2
Trauma
Dia
seperti hantu, selalu mengusik tiap kali aku menatapnya. Semakin lama kutatap
semakin nyata kehadirannya. Ingin rasanya berlari tapi tetap saja mengejarku.
Ingin menutup mata namun diingatan masih terpampang nyata.
Setiap
kali menyebrang jalan yang begitu ramai lalu lintas atau berjalan di pinggir
jalan, aku merasa seperti ada yang ingin menabrak dari arah mana saja. Pernah
aku terjebak di tengah jalan sendiri karena begitu takut untuk lanjut
menyebrang. Deru kendaraan serta klakson tak membuatku cepat berlalu. Untungnya
terkadang aku berdua teman. Sehingga dia begitu telaten menggandeng tanganku
untuk sampai di sebrang jalan.
Sudah
seperti jompo saja. Tapi mau bagaimana lagi? Aku masih sulit untuk melawan
trauma itu. Musibah yang membuatku kehilangan semangat hidup.
Kek,
usiaku 15. Sebentar lagi aku berseragam putih abu-abu. Kakek tahu, aku
sebenarnya tak ingin melanjutkan sekolah di SMP. Aku ingin melanjutkan sekolah
di MTS. Menurutku akan mendapat porsi yang lebih banyak dalam mempelajari agama
Islam. Di banding mata pelajaran umum.
“Sudahlah,
masuk SMP kakakmu saja,” kata ayah saat aku menentukan pilihan.
“Tapi,
Yah ....”
“Biar
semua urusan pendaftaran Kakak yang mengurus, kamu tinggal masuk sekolah saja.”
Belum sempat aku melanjutkan, ayah sudah memotong omonganku.
“Iya,
biar nanti kalau pergi bisa bareng sama Kakakmu.” Ibu menyambung omongan ayah.
Setelah
kupikir-pikir, ada benarnya juga kata mereka. Daripada harus merepotkan ayah
yang mengantarku sekolah ke MTS yang masuk siang. Lebih baik aku menurut apa
kata mereka. Setidaknya aku tak sendiri yang bersekolah di SMP itu. Berdua
sepupuku, Tina.
Kelas
satu dan dua, aku masih diantar jemput oleh kakak. Naik kelas tiga, aku sukses
memecah celengan ayam. Mengumpulkan uang koin seratus, lima ratusan, uang
kertas pun juga ada, meski tak lebih dari seribu rupiah. Hasil menyisihkan uang
saku dan kutabung. Jadilah ayah membelikan
sepeda seharga uang tabunganku, dua ratus ribu. Rasanya puas sekali bisa
membeli sepeda dengan hasil tabungan sendiri.
“Hati-hati,
ya.” Ibu melepas kepergianku dengan rasa khawatir. Maklum, hari pertama aku
sekolah mengendarai sepeda.
“Iya,
Bu,” jawabku takzim mencium tangannya.
“Nggak
usah ngebut-ngebut.” Teriak ibu lagi saat aku sudah lima meter meninggalkan
pekarangan rumah. Aku hanya mengacungkan jempol, entah ibu masih berdiri
melihatku atau tidak.
“Wah
... Sepeda baru ya.” Tetangga yang melihat aku melintas di depan pekarangan
runahnya menyapa.
Kring ... Kring!
Bunyi
bel di sepedaku tiap kali aku melewati orang-orang yang kukenal.
Pagi
yang begitu cerah. Ah, secerah hati ini. Mentari mulai hangat menyapa kulitku.
Jalanan desa ramai lalu lalang mereka yang beraktifitas. Para orang tua sibuk
mengantarkan anaknya sekolah. Ada juga yang pergi ke kebun lengkap dengan
peralatannya. Lain lagi dengan mereka yang berdasi, rambut klimis, sepatu
mengkilat, kendaraan pun bukan lagi roda dua, jelas roda empat.
“Hey, Ais. Kamu pakai sepeda sekarang?” sapa temanku ketika kami bertemu di
persimpangan jalan.
“Iya,”
jawabku mengulum senyum.
Sepanjang
jalan kami berceloteh di atas sepeda. Sengaja mensejajarkan laju sepeda dua
jalur saat sepi kendaraan dan mundur salah satu dari kami jika ada kendaraan
yang lewat. Satu persatu kami bertemu, bersama mengayuh sepeda. Bergerombol
bagai ular besi yang merayapi jalan aspal.
“Kita
titip sepeda di rumah ini saja,” ucap salah satu temanku ketika berhenti di depan
sebuah rumah berlantai dua.
“Memangnya
boleh?” sahutku di belakangnya.
“Aku
biasa menitip sepeda di sini, lagi pula tak begitu jauh melanjutkan berjalan
kaki untuk sampai sekolah.” jelasnya lagi.
Aku
melihat yang lain juga mendorong sepedanya masuk pekarangan rumah itu. Terlihat
wanita paruh baya tengah menyapu halaman. Senyumnya mengembang saat melihat
kami datang.
“Pagi,
anak-anak,” sapanya lembut.
“Pagi
juga, Bu.” Rosa temanku balas menyapa.
“Maaf,
Bu. Saya titip sepeda di sini.” Aku sedikit malu-malu dan takut, kalau tak di
beri izin.
“Silahkan,
Nak ....”
