Saat kau datang kuberi ruang, kusambut dengan hati
riang, lama berbincang mengisi waktu luang. Lelaki berpawakan sedang, sedikit
tinggi dariku 10 cm, berkulit sawo matang, hidung mancung serta alis tebalnya
yang hampir menyatu.
Menyebalkan. Itu kata pertama yang kuungkap mengenai
sifatnya. Bagaimana tidak, bagai di teror hantu tak bernama. Setiap hari di
jejali dengan pesan-pesan aneh dari nomor yang tak ku kenal. Ku sebut saja
nomor hantu. Untung saat itu kau tak mengetahui atau mendengar aku menyebutnya
seperti itu.
Aneh memang, apa dia juga seorang pesulap? Bagai tak
gentar menghadapi lawan di medan perang yang akhirnya berhasil di taklukan.
Dasar aku, terhipnotis dengan sulapnya, serta kalah melawan rasa dan raga
sehingga bisa di taklukannya.
Kuyakin bendera kemenangan telah berkibar meliuk-liuk
bersama senyum yang mengembang bagai kerupuk yang menyentuh minyak panas. Dan
hatinya berbinar cerah mengalahkan mentari kala itu yang masih di balut awan
mendung.
Sudahlah. Lupakan smua itu, aku tak ingin lagi
mengingatnya. Kini, tak ada lagi kau bertamu, tak ada lagi pesan-pesan singkat
yang selalu kutunggu. Kau hilang bagai ditelan bumi, kau lenyap tanpa
meninggalkan jejak.
Makhluk sejenis apa kau? Ku kira kau manusia yang tahu
adab bertamu. Senja saja tahu bagaimana indahnya untuk permisi. Sedang kau?
Aroma tubuhmu saja tak tercium lagi. Apa kau benar-benar pesulap? Bisa
menghilang sekejap mata.
Tak apa. Tak jadi masalah untukku. Selagi tak ada yang
kau bawa pergi dariku. Hatiku masih utuh meski sempat terguncang karena
kepergianmu. Hanya retak, Tidak sampai hancur berkeping-keping. Nanti bisa
kuperbaiki sendiri.

4 komentar:
Btw ini cerpen apa puisi? 😁
Bahasanya melayang layang kak
Curahan hatiku eeaaa 😄
Prosa liris ini keknya... 😁
Iyakah hehe
Posting Komentar