Sekeping
Hati Untuk Fatimah
#Sekeping_Hati_Untuk_Fatimah
#Part_7
Sekolah
masih sepi sekali. Hanya ada penjaga sekolah dan tukang kebun saat Abdullah
sampai dan memarkirkan kendaraannya di tempat parkir. Waktu masih menunjukkan
pukul 06.00. Bulir-bulir embun memandikan dedauan serta bunga yang bermekaran
di taman. Abdullah menyelusuri koridor untuk menuju ruang guru.
Menarik
gagang kunci pintu tralis ruang guru dan membukanya. Lengang. Hanya bau wangi pengharum
ruangan menyeruak hidung Abdullah. Bersih dan rapi ruangan itu, membuat nyaman
perasaan Abdullah. Namun tidak sepenuhnya nyaman. Ada sesuatu hal yang sejak
kemarin Abdullah tunggu.
Kepastian
dari Fatimah. Jelasnya dia menunggu jawaban Fatimahh dari Putra. Hatinya begitu
terombang-ambing, ketakutan akan penolakan tentu ada dipikiran Abdullah. Untuk menetralkan
hatinya itu, Abdullah membuka laptopnya dan menulis. Ya kebisaan Abdullah sekaligus
hobi yang sudah lama ditekuni.
Buku-buku
karya Abdullah pun sudah ada yang terbit. Terkadang dia disibukkan dengan
banyaknya pesanan buku. Tapi dia juga bersyukur, cita-citanya menjadi penulis
dan menerbitkan buku tercapai. Sebuah tambahan rezeki selain penghasilannya
dari mengajar. Meski menjadi guru Fisika. Jauh sekali dari sastra.
Sedang
menikmati pikirannya berkelana dengan imajinasi. Sosok lelaki berpawakan tinggi
dan tegap menghampiri Adullah. Sebelumnya dia duduk dan meletakkan tas
kerjanya. Melihat Abdullah begitu asyik dengan laptopnya lelaki itu memutar
kursi duduknya 180 derajat menghadap Abdullah.
“Hey!”
tegurnya.
Namun
yang ditegur masih terdiam, melihat pun tidak.
“Pak
Abdullah!” suaranya agak dikeraskan dan akhirnya berhasil membuat Abdullah
mendogakkan kepalanya.
“Oh
kamu rupa, Putra. Ada apa memanggilku Pak Putra?” tanya Abdullah melanjutkan
mengetik di laptopnya.
“Sungguh
apa duniamu hanya berkutat dengan benda itu?” Putra bukannya menjawab
pertanyaan Abdullah malah balik bertanya.
“Oke
baiklah.” ujar Abdullah mengerti maksud Putra dan menutup laptopnya.
“Ck
Ck.” Putra menggelengkan kepala melihat tingkah rekannya itu.
“Tumben
pagi sekali kamu sampai sekolah?” Abdullah bertanya saambil melihat jam yang
melingkar di tangannya.
“Seharusnya
aku yang bertanya seperti itu ke kamu, Pak Abdulah!”
“Haha.
Iya benar juga.” Abdullah tertawa melihat ekspresi Putra yang seperti ingin
sarapan dengan dagingnya.
“Ada
yang mau aku bicarakan mengenai Fatimah.” Putra bersikap tenang sambil
memperbaiki posisi duduknya.
“Bagaimana
keputusannya, Putra? Insya Allah aku akan terima apapun itu.” ucap Abdullah tak
kalah seriusnya.
“Sebelumnya
aku mewakili Fatimah minta maaf padamu, Abdullah. Langsung to the point saja
ya. Mengingat sebentar lagi waktu upacara dan guru-guru yang lain sudah banyak
yang berdatangan.” Jelas Putra.
“Baik.”
jawab Abdullah singkat. Ada perasaan tidak enak di hatinya. Degupan jantung
berpacu cepat mengalahkan detik jarum jam.
“Ehmm
begini. Fatimah tidak bisa menerima ajakan ta’aruf dari kamu. Sebenarnya dia
sudah memberiku kabar sejak hari Sabtu sore. Tapi akan lebih baik kalau aku
menyampaikan langsung padamu hari ini.” Putra menjelaskan apa yang dipesankan
oleh Fatimah.
Mendengar
itu sontak hati Abdullah kaget bukan main. Kecewa tentu menyelusup dan kentara
dari raut wajahnya. Tapi di depan Putra, Abdullah harus tetap tegar dan tidak
menyalahkan siapa pun. Mungkin ini keputusan terbaik dari Fatimah dan ujian
kesabaran dari Allah yang diberikan pada Abdullah.
“Oh
baiklah. Insya Allah aku terima keputusan Fatimah. Mungkin ini jalan terbaik
bagi kami.” Abdullah menanggapi sambil tersenyum yang sedikit dipaksakan.
“Aku
juga minta maaf, Abdullah. Aku tidak bisa memaksa karena itu sudah keputusan
darinya.”
“Tidak
masalah. Kalau memang Fatimah adalah jodohku, pasti dia akan kembali dengan
cara-Nya.”
Sesaat
hening dengan pikiran masing-masing. Abdullah tidak mau menanyakan alasan
mengapa dia ditolak. Cukup baginya tahu perihal diterima tidaknya. Dan Putra
juga tidak mau menjelaskan alasan mengapa Fatimah menolak Abdullah. Mungkin dia
takut akan menambah kecewa hati Abdullah.
Teettt!!
Bunyi
bel pertanda upacara akan segera dimulai. Para guru dan murid-murid berhambur
keluar ruangan menuju lapangan upacara. Begitu juga Abdullah dan Putra. Beranjak
dari duduknya dan keluar. Abdullah dengan langkah gontai berjalan di belakang
Putra. Hatinya masih terasa sesak tergiang ucapan Putra tadi. Semoga dia tak
pingsang sewaktu upacara.
***
Seusai
shalat dhuha dan tilawah, Fatimah termenung. Pikirannya menerawang kejadian
kemarin. Kenapa bisa seperti itu? Pertemuannya dengan Fariz. Pesan Faris kepadanya.
Apa maksudnya sungguh Fatimah tidak mengerti. Ini di luar dugaan. Benar memang. Kita boleh
berencana, tapi yang menentukan berhasil atau tidak hanya Allah yang
berkehendak.
_Bersambung.


