
9
Ada titik
aku merasa hanya butuh diriku sendiri. Memeluk diriku sendiri. Menenangkan
kegelisahan yang ada di dalam dada. Meyakinkan bahwa kecemasan-kecemasan akan
segera reda. Lalu megajarkan bibirku tersenyum – apa pun yang sedang dijalani.
Aku butuh kekuatan dari dalam diriku sendiri; yang menguatkan dalam segala suasana. Tidak akan menjatuhkan dan merendahkan meski aku gagal mendapatkan apa yang aku cita-cita. Bukan gagal kurasa, hanya Allah tahu mana yang lebih baik untukku.
Mungkin benar, aku memang hanya butuh diriku sendiri. Mendekap semua impian yang dimiliki. Yang masih jauh, yang sudah hampir didekap, yang masih harus diperjuangkan. Maka, kuatlah diriku. Jalan ini masih butuh semua keyakinan itu.
Aku butuh kekuatan dari dalam diriku sendiri; yang menguatkan dalam segala suasana. Tidak akan menjatuhkan dan merendahkan meski aku gagal mendapatkan apa yang aku cita-cita. Bukan gagal kurasa, hanya Allah tahu mana yang lebih baik untukku.
Mungkin benar, aku memang hanya butuh diriku sendiri. Mendekap semua impian yang dimiliki. Yang masih jauh, yang sudah hampir didekap, yang masih harus diperjuangkan. Maka, kuatlah diriku. Jalan ini masih butuh semua keyakinan itu.
Terkadang.
Semua terasa sulit untuk terus melangkah, rapuh, jatuh, dan tak ingin lagi
bangkit, seperti belenggu menggelayuti kaki, seperti kabut yang menyesakkan nafas.
Terkadang ingin menghentikan semua ini, berjalan sendiri semauku.
Ya Rabb. Jika semua ini adalah rasa yang Engkau hadirkan dalam hatiku, aku mohon jagalah hatiku dari gejolak egoku, tuntulah aku dalam jalan lurus-Mu. Aku mencoba untuk selalu mendekat pada-Mu, mencari Rida-Mu.
Kamu....
Kamu yang ada tapi tidak pernah hadir di hadapanku, kita saling kenal dari
beberapa tahun yang lalu sampai detik ini, sampai kamu membuat aku bisa
menumbuhkan rasa yang dari pertama mengenalmu sedikit demi sedikit singgah di
hati ini.
Ini
sama sulitnya seperti aku dengan sengaja menikam dan mengubur hidup-hidup
segala rasa. Aku menjadi tersangka karena kesalahan sendiri, dan mendekam dalam
penjara yang sunyi, dingin dan terdiam sendiri.
“Ada
hal yang belum kamu ketahui dariku, Ris.” Melanjutkan bicaraku, menatapmu,
tersenyum tipis.
“Apa?”
tanyamu mngerutkan dahi.
“Kamu
ingat aku pernah kecelakaan?”
“Iya,
jelas aku ingat. Memang kenapa?” tanyamu masih penasaran.
“Karena
kejadian itu ... menyebabkan tulang rusukku patah,” jawabku. Mengingat kembali
bagaimana dokter saat itu memvonis.
Hari
itu aku tak sanggup lagi rasanya menahan sakit dan nyeri di sekujur punggungku.
Ibu tentu cemas dengan kondisiku ini. Entah apa sebabnya, gejala ini mulai
terasa saat aku terlalu sibuk dengan aktifitas kuliahku.
Mengejar
target agar aku bisa wisuda tahun ini. membuat tenagaku terkuras habis. Setiap
hari beban berat yang ada di tas punggungku selalu menemani kemana pun aku
beraktivitas di kampus. Sebuah skripsi yag nantinya akan kupersembahkan untuk
kedua orang tuaku
Untungya
aku sekarang pergi dan pulang kampus mengendarai motor sendiri. Itu hasil nekad
saat aku berbeda jadwal kuliah dengan Rifa, memaksaku untuk berani mengendarai
motor sendiri ke kampus.
Ibu
sudah melarang, bilang baiknya ayah saja yang mengantarku. Namun aku takut
telat jika harus menunggu ayah pulang dari kebun. Dengan terpaksa ibu
mengizinkan aku mengendarai motor. Sejak itulah aku bebas, tidak tergantung
lagi dengan Rifa.
“Apa kamu mengalami (benturan)
dada, seperti akibat jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor, atau benturan saat
berolahraga dalam waktu dekat ini?” tanya dokter setelah melihat hasil rontgen yang telah kujalani beberapa
hari yang lalu.
“Iya,
Dok. Tapi itu beberapa tahun yang lalu,” jawabku yang duduk di kursi pasien
dengan ayah.
“Memangnya
anak saya kenapa, Dok?” tanya ayah tanpak cemas.
“Jadi
seperti ini, hasil rontgen
menunjukkan bahwa ada tulang rusuk yang patah di bagian punggung dan dada
sebelah kanan,” jelas dokter sambil memaparkan selembaran foto hasil rontgen.
Foto Rontgen adalah prosedur pemeriksaan
dengan menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik guna menampilkan gambaran
bagian dalam tubuh. Gambaran dari benda padat seperti tulang atau besi ditampilkan
sebagai area berwarna putih, sedangkan udara yang terdapat pada paru-paru akan
tampak berwarna hitam, dan gambaran dari lemak atau otot ditampilkan
dengan warna abu-abu. Dalam beberapa jenis foto Rontgen, digunakan tambahan
zat pewarna (kontras) yang diminum atau disuntikkan, misalnya
iodine atau barium, untuk menghasilkan
gambaran yang lebih detail.
Aku mengeluhkan beberapa gelaja sakit
seperti ditusuk pada bagian tulang rusuk belakang. Jika bergerak kadang-kadang
terasa tertusuk. Maka dari itu dokter mengharuskan untuk menjalani rontgen.
Aku
hanya bisa terduduk lemas saat dokter mengatakan hasil pemeriksaan hari ini.
Selama ini aku mengira sakit ini hanya sekadar sakit karena terlalu lelah
dengan aktivitas sehari-hari.
“Lantas
bagaimana, Dok?” Ayah tetap tenang meski kutahu jauh dalam hatinya pasti sedih.
“Banyak
kondisi tulang rusuk patah yang hanya retak. Meskipun hanya retak, kondisinya
tetap menyakitkan sekalipun potensi bahayanya tidak sebesar tulang rusuk yang
patah menjadi beberapa bagian. Ujung tulang patah yang bergerigi dapat merusak
pembuluh darah utama atau organ dalam, seperti paru-paru.” Penjelasan dokter
membuatku semakin kalut. Serasa hilang harapan untuk melanjutkan hidup.
“Apa
anak saya bisa disembuhkan, Dok?” Besar harapan ayah agar anaknya ini bisa sembuh
seperti semula.
“Dalam
kebanyakan kasus, patah tulang rusuk biasanya sembuh dengan sendirinya dalam
satu atau dua bulan. Tulang rusuk melindungi organ dalam, terutama paru-paru.
Untuk itu, mengatasi nyeri yang tepat saat kondisi patah tulang rusuk menjadi
hal yang penting agar kamu tetap dapat bernapas dalam-dalam dan menghindari
komplikasi paru.” Dokter memandangku dengann penuh simpati.
“Tapi
kejadian kecelakaan itu sudah lama, Dok. Kenapa baru sekarang anak saya
mengalami sakit dan nyeri?”
“Apa
sewaktu kecelakaan dulu tidak langsung dibawa kerumah sakit?” tanya dokter
menatapku dan ayah bergantian. Aku menggeleng lemah.
“Umumnya
orang yang mengalami kecelakaan harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Agar segera
diketahui apa ada yang serius dari bagian tubuhnya.” Aku hanya menunduk dalam. Menyesali
keegoisanku dulu tak mau dibawa ke pukesmas.
“Lalu
bagaimana dengan anak saya, Dok? Masih bisa sembuh, ‘kan?” Ayah terus
memastikan kalau aku harus bisa sembuh bagaiamapun caranya.
“Terdapat
beberapa cara pengobatan yang dapat kamu pakai untuk mengobati kondisi yang dialami
ini. Yang pertama yaitu obat-obatan. Penting untuk mendapatkan pereda nyeri
yang tepat. Sebab, nyeri yang muncul akibat patah tulang terutama saat kamu
menarik napas dalam dapat membuat kamu bisa terkena pneumonia jika tidak ditangani. Jika obat-obatan oral tidak cukup
membantu, saya menganjurkan untuk melakukan suntikan anestesi yang bertahan lama di sekitar saraf yang menopang tulang
rusuk.” Ibu, ayah ... Aku tahu kalian sangat merasa terpukul dengan keadaan
anakmu ini.
“Atau bisa juga melakukan
terapi. Olahraga atau latihan pernapasan untuk membantu kamu bernapas lebih
dalam karena pernapasan pendek dapat menempatkan kamu pada risiko pneumonia. Cara lain juga bisa digunakan
untuk meringankan nyeri akibat patah tulang rusuk adalah dengan membebat dada.
Hanya saja, pembebatan tidak boleh terlalu kencang karena dapat menghambat
paru-paru untuk mengembang dan meningkatkan risiko terjadinya pneumonia.”
“Akan tetapi, bila tulang rusuk
benar-benar patah dan ujung patahannya menusuk organ dalam, dapat terjadi
komplikasi timbunan udara di rongga dada dan penimbunan darah di rongga dada. Jika
seperti ini, perlu dilakukan operasi untuk memperbaiki tulang yang patah dan
kerusakan pada organ dalam. Selain itu, operasi juga diperlukan bila satu
tulang rusuk patah di dua tempat, sehingga ada satu ruas tulang yang terlepas
dan “mengambang”. Kondisi ini disebut flail chest.”
Panjang
lebar dokter memberi penjelasan pada kami. Tak sepatah kata pun keluar dari
mulutku. Hanya menggeleng atau mengangguk dan senyum tipis yang kupaksanakan.
Ibu
... ayah ... aku masih bisa berlari, aku kuat untuk berjalan. Bahkan aku masih
bisa tertawa lepas saat sedang berada di kerumunan teman-temanku. Terasa tak
ada beban, terasa semua baik-baik saja. Namun jauh di dalam, mereka tak tahu. Dan
kamu juga baru mengetahui yang sesungguhnya sekarang.
Meski
rasa sakit, nyeri sering aku rasakan. Aku tak ingin membuatmu cemas. Dan mungkin
inilah saat yang tepat kamu tahu.
Ini
sudah menjadi jalan takdirku. Aku yakin Allah selalu menguatkan di saat aku
ingin rapuh. Meski sekarang benar-benar patah, bukan hanya tulang rusukku yang
patah, hatiku juga patah saat mendengar kabar seperti itu darimu.
“Jangan
khawatir, aku baik-baik saja,” ucapku mengulum senyum demi melihatmu juga
tersenyum. Meski kutahu kau juga merasakan kesedihan yang sama sepertiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar