Selasa, 11 Februari 2020

Review Novel Februari : Ecstasy





Judul Buku : Februari : Ecstasy
Penulis : Devania Annesya, Ari Keling, Ayu Welirang
Penerbit : Grasindo
Tebal : 200 Halaman
Terbit : Februari 2015

Sinopsis:

Joya terus menatapku. Kutatap dia jauh lebih dalam, bila perlu sampai menembus hatinya. Biar aku bisa menetap di sana. Ya, aku harus bisa menguasai Joya.
 
Nugie, seorang anak dari bos mafia narkoba. Tapi dia sangat membenci ayahnya. Bukan, bukan karena ayahnya seorang bos besar dari benda terlarang itu, tetapi suatu hal di masa lalu.

Kubakar ujung lintingan yang lebih besar, kuisap dalam-dalam asap organik itu. Sejenak aku lupa akan Nugie dan Mayang. Kalau aku boleh meminta, aku ingin melupa semuanya.

Joya, seorang pecandu narkoba. Ya dia memang ikut tinggal bersama di rusun tempat genk narkoba itu. Tapi ia dan kelompoknya hanyalah bagian minoritas saja. Joya ingin pergi dari tempat ini, tapi keberadaan saudara kembarnya disini mengurungkan niatnya. Selama dia ada disana, Joya juga harus tetap tinggal untuk melindunginya.

Napasku memburu. Bayangan Nugie mati di tanganku mulai berputar. Bagaimana aku bisa membunuh dia? Aku tumbuh besar bersamanya. Aku mencintainya.

Mayang, pemberani dan dijuluki bidadari genk Sukoco. Dia memiliki banyak anak buah dan merupakan orang kepercayaan Sukoco. Dia kuat dan berani tetapi lemah terhadap sesuatu. Dia mencintai orang yang tidak balas mencintainya dan malah terang-terangan menunjukkannya.

Ketiga orang ini tinggal ditempat yang sama, menghadapi kisah yang berbeda. Kematian Sukoco, memunculkan masalah baru bagi mereka. Siapa yang membunuh Sukoco ? Siapa pengganti Sukoco ? Bagaimana kalo akhirnya mereka saling membunuh saja ?

Februari selalu identik dengan bulan yang penuh cinta. Namun, tidak bagi si kembar Mayang dan Joya. Februari punya warna yang berbeda dan ceritanya sendiri, karena Februari selalu mengingatkan akan peristiwa pembunuhan orangtua mereka oleh Sukoco, geng pengedar narkoba. Namun, Sukoco tidak ikut membunuh Mayang maupun Joya, malah memutuskan untuk membesarkan keduanya.

Mayang pun menjadi anak kesayangan Sukoco, bagi Mayang Sukoco layaknya ayah yang dia inginkan, karena selama ini orangtuanya lebih memerhatikan Joya daripadanya. Inilah yang membuat Mayang sungguh membenci Joya, apalagi seiring bertambah usia mereka, Mayang pun jatuh cinta kepada Nugie, putra kandung Sukoco. Tetapi sayangnya, Mayang harus bertepuk sebelah tangan, lagi dan lagi Nugie lebih memilih Joya.

Hubungan Mayang, Joya dan Nugie bagaikan mengurai benang kusut. Saling cinta dan saling memendam kebencian. Hingga hari itu, di Bulan Februari kesekian, Sukoco dikabarkan meninggal dunia. Kematian Sukoco bagaikan bom waktu yang siap meledak. Apalagi kematian Sukoco diduga karena dibunuh, dan tersangkanya adalah salah satu dari mereka. Karena Mayang, Nugie maupun Joya sama-sama dicurigai punya motif tersendiri.

Kematian Sukoco membuka peluang bagi siapa yang berhak menjadi penguasa selanjutnya.Mereka tidak bisa menolak takdir, mereka harus bisa mempertahankan diri, memilih untuk membunuh atau dibunuh?

Diceritakan dari 3 sudut pandang, baik Mayang, Joya maupun Nugie kita akan diajak berkenalan dan menyelami apa yang sesungguhnya terjadi. 3 orang yang sebenarnya menjadi korban dari semuanya...

Membaca novel ini cukup membuat adrenalin sedikit meninggi, aku bisa membayangkan adegan demi adegan yang terjadi begitu cepat, layaknya menonton film action, bagaimana mereka berusaha saling mempertahankan diri sebelum dibunuh oleh satu sama lain.

Ya pada akhirnya Nugie mati di tangan Joya, karena Joya begitu cinta terhadap Mayang. Kecintaannya ini buka sekadar cinta terhadap seorang adik, tapi lebih dari itu. Maka dari itu Joya sanggup membunuh Nugie yang awalnya ingin membunuh Mayang, meski Nugie mencintainya.

Selepas membunuh Nugie Joya melayangkan tubuhnya bebas menghantam dasar rusun. Tak ada yang dicintai dan yang mencintainya pun telah mati. Kini tinggalah Mayang yang bertahan hidup. Namun kejutan besar didapat olehnya. Sukoco masih hidup! Berita kematiannya hanya siasat untuk melihat siapa yang lebih berkuasa.

Dengan berang Mayang mengotori tangan mulusnya untuk mencekik dan membenturkan kepala Sukoco begitu keras, darah mengucur deras, hilang kesadaran. Lidah terjulur keluar dan air liur bermuncratan. Sukoco tewas. Seketika itu juga dunia Mayang gelap. Matanya tertutup, nyawanya pun ikut melayang.


Pembaca novel ini disarankan punya nyali yang tinggi. Karena di dalam cerita banyak mengandung unsur kekerasan, membunuh dengan sadis, bahkan bisa membuat perut mual. Adegan yang penuh bersimbah darah. Penulis begitu hebat untuk menulis cerita yang begitu sadis ini.

2 komentar:

Yoharisna mengatakan...

Memang, sepertinya beda dengan genre yang biasa kubaca. Aku biasa baca romance.

Aysafitri114 mengatakan...

Romance islam aku sukanya.

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...