“Saya
Aisyah, Bu. Baru hari ini saya pakai sepeda ke sekolah.” Aku langsung
memperkenalkan diri melihat ibu itu melipat kening, penuh tanya.
“Oh,
pantas saja Ibu baru lihat kamu.”
Kami
pun berpamitan pada ibu Emi pemilik rumah sekaligus tempat aku dan teman-teman
menitipkan sepeda. Setelah meletakkan sepeda pada tempat yang telah di
sediakan. Lahan kecil sekitar 3 x 3 meter dengan pohon jambu air di tengahnya.
Kami
berjalan menuju sekolah, dalam waktu lima menit sampai. Menurut penjelasan
teman-temanku sesama bersepeda, mereka bukan tak mau membawa sepedanya sampai
di sekolah, meski tempat parkir telah di sediakan oleh pihak sekolah. Kejadian
ban bocor atau ada bagian sepeda yang hilang, rusak. Menjadi momok bagi mereka.
Entah bagaimana keamanan sekolah ini sampai kejadian seperti itu. Meski sudah
ada peringatan keras, tetap saja terulang. Sayang, tak ada kamera pengintai.
Dan
bagi mereka, menitip sepeda di rumah ibu Emi aman-aman saja. Tak pernah ada
kejadian yang terjadi seperti di sekolah. Ibu Emi negitu ketat menjaga
amanahnya. Lihatlah tadi, pekarangannya terkurung gerbang yang tinggi
menjulang. Teman-teman juga bilang, ibu Emi hanya tinggal sendiri. Jadi tak
mungkin ada anak-anak yang jahil merecoki sepeda kami.
Aku
menyakinkan diri supaya tenang, dan tak khawatir dengan sepeda baruku. Semoga
selalu terjaga sampai aku pulang sekolah nanti. Begitu doaku tiap kali
meletakkan sepedaku di sana.
Malang
tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Peribahasa yang cocok untukku hari
itu. Jumat siang waktu pulang sekolah. Jalanan ramai siswa-siswa keluar dari
gerbang, layaknya anak ayam yang baru dilepas dari kandang, menyerbu bebas.
Ada
yang menghampiri orang tuanya menjemput, ada yang membawa kendaraan sendiri,
berlalu ingin cepat sampai rumah masing-masing. Dan ada juga satu-dua yang
memilih berjalan kaki, karena jarak yang dekat dari rumah ke sekolah sekaligus supaya
bisa saling tukar cerita. Dan diantaranya rombongan kami, berjalan menuju tempat
penitipan sepeda, saling bercanda, memadati jalanan.
Aku
menenteng sebuah paper bag berisi
buku paket pelajaran. Lumayan berat, tapi tak begitu terasa jika sepanjang jalan
diselingi candaan teman-teman.
Saat
hampir sampai di tempat penitipan sepeda, kami akan menyebrang. Karena memang
tempat itu terletak di seberang jalan. Begitu ramainya kami yang ingin menyebrang,
sampai-sampai aku merasa ada yang mendorongku dari belakang. Sejurus aku melihat
di depan sana ada sebuah motor melaju kencang.
Braak!!
Bagian
depan motor itu menubrukku sekuat mungkin. Aku tak sadar lagi apa yang terjadi.
Semua gelap.
Beberapa
menit kemudian, tubuhku terasa digotong ramai-ramai ke sebuah toko yang
terletak di samping rumah tempat aku menitipkan sepeda. Entah siapa saja aku
tak melihat jelas. Lalu tubuhku dibaringkan pada sebuah kasur lantai. Ingin
rasanya aku langsung berdiri dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Apalah
daya, kaki tak kuat untuk berpijak.
“Ya
Allah, kasihan sekali kamu. Tega sekali yang menabraknya sampai seperti ini.”
Usapan jemari seseorang yang tak kukenal mejalari keningku.
“Ayo,
cepat beri minum air putih,” seru yang lainnya.
“Kotak
P3K mana?” Beberapa orang lagi terlihat panik, mencari-cari kotak pertolongan
pertama.
“Dia
nggak pingsan, cuma syok saja.” Suara lembut dari seorang gadis jauh lebih tua
dari umurku.
“Bawa
ke pukesmas saja,” sahut seorang laki-laki yang juga tak aku kenal.
Aku
masih mendengar jelas apa yang mereka bicarakan, namun mulutku kelu tak bisa
berucap. Yang kupikir ingin segera berlari mengambil sepeda dan pulang. Aku juga
menolak saat seseorang dengan baik hati ingin mengantarku ke puskesmas yang tak
begitu jauh dari lokasi kejadian.
“Aku
ingin pulang,” ucapku lirih sambil dipapah berdiri.
“Tapi
sebaiknya diperiksa dulu ke puskesmas, Nak,” ajak si pemilik toko.
Aku
tetap menggeleng lemah, ingin pulang. Lagi pula aku tak merasa sakit di bagian
tubuhku. Hanya kaki yang tak bisa untuk berdiri kuat.
Sepedaku
masih tergelatak di sana, belum aku ambil. Kejadian itu cepat sekali menimpaku.
Entah siapa nanti yang membawa sepedaku. Aku sudah diantar pulang terlebih dahulu
mengendarai motor, bonceng tiga. Aku diapit di tengah.
“Ibu ... Ayah ....”
gumamku dalam hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar