Keadaan hening. Satu jam
telah berlalu, dua orang saling terpekur dalam diam. Satu diantaranya masih
terisak tangis. Sedang yang satu lagi menghembuskan nafas perlahan, mencoba
menetralkan perasaan yang masih sulit di percaya. Deringan ponsel memecahkan
keheningan, beranjak dari duduk agak menjauh dari lawan bicaranya tadi.
“Hallo, Darling.”
Menyapa seseorang yang meneleponnya.
“Apa
kau sedang sibuk? tanyanya di ujunng telepon.
“Aku
baru selesai mewawancarai Ibu korban.” sahut Alex sumringah.
“Waw!
Kau sangat cekatan sekali. Baru tadi pagi mengeluh sekarang kau tampak
bersemangat.”
“Iya.
Dari Lucy, Ibu korban. Aku mengetahui semua kejadian di balik kasus ini.”
“Baiklah
aku tidak akan menganggumu hari ini. Pasti kau sangat sibuk.”
“Maaf.
Aku belum ada waktu untukmu.”
“Tidak
masalah, Darling.”
“Lalu
bagaimana hasil terapimu hari ini?”
“Cukup
memuaskan. Butuh beberapa kali lagi baru benar-benar sembuh.”
“Syukurlah.
Jaga pikiranmu, tak usah berpikir yang negatif.” ujar Alex mengingatkan
kekasihnya.
“Oh
ya di mana kau sekarang? tanya kekasih Alex
“Di
Panti Jompo Okayama. Tidak jauh dari kantor polisi tempatku bekerja. Ada apa?
“Tidak.
Aku hanya ingin tahu saja.”
“Baiklah.
Nanti kuhubungi lagi jika da waktu. Aku akan segera pamit dari sini, menuju
kantor lagi. Rapat tadi ku tunda menjadi pukul setengah sepuluh.” Alex memberi
penjelasan pada kekasihnya.
“See you, Darling.”
ucapnya manis di ujung telepon.
Usai
mengakhiri telepon, Alex pamit kepada Lucy. Dia berjanji besok akan
mengunjunginya lagi. Masih ada yang akan dibahas. Lucy mengantar Alex sampai
depan pintu, kembali ke tempat duduknya. Tatapannya kosong, menerawang jauh,
teringat putranya yang beberapa hari lalu bertemu dan menjadi perpisahan
terakhir.
Di
kantor kepolisian, Thomson telah menunggu Alex dengan rekannya sejak sepuluh
menit yang lalu. Sesaat, Alex muncul dengan nafas yang memburu. Dia terlambat
dari waktu yang di tentukan, menarik kursi kosong di sebelah kiri Thomson,
duduk lalu meneguk air mineral yang telah tersedia. Beberapa kali tegukan,
tandas juga air dalam gelas itu.
“Tenanglah
Tuan Alex. Kau tampak seperti baru saja di kejar hantu.” Thomson tergelak
melihat Alex.
“Ada
berita penting mengenai kasusu pembunuhan ini.” Alex tak mau membuang-buang
waktu, langsung pada inti permasalahan.
“Apa
itu Tuan Alex.” tanya polisi yang duduk di sebelah kiri Alex.
“Aku
baru saja menemuui Ibu korban. Dia masih hidup dan sekarang berada di panti
jompo Okayama.” Alex memberi penjelasan.
“Apa
kau telah tuntas membaca berkas yang aku berikatn tadi pagi, Tuan Alex? tanya
Thomson memastikan.
“Sudah.
Dari identitas, korban berinisial A, dengan keluarga korban Ayah berinisial D,
Ibu berinisial L, dan adik perempuan berinisial E.” Alex menguraikan informasi
yang di dapat.
“Menurut
keterangan tetangga sekitar rumah, korban tinggal sendiri sejak enam bulan yang
lalu.” ujar polisi lainnya.
“Benar.
Itu juga yang disampaikan oleh ibu korban padaku.” ucap Alex sambil membuka
book note-nya.
“Lalu
apa sebenarnya yang terjadi di balik semua ini? tanya Thomson penasaran.
“Ceritanya
berawal dari sepuluh tahun yang lalu.” Alex memulai cerita, sedang yang
lainnya mendengarkan.
***
“Kita ke panti jompo Okayama, Pak.” seru penumpang kepada
sopir.
“Baik.” jawab sang sopir pendek.
Memutar arah, taksi online itu membawa mereka ke sebuah
panti jompo yang di maksud.
“Kau pintar sekali, membunuh mereka
satu persatu dengan cara yang sadis.” Bisikan itu kembali
berdenging di telinganya.
Sekarang
dia telah terbiasa mendengar bisikan-bisikan itu. Setiap kali bisikan muncul
saat itu juga hasrat ingin membunuh menyeruap di hatinya. Bisikan yang mengingatkan
kembali pada kejadian kelam yang pernah dia alami. Menghasutnya untuk
menghabisi semua nyawa yang terlibat dalam kejadian itu.
