1
Kenangan dari Stik
Es Krim
Hening. Hanya degup jantungku
yang terdengar. Deru napas memburu sejurus kaki telanjang menapaki rumput hijau
bermandi embun. Aroma bunga setaman menyeruak sesaki penciuman. Kupu-kupu
bergerombol kabur saat aku melintasi.
Retina mengedar pandang menangkap
sosok yang tak asing bagiku. Duduk manis membelakangi, menengadah awan yang
saling berarak. Kudekati perlahan, gaun putih panjang menyibak keringkan embun
pada rerumputan.
Desau angin menyapa lembut. Bias
cahaya putih menyelimutinya. Semakin mendekat, terlihat jelas. Jemari keriput
berpegang pada tongkat tua. Rambut putihnya ikut melambai terbawa angin. Kerut
pada kening tak memudarkan rona wajah pucatnya.
Sekejap beradu pandang. Segaris
senyum mengembang. Senyum itu lama sekali tak terlukis dibibirnya. Terakhir
lenyap bersamaan dengan kelopak mata yang kompak mengatup. Aku tak percaya bisa
menikmatinya lagi sekarang.
Aku ingin berlama-lama
dengannya. Binar mata itu selalu menghangatkan, meski kurasa sejuk saat jemari
saling bertautan. Sosok yang selama ini kurindukan saat malam menjelang, rindu
akan celoteh bisingnya yang membuatku kabur ambil langkah seribu.
"Apa kabar, Kek?"
sapaku menatapnya penuh rindu.
"Kabar Kakek baik, sangat
baik." Kakek balas menatap sambil jemarinya mengelus lembut pucuk
kepalaku.
“Aku ingin ikut Kakek, ya.” Aku
memohon.
“Jangan, teruslah jalani
kehidupanmu, jadi anak yang membanggakan Ibu dan Ayah. Anak sholeha kelak akan
membawa kedua orang tuanya ke surga. Kita akan berkumpul di sana nanti.” Jawab
kakek seraya berdiri.
“Kek ... Kakek ...!” seruku
memanggil kakek yang begitu saja menghilang.
Aku terbangun, keringat sebesar
biji jagung membanjiri dahi. Mimpi itu seperti begitu nyata. Seketika rindu ini
kembali menyeruak dalam hati. Seperti baru kemarin aku kehilangan kakek yang
begitu aku sayangi. Kembali memori ingatan berputar otomatis mengulang
peristiwa duka itu.
Bendera kuning berkibar di depan
rumah, orang-orang silih berganti berdatangan dengan raut wajah sendu penuh
duka. Bisik-bisik lembut tersambung dari mulut ke mulut, jerit tangis pecah
saat ambulans memasuki pekarangan dengan sirinenya yang menggaung menambah
suasana duka makin terasa. Pintu ambulans dibuka, brangkar segera mungkin
mereka usung ke dalam rumah, tubuh itu telah tertutup kain putih, wajah
cerahnya dulu kini berganti pucat dan dingin.
Tubuhku berontak saat para
tetangga berusaha menenangkan.
“Kakek belum meninggal, Kakek
pasti hidup kembali. Kenapa tubuhnya ditutupi kain putih!” Aku berusaha
menyibak tangan orang yang memelukku.
Kata sabar tak cukup membendung
tangisku. Meski sekarang tubuhku mulai kehabisan tenaga terus berontak. Kulihat
ibu lebih terpukul. Ibu meraung-raung di samping tubuh kakek. Memeluk kakek
begitu eratnya. Sedang ayah hanya bisa mengusap-usap punggung ibu, berusaha
menguatkan.
Kabar kepergian kakek jelas
mengejutkan kami. Bagaimana tidak? Kakek tak pernah sakit parah. Tubuhnya masih
segar bugar meski berusia 70 tahun. Masih bisa bekerja keras di kebun, masih
bisa berdagang di pasar. Kakek memang perokok berat, tapi bukan rokok yang
biasa terjual bebas di toko-toko. Ia meracik sendiri tembakau yang digulung
pada selembar kertas rokok.
Bukan hanya kami yang sangat
merasa kehhilangan, seluruh masyarakat desa Kemuning turut merasakannya. Meski
kakek sangat dihormati dan dipandang sebagai tokoh desa yang sangat mengayomi,
murah hati dan sangat peduli. Kakek tak pernah berbesar hati.
Kakek terbaring sakit tak lebih
dari dua hari di rumah sakit. Siang itu aku dan ibu berencana untuk membesuk
kakek. Semua perlengkapan sudah siap tinggal berangkat. Tapi urung saat kakakku
mengabari kalau kakek sudah baik-baik saja, tak perlu khawatir. Kemungkinan
besok sudah boleh pulang ke rumah.
Apalah daya jika takdir
berkehendak lain. Kakek memang pulang, pulang ke rahmatullah dengan tenang.
Kata ayah, kakek begitu senang saat melahap sepotong jeruk. Nyatanya itu jeruk
terakhir yang kakek makan.
Aku melirik kotak yang berada di
atas nakas. Kubuka perlahan dan mengeluarkan isinya. Sebuah stik es krim.
Satu-satunya kenangan dari kakek yang masih aku simpan dengan rapi.
Mengenangnya kembali sama saja memutar ingatan tentang cerita dibalik stik es
krim itu. Katanya seseorang yang hendak meninggal itu meninggalkan tingkah yang
berbeda selama masa hidup. Dan aku baru merasakannya sekarang.
“Ini es krim untuk kamu.” Kakek
yang baru pulang dari berdagang di pasar tiba-tiba menyodorkan sebungkus es
krim.
“Tumben sekali Kakek membelikan
aku es krim. Biasanya selalu melarang kalau aku jajan es krim” Aku menerima es
krim itu dengan perasaan heran.
“Sekali ini saja, siapa tahu
kamu penasaran seperti apa rasa es krim.” Kakek terkekeh, lucu.
“Terima kasih, Kek,” ucapku
girang mendapat sebungkus es krim.
Aku memang jarang sekali makan
es krim. Kata ibu, es krim itu menyebabkan aku batuk dan flu. Memang benar,
maka dari itu kakek melarang untuk sering-sering jajan es krim.
Tapi es krim dari kakek yang aku
makan tidak menyebabkan sakit. Entah kenapa aku tak ingin membuang stik bekas
es krim itu. Kusimpan rapi di sebuah kotak. Kakek begitu baik hari ini. Aku
bergumam sendiri.
Kakek memang baik, selalu baik
padaku, dari kecil aku selalu di sayang olehnya. Namun ada satu kejadian yang
membuat kakek marah padaku. Saat aku tak sengaja memecahkan satu botol kecap
barang jualan kakek. Tumpahannya berceceran mengotori lantai. Seharian kakek
memarahiku. Aku begitu takut karena kakek selama ini tak pernah marah padaku.
Beberapa bulan semenjak
kepergian kakek, ibu sudah terlihat semangat lagi. Bagaimana pun kakek adalah
satu-satunya orang tua yang ibu miliki. Nenek meninggal ketika aku belum lahir.
Sayang sekali, aku tak pernah tahu seperti apa rupa nenek. Pastinya tak jauh
dari sifat ibu yang penyabar dan selalu peduli.
“Betapa sedih hati saat
ditinggal pergi oleh tulang rusuk Kakek.” Aku dan kakek tengah bersantai berdua
di teras rumah.
“Tulang rusuk?” Bukannya tulang
rusuk Kakek masih ada.” Begitu polosnya aku saat itu menanggapi curahan hati
kakek.
“Ya tentu masih ada di sini.”
Kakek tertawa sambil menunjuk dadanya.
“Terus maksud Kakek tadi apa?”
Desakku ingin tahu.
“Usiamu masih 12, mungkin belum
terlalu mengerti dengan penjelasan Kakek.” Sebatang rokok dihisapnya dalam-dalam,
asap mengepul keluar dari mulut.
“Mungkin aku tidak mengerti
sekarang, Kek. Tapi suatu saat pasti aku akan mengerti.” Aku menatap dalam mata
kakek.
“Baiklah.” Kakek memperbaiki
posisi duduknya menghadap aku. Kamu tahu kisah Adam dan Siti Hawa? Adam adalah
manusia pertama yang Allah ciptakan. Allah tidak ingin Adam hidup sendiri,
kemudian Allah menciptakan seorang perempuan untuk memani Adam. Dan perempuan
itu adalah Hawa. Lalu bagaimana Allah menciptkan Hawa?” Aku masih menyimak
penjelasan yang kakek sampaikan.
“Hawa diciptakan Allah dari
salah satu tulang rusuk Adam. Dengan tujun agar Adam dan Hawa saling
melengkapi, berbagi suka duka sebagai pasangan.
“Begitu juga Kakek dan Nenek
yang telah ditakdirkan Allah untuk berjodoh, dengan perumpamaan Nenek adalah
tulang rusuk Kakek, maka dari itu kami saling melengkapi, berbagi suka duka
sampai akhir hayat memisahkan. Kini Kakek sangat merindukan Nenek.” Tatapan
mata kakek begitu sendu, lama ia terdiam setelah menuntaskan cerita.
Aku mengerti sekarang, kerinduan
kakek selama ini yang membuatnya menjadi jatuh sakit. Meski masih ada kami yang
menemani, tentu terasa kurang rasanya jika sang kekasih hati tak ada lagi,
sekian lama. Semoga kakek bisa bertemu dengan nenek di surga Allah. Aamiin.

3 komentar:
Makin bagus
Makasih mas
Waw waw waw ... Emosinya dapet
Posting Komentar