunggu. dengan berbalut gamis merah muda dengan hijab warna senada, mematung di depan cermin, perhatianku terus tertuju pada pantulan bayangan. Senyum manis tersungging dikedua bibir. Tak perlu riasan wajah yang terlihat ‘wah’ terpenting sederhana dan tidak memalukan.

Tubuhku memutar mengerling jam dinding di belakang. Sebentar lagi, hanya beberapa menit lagi, dia yang ditunggu akan segera datang. Ah, hatiku semakin ingin keluar dari tempatnya, menari-nari dengan raut kebahagiaan. Terbayang senyuman yang akan berbalas senyuman pula. Duduk bersama membicarakan masa depan yang indah.

Tunggu ditunggu tak kunjung bertamu. Resah, gelisah tak tau arah. Sedari tadi pun kaki layaknya gosokan merapikan pakaian, panas. Berjalan mondar-mandir, sesekali mengecek ke luar rumah, barangkali yang ditunggu sedang berjalan menghampiri. Waktu telah jauh berjalan dari yang ditentukan. Hanya kebosanan yang menghampiri, menyeruap dalam hati.

Getar ponsel menyentakkan dari lamunan. Sebuah pesan singkat masuk. Debaran hati yang melaju semakin berpacu, butir hangat tak kuasa merayap di pipi. Tubuh yang tadi berdiri kini terjatuh duduk di atas sofa, tak berdaya lagi menopang beban yang menusuk amat tajam ke relung hati.

“Assalamu’alaikum, Aisyah. Maaf. Aku mendapat kabar dari Zukri kalau dia membatalkan rencana taaruf ini. Dan dia tidak menyebutkan alasannya apa. Aku juga minta maaf, tidak bisa sepenuhnya membantumu. Mohon bersabar, ini ujian dari Allah. Tegarkan hatimu, Aisyah. Wassalam....

Pesan singkat itu dari Rifa. Singkat dan sangat membuat gemuruh hati ini runtuh. Hancur menjadi kepingan tak berarti lagi. Hujan turun menyertai deras air mata yang mengalir. Dan waktu itu, rencana pertemuan itu, seakan hanya ilusi yang menyenangkan sesaat. Berjuta tanya terbesit dalam pikiran. Apa? Kenapa? Bagaimana bisa terjadi?

Aku tak kuasa menahan lagi, tak kuasa membalas pesan dari Rifa. Berharap itu juga hanya ilusi, hanya mimpi! Tak peduli kalimat tanya yang keluar dari ayah dan  ibu. Aku menghambur ke kamar, tubuhku terguncang dalam isak tangis yang terbekap bantal kesayangan.

Ketukan pintu kamar dan suara orang tuaku memanggil  kuabaikan. Rasanya belum sanggup untuk menceritakan semua ini. Begitu cepat kebahagiaan itu berlalu, berganti menyayat sembilu. “Ayah... Ibu... Aku ingin sendiri dulu, aku ingin meredam rasa yang seakan putus asa.” Lirih hati menjawab panggilan dari mereka.

Hujan semakin deras menguyur pagi itu, awan kelabu menutupi mentari hangat yang tadi bersinar binar. Wajah cerahku kini serupa dengan mentari tertutup awan kelabu. Apa lagi hatiku, serentak dengan gemuruh yang terdengar dari langit. Menggelegar. Sungguh sangat mendukung suasana hati ini. Aku masih terhanyut dalam isakan.

Dalam diam, dalam hujan, dan masih dengan terisak. Aku berdoa, semoga ini jalan terbaik untukku ataupun untuknya. Jika memang akan disatukan, pasti ada jalan untuk pertemuan menuju ikatan halal yang diidam-idamkan. Jika pun tidak, ini cara dan rencana terindah dari-Nya. Akan ada sesuatu yang lebih indah dari semua ini.

Aku tersadar, tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan dan rasa kecewa. Semua pasti ada hikmahnya. Semua akan lebih indah dari apa yang dibayangkan. Harus bangkit lagi, bukankah hatiku sudah terlalu kuat untuk merasakan patah berkali-kali. Untuk orang yang dulu kucintai saja, aku sanggup merelakan. Apalagi ini yang belum sempat bertatap muka.

Aku juga sudah menjelaskan pada orang tuaku perihal kemarin. Tentu mereka juga merasa kecewa dan juga sedih, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakann anaknya untuk selalu kuat dan tegar. Namun pada kak Putra, aku belum menjelaskan.

Dan baru berniat untuk menceritakan perihal kemarin pada kak Putra. Ponselku sudah mendapat pesan duluan darinya. Isinya tentang penyampaian kata maaf dariku untuk Ahmad telah disampaikannya tadi pagi, dan Ahmad juga telah menerima keputusanku.

Pada akhirnya, aku menceritakan kejadian kemarin. Tak jauh beda perasaan kak Putra dengan orang tuaku, di pesan terakhir kak Putra berkata: mungkin ini jalan yang Allah tunjukkan, bahwa Ahmad lah yang berhak kamu pilih. Tapi bagaimana? Apakah etis jika meminta kembali padanya untuk melanjutkan rencana taaruf itu.

Aku sudah merasa kecewa dengan Zukri, aku juga takut Ahmad malah balik mengecewakan. Apa salahnya mencoba, mungkin benar yang dikatakan kak Putra, ini jalan dari Allah untuk kembali pada Ahmad. Tapi untuk saat ini biarlah dulu, aku ingin menyakinkan hati kembali dan meminta petunjuk terbaik dari-Nya.

Sekolah masih sepi sekali. Waktu masih menunjukkan pukul 13.00. Hanya ada beberapa murid yang datang saat aku sampai dan memarkirkan kendaraan di tempat parkir. Menyelusuri koridor untuk menuju ruang guru. Hari ini aku sengaja datang lebih awal.

Menarik gagang kunci pintu tralis ruang guru dan membukanya. Lengang. Hanya bau wangi pengharum ruangan menyeruak hidung. Bersih dan rapi ruangan itu, membuat nyaman perasaanku. Namun tidak sepenuhnya nyaman. Ada sesuatu hal yang sejak kemarin aku tunggu.

Penjelasan mengenai kejadian kemarin dari Rifa. Hatiku begitu terombang-ambing, masih ada yang menganjal rasanya. Untuk menetralkan hati, aku membuka laptop dan menulis. Ya kebisaanku sekaligus hobi yang sudah lama ditekuni.

“Hei!” tegur seseorang, aku masih menatapa layar laptop.

“Bu Aisyah!” suaranya agak dikeraskan dan akhirnya berhasil membuatku mendogakkan kepala.

“Oh, kamu rupanya. Ada apa memanggilku, Bu Rifa?” tanyaku, melanjutkan mengetik di laptop.

“Sungguh apa duniamu hanya berkutat dengan benda itu?” Rifa bukannya menjawab pertanyaanku malah balik bertanya.

“Baiklah,” ujarku mengerti maksud Rifa dan menutup laptop.

Ck Ck.” Rifa menggelengkan kepala melihat tingkahku.

“Tumben cepat sekali kamu sampai sekolah?” Rifa bertanya saambil melihat jam yang melingkar di tangannya.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu ke kamu, Bu Rifa.”

“Haha. Iya, benar juga.” Rifa tertawa melihat ekspresiku yang muram.

“Ada yang mau aku bicarakan mengenai Zukri.” Rifa bersikap tenang sambil memperbaiki posisi duduknya.

Gimana cerita sebenarnya, Fa? Insya Allah aku sudah terima apapun itu,” ucapku tak kalah seriusnya.

“Sebelumnya aku mewakili Zukri minta maaf padamu. Langsung to the point saja ya. Mengingat sebentar lagi masuk dan guru-guru yang lain sudah banyak yang berdatangan,” jelas Rifa.

“Baik,” jawabku singkat. Ada perasaan tidak enak di hati. Degupan jantung berpacu cepat mengalahkan detik jarum jam.

“Mmm begini. Zukri nggak bisa melanjutkan taaruf sama kamu karena ternyata orang tuanya menjodohkan dia dengan teman dekat mereka..” Rifa menjelaskan apa yang dipesankan oleh Zukri.
Mendengar itu sontak hatiku kaget bukan main. Kecewa tentu menyelusup dan kentara dari raut wajah. Tapi di depan Rifa, aku harus tetap tegar dan tidak menyalahkan siapa pun. Mungkin ini keputusan terbaik dari Zukri dan ujian kesabaran dari Allah yang diberikan padaku.

