Jumat, 01 November 2019

Bisikan Membawa Maut_5



Part: Hujan Awal November

   Sepuluh tahun yang lalu. Tepat awal bulan November, dini hari pukul tiga waktu setempat kota Tokyo diguyur hujan lebat. Orang-orang semakin terlelap di dalam selimut tebalnya. Begitu juga yang dilakukan oleh salah satu keluarga yang memiliki rumah termewah di kompleks rumah Tokyo. Meringkuk bersama lebatnya hujan.
      Tapi tidak bagi keluarga yang rumahnya paling terpencil diantara lainnya. Rumah itu sangat sederhana, bahkan ubin keramiknya retak sana sini. Masih syukur hujan lebat kali ini tidak membanjiri seisi rumah. Gaji paruh waktu yang mereka dapat tak begitu cukup untuk memperbaiki rumah.
   Untuk memenuhi kebutuhan rumah, mereka terbelit hutang yang lumayan banyak kepada orang terkaya di kompleks rumah Tokyo. Malam ini anak bungsu mereka demam tinggi. Mau tidak mau mereka harus meminjam uang lagi kepada keluarga kaya itu untuk membawa anaknya ke rumah sakit.
  Berangkatlah sang ayah ditemani putranya menerobos hujan yang lebat, hanya dengan menggunakan payung seadanya. Guntur menggelegar di langit hitam. Terseok-seok mereka menerjang air hujan dengan badan kedinginan. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di tujuan, dan berharap semoga putrinya tidak mengalami hal buruk.
       Sesampainya mereka di depan gerbang rumah mewah itu. Para penjaga malam sedang tidak ada di tempat. Ini kesempatan yang bagus untuk mereka, dengan tekad dan berhati-hati mereka menaiki gerbang besi yang berujung lancip. Perlahan turun dan mendekati pintu rumah.
   “Tuan Yutaka, Tuan tolong buka pintunya! Teriak sang ayah sambil menggedor-gedor pintu besar itu.
       “Tuan tolonglah keluar sebentar. Aku ada perlu denganmu!” Anaknya tak kalah keras suaranya berteriak.
            “Tok Tok Tok!!”
            Gedoran pintu semakin keras mereka ketuk, bel rumah berkali-kali dibunyikan. Mendengar kegaduhan dari luar dengan terpaksa tuan rumah beranjak menuju sumber suara. Keluar kamar menuruni anak tangga dengan menggerutu.
            “Tuan Yu-“ suara dari luar terputus saat pintu besar itu terbuka.
            “Heh orang miskin! Mau apa kalian ke rumahku? tanyanya dengan wajah merah padam.
    “Ma ... maaf, Tuan. Tujuanku ke sini untuk meminjam uang.” Kata sang ayah memberanikan diri.
      “Apa? Hujan-hujan seperti ini kau ke sini hanya untuk meminjam uang! Menganggu aku tidur saja.” Gerutunya kesal.
          “Aku mohon, Tuan. Kasihanilah kami, adikku sedang sakit, kami perlu uang untuk membawanya berobat.
            “Uang yang lalu saja belum kau kembalikan! Itu sudah terlalu banyak dengan bunganya.” Suaranya beradu dengan derasanya hujan.
            “Tolonglah, Tuan. Ini untuk yang terakhir kali.” Melas sang ayah.
            “Tidak! Tidak akan aku meminjami kalian uang lagi.”
            “Tapi, Tuan-“
            “Pergi dari rumah sekarang juga!” hardiknya kasar.
            Ayah dan anak itu saling pandang, tatapannya penuh arti. Mereka menerjang Tuan Yukata sekuat tenaga hingga terpental ke dalam rumah. Sang anak melihatnya tersungkur cekatan memegang kedua tangannya dan mengunci sampai tak berkutik. Sang ayah dengan brutal menendang, meninju seluruh bagian tubuh Tuan Yukata.
            Suaranya melemah, dengan segala umpatan tak menyangka mereka akan sebrutal ini. untuk melawan dia sudah tak berdaya, tubuhnya remuk redam atas perlakuan mereka. Sang ayah berhenti sejenak dari aktifitasnya. Melirik pedang yang tersimpan dalam guci tempat payung. Kilatan tajamnya pedang bersamaan guntur yang memecah di tengah hujan.
            “Ja ... Jang ... Jangaaan! Ap ... Aappa yang ingin kau perbuat dari pedang itu? suaranya terbata-bata.
            “Kau tak mau mengasihani keluargaku, begitupun aku, tak ingin mengasihanimu! Gertak sang ayah.
            “Jleb”
            “Aaaaaarhhggg”
            Pedang terhunus ke dalam perut Tuan Yukata bersamaan dengan teriakan sang Istri yang baru dari tangga.
            “Apa yang kalian lakukan dengan suamiku!” wajah kemarahan bercampur takut dari istri Tuan Yukata.
            “Ambil satu lagi pedang di dalam sana.” Perintah sang ayah kepada anaknya, yang di jawab dengan angggukan kepala.
            “Kalian tega sekali! ujar sang istri sembari menghampiri mayat suaminya.
            “Kini giliranmu, Nyonya.” Sang istri yang memeluk mayat suaminya tertodong pedang.
            “Apa yang kalian ingin?” tanyanya dengan nada ketakutan.
            “Aku ingin membunuhmu juga, Nyonya.” pedang itu kini telah menggores urat lehernya.
            “Ke ... Kejj .. Ke ...” suara Nyonya itu terputus bersamaan dengan terputusnya urat nadi hasil sayatan pedang.
            Tanpa ampun mereka membabi buta mencincang-cincang korban. Layaknya mengeksekusi daging sapi, potongan tubuh kedua korban bergelimpangan dengan kucuran darah segar. Puas dengan itu, mereka mencuri semua harta benda milik Tuan Yukata, barang-barang berharga ludes mereka raup.
            “Setelah ini, kita keluar kota dan menghilangkan jejak.” ujar sang ayah pada putranya.
            “Semoga tidak ada yang curiga kalau kita pelakunya.” Tanggap sang anak.
            Mereka keluar rumah masih diguyur hujan, namun dengan hati yang bergembira. Mendapatkan harta yang berlimpah sekaligus melenyapkan Tuan kaya itu dan istrinya. Potongan mayat bergelimpangan, hanya menyisakan seorang gadis berumur 12 tahun yang sejak tadi bersembunyi dalam lemari.
            Melalui celah pintu lemari, matanya menjadi saksi atas kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Tangis yang sejak tadi dia tahan akhirnya pecah. Gadis itu meraung-raung menangisi mayat kedua orang tuanya, dan bersumpah dalam hati akan membalas dendam kepada mereka yang telah membunuh suatu saat nanti.

***

            Alex dan Thomson serta polisi lainnya telah sampai di lokasi kejadian. Mereka terkejut dengan apa yang dilihat. Korban belum dievakuasi, masih tergeletak di ruang jenazah, pihak rumah sakit menunggu kepolisian untuk penyidikan. Alex dan tim penyidik segera bertindak, mengamati korban dan hal lain yang berada di sekitarnya.
            “Dugaan sementara, setelah melihat wajah korban ternyata dia seorang wanita yang sama dengan di foto bersama kakak dan kedua orang tuanya. Kemungkinan korban sedang melihat jenazah  Kakaknya yang masih di ruangan ini. Dan pembunuh itu telah mengincar korban, setelah lengah pembunuh mengeksekusi korban.” Alex memaparkan temuannya.
            “Yang tragis, korban memiliki ciri-ciri kematian sama dengan Kakaknya. Sepasang bola mata yang di cungkil oleh pembunuh.” Polisi di sebelah Alex ikut memberi keterangan.
            “Bagaimana dengan kamera pengintai menuju ruangan ini? tanya Thomson.
            “Setelah pengecekan di kamera pengintai, seseorang masuk dengan menggunakan pakaian serba hitam dan keluar dengan pakaian perawat.” Pihak rumah sakit menjelaskan.
            “Ciri-cirinya laki-laki atau perempuan?” Kembali Alex bertanya.
            “Jelas perempuan, saat dia keluar mengenakan pakaian perawat wanita, masker dan kaca mata.”
            “Baik. Segera autopsi korban, aku akan menyelidiki identitas korban.” Alex memberi perintah.
            “Drrtt”
            “Hallo. Ada apa? Thomson sedang berbicara di ponselnya.
            “Astaga! Dalam hitungan jam telah terjadi pembunuhan lagi? Dia mendapat kabar dari kanto.
            “Baik. Tim kami akan ke sana.” Menyudahi sambungan telepon.
            “Korban pembunuhan di Panti Jompo Okayama, seorang wanita tua tewas di kamar mandi kamarnya bernomor 77.” Thomson menjelaskan kepada rekan-rekannya.
            Alex tercekat, nafasnya seakan terhenti. Baru beberapa jam yang lalu dia dari sana, berjanji padanya akan kembali lagi besok. Sekarang cepat sekali mendengar kabar kalau wanita tua itu sudah terbunuh. Lucy. Alex tak percaya, begitu cepat pula pembunuh itu beraksi.
            “Aku akan kembali lagi ke panti jompo. Tuan Thomson dan yang lain selesaikan masalah di sini, sebagian ikut aku.” alex berujar memberi perintah.
            Alex begegas dengan timnya menuju panti jompo. Dalam pagi ini, belum sampai tengah hari telah dua korban berjatuhan. Apa mungkin Lucy mengalami nasib yang sama seperti dua anaknya? Lalu bagaimana dengan suami Lucy yang sekarang masih kritis di rumah sakit? Pikiran Alex terus melayang sejalan dengan mobil yang membawanya melaju.
            “Astaga! Kenapa aku sebodoh ini? Dari penjelasan Lucy, suaminya berada di rumah sakit yang aku datangi tadi.” Gerutu Alex dalam hatinya. Pikirannya tadi hanya tertuju pada anak Lucy dan Lucy.
            Segera dia menghubungi Thomson, meminta kamar sakura tempat suami Lucy di rawat terjaga ketat oleh petugas kepolisian. Dia tidak ingin kali ini kalah cepat dengan pembunuh itu. Pasti pembunuh itu akan kembali lagi, harus ada siasat untuk menjebaknya. Sepanjang perjalanan menuju panti jompo Alex memikirkan siasat apa yang tepat.

                                                ***
            “Sudah saatnya kau membunuh orang yang terakhir” Bisikan itu tergiang di telinga saat dia menyaksikan reporter membawakan berita dua korban pembunuhan pagi ini.
            “Ha ha ha.” Gelak tawa meyeringai.

_Bersambung.



4 komentar:

yogi riyansyah mengatakan...

Ayo di lanjutkan lagi mbak.
Sampai pelaku pembunuhan tertangkap 😁

Aysafitri114 mengatakan...

Besok endingnya

https://heninyi.blogspot.com/2019/09/belajar-menulis-puisi.html mengatakan...

Eh ending nya bukan ditangkap tapi bunuh diri dengan surat dan bukti pembunuhannya hi hi hi🤔🤔🤔

Aysafitri114 mengatakan...

Eng ing eng tunggu saja endingnya mbak hehe

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...