Sabtu, 04 April 2020

Tulang Rusuk yang Patah



7
Tentang Rasa

“Lho, bukannya bagus rencana kalian itu?” ujar Eno saat aku menceritakan hasil pertemuanku dengan Aris.

“Entahlah, aku bingung, takut juga,’ sahutku mengingat kembali kata-kata Aris.

“Ayo dong, perjuangkan cinta kalian. Jangan sepertiku.” Ada gurat kesedihan di wajahnya.

Iya, aku tahu betul bagaimana kisah cinta sahabatku satu ini. Dulu ia menjalanin hubungan dengan teman satu sekolahnya. Kebetulan juga perempuan itu adalah teman masa kecilku.

Mereka menjalin hubungan semenjak masa MTs, sampai sama-sama lulus. Meski Eno tak melanjutkan sekolahnya lagi dengan berbagai alasan, tapi hubungan mereka masih tetap berlanjut.

Sampai kekasihnya masuk perguruan tinggi di sanalah hubungan mereka mulai retak. Kekasihnya memutuskan hubungan secara sepihak. Hati siapa coba yang tak hancur berkeping-keping.

“Ibarat cuaca, tak ada angin, tak ada hujan dia meminta putus, dengan alasan ingin fokus dengan kuliahnya.” Begitulah ungkap Eno saat bercerita padaku.

Aku pun ikut merasakan bagaimana kesedihan hatinya. Kurang lebih tujuh tahun menjalin hubungan, namun akhirnya kandas juga. Meski sudah ada restu dari kedua orang tua mereka. Tetap saja hubungan itu tak bisa dilanjutkan lagi.

Kata-kata Eno mematik semangat untuk terus memperjuangkan hubunganku dengan Aris. Dan yakin suatu saat hubungan kami akan mendapat restu. Tapi perkataan sepupuku, Sari, terkadang menyurutkan semangatku.

“Percuma kamu melanjutkan hubungan dengan Aris. Kalian itu masih sepupuan. Hubungan keluarganya juga masih dekat. Feelingku mengatakan “tidak.”

Benar memang apa yang dikatakan Sari. Kami masih ada hubungan keluarga. Kakek kami bersaudara, setelah sama-sama menikah lahirlah ibuku dan ayah Aris. Otomatis mereka menjadi saudara sepupu. Setelah itu barulah lahir aku dan Aris. Kami pun menjadi saudara sepupu.

Dalam islam, saudara sepupu bukanlah mahram karena itu Allah menghalalkan untuk menikah dengan saudara sepupu, baik sepupu dekat maupun jauh. Itu menurut pendapat agama islam, namun orang tua kami tetap memegang juga adat istiadat tanah jawa. Bahwa tidak ada pernikahan antara sepupu.

“Kamu pasti bisa,” lanjut Eno terus memberiku semangat.

“Tapi gimana kalau -“

“Selalu saja berpikir pesimis. Jodoh itu memang sudah ada yang mengatur. Tapi kita juga harus berikhtiar. Jangan hanya pasrah dan nggak melakukan apa-apa.” tegasnya menjelaskan.

“Akan aku usahakan,” ucapku lirih.

“Aku selalu mendukungmu, yang penting itu membuatmu bahagia. Aku akan turut bahagia.”

“Terima kasih.” Kami sama-sama tersenyum.

Hubungan kami belum diketahui oleh orang tua kami. Mereka hanya tahu kami dekat hanya sekadar sebagai kakak dan adik. Entah sampai kapan akan terus berjalan seperti ini aku juga tak bisa memastikan.

Berjalan saja meski ada lika-liku di tengah perjalanan. Sampai nanti kita bertemu dua persimpangan di antara jalan lurus itu. Hanya takdir yang menentukan apakah kita terus berjalan lurus atau berpisah di antara dua persimpangan tersebut.

“Kita nggak bisa menyalahkan perasaan,” ucapmu saat membahas tentang hubungan kita.

“Apa kita yang salah terus menjalani hubungan ini.” Aku menunduk dalam. Terdengar kamu melempar sesuau ke arah danau tempat kita bertemu hari ini.

“Apa kamu nggak percaya dengan kata-kataku lagi, Ai?” Kamu menoleh padaku dan ikut duduk di bangku panjang pinggir danau.

“Aku butuh bukti dari kata-katamu, Ris,” tukasku menatap matamu.

“Baik, aku akan bicarakan ini pada orang tuaku.” Bisikmu di telingaku.