“Oh, baiklah. Insya Allah aku sudah terima keputusannya. Mungkin ini jalan terbaik bagi kami.” Aku menanggapi sambil tersenyum yang sedikit dipaksakan.

“Aku juga minta maaf, Syah. Aku nggak mungkin memaksa karena itu sudah keputusan dari orang tuanya.”

“Nggak masalah. Aku hanya ingin saja tahu alasannya kenapa tiba-tiba membatalkam pertemuan itu.”

Teettt!!

Bunyi bel masuk. Para guru dan murid-murid segera masuk ruangan. Begitu juga kami. Beranjak dari duduk dan keluar.


Rabu, 15 April 2020

Ttulang Rusuk yang Patah


14
Pilihan Hati

Selepas makan malam aku berkumpul dengan kedua orang tuaku di ruang tamu. Canda tawa sesekali menyelingi obrolan kami. Aku anak bungsu, Putra adalah kakakku satu-satunya. Jadi akulah yang selalu menemani kedua orang tuaku di rumah. Entah bagaimana nanti kalau aku sudah menikah dan tinggal dengan suamiku. Sepi.

“Bagaimana tadi acara bakti sosialnya, Aisyah?” tanya ayah.

Alhamdulillah lancar, Yah. Seru juga ramai,” sahutku sambil mengupas pisang.

“Lho, Kakakmu nggak di suruh mampir, Nakk?” Ibuku datang dari dapur membawa segelas kopi untuk bapak.

“Tadi sudah aku bilang ke Kakak, Bu. Katanya sudah sore, besok saja mampirnya pulang dari kerja.” Aku menjelaskan, sesaat pisang yang kukupas tadi telah habis kulahap.

“Itu ada banyak pisang sudah mateng-mateng, nanti keburu busuk. Biasanya Kakakmu paling suka.”

“Ya sudah, Bu. Besok kan dia ke sini, masih tahan kok pisangnya nggak bakal busuk.” Ayah menyahut.

“Iya, asal jangan di habisin sama Ayah pisangnya.” Ibu melirik ayah yang ingin mencomot pisang yang masih tersisa dalam piring.

Diletakkannya kembali pisang yang ingin ayah ambil. “Nggak-nggak, Bu. Baru juga makan tiga biji.” Ayah menunjukkan 3 jarinya.

“Tiga, Yah? Terus yang tadi sebelum makan, ngambil pisang siapa, ya?” Aku menyelidik ayah yang hanya cengar-cengir.
“Tuh kan, Ayah!” Ibu mendengus kesal dengan kelakuan ayah.

Aku yang melihat kejadian itu hanya geleng-geleng kepala sambis tertawa. Hanya soal pisang saja bisa menjadi bahan keributan untuk mereka. Tapi itulah yang menjadi bumbu penyedap sebuah rumah tangga. Tak apa ribut asal mengundang kelucuan dari pada ribut mengundang kekacauan.

Selesai perkara pisang, kami beranjak menunaikan salat isya. Usai salat ayah memilih menonton televisi di temani ibu. Sedang aku pamit ke kamar untuk istirahat. Kegiatan hari ini cukup menguras tenaga, juga pikiran. Sebelum bersiap tidur, aku ingat Cv taaruf yang di berikan Rifa. Kubuka tas ransel dan mengeluarkan isinya.

Dengan mengucap basmalah perlahan aku membaca Cv yang kupegang. Tanganku gemetar, debaran jantung berpacu lebih cepat dari mulut yang membaca. Perasaan seketika ingin terbang begitu tahu siapa orang yang ingin bertaaruf denganku.

Al - Zukri atau biasa di panggil Zukri. Kakak tingka sewaktu kuliah, satu jurusan denganku. Sosok lelaki yang pertama kali aku suka pada pandangan pertama, sebelum aku berhubungan serius dengan Aris.

Zukri adalah sosok lelaki yang humoris, tak jarang aku mencuri pandang saat sedang bercengkrama dengan teman-temannya. Berpawakan sedang, hitam manis, hidung yang mancung dengan alis yang tebal. Tak pelak setiap bertemu Zukri, aku selalu beristigfar. Cepat-cepat menundukkan pandangan.

