
13
Pertemuan
Suara
sesuatu jatuh terdengar keras oleh kak Putra dan Ahmad. Otomatis pembicaraan
Ahmad terputus, aku tersandung X-banner
yang terpampang di pinggir lorong, aku jatuh dan tentu itu sangat memalukan.
Sedari tadi aku
hanya fokus menatap punggung bidang Ahmad yang berjalan di depanku. Apa lagi
pertanyaannya membuat aku hilang arah untuk menatap jalan.
“Ya Allah,
Aisyah, kenapa kamu sampai jatuh seperti itu?” Kak Putra membantuku berdiri.
“Kamu
baik-baik saja, Aisyahh?” Iris mata Ahmad terlihat sangat mengkhawatirkanku.
“Aku
baik-baik saja, Kak. Hanya kurang fokus saja tadi,” jawabku sambil menahan
malu.
“Eh apa kamu
belum makan siang? Wajahmu pucat sekali.”
Jelas
wajahku pucat sangking menahan malu, “Iya, Kak, aku baik-baik saja, nggak perlu
cemas. Tadi aku sudah makan siang.”
“Syukurlah
kalau begitu, Aisyah. Mari masuk kita sudah sampai di ruang acara,” sahut Ahmad.
Aku hanya
membalas senyum dan ikut masuk ke ruangan. Dalam kunjungan bakti sosial ini
diisi dengan beberapa rangkaian acara yang dipandu oleh Lupita, Acara pertama yaitu sambutan dari
Kepala SMAN 1 Jakarta yaitu Bapak Halim dan dilanjutkan sambutan dari Pengurus
Panti Asuhan yang diwakili oleh Ibu Kholidah dan dilanjutkan dengan doa
bersama.
Tidak hanya
itu, mereka juga mengadakan permainan seusai doa, untuk menghibur adik-adik
yang ada di panti asuhan. Gelak tawa pun tak dapat dibendung oleh tingkah lucu
para siswa-siswi yang memeragakan suatu gerakan untuk ditebak oleh adik-adik
panti, dan bagi adik-adik panti yang bisa menjawab akan mendapat hadiah dari
pihak sekolah. Kebahagian yang sangat luar biasa saat kami bisa menghibur
anak-anak yatim.
Selama acara
berlangsung, aku masih penasaran dengan apa yang akan di ucapkan oleh Ahmad. Kenapa
dia tidak bertanya langsung padaku? Kalau saja aku tadi tidak terjatuh pasti
sudah tahu jawabannya apa. Sungguh kejadian terkonyol yang pernah aku alami. Sampai
sebegitu gugupnya berdekatan dengan orang yang sudah lama kukagumi.
Menjelang
asar acara bakti sosial telah selesai. Menunggu waktu salat tiba kami beranjak
ke masjid yang ada di panti asuhan. Aku langsung menuju tempat wudu perempuan,
sedang kak Putra dan Ahmad memilih duduk-duduk di teras masjid.
Usai
melaksanakan salat, aku termenung. Ingat kali pertama mengenal Ahmad lewat
sosial media, membaca tulisan-tulisannya membuatku tersentuh. Banyak tulisan
yang memotivasi dan menginspirasi. Hanya lewat aksara saja dia telah membuatku
jatuh hati. Berharap jika suatu saat dipertemukan dengannya.
Hari ini
terjawab sudah harapanku. Lelaki berwajah teduh dengan tulisan-tulisan yang
menyentuh, lelaki yang amat kukagumi.
Kini berdiri dihadapanku dengan senyum yang nyata. “Sungguh beruntung sekali
wanita yang kelak mendapatkannya,” gumamku.
“Hei! Assalamu’alaikum, Aisyah.” Tiba-tiba
dari arah belakang ada yang menepuk pundakku. Refleks, kaget dan gugup kumenjawab
salam.
“Wa ... waalaikumussalam, masya Allah
Rifa, kamu buat aku kaget saja.” Aku mengelus dada melihat dia tiba-tiba muncul.
“Habis kamu
melamun terus dari tadi aku panggil-panggil nggak nyaut-nyaut,” sungut Rifa,
sahabat di kampus dulu juga rekan kerjaku.
