Selasa, 10 Desember 2019

Ulasan Cerpen Remaja


Judul                            : Titik Buta 
Penulis                         : MGal
Kategori                       : Cerpen Remaja
Lulus moderasi            : 8 Desember 2019

Kita boleh saja buta dengan hal-hal yang tak seharusnya kita lihat. Kenapa? Karena itu untuk menjaga hatimu agar tetap sehat, tidak sakit. Namun salah besar jika mata sengaja dibutakan untuk hal-hal yang bermanfaat, hal-hal yang bisa memperbaiki hidupmu, hal-hal yang pastinya penting untuk diketahui.

Seperti cerita kali ini yang mengisahkan seorang siswa di sebuah sekolah menengah. Sidiq, adalah siswa dengan jurusan IPS, terkenal badung tak menurut aturan sekolah. Baginya sekolah adalah siksaan, tempat dibanding-bandingkan dengan anak IPA yang katanya penurut, katanya pintar, katanya teladan dan segala omong kosong lainnya. Tidak peduli sesopan apapun atau berapa banyak basa-basi yang dipakai, hinaan, tetaplah hinaan.

Karena itu, dari sekian banyaknya orang, hanya Sidiq lah yang berani kabur dan mengendap keluar dari neraka itu. Upacara di mana semua penghuni sekolah dengan khidmat mengikuti acara demi acara. Tapi tidak dengan Sidiq, dia beranjak pergi ke dalam kantin yang sepi. Disana berdiri seorang lelaki tua yang tidak dikenalnya, merapikan gorengan dan dagangan lainnya.

Sidiq bertanya-bertanya kemana ibu kantin yang biasanya menerima hutang-hutangnya ketika uangnya terbakar jadi asap rok*k? Masa bodoh, selama ada yang jaga ia bisa makan dengan tenang, sekalipun ngutang. Begitulah anggapan Sidiq. Dengan santainya dia menunggu pesanan nasi goreng dari bapak penjaga kantin yang ramah.

Percakapan demi percakpan mengalir di antara keduanya. Membahas tentang Sidiq yang tidak ikut upacara keluh kesah Sidiq terungkap pada si bapak.

“Mereka bilang kami tak disiplin, mereka bilang kami memberontak, mereka bilang kami tidak bisa diatur, bahkan mereka menganggap kami tak berguna!”
“Aku bahkan sampai lupa menghitungnya. Yang langsung, yang tidak, yang di depan, yang di belakang, yang teguran, yang bisikan aku sudah dengar semuanya! kewajiban yang dipikul bersama beban itu, bukan kewajiban, tapi kutukan! Cuma orang gila saja yang mau melakukannya!” 

Kekesalan Sidiq tumpah saat itu juga. Tak peduli nasihat si bapak yang berkata : Bekerja sambil menggendong bangkai itu wajar, kan. Mungkin mas belum tahu, tapi waktu kerja itu lumrah sekali, tahu? jadi, kenapa tidak tahan saja bau busuknya.

Satu kata pun tak ada yang Sidiq gubris. Usai melahap nasi gorengnya dan meneguk segelas air, Sidiq pergi dari kantin itu meninggalkan si bapak. Dia bermaksud untuk bolos sekolah, tapi naas, Sidiq yang harusnya bolos sekolah, tertangkap basah tepat tak lama setelah ia keluar dari kantin. Guru-guru BK dan kesiswaan yang garang itu menyeretnya sepanjang jalan menuju sarang mereka. Anehnya, mereka melewati ruang BK- kandang singa-, tapi lurus menuju ruang kepala sekolah.

Sidiq yang beranggapan bahwa kepala sekolah tak masuk,hari ini karena jelas tadi dia menyinggung wakil kepala sekolah yang menjadi pembina upacara menggantikan kepala sekolah. Dia salah besar,
Sidiq merasa jantungnya berhenti, darah turun mengalir menyisakan wajah pucat pasinya. Seolah Sidiq lupa caranya bernapas, mulutnya ternganga sama lebar dengan matanya. Orang yang masuk adalah seorang guru dilihat dari pakaian dinasnya. Tetapi, apa yang mengejutkan bukanlah itu.

Pernapasan Sidiq menjadi kacau, ia ingin mengaturnya, tapi ia tak bisa. Ada segudang pertanyaan yang ingin ia mutahkan segera. Namun, tenggorokkannya terasa sesak seolah kawanan lebah bersarang di dalamnya. Tapi, yang paling penting kenapa “dia” ada disini? Dia adalah bapak kepala sekolah yang menyamar menjadi penjaga kantin sekolah.

Suatu pelajaran berharga dari cerita ini yaitu, penting bagi kita melihat siapa-siapa saja orang yang ada di sekitar kita, menjaga ucapan serta tingkah laku di mana pun berada. Karena kita tidak tahu dengan siapa lawan bicara kita. Alih-alih bisa merugikan diri sendiri. Seperti Sidiq yang pada akhirnya dikeluarkan dari sekolah karena perilakunya itu.

Bapak kepala sekolah patut dijadikan contoh, tak banyak kepala sekolah yang peduli dengan perkembangan siswa-siswanya. Dengan cara itu, dia telah menemukan benang merah yang terjadi di sekolah yang dipimpinya. Dengan cara bijak pula dia mengeluarkan siswa yang tak patuh akan aturan.

Alur cerita yang mudah dimengerti juga bahasa sehari-hari yang masih dalam aturan. Penulis begitu rapi mengatur cerita sampai ending yang tak terduga. Namun cerita seperti ini menurut saya sudah banyak versinya. Tapi tetap menginspirasi bagi para pembaca. Judul yang unik membuat saya tertarik untuk mengulas cerpen ini.

Titik Buta. Di mana orang terkadang hanya memandang sebelah mata, tanpa tahu fakta, tanpa peduli dengan sekitarnya. Titik di mana seharusnya kita melihat yang sebenar-benarnya penting untuk dilihat. Hanya anggapan-anggapan yang merusak otak dan hati, itulah yang membuat buta akan kebaikan di dalamnya.

Cerpen ini saya ambil dari sumber http://cerpenmu.com/cerpen-remaja/titik-buta.html

Sekian ulasan dari saya untuk memenuhi tugas fiksi pekan ke 3.

Tidak ada komentar:

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...