Semasa kuliah, aku dan Zukri tidak banyak bertemu. Apa lagi obrolan panjang, jarang sekali terjadi. Berpapasan hanya saling berbalas senyum. Pernah ketahuan tentang perasaanku kepadanya. Gara-gara temanku yang lumayan akrab dengannya, usil berbicara lewat pesan bahwa aku  menyukai dia.
Pesan itu tidak begitu di respon oleh Zukri, mungkin dia menganggapnya hanya candaan biasa. Tapi aku, sejak kejadian itu aku sangat malu jika berpapasan dengannya. Perlahan mulai menyurutkan rasaku. Meski belum benar-benar surut. Setiap kali bersitatap dengannya debaran hatiku tak dapat di kontrol. Dulu.

Dan sekarang, rasa itu kembali menyerbu hatiku. Seakan lupa kejadian tadi siang saat bertemu dengan Ahmad. Lelaki yang juga kusuka, walau baru beberapa bulan yang lalu. Benar-benar tak kusangka, seindah ini jalan Allah kabulkan keinginan yang pernah  kumohon.

Di sepertiga malam, aku terbangun. Bayangan dua sosok lelaki yang sama-sama kusukai kembali muncul. Menggugahku untuk segera memohon petunjuk kepada yang Maha Cinta. Usai mengambil air wudu, aku menggelar sajadah. Mulai bercengkrama dengan Rabb-ku.

Terhanyut dalam suasana heningnya malam, begitu damainya hati jika sudah memasrahkan segala yang dirisaukan. Memohon kemantapan hati, kelancaran dan  jalan yang diridai-Nya. Jika berjodoh serumit apapun, pasti akan menemukan jalan untuk pertemuan, begitupun jika tidak berjodoh, seindah apapun pasti akan menemukan jalan perpisahan.

Tidak hanya sekali dua aku beristikharah. Setelah hatiku yakin dan mantap atas petunjuk-Nya. Hilang semua beban yang bergelayut di pikiranku selama ini. Mengembuskan napas ketenangan setelah aku memberi kabar lewat pesan kepada Rifa. Inilah pilihan yang terbaik dari Allah untukku. Semoga.

Selang beberapa hari, aku beraktifitas seperti biasa. Mengajar di waktu siang dengan anak-anak yang super aktif. Sungguh menguras emosi dan butuh kesabaran ekstra. Bagi mereka yang aktif belajar bisa saja melesat jauh pemikirannya. Namun untuk anak yang perlu bimbingan, perlu ketelatenan dalam memprosesnya.

Tetapi dari mereka aku banyak belajar. Bagaimana mengatur emosi, cara memotivasi mereka, dan yang paling penting adalah perhatian yang adil. Kelak aku juga akan menjadi seorang ibu, tentu harus banyak belajar dari sekarang. Cara mendidik anak yang berkarakter baik sesuai agama.

Pukul setengah lima sore aku sampai di rumah. Memarkirkan motor dan masuk ke rumah sambil mengucap salam. Terlihat kedua orang tuaku duduk santai di ruang tamu sambil bercengkrama. Aku menghampiri dan mencium takzim tangan kedua orang tuaku.

Setelah mandi tubuhku terasa segar, beban pikiran hari ini pudar. Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada ayah dan ibu. Bagaimana hasilnya nanti pasrah lillahita’ala. Ini sudah keputusan yang kuambil. Meski berat memilih harus merelakan satu di antara lelaki yang selama ini kusuka.

“Ayah, Bu.” Aku menyapa dan duduk di seblah ibu.

“Tadi Kakakmu ke sini lho.” Belum sempat aku mengutaran, ibu sudah membahas kedatangan kak Putra.

“Iya, tapi sama temennya,” sambung ayah.

“Siapa, Yah?” tanyaku penasaran.

“Ahmad, Nak.” Ibuku yang menjawab.

“Lho, kok tumben Kakak bawa temennya ke rumah, Bu?” Keningku berkerut bertambah penasaran.

“Itu dia mau bertaaruf sama kamu,” ujar ayah menjelaskan. “Jadi begini ceritanya.”

