Rabu, 25 Maret 2020

Tulang Rusuk yang Patah


4
Kampus Biru


Masa-masa sekolah adalah masa yang menyenangkan. Bersyukur tentunya dapat mengeyam dunia pendidikan. Berkumpul dengan teman sebaya dipenuhi dengan canda dan tawa. Banyak di luar sana yang masih terlantar tanpa ilmu. Sungguh miris rasanya melihat kondisi seperti itu di zaman sekarang ini.

Dan aku masih beruntung dan bersyukur dibesarkan dalam keluarga yang mengerti akan pentingnya pendidikan bagi anak. Meski orang tuaku tak mampu bersekolah sampai tingkat tinggi tapi mereka tidak mau melihat anaknya putus sekolah. Mereka menginginkan aku menuntut ilmu setinggi-tingginya

Seiring berjalannya waktu. Wajar bukan seorang pelajar mengalami kejenuhan dalam belajar. Terutama dalam mata pelajaran yang dihadapi. Tidak semua pelajar menyukai pelajaran yang mereka terima. Menyukai tidak menyukai menjadi dampak bagi para pelajar dalam proses pembelajaran berlangsung.

Contohnya aku. Aku sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, dan tidak menyukai pelajaran Matematika. Aku suka belajar Bahasa Indonesia menurutku banyak cerita-cerita yang menarik. Mulai dari sanalah suka membacaku tumbuh. Dibanding dengan pelajaran Matematika yang penuh dengan rumus-rumus membuat jenuh sampai ingin menyerah walau hanya mengerjakan satu soal.

Sampai aku duduk di Sekolah Menengah Atas aku masih tidak tertarik dengan yang namanya pelajaran Matematika. Mulutku pernah berucap "jika nanti aku lulus sekolah dan masuk perguruan tinggi, aku tidak ingin mengambil jurusan yang berbau dengan rumus, terutama matematika". Dulu kuanggap ucapanku akan kutepati, tapi nyatanya.

Qadarallah, apalah dayaku. Setelah lulus sekolah dan aku masuk perguruan tinggi, nyatanya aku mengkhianati ucapanku dulu. Aku mengambil jurusan Pendidikan Matematika. Yang kataku dulu tidak ingin mengambil jurusan Matematika apa kabar? Sadarkah apa yang kau ucap dulu sekarang malah kau jalani?

Sedikit kujelaskan apa yang terjadi dibalik semua itu. Berawal dari temanku, Dian, mengajakku masuk perguruan tinggi yang sama, karena kupikir biaya masuknya masih terjangkau oleh orang tuaku, meski mereka mampu membiayai lebih dari itu tapi aku yang tidak ingin menyusahkan mereka. Dan kupikir tak apa nantinya beda jurusan kan masih satu kampus.

Keinginanku untuk beda jurusan dengan temanku tidak disetujui oleh orang tuaku. Aku harus mengambil jurusan yang sama dengan temanku dengan alasan "supaya pergi dan pulang bareng". Mau tidak mau, suka tidak suka aku menuruti perintah orang tuaku, karena dulu aku memang belum berani kemana-mana sendiri.

Jadilah aku mengambil jurusan yang sama dengan temanku yaitu Pendidikan Matematika. Karena dia memang menyukai pelajaran Matematika. Sedangkan aku? Aku harus berjuang semester demi semester perkuliahan kuhadapi dengan usaha dan kemampuanku mengenai Matematika. Tidak mudah rasanya melakukan apa yang tidak kita sukai.

Dan di sinilah aku sekarang duduk di salah satu Universitas Islam Negeri di kotaku, atau lebih dikenal dengan sebutan Kampus Biru. Di kerenakan almamater kampus tersebut berwarna biru. Aku yang menyukai warna biru, tentu senang memakainya. Seakan hilang ketidak sukaan dengan jurusan yang dipilih.

Ketika masih memakai putih abu-abu aku memiliki mimpi bisa menduduki bangku perkuliahan dan sekarang Allah telah mewujudkan mimpiku.

Memasuki semester dua sekarang jadwal kuliahku begitu padat, banyak kegiatan dan tentu tiada hari tanpa tugas. Aku memiliki sahabat namanya Astuti, kami memiliki sifat yang hampir sama mungkin dikarenakan kami terlahir di bulan yang sama, tapi bedanya aku feminim dan dia tomboy.

Hari ini aku disibukkan dengan kegiatan ARITMATIKA (Ajang Kreativitas Matematika), kegiatan itu hanya diadakan oleh jurusan kami yaitu Matematika, yang sering dikatakan bahwa Matematika itu lebih seram daripada hantu. Tapi bagiku itu adalah keputusanku yang sudah yakin aku ambil dan sekarang aku hanya menjalani sewajarnya seorang Mahasiswi.

