Part: Penyidikan
Garis
polisi melintang di depan rumah bergaya klasik itu. Dua orang polisi berpostur
tegap berjaga-jaga di luar garis. Empat rekannya berada dalam rumah untuk olah
tempat kejadian perkara. Mereka juga membawa detektif untuk kasus kali ini.
Seorang wanita bertubuh langsing dan berkaca mata.
Jenazah
telah di usung ke rumah sakit terdekat untuk otopsi. Pecahan kaca, sisa
makanan, dan jejak kaki yang mengecap pada bekas genangan darah korban. Menjadi
barang bukti untuk sementara. Salah satu polisi mengambil selembar foto dan
menyerahkan pada komandannya.
“Keluarga
bahagia.” Gumam komandan polisi.
“Terpampang
di foto ada kedua orang tua dan putra putrinya. Mereka berfoto dengan latar
belakang rumah. Nampaknya baru pindahan, terlihat kardus-kardus serta barang
pindahan masih berserakan di sekitar mereka.” ungkap detektif yang berpawakan
tinggi dan tegap itu.
“Setelah
olah TKP tadi, korban di temukan tewas bersimbah darah. Tertusuk pecahan kaca
pada bagian lambung. Mirisnya, tersangka tega mencungkil kedua bola mata korban
dan mengambilnya.” Jelas polisi bertubuh agak gempal.
“Korban
berjenis kelamin laki-laki, tubuh tegap, rambut sebahu dan mempunyai tanda
lahir pada bagian punuknya.” Terangnya lagi.
“Sayang,
kita belum tahu persis siapa tersangka di balik semua ini. Dan apa motif
pembunuhan dengan cara mengenaskan serta mengambil kedua bola mata korban.” ujar
komandan polisi sambil mengusap wajahnya.
“Maaf, Pak.
Menurut keterangan tetangga sekitar sebelum kejadian, korban sempat membawa
masuk wanita aneh seperti orang gila ke rumah ini.”
“Apa
mereka mengenal wanita itu? tanya detektif kepada polisi yang memberi
keterangan.
“Wanita
itu tidak tinggal di daerah sini, Pak.”
“Baik,
terima kasih atas keterangannya. Kita istirahat sejenak, nanti di lanjutkan lagi.
Aku akan berdiskusi dengan Tuan Alex.” Komandan memberi arahan kepada anak
buahnya. Lalu dia mengajak Alex, detektif yang akan membantu penyidikan kasus
ini.
“Siap
komandan!”
Komandan
polisi mengajak Alex duduk di sebuah kursi yang ada pada ruang tamu rumah itu.
Melihat barang-barang bukti dan mengamati foto yang sejak tadi dia pegang.
“Ini
kejadian paling aneh yang pernah aku temui selama menjadi seorang polisi.” Komandan
polisi membuka obrolan,
“Pasti
ada maksud tersembunyi di balik semua ini, Tuan Thomson.” Alex menanggapi rekan
bicaranya.
“Dan
foto laki itu persisi dengan korban. Kemungkinan korban selanjutnya orang tua
atau si wanita yang bisa jadi adiknya.” Komandan polisi yang diketahui bernama
Thomson itu menyerahkan selembar foto pada Alex.
“Benar,
jika mereka masih hidup, pasti akan menjadi incaran selanjutnya oleh tersangka.”
Alex menyetujui pendapat Thomson.
“Kita
harus bergerak cepat sebelum korban selanjutnya berjatuhan.” Thomson memberi
pendapat.
“Langkah
yang pertama, menemui keluarga korban. Setelah ini, suruh anak buahmu memeriksa
berkas atau dokumen penting yang menyangkut indentitas korban.” Alex masih
mengamati foto yang di terimanya.
Selang
beberapa saat, Thomson komandan polisi itu memerintah anak buahnya untuk
menyeluri setiap isi rumah untuk mencari berkas atau dokumen penting milik
korban.
***
“Hey!
Kau kenapa masih melototiku? Apa aku terlalu cantik hingga matamu tak berkedip
barang satu detikpun?” Wanita itu mengamati dua buah bola mata yang terkurung
dalam sebotol kaca.
“Ini
baru koleksiku yang pertama, dan selanjutnya ... kau!!” Anak panah meluncur
tepat mengenai kepala pada foto yang tertempel di dinding.
_Bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar