
Judul Buku : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan kedua puluh, April 2018
Tebal buku : 512 halaman
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan kedua puluh, April 2018
Tebal buku : 512 halaman
Sinopsis:
Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka
pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita
cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam
semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta
sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar,
harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.
Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.
Maka Tere Liye dengan Kau, Aku dan
Sepucuk Angpau Merah-nya memulai cerita kehidupan di sungai Kapuas (Sungai
Kapuas atau sungai batang Lawai (Laue) merupakan sungai yang berada di
provinsi Kalimantan Barat. Sungai ini merupakan sungai terpanjang
di Indonesia dengan panjang total 1.143 km.). Budaya Dayak, Melayu dan
Cina peranakan, dengan alur ceritanya sederhana dan kisah kehidupan
sehari-hari, maka aroma Pontianak-lah yang membuat buku ini memiliki
nilai plus. Setting tempatnya sangat menarik, baru pertama kali saya
membaca buku dengan setting kota Pontianak.
Novel ini menceritakan Kisah Cinta
sederhana yang diceritakan dengan penuh perjuangan dan kejutan. Jalan
cerita tidak mudah ditebak, sehingga membuat saya ingin terus menerus
membaca kelanjutannya. Tere Liye berhasil memainkan perasaan, melalui
perasaan tokoh utama yang dengan cepat dibuat berubah.
Yang menarik dari novel ini yaitu, adanya misteri yang disajikan. Mulai dari, amplop merah, ketidak sukaannya Papa Mei, dan menjauhnya Mei dari kehidupan Borno. Misteri itu disajikan dengan menarik, sehingga membuat saya penasaran.
BORNO, bujang dengan hati paling lurus
sepanjang tepian Kapuas. Selepas lulus sekolah, dihabiskan waktunya
mencari nafkah dengan kerja serabutan. Mulai dari bekerja di pabrik
pengolah karet yang baunya luar biasa, membantu Cik Tulani di warungnya,
menunggu toko kelontong Koh Acong, ikut melaut mencari sotong.
Disuruh-suruh tetangga memperbaiki genteng, toilet mampet, jendela
lepas, bahkan mencari kucing hilang. Hingga akhirnya menjadi pengemudi
sepit. Kemudian ia berkembang menjadi pemilik bengkel dan berkongsi
dengan bapaknya Andi, sahabat baiknya.
MEI, si gadis sendu yang misterius.
Seorang guru di sebuah yayasan. Wanita yang telah menyita perhatian
Borno, penumpang specialnya di sepit Borneo. Rambutnya panjang,
keturunan Melayu Pontianak, dengan wajahnya Cina Peranakan.
PAK TUA, begitulah beliau dipanggil. Pria
yang sudah mengelilingi separuh bumi, namun tetap hidup bersahaja dan
menjadikan pekerjaannya sebagai pengemudi sepit miliknya sebagai hobi,
bernama asli Hidir. Selain memang menyenangkan dan berpengetahuan luas,
beliau juga pandai membaca raut wajah. Karakter pak Tua ini, merupakan
salah satu karakter favorit saya. Perhatikan saja, bahkan selain tokoh
utama Mei dan Borno, karakter Pak Tua ini pun mendominasi cerita dalam
novel ini. Satu hal lagi, tentang kisah si Fulan dan si Fulani, sahabat
baiknya pak Tua, yang diceritakan pak Tua pada Borno dan Andi, ini
merupakan kisah tentang cinta sejati yang sangat menyentuh dan hebat.
Karakter Ibu, Andi, Bang Togar, Cik Tulani, Koh Acong, dan kemunculan Sarah pun menjadikan novel ini lebih lengkap dan seru dengan karakter kuat yang mereka miliki.
Kau disini adalah Mei, Aku adalah Borno, dan sepucuk angpau merah yang
merupakan surat yang ditulis Mei untuk Borno, sebagai misteri menjadi
penutup paling sakti dari sebuah rahasia besar, yang kebenarannya baru
bisa diketahui di bab terakhir novel ini. Ikuti terus perjalanan mereka
dari awal hingga saat Mei menjadi guide Pak Tua dan Borno di kota
Surabaya. Berlanjut Borno menjadi guide Mei di kota Pontianak. Hingga
akhirnya rahasia besar pun terungkap! Baca bukunya yuk, biar makin seru
menikmati cerita dalam novel ini. Meskipun cukup tebal, tak akan terasa
membacanya. Buku ini membuat saya senang, sedih, bahkan bisa membuat
saya tertawa dengan kelakuan karakter Bang Togar, Borno saat saling jail
dengan teman baiknya yaitu Andi, apalagi Pak Tua, meskipun beliau
merupakan karakter paling bijak dalam buku ini, tapi ada saat-saat
dimana beliau pun memiliki selera humor yang baik, apalagi kalau lagi
‘iseng nyindir’ Borno
Tidak ada komentar:
Posting Komentar