Kamis, 09 April 2020

Tulang Rusuk yang Patah


10
Di Persimpangan Jalan

“Maaf ... belakangan aku seolah tak peduli denganmu,” ucapmu dengan penuh rasa penyesalan.

“Mungkin ini yang terbaik,” sahutku.

“Maksudmu, Ai?” tanyamu, menangkupkan kedua tangan di atas meja.

“Iya, bukankah sudah jelas. Kita nggak bisa memaksakan ego,” jawabku serius.

“Maaf ...” Entah berapa kali kata maaf keluar dari mulutmu.

“Maaf ... Untuk apa lagi, Ris? Nggak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah terjadi.”

“Aku memilih dia. Tepatnya, ayahku. Ayahku lebih merestui aku dengan dia.” Kali ini aku tak mengerti siapa yang kamu maksud itu.

“Dia siapa? Perempuan yang pernah  kamu ceritakan itu?” sesak di dada mulai menjalariku.

“Bukan ...” sahutmu pendek.

“Lalu?” Aku mendesak meminta penjelasan.

“Sejujurnya aku punya teman dekat perempuan. Baru beberapa bulan ini kenal,” ungkapmu dengan nada lembut.

“Jadi ini alasanmu menghilang beberapa bulan?” tanyaku menyelidik.

“Iya. Aku hanya mencari jalan terbaik. Kamu tentu tahu bagaimana hubungan kita ini. Meski begitu, aku tetap utamakan kamu, Ai. Kamu yang pertama aku minta restu pada orang tuaku.” Aku hanya diam, mencerna baik-baik setiap kata yang kamu ucapkan.

“Saat aku meminta restu tentang hubungan kita, ayahku keras menolak. Aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Dengan berat, aku mengenalkan dia pada orang tuaku. Dan ternyata ayahku langsung menyetujui, begitu juga ibuku.” Aku benci keadaan seperti ini. Terasa sesak di dada menahan semuanya.

“Aku memang laki-laki yang nggak baik untukmu, Ai. Aku nggak bisa mempertahankan hubungan kita. Kalau kamu mau membenciku, silahkan, Ai, silahkan. Aku pantas dibenci olehmu.” Aku terkejut saat kamu menarik tanganku, melayangkan ke arah pipimu. Aku tak bisa, kukeraskan tangan ini agar tak sampai menampar pipimu.

“Aku nggak bisa melakukan itu, Ris. Seberapa besar kesalahanmu, aku nggak bisa benci kamu. Rasa cintaku mengalahkan semuanya,” suaraku sedikit meninggi, orang-orang terlihat heran dengan tingkah kami.
Untunglah suasana cafe hari ini lumayan sepi. Hanya ada beberapa orang yang berkunjung. Lagi pula tempat duduk kami lumayan jauh dari orang-orang. Beberapa remaja tanggung bergerombol di luar cafe.

“Kamu menangis, Ai?” tanyamu ingin menyeka air mataku yang sedikit demi sedikit turun tak sanggup aku tahan.

“Mungkin tangis kebahagiaan,” jawabku membiarkan tanganmu mengahpus air mataku.

“Kenapa?”

“Aku bahagia sudah membersamaimu sejauh ini. Meski akhirnya ...”

“Kamu tetap cinta pertamaku. Nggak ada yang bisa membuatku lupa akan kenangan kita,” sambungmu memegang pipiku.

“Kamu sudah menemukan kebahagiaan yang barus, Ris. Bukan aku lagi.”

“Kamu tetaplah kamu yang selalu aku sayang, meski nanti rasa sayangku nggak bisa lebih. Seperti dulu sebelum kita kenal. Kita hanya sebatas Kakak dan Adik.” Sesaat hatiku tenang mendengar ucapanmu itu.

“Kamu juga harus bahagia, Ris. Nggak akan ada lagi yang membuatmu kesal dan marah karena sifat manjaku.” Aku tersenyum. Berusaha menghibur hatiku juga hatimu.

“Aku akan tetap kehilangan sosok kamu,” ucapmu lembut.

“Nggak ada yang benar-benar merasa kehilangan, sekejap pasti terganti dengan pertemuan.” Setidaknya aku bisa berdamai dengan hati yang bergejolak menahan semua sesak ini.

“Aku belum begitu mengenal dia,” ungakpamu memalingkan pandang pada orang sekitar.

“Tapi Allah yang mengenalkan dia padamu. Allah lebih tahu dia yang terbaik untukumu, bukan aku.”

