Selepas makan malam Fatimah berkumpul dengan kedua orang
tuanya di ruang tamu. Canda tawa sesekali menyelingi obrolan mereka. Fatimah
anak bungsu, Putra adalah kakak satu-satunya. Jadi Fatimahlah yang selalu
menemani kedua orang tuanya di rumah. Entah bagaimana nanti kalau Fatimah sudah
menikah dan tinggal dengan suaminya. Sepi.
“Bagaimana tadi acara bakti sosialnya, Fatimah? tanya
Bapak Fatimah.
“Alhamdulillah lancar, Pak. Seru juga ramai.” sahut
Fatimah yang sedang mengupas pisang.
“Loh Kakakmu Ndak di suruh mampir to, Nduk? Ibunya datang
dari dapur membawa segelas kopi untuk bapak Fatimah.
“Tadi
sudah aku bilang ke Kakak, Bu. Katanya sudah sore, besok saja mampirnya pulang
dari kerja.” Fatimah menjelaskan, sesaat pisang yang di kupas tadi telah habis
di lahapnya.
“Itu
ada banyak pisang sudah mateng-mateng, nanti keburu busuk. Biasanya Kakakmu
paling suka.”
“Ya
sudah, Bu. Besok kan dia ke sini, masih tahan kok pisangnya nggak bakal busuk.”
Bapaknya Fatimah menyahut.
“Iya
asal jangan di habisin sama Bapak pisangnya.” Ibunya Fatimah melirik suaminya
yang ingin mencomot pisang yang masih tersisa dalam piring.
Diletakkannya
kembali pisang yang ingin bapaknya Fatimah ambil. “Nggak-nggak, Bu. Baru juga
makan tiga biji.”
“Tiga,
Pak? Terus yang tadi sebelum makan, ngambil pisang siapa ya? Fatimah menyelidik
Bapaknya yang cengar-cengir.
“Tuh
kan Bapak!” Ibunya Fatimah mendengus kesal dengan suaminya.
Fatimah
yang melihat kejadian itu hanya geleng-geleng kepala sambis tertawa. Hanya soal
pisang saja bisa menjadi bahan keributan untuk mereka. Tapi itulah yang menjadi
bumbu penyedap sebuah rumah tangga. Tak apa ribut asal mengundang kelucuan dari
pada ribut mengundang kekacauan.
Selesai
perkara pisang mereka beranjak menunaikan salat isya. Usai salat Bapaknya
Fatimah memilih menonton televisi di temani ibunya. Fatimah pamit ke kamar
untuk istirahat. Kegiatan hari ini cukup menguras tenaga, juga pikiran. Sebelum
bersiap tidur, dia ingat Cv ta’aruf yang di berikan Rifa. Membuka tas ransel
dan mengeluarkan isinya.
Dengan
mengucap basmalah perlahan Fatimah membaca Cv yang di pegang. Tangannya
gemetar, debaran jantung berpacu lebih cepat dari mulut yang membaca. Terlihat
semu merah di kedua pipi. Perasaan seketika ingin terbang begitu tahu siapa
orang yang ingin berta’aruf dengannya.
Al
- Fariz atau biasa di panggil Fariz. Kakak tingkat Fatimah sewaktu kuliah, satu
jurusan dengannya. Sosok lelaki yang pertama kali Fatimah suka pada pandangan
pertama, sebelum dia berhubungan serius dengan Aris. Fariz yang dulu menjadi
kakak voluntir Fatimah pada saat masa
Ospek jurusan.
Fariz
adalah sosok lelaki yang humoris, tak jarang Fatimah mencuri pandang saat
sedang bercengkrama dengan teman-temannya. Berpawakan sedang, hitam manis, hidung
yang mancung dengan alis yang tebal. Tak pelak setiap bertemu Fariz, Fatimah
selalu beristigfar. Cepat-cepat menundukkan pandangan.
Semasa
kuliah, Fatimah dan Fariz tidak banyak bertemu. Apa lagi obrolan panjang,
jarang sekali terjadi. Berpapasan hanya saling berbalas senyum. Pernah ketahuan
tentang perasaan Fatimah kepada Fariz. Gara-gara teman Fatimah yang lumayan
akrab dengan Fariz, usil berbicara lewat pesan bahwa Fatimah menyukai Fariz.
Pesan
itu tidak begitu di respon oleh Fariz, mungkin dia menganggapnya hanya candaan
biasa. Tapi Fatimah, sejak kejadian itu dia sangat malu jika berpapasan dengan
Fariz. Perlahan mulai menyurutkan rasanya. Meski belum benar-benar surut. Setiap
kali bersitatap dengan Fariz debaran hatinya tidak dapat di kontrol. Dulu.
Dan
sekarang, rasa itu kembali menyerbu hati Fatimah. Seakan lupa kejadian tadi
siang saat bertemu dengan Abdullah. Lelaki yang juga dia suka, walau baru
beberapa bulan yang lalu. Benar-benar tidak di sangka oleh Fatimah, seindah ini
jalan Allah kabulkan keinginan yang pernah dia mohon.
Di
sepertiga malam, Fatimah terbangun. Bayangan dua sosok lelaki yang sama-sama
dia sukai kembali muncul. Menggugah Fatimah untuk segera memohon petunjuk
kepada yang Maha Cinta. Usai mengambil air wudu, Fatimah menggelar sajadah. Mulai
bercengkrama dengan Rabnya.
Terhanyut
dalam suasana heningnya malam, begitu damainya hati jika sudah memasrahkan
segala yang dirisaukan. Memohon kemantapan hati, kelancaran dan jalan yang diridhai-Nya. Jika berjodoh serumit
apapun, pasti akan menemukan jalan untuk pertemuan, begitupun jika tidak
berjodoh, seindah apapun pasti akan menemukan jalan perpisahan.
Tidak
hanya sekali dua Fatimah beristikharah. Setelah hatinya yakin dan mantap atas
petunjuk-Nya. Hilang semua beban yang bergelayut di pikirannya selama ini. Mengembuskan
nafas ketenangan setelah Fatimah memberi kabar lewat pesan kepada Rifa. Inilah pilihan
yang terbaik dari Allah untuknya. Semoga.
_Bersambung

13 komentar:
Semoga pilihan kali ini, jatuh pada seseorang yang tepat
Ya kita hanya berencana...
Aamiin insya Allah
Allah lah yg menentukan
😉👍
1. Ceritanya nyantai dan keren
2. Di yg diikuti kata kerja hrs tdk terpisah, ex: disatukan, dilakukan
Jadi bukan di satukan, di lakukan dst
Mkasih mbak ilmunya
Fatimah sosok perempuan yang tangguh
He emm mbak
Yes, kita cuma disuruh milih, Allah yg menentukan😁
Iya bner
Kutunggu cerita selanjutnya
Sudah ada lanjutannya mbak
Posting Komentar