Gelap.
Hanya seberkas sinar mentari pagi, menerobos masuk lewat ventilasi jendela ke
sebuah kamar. Kipas angin tergantung dibiarkan terus berputar, terdengar
deritan dari engsel penggerak menandakan lelah porosnya. Tidak ada yang peduli,
tirai jendela berjuntai lepas dari pengaitnya. Melihatkan tralis berkarat serta
debu memburamkan kaca.
Berantakan.
Pemandangan yang sudah biasa dialami. Meja rias dengan kaca pecahnya, pakaian
tergeletak di sana sini, sprei dan bantal yang tidak pada tempatnya. Buku-buku,
sampai bekas makanan instan tertumpuk layaknya gunung. Entah apa jadinya jika
seseorang masuk dan menghirup bau ruangan itu.
“Pergi!
Jangan pernah ganggu aku lagi!” hardik wanita itu yang sejak tadi duduk di
pojok kamar.
“Aku
benci kau selalu muncul di hadapanku! Tunjuknya sambil berdiri mengacungkan
jari.
“Ke mana pun kamu pergi, aku akan
selalu menemani.” Sosok yang ditunjuknya angkat bicara.
“Aaaarrrgghhhh!!”
Pyar!!
Sebuah
vas bunga melesat tepat sasaran ke arah kaca meja rias.
“Aku
harus membunuhmu. Kau harus mati di tanganku, harus!! Benda apapun yang ada di
dekatnya melayang tembus oleh sosok yang dilihatnya.
“Ha ha ha ha ha ... jika aku mati,
kamu pun akan ikut mati.” jawab sosok itu.
Kaki
bersimpuh gemetar, keringat mengucur deras membasahi rambut yang acak-acakan. Jemari
memilin-milin ujung baju usangnya. Bibir terus meracau menyuruh sosok itu untuk
pergi. Tangisnya memecah seisi ruangan, sesaat tersungging senyum berubah
menjadi tawa yang menggelak.
“Ayolah ... bukankah kamu benci
dengan lelaki itu? Bunuh dia! Seperti dia membunuh orang-orang yang kamu sayang.”
Kembali suara sosok itu berdenging di pendegarannya.
“Tidak!
Aku tidak mau menjadi pembunuh.” Dia hanya sanggup menutup telinga dengan kedua
tangannya.
“Hey bodoh! Kamu benar-benar tak
peduli dengan mereka yang telah terbunuh dengan sadis.”
Suara itu terus menggema di telinganya.
“Kau!
Sambil terus menutup telinga, dia berdiri menatap sinis sosok itu. Kemudian
beranjak membuka pintu kamar dan pergi.
Berjalan
menyusuri trotoar, sesekali hampir tersambar kendaraan yang lewat akibat hilang
kesadaran menatap jalan. Orang-orang yang selewatan tentu tak peduli dengannya.
Membiarkan menjadi kerumuman bocah-bocah, sambil diteriaki ‘orang gila’. Tak
luput juga dari lemparan kertas dan botol minuman.
“Aku
tidak gila! Kalian yang gila! Teriaknya histeris.
“Laki-laki itu, iya dia. Aku harus
mencarinya.” Diapun berlari menjauh dari kerumuman bocah-bocah.
Bruk!!
Seorang
lelaki berbadan tegap tak sengaja dia tabrak.
“Pergi!
Pergi! Semakin histeris saat dia menatap lelaki itu.
“Tenanglah.
Aku tidak bermaksud menyakitimu.” Lelaki itu membantunya berdiri.
Masih
dengan keadaan kacau, lelaki itu menuntunnya dengan perlahan. Sampailah mereka
di sebuah rumah dengan pemandangan rimbun sekitar halamannya. Batu batako
berbaris rapi tersusun hingga kaki anak tangga. Rumah bergaya klasik, dengan
ormamen ukiran kayu. Tanaman hias bergelantungan pada bibir langit-langit atap.
“Duduklah
sebentar, Nona. Aku akan mengambilkan air minum untukmu.” Lelaki itu
menyandarkannya disebuah kursi kayu lengkap dengan meja bundarnya.
“Ini
minumlah.” Selang beberapa menit, secangkir teh hangat disuguhkan.
Masih
terdiam menatap lurus ke depan. Lelaki itu menaruh gelas minumnya di atas
meja. Mencoba mengamatinya dalam. Ada sorot ketakutan pada bola matanya. Saat
ingin menyentuh tangannya, kembali dia berteriak histeris. Membuat lelaki itu
panik dan segera membawa masuk rumah.
“Istirahatlah
di kamarku, aku akan menyiapkan makan siang.” Setelah mengantarkannya ke kamar
lelaki itu menyelusuri dapur.
