7
Tentang
Rasa
“Lho,
bukannya bagus rencana kalian itu?” ujar Eno saat aku menceritakan hasil
pertemuanku dengan Aris.
“Entahlah,
aku bingung, takut juga,’ sahutku mengingat kembali kata-kata Aris.
“Ayo
dong, perjuangkan cinta kalian. Jangan sepertiku.” Ada gurat kesedihan di
wajahnya.
Iya,
aku tahu betul bagaimana kisah cinta sahabatku satu ini. Dulu ia menjalanin hubungan
dengan teman satu sekolahnya. Kebetulan juga perempuan itu adalah teman masa
kecilku.
Mereka
menjalin hubungan semenjak masa MTs, sampai sama-sama lulus. Meski Eno tak
melanjutkan sekolahnya lagi dengan berbagai alasan, tapi hubungan mereka masih
tetap berlanjut.
Sampai
kekasihnya masuk perguruan tinggi di sanalah hubungan mereka mulai retak.
Kekasihnya memutuskan hubungan secara sepihak. Hati siapa coba yang tak hancur
berkeping-keping.
“Ibarat
cuaca, tak ada angin, tak ada hujan dia meminta putus, dengan alasan ingin
fokus dengan kuliahnya.” Begitulah ungkap Eno saat bercerita padaku.
Aku
pun ikut merasakan bagaimana kesedihan hatinya. Kurang lebih tujuh tahun
menjalin hubungan, namun akhirnya kandas juga. Meski sudah ada restu dari kedua
orang tua mereka. Tetap saja hubungan itu tak bisa dilanjutkan lagi.
Kata-kata
Eno mematik semangat untuk terus memperjuangkan hubunganku dengan Aris. Dan
yakin suatu saat hubungan kami akan mendapat restu. Tapi perkataan sepupuku,
Sari, terkadang menyurutkan semangatku.
“Percuma
kamu melanjutkan hubungan dengan Aris. Kalian itu masih sepupuan. Hubungan
keluarganya juga masih dekat. Feelingku
mengatakan “tidak.”
Benar
memang apa yang dikatakan Sari. Kami masih ada hubungan keluarga. Kakek kami
bersaudara, setelah sama-sama menikah lahirlah ibuku dan ayah Aris. Otomatis
mereka menjadi saudara sepupu. Setelah itu barulah lahir aku dan Aris. Kami pun
menjadi saudara sepupu.
Dalam
islam, saudara sepupu bukanlah mahram karena itu Allah menghalalkan untuk
menikah dengan saudara sepupu, baik sepupu dekat maupun jauh. Itu menurut
pendapat agama islam, namun orang tua kami tetap memegang juga adat istiadat
tanah jawa. Bahwa tidak ada pernikahan antara sepupu.
“Kamu
pasti bisa,” lanjut Eno terus memberiku semangat.
“Tapi
gimana kalau -“
“Selalu
saja berpikir pesimis. Jodoh itu memang sudah ada yang mengatur. Tapi kita juga
harus berikhtiar. Jangan hanya pasrah dan nggak melakukan apa-apa.” tegasnya
menjelaskan.
“Akan
aku usahakan,” ucapku lirih.
“Aku
selalu mendukungmu, yang penting itu membuatmu bahagia. Aku akan turut bahagia.”
“Terima
kasih.” Kami sama-sama tersenyum.
Hubungan
kami belum diketahui oleh orang tua kami. Mereka hanya tahu kami dekat hanya
sekadar sebagai kakak dan adik. Entah sampai kapan akan terus berjalan seperti
ini aku juga tak bisa memastikan.
Berjalan
saja meski ada lika-liku di tengah perjalanan. Sampai nanti kita bertemu dua
persimpangan di antara jalan lurus itu. Hanya takdir yang menentukan apakah
kita terus berjalan lurus atau berpisah di antara dua persimpangan tersebut.
“Kita
nggak bisa menyalahkan perasaan,” ucapmu saat membahas tentang hubungan kita.
“Apa
kita yang salah terus menjalani hubungan ini.” Aku menunduk dalam. Terdengar kamu
melempar sesuau ke arah danau tempat kita bertemu hari ini.
“Apa
kamu nggak percaya dengan kata-kataku lagi, Ai?” Kamu menoleh padaku dan ikut
duduk di bangku panjang pinggir danau.
“Aku
butuh bukti dari kata-katamu, Ris,” tukasku menatap matamu.
“Baik,
aku akan bicarakan ini pada orang tuaku.” Bisikmu di telingaku.
“Kamu
yakin?” Aku hanya bisa memejamkan mata, berusaha menetralkan detak jantungku
setiap kali berdekatan denganmu.
“Yakin,”
tegasmu mantap meraih jemariku.
“Seyakin
apa,”
“Seyakin
perasaan cintaku padamu, Ai.”
“Kamu
selalu bisa meluluhkan hatiku.” Jemari kami saling bertautan. Menyalurkan
energi positif untuk menenangkan pikiran dan hati.
“Kita
pulang?” ajakmu memecahkan keheningan.
Langit
terlihat mendung. Awan putih telah berganti dengan kelabu. Lagi-lagi cuaca tak
bersahabat dengan kami. Gelembung air danau menandakan air hujan mulai turun.
“Aku
ingin terus di sini, Ris,” ucapku menepis gerimis yang mulai membasahi tubuh.
“Tidak
boleh.” Kamu menarik tanganku dan mengajak berlari menerobos gerimis.
“Kenapa?”
tanyaku di sela-sela berlari. Nafas kami terdengar tak beraturan.
“Nanti
kamu sakit!” teriakmu melawan suara gerimis yang mulai deras.
Hujan
saat ini membawa kehangatan bagiku, karena kamu ada menjelma bagai selimut
tebal untuk tubuhku. Kita sama-sama menikmati butiran air hujan yang turun ke
bumi. Menyejukkan dedaunan yang haus selepas terkena terik matahari.
Aku
harap hujan kali ini turun lebih lama. Agar aku bisa menikmati waktu lebih lama
denganmu. Kita saling mengaminkan apa saja yang keluar dari kedua bibir. Seolah
itulah doa kita untuk masa depan nanti.
Aku
tidak hanya menyuakaimu kali ini. Hujan telah menjelma pula menjadi hal yang
aku suka. Entahlah, mungkin itu karena menikmati hujan denganmu. Bagaimana jika
kunikmati hujan kala sendiri? Saat ini aku tak ingin membayangkan itu.
“Kamu
dingin, Ai?” Kamu merapatkan jaket ke tubuhku.
“Nggak
kalau aku bersamamu.” Aku tersenyum kamu membalas.
Kami
berteduh di sebuah gazebo yang tak jauh dari danau. Tak hanya kami yang
menikmati hujan. Mereka pun juga sama. Para remaja, orang tua yang membawa
serta anak dan keluarganya.
Tempat
ini cocok untuk bersantai atau liburan. Banyak wahana permainan anak-anak. Waterboom, kolam renang,
jungkat-jungkit, ayunan, taman bunga yang memiliki banyak varian tanaman hias.
Atau bisa juga menikmati perahu bebek di tengah danau. Hanya saja cuaca hari
ini tidak mendukung. Hujan semakin deras.
“Suara
apa itu?” Kamu bertanya saat bunyi perutku tak kuat lagi kutahan.
“Hehe.”
Aku nyengir melihat kau juga menahan tawa.
“Nanti
kita cari makan dulu sebelum pulang,” ujarmu tak tega melihat aku kelaparan.
Aku
hanya mengangguk. Kembali menikmati hujan yang mulai reda. Kerumunan
orang-orang satu-dua mulai meninggalkan tempat berteduh. Sisanya lagi masih
bertahan, termasuk kami.
“Hei,
lihat.” Aku menunjuk garis melengkung di langit.
“Apa?”
Kamu penasaran melihat apa yang kutunjuk.
“Pelangi,”
sahutku tak melepaskan pandang pada pesona alam kali ini.
“Ayo.”
Kamu berdiri menarik lembut tanganku.
“Ke
mana?” tanyaku ikut berdiri.
“Kita
cari makan dulu. Hujannya sudah reda.” Kamu menadahkan tangan, memastikan yang
tersisa hanya tinggal gerimis.
Kami
berjalan menyisir sisa air hujan. Rintik-rintik gerimis menyertai perjalanan. Dibalik
jaket yang kamu jadikan payung, tentu aku merasa begitu terlindungi. Menikmati indahnya
pelangi di sore hari.
Tentang
rasa yang kita jalani, biarlah seindah pelangi. Meski keindahannya tak
selamanya mampu bertahan di langit. Tapi mampu memberikan pesona yang abadi.
Kamu
benar. Tentang rasa kita tak bisa menolak. Ia bisa saja menyelinap kapan pun ke
dalam hati. Seiring berjalannya waktu, kita akan tahu. Seberapa lama rasa itu akan
bertahan atau ia juga akan pergi meninggalkan lara pada hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar