Rabu, 23 Oktober 2019

Sekeping Hati Untuk Fatimah_3


Part 3


Suara sesuatu jatuh terdengar keras oleh Putra dan Abdullah. Otomatis pembicaraan Abdullah terputus , ternyata Fatimah tersandung X-banner yang terpampang di pinggir lorong, dia jatuh dan tentu itu sangat memalukan.
Sedari tadi Fatimah hanya fokus menatap punggung bidang Abdullah yang berjalan di depannya. Apa lagi pertanyaan Abdullah membuat dia hilang arah untuk menatap jalan.
“Ya Allah Fatimah, kenapa kamu sampai jatuh seperti itu? Putra membantu Fatimah berdiri.
“Kamu baik-baik saja, Fatimah? Iris mata Abdullah terlihat sangat mengkhawatirkan Fatimah.
“Aku baik-baik saja, Kak. Hanya kurang fokus saja tadi.” jawab Fatimah sambil menahan malu.
“Eh apa kamu belum makan siang? Wajahmu pucat sekali.”
Jelas wajah Fatimah pucat sangking menahan malu, “Iya Kak, aku baik-baik saja, tidak perlu cemas. Tadi aku sudah makan siang.”
“Syukurlah kalau begitu, Fatimah. Mari masuk kita sudah sampai di ruang acara.” sahut Abdullah.
Fatimah hanya membalas senyum dan ikut masuk ke ruangan. Dalam kunjungan bakti sosial ini diisi dengan beberapa rangkaian acara yang dipandu oleh  Lupita, Acara pertama yaitu sambutan dari Kepala SMAN 1 Jambi yaitu Bapak Halim dan dilanjutkan sambutan dari Pengurus Panti Asuhan yang diwakili oleh Ibu Kholidah dan dilanjutkan dengan doa bersama.
Tidak hanya itu, mereka juga mengadakan permainan seusai doa, untuk menghibur adik-adik yang ada di panti asuhan. Gelak tawa pun tidak dapat dibendung oleh tingkah lucu para siswa-siswi yang memeragakan suatu gerakan untuk di tebak oleh adik-adik panti, dan bagi adik-adik panti yang bisa menjawab akan mendapat hadiah dari pihak sekolah. Kebahagian yang sangat luar biasa saat kami bisa menghibur anak-anak yatim.
Selama acara berlangsung, Fatimah masih penasaran dengan apa yang akan di ucapkan oleh Abdullah. Kenapa Abdullah tidak bertanya langsung pada Fatimah? Kalau saja dia tadi tidak terjatuh pasti sudah tahu jawabannya apa.  Sungguh kejadian  terkonyol yang pernah dia alami. Sampai sebegitu gugupnya berdekatan dengan orang yang sudah lama dikagumi.
Menjelang asar acara bakti sosial telah selesai. Menunggu waktu salat tiba mereka beranjak ke masjid yang ada di panti asuhan. Fatimah langsung menuju tempat wudu perempuan, sedang kakaknya dan Abdullah memilih duduk-duduk di teras masjid.
“Oh ya menyambung ucapan tadi, Putra. Emm ... aku ingin mengenal lebih dekat dengan adikmu.” Abdullah memecah keheningan.
“Maksud kamu, Abdullah? Putra mengerutkan keningnya.
“Aku minta persetujuanmu, bolehkah aku berta’aruf dengan Fatimah?
“Ha ha ... kamu ini, aku boleh-boleh saja. Tapi semua tergantung bagaimana Fatimah.” Putra menepuk-nepuk pundak Putra.
“Tolong sampaikan niat baikku ini kepada orang tuamu ya.” Pinta Abdullah memohon.
“Beres ... insya Allah nanti aku sampaikan.”
“Terima kasih, kamu memang temanku yang paling ganteng, dan sebentar lagi akan menjadi Kakak iparku.” Senyum sumringah Abdullah begitu mendapat persetujuan Putra.
“Hey ... ada maunya saja memujiku. Belum tentu adikku mau menerima lelaki kutu buku dan penulis aneh sepertimu.” Canda Putra sambil merangkul Abdullah.
“Aku taksir Fatimah juga menyukaiku, Putra.” Abdullah melepas rangkulan tangan Putra dan berlalu menuju tempat wudu karena azan asar sudah berkumandan.
Tinggalah Putra dengan dengusan kesal atas sikap Abdullah.
“Dasar lelaki menyebalkan. Ha ha. Abdullah-Abdullah.


_Bersambung

2 komentar:

Fitriani Nurul Izzati mengatakan...

Menarikkk, penasaran kelanjutannya 😁

Aysafitri114 mengatakan...

Udah ada lanjutannya mbak

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...