Nafas
memburu terdengar jelas di telinganya. Ekor mata menatap sebuah bingkai foto
yang terletak di atas nakas. Seketika kebencian meyeruap hatinya. Bagai film
yang diputar ulang, memori otaknya mengurai kejadian mengenaskan itu. Keringat
kembali bercucuran, bibir meracau, tak jelas apa yang di ucapkan.
Aarrgghhhh!!
“Dia pembunuhnya, dia telah membantai
keluargamu! Habisi dia sekarang juga.” Sosok itu kembali
muncul, suaranya berat terdengar.
Pyaarrr!!
Bingkai
foto yang dipegangnya melayang ke dinding, hancur seketika. Menyisakan kepingan
kaca yang tajam. Mendengar gaduh di kamar, lelaki itu bergerak cepat menaiki
anak tangga menuju lantai atas. Saat membuka pintu, mendapati kamarnya
berantakan. Terlihat wajah wanita itu pucat pasi.
“Aku
bawakan makan siang untukmu, ini sangat lezat dan kau pasti lapar. Mendekatlah,
Nona.” ujar lelaki itu lembut.
“Kau!!
Pembunuh ... Kau yang saat itu membantai habis keluargaku.” Tak bergeming dari
tempatnya berdiri. Menatap sinis lelaki itu, suara serak keluar dari mulutnya
dengan tubuh menggigil.
“Aku
tidak pernah membunuh siapapun, Nona. Ayo duduk, akan kujelaskan yang
sebenarnya.” Lelaki itu duduk di bibir ranjang dan menepuk tempat di
sebelahnya, mengajaknya duduk.
Entah
dorongan dari mana. Perlahan langkah kakinya mendekati lelaki itu, duduk
terdiam. Menurut saat sesuap nasi mendarat di mulutnya. Melumat sedikit demi
sedikit hingga tertelan habis. Saat nasi telah turun pada dasar lambung,
terdengar jeritan manusia menghampiri ajalnya. Terkapar dengan simbahan darah.
“Akhirnya
kau mati juga ditanganku!! Ha ha ha ha ... Berlalu meninggalkan makhluk yang
tak lagi bergerak itu.
***
“Selamat malam pemirsa. Baru saja
telah di temukan sosok jenazah terbujur kaku di sebuah kamar perumahan sekitar
....”
Tap....
Belum
selesai reporter mengungkap berita yang disiarkan, layar televisi telah dimatikan. Puas sudah melihat sosok itu terbunuh dengan tangannya. Senyuman kemenangan
mengembang dari kedua bibir. Gelak tawa memenuhi ruangan, menyambar sekaleng
minuman dingin dan meneguknya. Ingatannya kembali menerawang akan kejadian
pembantaian itu.
Kesunyian
malam terpecah tangisan histeris, tak kuat tubuh untuk berontak. Memar di sana
sini oleh pukulan benda tumpul. Kegaduhan itu lenyap bersama muncratan darah
dari potongan-potongan daging dan tulang. Terburai saat benda tajam menyentuh dan
merobek kejam kulit tipis itu. Miris.
“Kau telah berhasil membunuhnya.”

12 komentar:
1. Misteri thrillernya kereen
2. Penulisan di yg tdk diikuti kata letak harus sambung.
Di biarkan, di alami:SALAH
hesnya dibiarkan, dialami, dst
3. Batu batako menjulur. Kata menjulur krg pas jk dipasangkan dg batu bata, sbb menjulur itu utk sesuatu yg memanjang dn bersifat lentur. Akn lbh pas jika batu bata TERSUSUN.
4. Ada IRIS ketakutan pada bola mata. Itu jg krg pas, sbb iris adalah bagian dr mata adalah selaput pelangi berbentuk gelang yg dibatai sklera dan pupil. Jd lbh pas ada SOROT ketakutan pada bola mata...
5. Memori otak MENGUAR, itu jg krg pas. Sbb menguar itu dpt diartikan menyebar utk sesuatu yg mempunyai aroma, sedang otak bkn spt itu. Jd lbh pas jk memori otak MENGURAI kejadian...
Maaf, jempolku lagi usil, heheππ
Seneng deh kalo di koreksi gini ππ€
Mkasih mbak anis π
Wow...koreksinya mantap.udah kaya ngadep editor nih
Mantap thrillernya. Jadi terbayang ngerinyaa...
Serasa di koreksi pembimbing skripsi haha
Jngan dibyangin mas ntr menghantui
Penggemar thriller beraksi,π
Ayo2 hehe
Kereeen... Ini kok lebih dari 10 paragraf ya?? Boleh kah?
Minimal 10 paragraf mbak
Keren banget kakπ
Big thanks
Posting Komentar