Senin, 30 September 2019

Upin Ipin



Aku  Riri Apriani teman-temanku biasa memanggilku Riri, aku anak kedua dari dua bersaudara, hidupku yang sederhana, kepribadianku yang kadang manja, cuek, bawel, dan sok dewasa ya itulah aku, aku sekarang duduk disalah satu Universitas Islam Negeri di kotaku, aku tersadar ketika aku masih memakai putih abu-abu aku memiliki mimpi bisa menduduki bangku perkuliahan dan sekarang Tuhan telah mewujudkan mimpiku.

Memasuki semester dua sekarang jadwal kuliahku begitu padat, banyak kegiatan dan tentu tiada hari tanpa tugas. Oh ya aku memiliki sahabat namanya Astuti, kami memiliki sifat yang hampir sama mungkin dikarenakan kami terlahir dibulan yang sama, tapi bedanya aku feminim dan dia tomboy.

Nah itulah sedikit cerita tentang kehidupanku dan bicara tentang cowok hmmm sampai saat ini aku belum terpikir untuk memilikinya, dan kalau ditanya mengapa tentu ku jawab “aku ingin fokus kuliah” dan terlebih ada alasan lain yaitu masih ada seseorang yang sampai saat ini melekat dihatiku entah sampai kapan juga aku bisa berpaling darinya, mengenai hal ini jangan ditanya ya pasti tahu deh.

Sejenak kita lupakan hal itu dan seperti yang ku bilang tadi hari ini aku disibukkan dengan kegiatan ARITMATIKA, kegiatan itu hanya diadakan oleh jurusan kami yaitu Matematika, ya kalian tahu aku kuliah dengan latar belakang pendidikan Matematika yang sering dikatakan bahwa Matematika itu lebih seram daripada hantu. Tapi bagiku itu adalah keputusanku yang sudah yakin aku ambil dan sekarang aku hanya menjalani sewajarnya seorang Mahasiswi.

“Ri kamu liat deh cowok yang memakai baju kaos hitam merah bergaris-garis itu," Tuti menunjuk kearah cowok yang dimaksudnya.

“Memangnya kenapa Ti?" sahutku.

“Dia itu yang menjadi kakak voluntirku waktu ospek," jawab Tuti memberi penjelasan.

“Terus apa hubungannya denganmu?" Aku penasaran apa yang dimaksud sahabatku itu.

“Dia keren kan?" manis lagi hehe aku suka melihatnya."

Sejenak aku melirik sosok lelaki yang diceritakan Tuti, benar apa yang Tuti bilang dia keren dengan gayanya yang cool.

“Hey kamu kenapa melamun Ri?" Suara Tuti mengagetkanku.

“Oh emm tidak apa-apa kok."

“Kamu pasti suka juga sama cowok itu?"

“Sekadar suka dan kagum saja." jawabku sambil tersenyum.

“Tidak lebih dari itu?"

“Sudalah seperti tidak tahu aku saja kamu Ti.”

Itulah awalnya aku mengenal dia dari sahabatku Tuti, ya memang benar apa yang dibilang Tuti, dia keren, berwibawa, santai dan tentu banyak kaum hawa yang terpikat dengannya.

“Eh kalian ngomongin apa si?" Tiba-tiba suara Via sahabatku dan Tuti mengagetkan kami yang sedari tadi tidak lepas pandangannya melihat sosok cowok misterius itu.

“Cowok itu siapa namanya Vi?" tanya Tuti kepada Via.

“Oh itu? Itu kak Upi namanya", jawab Via.

“Upi? Nama lengkapnya siapa?" sambungku penasaran.

“Aku tidak tahu tapi aku tahu nama facebooknya, kalian mau?"

“Tentu dong!” jawab kami semangat.

Via memberi tahu apa nama facebook kak Upi dan langsung saja aku membuka facebookku dan mencari namanya, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencari namanya tentu saja aku langsung mengirim pertemananku kepadanya, ternyata eh ternyata saat aku melihat nama lengkapnya yang tertera dalam profilnya nama lengkap dia yaitu Jupri, hah? Masa iya aku setengah tidak percaya.

“Kamu kenapa Ri?" tanya Tuti.

“Kamu lihat deh Ti, cowok yang kamu maksud itu nama lengkapnya Jupri” aku memperlihatkan ponselku pada Tuti dan menujukkan nama cowok yang kami maksud.

“Hah? Ganteng-genteng kok namanya Jupri si? Tidak sesuai dengan orangnya tuh ....

“Eh kamu tidak boleh berbicara seperti itu Ti" tegurku.

“Ya ya maaf Ri, habisnya aku tidak percaya."

“Hmmm pantas saja nama samarannya Upi," sahutku.

Sejak mengenal namanya aku semakin penasaran dengannya, setiap kali aku bertemu dengannya aku tidak pernah menyapanya, begitupun dia, aku mengenalnya tapi dia tidak dan tidak jarang aku melihatnya duduk-duduk dit depan kelas bersama teman-temannya dan setiap hari pula tidak lepas perbincanganku dengan Tuti mengenai cowok yang benama Upi.