Tiga
puluh menit, taksi online yang membawanya ke panti jompo telah sampai di depan
gerbang masuk. Keluar dari mobil setelah membayar argo. Langkahnya santai
sembari melihat-lihat sekeliling. Tampak olehnya para lansia sedang bersantai
ria di taman dan saling bercengkrama. Sampai pintu masuk menuju receptinois.
“Selamat
datang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” Sapa receptionis ramah.
“Apa
aku bisa bertemu seseorang yang bernama Nyonya Lucy? tanya wanita itu bersikap
manis.
“Nona
siapanya, Nyonya Lucy?
“Aku
kerabatnya dari jauh. Mendengar kabar anaknya meninggal aku langsung ke sini
untuk berbela sungkawa.”
“Baiklah.
Kamar Nyonya Lucy ada di lantai dua nomor 77 ujung lorong.” Jelas receptionis.
“Terima
kasih.” Berlalu meninggalkan receptionis dengan senyuman penuh arti.
Sebelumnya
dia masuk ke toilet, mengganti pakaiannya agar tidak ada yang mencurigai. Usai sudah
penyamarannya, bergegas menuju lift untuk ke lantai dua. Di dalam lift hanya
dia seorang. “Bunuh dia.” Bisikan itu
sesaat berdenging lagi ditelinganya. Sesungging senyum dengan sorot mata tajam.
“Benar kau harus mati!” Gumamnya.
Pintu
lift terbuka. Lorong lengang seperti tak berpenghuni. Matanya jeli melirik sana
sini. Sampai dia temukan kamar bernomor 77. Sebelum masuk tangannya merogoh
tas, mengambil sebuah sapu tangan dan membelit gagang pintu, agar tidak
meninggalkan jejak. “Klek.” Pintu kamar
terbuka dengan leluasa. Si empunya kemungkinan lupa mengunci pintu.
Masuk
perlahan dan menutup pintu tak lupa untuk menguncinya. Tampak seorang lansia
tengah duduk termenung membelakanginya. Tak sadar jika ada orang yang masuk
kamarnya. Merogoh kembali tasnya, menyimpan sapu tangan tadi dan mengeluarkan
sapu tangan lainnya yang telah dia beri obat bius yang sangat mematikan dalam
hitungan detik.
“Huft.”
Baru setengah putar lansia itu menoleh, menyadari ada seseorang yang masuk
kamarnya diam-diam. Namun matanya langsung terpejam tak sadarkan diri. Mulut dan
hidungnya telah terserang obat bius.
Dengan
cekatan dia memakai sarung tangan dan menyeret lansia itu ke dalam kamar mandi,
disandarkannya pada dinding. Sejenak dia keluar mengambil pisau buah yang
tergeletak di atas meja tamu.
Bergegas
kembali ke kamar mandi. Ritualnya dimulai dengan mengawali goresan pisau ke
pipi lansia itu. Lelehan darah mulai membanjirinya. Sayatan bertubi-tubi
menghancurkan wajah. Sampai di bagian ekor mata sebelah kanan, kembali dia
menyayatkan pisau lebih dalam lagi, membuat tulang pipinya terlihat.
Perlahan
ujung pisau itu masuk ke dalam bola mata dan mencungkilnya. Kedua tangannya
penuh kucuran darah. Hal yang sama dia lalukan pada bola mata sebelah kiri. Sangat
profesional, sehingga sepasang bola mata itu utuh tak ikut tersayat pisau.
Sepasang
bola mata itu satu persatu dia balut dengan menggunakan tisu toilet. Kemudian dengan
penuh hati-hati di masukkan dalam sebuah plastik hitam. Setelah di rasa aman,
tasnya siap menjadi wadah sepasang bola mata itu.
Guyuran
air membersihkan sisa-sisa darah yang melekat pada tubuhnya. Sedang lansia itu
dia biarkan duduk mematung dengan kelopak mata masih meneteskan darah, mengatup
ke dalam rongga mata.
Usai
di rasa semua beres. Dia keluar dari kamar mandi, tak lupa berganti pakaian
yang tadi dia kenakan sebelum masuk panti jompo. Seolah tak terjadi apa-apa,
masuk lift menuju lantai bawah. Kembali dia bertemu receptionis saat telah
sampai lantai bawah, menyapa dan tersenyum ramah.
***
“Sebentar,
Tuan Alex. Ponselku berbunyi panggilan dari sekretaris.” Thomson menjeda Alex
bercerita mengenai kasus pembunuhan itu.
“Apa!!
Seruan Thomson mengejutkan rekan-rekannya.
“Ada
apa, Tuan Thomson? tanya Alex penasaran.”
“Pembunuhan
kembali terjadi. Korban di temukan tewas dalam ruang jenazah rumah sakit The University of Tokyo Hospital.”
Thomson menjelaskan setelah menerima kabar dari sekretarisnya.
“Kita
harus bergerak cepta ke sana.” ujar salah seorang polisi.
Serentak
mereka menganggguk setuju. Meninggalkan rapat yang belum tuntas, bergegas
menuju lokasi kejadian.
_Bersambung

2 komentar:
Seremmmm
Hehe
Posting Komentar