“Kamu yakin?” Aku hanya bisa memejamkan mata, berusaha menetralkan detak jantungku setiap kali berdekatan denganmu.

“Yakin,” tegasmu mantap meraih jemariku.

“Seyakin apa,”

“Seyakin perasaan cintaku padamu, Ai.”

“Kamu selalu bisa meluluhkan hatiku.” Jemari kami saling bertautan. Menyalurkan energi positif untuk menenangkan pikiran dan hati.

“Kita pulang?” ajakmu memecahkan keheningan.

Langit terlihat mendung. Awan putih telah berganti dengan kelabu. Lagi-lagi cuaca tak bersahabat dengan kami. Gelembung air danau menandakan air hujan mulai turun.

“Aku ingin terus di sini, Ris,” ucapku menepis gerimis yang mulai membasahi tubuh.

“Tidak boleh.” Kamu menarik tanganku dan mengajak berlari menerobos gerimis.

“Kenapa?” tanyaku di sela-sela berlari. Nafas kami terdengar tak beraturan.

“Nanti kamu sakit!” teriakmu melawan suara gerimis yang mulai deras.

Hujan saat ini membawa kehangatan bagiku, karena kamu ada menjelma bagai selimut tebal untuk tubuhku. Kita sama-sama menikmati butiran air hujan yang turun ke bumi. Menyejukkan dedaunan yang haus selepas terkena terik matahari.

Aku harap hujan kali ini turun lebih lama. Agar aku bisa menikmati waktu lebih lama denganmu. Kita saling mengaminkan apa saja yang keluar dari kedua bibir. Seolah itulah doa kita untuk masa depan nanti.
Aku tidak hanya menyuakaimu kali ini. Hujan telah menjelma pula menjadi hal yang aku suka. Entahlah, mungkin itu karena menikmati hujan denganmu. Bagaimana jika kunikmati hujan kala sendiri? Saat ini aku tak ingin membayangkan itu.

“Kamu dingin, Ai?” Kamu merapatkan jaket ke tubuhku.

“Nggak kalau aku bersamamu.” Aku tersenyum kamu membalas.

Kami berteduh di sebuah gazebo yang tak jauh dari danau. Tak hanya kami yang menikmati hujan. Mereka pun juga sama. Para remaja, orang tua yang membawa serta anak dan keluarganya.

Tempat ini cocok untuk bersantai atau liburan. Banyak wahana permainan anak-anak. Waterboom, kolam renang, jungkat-jungkit, ayunan, taman bunga yang memiliki banyak varian tanaman hias. Atau bisa juga menikmati perahu bebek di tengah danau. Hanya saja cuaca hari ini tidak mendukung. Hujan semakin deras.

“Suara apa itu?” Kamu bertanya saat bunyi perutku tak kuat lagi kutahan.

“Hehe.” Aku nyengir melihat kau juga menahan tawa.

“Nanti kita cari makan dulu sebelum pulang,” ujarmu tak tega melihat aku kelaparan.

Aku hanya mengangguk. Kembali menikmati hujan yang mulai reda. Kerumunan orang-orang satu-dua mulai meninggalkan tempat berteduh. Sisanya lagi masih bertahan, termasuk kami.

“Hei, lihat.” Aku menunjuk garis melengkung di langit.

“Apa?” Kamu penasaran melihat apa yang kutunjuk.

“Pelangi,” sahutku tak melepaskan pandang pada pesona alam kali ini.

“Ayo.” Kamu berdiri menarik lembut tanganku.

“Ke mana?” tanyaku ikut berdiri.

“Kita cari makan dulu. Hujannya sudah reda.” Kamu menadahkan tangan, memastikan yang tersisa hanya tinggal gerimis.

Kami berjalan menyisir sisa air hujan. Rintik-rintik gerimis menyertai perjalanan. Dibalik jaket yang kamu jadikan payung, tentu aku merasa begitu terlindungi. Menikmati indahnya pelangi di sore hari.

Tentang rasa yang kita jalani, biarlah seindah pelangi. Meski keindahannya tak selamanya mampu bertahan di langit. Tapi mampu memberikan pesona yang abadi.

Kamu benar. Tentang rasa kita tak bisa menolak. Ia bisa saja menyelinap kapan pun ke dalam hati. Seiring berjalannya waktu, kita akan tahu. Seberapa lama rasa itu akan bertahan atau ia juga akan pergi meninggalkan lara pada hati.

Tidak ada komentar:

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...