“Syah, kamu liat deh cowok yang memakai baju kaos hitam merah bergaris-garis itu.” Tuti menunjuk kearah cowok yang dimaksud.

“Memangnya kenapa, Ti?" sahutku.

“Dia itu yang menjadi kakak voluntirku waktu ospek," jawab Tuti memberi penjelasan.

“Terus apa hubungannya denganmu?" Aku penasaran apa yang dimaksud sahabatku itu.

“Dia keren, kan?" Manis lagi. Hehe ... aku suka melihatnya.” Kulihat wajah Tuti bersemu merah.

Sejenak aku melirik sosok lelaki yang diceritakan Tuti, benar apa yang Tuti bilang dia keren dengan gayanya yang cool.

“Hei, kamu kenapa melamun, Syah?” Suara Tuti mengagetkanku.

“Oh, emm ... nggak apa-apa kok,” jawabku sekenanya.

“Kamu pasti suka juga sama cowok itu?” Tuti meyikut lenganku.

“Sekadar suka dan kagum saja,” jawabku sambil tersenyum.

“Nah loh ... Tidak lebih dari itu?” tanyanya menyelidik.

“Sudalah seperti nggak tahu aku saja kamu, Ti.” Aku masih lekat memandangnya.

Itulah awalnya aku mengenal dia dari sahabatku Tuti, memang benar apa yang dibilang Tuti, dia keren, berwibawa, santai dan tentu banyak kaum hawa yang terpikat dengannya.

Tentunya aku juga sadar. Aku masih memiliki hubungan dengan Aris. Tak mungkin rasaku berpaling pada yang lain. Meski sekarang hubunganku dengan Aris merenggang, jarak dan waktu yang membuat kami seperti terpisah jauh.

Setelah lulus sekolah, Aris memustuskan untuk kuliah di luar negeri. Aku sempat tak setuju dengan keputusan itu, namun demi masa depan bersama, akhirnya aku melepas dia pergi.

“Eh, kalian ngomongin apa?" Tiba-tiba suara Via sahabatku dan Tuti mengagetkan kami yang sedari tadi tidak lepas pandangannya melihat sosok cowok misterius itu.

“Cowok itu siapa namanya, Vi?" tanya Tuti pada Via.

“Oh itu? Kak Uki namanya,” jawab Via.

“Uki? Nama lengkapnya siapa?” sambungku penasaran.

“Aku tidak tahu tapi aku tahu nama facebooknya, kalian mau?"

“Tentu dong!” jawab kami semangat.

Via memberi tahu apa nama facebook kak Uki dan langsung saja aku membuka facebookku dan mencari namanya, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencari namanya tentu saja aku langsung mengirim pertemananku kepadanya, ternyata saat aku melihat nama lengkapnya yang tertera dalam profilnya nama lengkap dia yaitu Zukri, Masa iya aku setengah tidak percaya.

“Kamu kenapa Ri?" tanya Tuti.

“Kamu lihat deh, Ti, cowok yang kamu maksud itu nama lengkapnya Zukri.” Aku memperlihatkan ponselku pada Tuti dan menujukkan nama cowok yang kami maksud.

“Hah? Ganteng-genteng kok namanya Zukri? Tidak sesuai dengan orangnya tuh ....”

“Eh, kamu tidak boleh berbicara seperti itu Ti,” tegurku.

“Ya, maaf, Syah, habisnya aku tidak percaya.”

“Hmmm pantas saja nama samarannya Uki," sahutku.

Sejak mengenal namanya aku semakin penasaran dengannya, setiap kali bertemu aku tidak pernah menyapanya, begitupun dia, aku mengenalnya tapi dia tidak dan tidak jarang aku melihatnya duduk-duduk di depan kelas bersama teman-temannya dan setiap hari pula tidak lepas perbincanganku dengan Tuti mengenai cowok yang benama Uki.

Hari demi hari berlalu, sesaat aku sudah lupa dengan Uki, tapi setiap kali aku melihatnya harapan itu selalu saja muncul, harapan untuk bisa mengenalnya lebih jauh dan tidak sekedar bertatap muka tapi tidak pernah berucap. Aku tidak berani menyapanya apalagi untuk memulai berkenalan dengannya dan mungkin saja dia tidak pernah tahu bahkan mungkin dia tidak perduli ada aku disini yang selalu memperhatikannya walau hanya dari jauh, jauh dari pandangan mataku.

Tersadar dengan apa yang kurasa sekarang bukanlah perasaan cinta yang sebenarnya, aku hanya sekedar kagum. Mulai sekarang kubatasi perasaan ini. Tentang Aris, tentu rasaku masih begitu kuat. Meski tak ada kabar lagi, aku selalu berharap hubungan kami baik-baik saja.

Tidak ada komentar:

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...