“Aku nggak berniat serius awalnya dengan dia. Hanya sebatas teman,” ucapmu membela diri.

“Aku tahu, tapi ini jalan Allah. Kamu harus ikuti, seberapa pun menyakitkan bagi kita.”

“Baiklah, aku akan berusaha. Mungkin memang ini yang terbaik untuk kita. Aku bukan yang terbaik untukmu – “

“Aku juga bukan yang terbaik untukmu,” potongku, “Tapi Allah menghadirkan yang terbaik untuk kita.”

“Kamu harus tetap bahagia tanpa aku. Carilah penggantiku yang lebih baik dari segala di banding aku.” Matamu mengembun, baru kali ini aku melihatmu seperti ini.
“Terima kasih atas semua usaha untuk membuatku bahagia. Berada di sisimu, berdampingan denganmu, aku nyaman dan bahagia.” Lagi-lagi aku tak sanggup membendung air mataku.

Kami sama-sama menghembuskan napas. Menetralkan rasa yang harus dipadamkan saat itu juga. Sama-sama tersenyum meski senyum itu tak seindah dulu. Duduk bersama bukan lagi membahas masa depan tentang kita. Tapi membahas masa depan masing-masing.

Di Persimpangan Jalan

Bersama sang waktu
Mempertemukan ku dengan sosok itu
Menjadikan aku dan kamu
Yang ku bilang tak ada kata jemu

Di persimpangan jalan kita bertemu
Menautkan hatiku dan hatimu
Berjalan beriringan menapaki lika liku
Tak terasa hatiku makin terpaku
Seiring waktu berjalan
Pun sampai pula di persimpangan jalan
Melepaskan jemari yang saling bertautan
Meninggalkan hati yang penuh goresan

Di persimpangan jalan kita harus berpisah
Mengacau angan yang penuh dengan kisah
Kisah yang tak sampai dengan mimpi yang membuncah
Sungguh hati siapa yang tak patah

Kini jalan kita telah berbeda
Kau berbelok untuk menapaki jalan bersamanya
Meski terasa menyesakkan dada
Ku yakin ini rencana terbaik dari-Nya

“Terima kasih untuk waktu yang selalu kamu beri untukku,” ucapku saat kami akan berpisah untuk terakhir kalinya.

“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Terima kasih telah membersamaiku selama ini,” balasmu.
Kami berpisah di persimpangan jalan. Menyusuri sendiri tapak demi tapak. Terima kasih sudah pernah menguatkan, terima kasih untuk semua hal yang kamu berikan. Canda, tawa, luka, sedih. Semua kujalani bersamamu. Dan terima kasih telah menemani hidupku yang pada akhirnya kita juga harus berpisah, saling melepas, mengikhlaskan perasaan masing-masing.

Aku sadar, benar-benar sadar. Tak boleh mencintai dan membenci sesuatu secara berlebihan. Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Boleh jadi apa yang kau cinta tak baik untukmu dan boleh jadi apa yang kau benci amat baik untukmu. Mencintai sewajarnya dan membenci secukupmya terhadap apapun dan siapapun itu.

Langkah kaki yang tak bisa kuhentikkan. Mulai terpisah jarak, ruang dan waktu. Hanya doa dan air mata yang mengiringi kepergianmu. Aku hargai semua keputusanmu. Semoga kamu bahagia bersamanya seumur hidupmu. Jaga dia seperti kamu pernah menjagaku.


Kepergianmu


Aku yang lebih dulu mengenalmu
Menemani di sepanjang harimu
Menjadi pelangi indah di matamu
Melukis senyum di setiap kita bertemu
Dan di saat kau mengenal dirinya
Menempatkan aku di hatimu bersamanya
Rasa sesak dada tak kuat menahannya
Ku pilih pergi membiarkan kau bersamanya
Ku tahu jalan ini terpaksa kau tempuh
Dengan perasaan yang bergemuruh
Membuat pondasi ikatan menjadi runtuh
Tak kuat menyuarakan hati untuk tetap teguh

Aku rela kau tinggalkan
Ku korbankan hati dan perasaan
Biarlah melayang bersama angan-angan
Meski berat hati dengan semua keputusan
Terimalah semua keputusan orang tuamu
Aku disini baik-baik saja tanpamu
Meski masih dengan mimpi yang semu
Ku yakin akan ada penggantimu

Tidak ada komentar:

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...