“Tadi aku bertemu dengannya Ri," Belum sampai Tuti duduk dibangkunya dengan semangat dia menceritakan kejadian yang baru dialami.

“Siapa Ti?" tanyaku penasaran.

“Ya itu kak Upi.”

“Oh si Upin Ipin ya?" lanjutku.

“Upi Riri bukan Upin Ipin, gerutu Tuti kesal dengan apa yag ku ucapkan.

“Hehe tidak ada salahnya kan aku memanggilnya dengan gelar Upin Ipin? Toh tidak ada yang tahu kalau kita sedang membahas dia, apalagi dengan gelar seperti itu.”

“Bener juga ya apa kata kamu Ri, biar yang lain tidak ada yang tahu kalau kita sedang membahas dia hehe.”

“Oh ya sampai sekarang belum diterima pertemananku difacebook Ti.”

“Hmm kamu mainnya di facebook, temuin langsung dong ajak dia kenalan.”

“Ah kamu, aku bukan tipe cewek seperti itu, kamu saja sana Ti.”

“Aku juga tidak mau, karena aku sudah ada yang punya.”

“Iya kamu enak, kan cuma kenalan doang apa hubungannya kamu sudah ada yang punya?"

“Nanti malah dia yang tertarik denganku hehe mau dikemanain princesku.”

“Dasar kamu Ti ... Ti ....

“Ayo dong semangat mengejar cinta Upin Ipin, kamu pasti bisa Ri."Aku hanya tersenyum saat Tuti mengatakan mengejar cinta Upin Ipin.

“ Ada-ada saja kamu Ti, baiklah akan ku kejar Cinta Upin Ipinku dengan tetap menantinya dalam diam.”

“Yang benar saja kamu Ri? Memangnya bisa ya?"

“Ya bisa kalau Tuhan berkehendak,” jawabanku membuat sahabatku Tuti terdiam tidak bisa lagi menyanggah ucapanku.

Hari demi hari berlalu, sesaat aku sudah lupa dengan Upi, tapi setiap kali aku melihatnya harapan itu selalu saja muncul, harapan untuk bisa mengenalnya lebih jauh dan tidak sekedar bertatap muka tapi tidak pernah berucap. Untuk mengejar cintanya kusurutkan niat itu, aku tidak berani menyapanya apalagi untuk memulai berkenalan dengannya dan mungkin saja dia tidak pernah tahu bahkan mungkin dia tidak perduli ada aku disini yang selalu memperhatikannya walau hanya dari jauh, jauh dari pandangan mataku.

Tersadar dengan apa yang kurasa sekarang bukanlah perasaan cinta yang sebenarnya, aku hanya sekedar kagum, dan tentu mustahil seorang hawa tidak memiliki rasa suka terhadap lawan jenisnya. Mulai sekarang ku batasi perasaan ini, karena ku yakin suatu saat jika Tuhan mengizinkan, aku pasti bisa mengenalnya lebih dekat.

Tenang saja aku tidak akan mengusik hidupmu, akan kubiarkan waktu yang membuatmu sadar ada aku yang menantimu disini, aku mengejar cintamu dalam diam. Tentu tidak wajar bagaimana akan sampai dikatakan mengejar, tapi aku tetap diam menanti, tapi harapan demi harapan yang kucurahkan untukmu itulah yang mengejar cintamu beriringan dengan doa.

End...

Cerpen pertamaku, mohon koreksinya.
 

14 komentar:

niozaharani mengatakan...

Akhirnya, selamat Kak Ayu πŸ˜πŸ‘
Tadi ada "baju kaos" mgkn bs dipilih salah satu, KakπŸ˜…
Kalimatnya ada yg pjg bgt, bs ditambah koma untuk bernapas sebentarπŸ™πŸ˜…

Aysafitri114 mengatakan...

Hehe terima kasih mbak nio

Restanti mengatakan...

Kata 'aku' sedikit dikurangi bakalan lebih sip ini.
Semangat!

Aysafitri114 mengatakan...

Owh oke mbak

Fitri Ane Lestari mengatakan...

wah asyiik udah bisa nulis cerpen hehe. Mba Ayu kebanyakan kata 'aku' dan penggunaan dialog tag diperhatikan lagi ya.. cek PUEBI jangan lupa..

untuk ceritanya renyah ��

Gendhuk Gandhes mengatakan...

Mu dan aku nya lebih baik dikurangi ya

Aysafitri114 mengatakan...

Banjir y akunya hehe

Aysafitri114 mengatakan...

Iy mbak

Edelwise.travelrunner mengatakan...

Voluntir itu sama dengan volunteer bukan sih, Ka?

Aysafitri114 mengatakan...

Iy bner mbak

Lilis Fauzi-Odop7 mengatakan...

Mengalir, hanya saja kepanjangan kalimatnya y kak πŸ˜πŸ™πŸ‘ kasih titik atau koma lah. N kurangi kata yg sama.

Rahman Arrijal mengatakan...

Sebentar-sebentar, izinkan saya bernafas. Tanda baca bisa di perhatikan dan sujek aku bisa sedikit dikurangi lagi.

Aysafitri114 mengatakan...

Oke mbak

Aysafitri114 mengatakan...

Hehe baiklah

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...