Sepulang kerja tadi Putra mampir ke rumah dengan membawa Ahmad. Kebetulan hari Sabtu jam kerjanya hanya sampai pukul dua.

“Jadi langsung saja, Pak, Bu. Maksud kedatangan saya ke sini yang pertama, untuk bersilahturahim dengan keluarga Bapak. Karena saya sudah lama mengenal Putra selaku teman kerja saya. Maka ingin pula saya mengenal Bapak dan Ibu. Yang ke dua, saya bermaksud meminta izin kepada Bapak, untuk bertaaruf dengan Aisyah, putri Bapak.”

Akhirnya kalimat itu terucap juga. Susah payah Ahmad menyiapkan agar tidak salah ucap. Debaran jantungnya yang tadi berpacu hebat, kini mulai bisa di kontrol. Tangan Ahmad berkeringat dingin menahan gerogi. Hanya beberapa kata namun sulit jika sudah berurusan dengan perasaan.

Selama ini sudah berbagai ikhtiar dijalani, menitipkan Cv taruf kepada ustaznya. Dan yang paling penting, Ahmad tidak pernah menutup diri jika ada perempuan yang mengajukan taruf padanya. Lewat email, meminta menemui ayahnya, bahkan ada yang ibunya menelepon Ahmad menawarkan anaknya. Namun belum ada yang cocok bagi Ahmad.

Bukan tanpa alasan mengapa Ahmad seberani itu. Hanya sosok Aisyah yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya. Hati terus membuncah, apa lagi ingat pertemuannya dengan Aisyah Ahad kemarin. Ingin rasa berucap langsung pada Aisyah, namun lidah terasa kelu. Maka dari itu dia menyampaikan lewat Putra, kakak Aisyah.

“Nak Abdullah sudah lama mengenal Aisyah?”

“Belum, Pak. Saya hanya mengenal sedikit dari sosial media, yang ternyata Aisyah adalah adik Putra. Saya juga banyak mendengar tentang Aisyah melalui Putra.”

Menepuk pundak anaknya, Putra.

“Kamu kok nggak cerita-cerita, ada yang ingin dekat dengan adikmu.”

“Biar jadi kejutan, Yah,” sahut Putra sambil senyum semringah.

“Memang aku sudah kenal lama dengan Ahmad. Sekitar setahun yang lalu saat dia pindah kerja dari Riau ke Jakarta. Tetapi baru-baru minggu lalu tahu, kalau dia kenal juga dengan Aisyah, Yah.” Lanjut Putra menjelaskan.

“Oh, gitu ... Alhamdulillah, kita di pertemukan oleh Allah dengan cara yang indah.” Ibu ikut berbicara.

“Iya, Bu. Alhamdulillah. Tapi maaf saya baru sekarang main ke sini,” jawab Ahmad tersipu malu.

“Ya nggak masalah bagi kami ya kan, Yah?” Ibu melirik ke ayah.

“Kan membawa niat baik-baik, kok di tolak. Pamalih itu,” sambung ayah.

“Insya Allah aku akan jadi Kakak iparmu. Haha.” Putra menyikut Ahmad.

Alhamdulillah jika Bapak dan Ibu menerima kedatangan saya, dan insya Allah rekan kerja saya ini akan berubah menjadi Kakak ipar saya.” Menjawab omomgan kedua orang tua Putra dan melirik sebentar ke Putra melayangkan candaannya.

Ketegangan berubah menghangat. Ahmas bersyukur keluarga Aisyah begitu ramah mau menerima niat baiknya.

“Ahmad ini selepas acara bakti sosial Ahad kemarin cerita kalau ingin mengajukan ta’aruf dengan Aisyah. Jelas aku kaget sekaligus seneng, karena diam-diam selama ini dia tertarik dengan Aisyah. Jadi mumpung ada waktu luang juga, aku bawa di ke rumah, Yah.” Kembali Putra menjelaskan pada orang tuanya.

“Kalau Ayah sama Ibu setuju-setuju saja, ya kan Bu.” Ayah meminta persetujuan ibu.

“Iya, Nak Ahmad. Kami bahagia akhirnya putri bungsu kami ada yang ingin berniat serius.” Ibu juga menyetujui niat baik Ahmad.

