Minggu, 27 Oktober 2019

Bisikan

Gelap. Hanya seberkas sinar mentari pagi, menerobos masuk lewat ventilasi jendela ke sebuah kamar. Kipas angin tergantung dibiarkan terus berputar, terdengar deritan dari engsel penggerak menandakan lelah porosnya. Tidak ada yang peduli, tirai jendela berjuntai lepas dari pengaitnya. Melihatkan tralis berkarat serta debu memburamkan kaca.
Berantakan. Pemandangan yang sudah biasa dialami. Meja rias dengan kaca pecahnya, pakaian tergeletak di sana sini, sprei dan bantal yang tidak pada tempatnya. Buku-buku, sampai bekas makanan instan tertumpuk layaknya gunung. Entah apa jadinya jika seseorang masuk dan menghirup bau ruangan itu.
“Pergi! Jangan pernah ganggu aku lagi!” hardik wanita itu yang sejak tadi duduk di pojok kamar.
“Aku benci kau selalu muncul di hadapanku! Tunjuknya sambil berdiri mengacungkan jari.
“Ke mana pun kamu pergi, aku akan selalu menemani.” Sosok yang ditunjuknya angkat bicara.
“Aaaarrrgghhhh!!”
Pyar!!
Sebuah vas bunga melesat tepat sasaran ke arah kaca meja rias.
“Aku harus membunuhmu. Kau harus mati di tanganku, harus!! Benda apapun yang ada di dekatnya melayang tembus oleh sosok yang dilihatnya.
“Ha ha ha ha ha ... jika aku mati, kamu pun akan ikut mati.” jawab sosok itu.
Kaki bersimpuh gemetar, keringat mengucur deras membasahi rambut yang acak-acakan. Jemari memilin-milin ujung baju usangnya. Bibir terus meracau menyuruh sosok itu untuk pergi. Tangisnya memecah seisi ruangan, sesaat tersungging senyum berubah menjadi tawa yang menggelak.
“Ayolah ... bukankah kamu benci dengan lelaki itu? Bunuh dia! Seperti dia membunuh orang-orang yang kamu sayang.” Kembali suara sosok itu berdenging di pendegarannya.
“Tidak! Aku tidak mau menjadi pembunuh.” Dia hanya sanggup menutup telinga dengan kedua tangannya.
“Hey bodoh! Kamu benar-benar tak peduli dengan mereka yang telah terbunuh dengan sadis.” Suara itu terus menggema di telinganya.
“Kau! Sambil terus menutup telinga, dia berdiri menatap sinis sosok itu. Kemudian beranjak membuka pintu kamar dan pergi.
Berjalan menyusuri trotoar, sesekali hampir tersambar kendaraan yang lewat akibat hilang kesadaran menatap jalan. Orang-orang yang selewatan tentu tak peduli dengannya. Membiarkan menjadi kerumuman bocah-bocah, sambil diteriaki ‘orang gila’. Tak luput juga dari lemparan kertas dan botol minuman.
“Aku tidak gila! Kalian yang gila! Teriaknya histeris.
 “Laki-laki itu, iya dia. Aku harus mencarinya.” Diapun berlari menjauh dari kerumuman bocah-bocah.
Bruk!!
Seorang lelaki berbadan tegap tak sengaja dia tabrak.
“Pergi! Pergi! Semakin histeris saat dia menatap lelaki itu.
“Tenanglah. Aku tidak bermaksud menyakitimu.” Lelaki itu membantunya berdiri.
Masih dengan keadaan kacau, lelaki itu menuntunnya dengan perlahan. Sampailah mereka di sebuah rumah dengan pemandangan rimbun sekitar halamannya. Batu batako berbaris rapi tersusun hingga kaki anak tangga. Rumah bergaya klasik, dengan ormamen ukiran kayu. Tanaman hias bergelantungan pada bibir langit-langit atap.
“Duduklah sebentar, Nona. Aku akan mengambilkan air minum untukmu.” Lelaki itu menyandarkannya disebuah kursi kayu lengkap dengan meja bundarnya.
“Ini minumlah.” Selang beberapa menit, secangkir teh hangat disuguhkan.
Masih terdiam menatap lurus ke depan. Lelaki itu menaruh gelas minumnya di atas meja. Mencoba mengamatinya dalam. Ada sorot ketakutan pada bola matanya. Saat ingin menyentuh tangannya, kembali dia berteriak histeris. Membuat lelaki itu panik dan segera membawa masuk rumah.
“Istirahatlah di kamarku, aku akan menyiapkan makan siang.” Setelah mengantarkannya ke kamar lelaki itu menyelusuri dapur.
Nafas memburu terdengar jelas di telinganya. Ekor mata menatap sebuah bingkai foto yang terletak di atas nakas. Seketika kebencian meyeruap hatinya. Bagai film yang diputar ulang, memori otaknya mengurai kejadian mengenaskan itu. Keringat kembali bercucuran, bibir meracau, tak jelas apa yang di ucapkan.
Aarrgghhhh!!
“Dia pembunuhnya, dia telah membantai keluargamu! Habisi dia sekarang juga.” Sosok itu kembali muncul, suaranya berat terdengar.
Pyaarrr!!
Bingkai foto yang dipegangnya melayang ke dinding, hancur seketika. Menyisakan kepingan kaca yang tajam. Mendengar gaduh di kamar, lelaki itu bergerak cepat menaiki anak tangga menuju lantai atas. Saat membuka pintu, mendapati kamarnya berantakan. Terlihat wajah wanita itu pucat pasi.
“Aku bawakan makan siang untukmu, ini sangat lezat dan kau pasti lapar. Mendekatlah, Nona.” ujar lelaki itu lembut.
“Kau!! Pembunuh ... Kau yang saat itu membantai habis keluargaku.” Tak bergeming dari tempatnya berdiri. Menatap sinis lelaki itu, suara serak keluar dari mulutnya dengan tubuh menggigil.
“Aku tidak pernah membunuh siapapun, Nona. Ayo duduk, akan kujelaskan yang sebenarnya.” Lelaki itu duduk di bibir ranjang dan menepuk tempat di sebelahnya, mengajaknya duduk.
Entah dorongan dari mana. Perlahan langkah kakinya mendekati lelaki itu, duduk terdiam. Menurut saat sesuap nasi mendarat di mulutnya. Melumat sedikit demi sedikit hingga tertelan habis. Saat nasi telah turun pada dasar lambung, terdengar jeritan manusia menghampiri ajalnya. Terkapar dengan simbahan darah.
“Akhirnya kau mati juga ditanganku!! Ha ha ha ha ... Berlalu meninggalkan makhluk yang tak lagi bergerak itu.

***
“Selamat malam pemirsa. Baru saja telah di temukan sosok jenazah terbujur kaku di sebuah kamar perumahan sekitar ....”
Tap....
Belum selesai reporter mengungkap berita yang disiarkan, layar televisi telah dimatikan. Puas sudah melihat sosok itu terbunuh dengan tangannya. Senyuman kemenangan mengembang dari kedua bibir. Gelak tawa memenuhi ruangan, menyambar sekaleng minuman dingin dan meneguknya. Ingatannya kembali menerawang akan kejadian pembantaian itu.

Kesunyian malam terpecah tangisan histeris, tak kuat tubuh untuk berontak. Memar di sana sini oleh pukulan benda tumpul. Kegaduhan itu lenyap bersama muncratan darah dari potongan-potongan daging dan tulang. Terburai saat benda tajam menyentuh dan merobek kejam kulit tipis itu. Miris. 
“Kau telah berhasil membunuhnya.”

12 komentar:

Anis Hidayati mengatakan...

1. Misteri thrillernya kereen
2. Penulisan di yg tdk diikuti kata letak harus sambung.
Di biarkan, di alami:SALAH
hesnya dibiarkan, dialami, dst
3. Batu batako menjulur. Kata menjulur krg pas jk dipasangkan dg batu bata, sbb menjulur itu utk sesuatu yg memanjang dn bersifat lentur. Akn lbh pas jika batu bata TERSUSUN.
4. Ada IRIS ketakutan pada bola mata. Itu jg krg pas, sbb iris adalah bagian dr mata adalah selaput pelangi berbentuk gelang yg dibatai sklera dan pupil. Jd lbh pas ada SOROT ketakutan pada bola mata...
5. Memori otak MENGUAR, itu jg krg pas. Sbb menguar itu dpt diartikan menyebar utk sesuatu yg mempunyai aroma, sedang otak bkn spt itu. Jd lbh pas jk memori otak MENGURAI kejadian...


Maaf, jempolku lagi usil, heheπŸ™πŸ™

Aysafitri114 mengatakan...

Seneng deh kalo di koreksi gini πŸ˜ƒπŸ€—
Mkasih mbak anis 😁

Sakif mengatakan...

Wow...koreksinya mantap.udah kaya ngadep editor nih

Riban Toples Satir dan Narasi mengatakan...

Mantap thrillernya. Jadi terbayang ngerinyaa...

Aysafitri114 mengatakan...

Serasa di koreksi pembimbing skripsi haha

Aysafitri114 mengatakan...

Jngan dibyangin mas ntr menghantui

niozaharani mengatakan...

Penggemar thriller beraksi,😁

Aysafitri114 mengatakan...

Ayo2 hehe

Yulia Tan mengatakan...

Kereeen... Ini kok lebih dari 10 paragraf ya?? Boleh kah?

Aysafitri114 mengatakan...

Minimal 10 paragraf mbak

Raa mengatakan...

Keren banget kak😍

Aysafitri114 mengatakan...

Big thanks

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...