“Tapi semuanya tergantung bagaimana Aisyah. Karena dia yang akan menjalankannya nanti. Berhubung Aisyah belum pulang dari mengajar, sore dia baru pulang. Atau Nak Ahmad mau menjalin komunikasi dulu dengan Aisyahh?” ujar ayah menawarkan.

“Mmm ... sepertinya Aisyah bakal malu, Yah. Kalau chattingan dengan Ahmad. Biar lewat aku saja bagaimana keputusan Aisyah.”

“Ya sudah, bagaimana baiknya saja. Nanti kalau sudah pulang mengajar akan Ayah sampaikan ke Aisyah. Biar dia kabari lewat Putra.”

“Ayo silahkan, Nak. Diminum lagi tehnya sama itu ada kue jangan di anggurin.” Ibu  mempersilahkan.

“Iya, Bu.” Ahmad mengambil segelas teh yang sedari tadi hanya terminum sedikit untuk menetralkan perasaanya.

Bercengkrama sebentar lalu Ahmad izin pamit, begitu juga Putra. Dia pulang ke rumah mertuanya bersama Ahmad. Tergopoh-gopoh ibu membawa dua kresek putih berisi pisang. Satu di serahkan pada Putra dan satu lagi untuk Ahmad. Ahmad yang menerima itu tersanjung sekali.

Aku tercekat, kaget bukan main. Napas seakan berat kuhembuskan. Terjebak kebingungan, lantaran aku akan menyampaikan bahwa telah menerima tawaran taaruf dengan seseorang. Sekarang Ahmad muncul di saat aku telah menerima tawaran itu. Meski telah mempertimbangkan mana yang kupilih. Tetap saja ada desiran tak enak di hatiku.

“Bagaimana menurutmu, Nak?” Pertanyaan ibu membuyarkan lamunanku.

“Tapi ... maaf Ayah, Bu ... Aku sudah terlanjur menerima tawaran taaruf lebih dulu dari lelaki lain. Besok mau bersilahturahim ke sini. Dia sepupu Rifa, temanku. Lelaki itu namanya Al - Zukri. Tadinya aku mau menyampaikan itu sama Ayah dan Ibu. Dan maaf baru memberi tahu soal ini.” Aku tertunduk, melilin ujung jilbab.

“Ya sudah nggak masalah, Nak. Ayah ikuti saja mana yang menurut hatimu,” ucap ayah menenangkan.

“Ibu juga nggak masalah, Nak. Selama itu baik dan membahagiakanmu, Ibu juga akan ikut bahagia.” Ibu mengelus pucuk kepalaku.

“Kasih kabar Kakakmu. Jelaskan sama dia kalau kamu sudah menerima tawaran taaruf laki-laki lain. Nanti Kakakmu yang akan menyampaikan sama Ahmad.”

“Terima kasih, Ayah, Ibu ... selalu mendukung untuk kebahagianku.” Mataku berkaca-kaca.

“Iya, Nak,” jawab ibu sambil tersenyum begitu juga ayah.

Usai menelepon kak Putra di hadapan ayah dan ibu, aku izin ke kamar. Menghempaskan tubuh mungilku ke ranjang menatap nanar langit-langit kamar. Sejak tadi aku bendung air yang ingin menganak sungai di mataku. Kini tak kuat lagi bendungan itu, tumpah bebas ke pipi. Hatiku di antara bahagia sekaligus sedikit sesal menyeruap.

Mungkin sedikit lebih cepat saja Ahmad mengajukan taaruf kepadaku, pasti sudah kuterima tanpa mempertimbangankan yang lain. Atau jika saja aku tidak bertemu Rifa, aku tak akan menerima Cv taaruf itu. Qadarullah. Sebuah jalan yang telah Allah tunjukan padaku untuk pertemuan ini.

“Jika kamu mencintai dua orang dalam waktu yang sama, pilihlah yang kedua. Karena jika kamu memilih yang pertama, kamu tidak akan jatuh cinta pada yang kedua.”

Aku bergumam membaca quote yang tertera pada layar ponsel. Berawal dari pertemuan dengan Ahmad dan di susul oleh kemunculan lelaki yang telah lama kupendam rasanya, Zukri. Debaran hebat hatiku telah menunjukkan ke mana arah yag dituju. Inilah pilihan hatiku.

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...