“Iyakah, aku
melamun? Ya Allah maafin aku, Fa.”
“Mmm ...
kamu mikirin apa hayo? Jangan banyak pikiran nanti cepat tua, belum menikah
lagi, hehe,” guraunya, menyikut lenganku.
“Bisa saja
kmu, Fa.” Eh kok kamu di sini?” tanyaku.
“Aku tadi
temani Ibu, ngasih donasi bulanan untuk panti ini, dan kebetulan sudah asar
jadi aku salat dulu, eh ketemu kamu lagi melamun,” jelas Rifa.
“Terus mana Ibumu?” tanyaku kemudian. Melihat ibunya tak terlihat.
“Lagi di
toilet sepertinya. Eh, iya aku mau salat dan kamu jangan pulang dulu. Mumpung
ketemu di sini, ada yang mau aku sampaikan ke kamu,” jawabnya sambil mengambil
mukena untuk salat.
“Tentang apa
itu?” Aku berrtanya, penasaran.
“Makanya
kamu jangan pulang dulu, nanti aku kasih tahu.”
“Kebiasaan
kamu, Fa. Selalu buat aku penasaran.” Dia hanya nyengir melihat raut wajahku,
kesal.
“Ya sudah
aku salat dulu.”
Obrolan kami
terjeda, bersamaan dengan itu ponselku berdering. Panggilan dari kak Putra.
“Iya, Kak
ada apa?” Setelah menjawab sapaan di seberang sana.
“Kamu masih
di dalam masjid? Ayo kita pulang, Kakak tunggu di depan.”
“Kakak
pulang duluan saja, aku ketemu dengan Rifa, ada yang mau dia omongin ke aku
tapi sekarang dia lagi salat, jadi aku nunggu dia, Kak,” jelasku.
“Oh,
baiklah, Kakak pulang dulu dengan Ahmad.”
“Iya, Kak
hati-hati. Oh ya, kata Ibu, kalau Kakak sempat mampir ke rumah.” Aku ingat
pesan ibu tadi.
“Sudah sore,
Dek. besok saja sepulang Kakak kerja, Mbakmu nelepon barusan, katanya Kia
nanyain Kakak terus.”
“Ya sudah
kalau begitu, Kak.”
Sambungan
telepon terputus, ada rasa sesal di diriku karena tak sempat melihat Ahmad menjelang
mereka puang. Tapi aku juga penasaran apa yang akan di sampaikan oleh Rifa.
Beberapa saat menunggu, Rifa telah selesai salat.
“Nggak masalahkan
kamu pulang agak soreaa? Soalnya ini penting.” Rifa membuka percakapan setelah
membereskan mukenanya.
“Iya nggak
masalah, Fa. Memang apa yang mau kamu sampaikan? Aku sudah penasaran dari tad,”
sahutku memasang wajah penasaran.
Rifa
mengeluarkan beberapa lembaran kertas dari tasnya dan menyerahkan padaku.
“Itu ada
yang menitipkan Cv ta’aruf sama aku, untuk di sampaikan ke kamu. Dia sepupuku,
orangnya humoris dan yang pasti sholeh. Insya Allah cocok untuk kamu.” Rifa
menjelaskan setelah memberikan lembaran kertas itu padaku.
“Tapi, Fa –“
“Kamu
pikir-pikir dulu dan istikharah, minta petunjuk. Jika sudah mantap, kabari aku
secepatnya, ya,” potong Rifa tak memberiku kesempatan bicara.
“Aamiin,
insya Allah, akan aku pertimbangkan dulu, Fa. Mohon doanya juga ya.”
“Semoga dia
jodoh terbaik untukmu. Aamiin. Jangan lupa kabri aku bagaimana selanjutnya.”
“Iya, Insya
Allah, Fa.”
Obrolan
berlanjut panjang lebar, maklum sudah lama tak bertemu. Rifa sedang disibukkan
dengan persiapan pernikahannya.
“Oh, ya. Gimana
persiapan pernikahan kamu?” Lanjutku.
“Alhamdulillah,
sudah 50%.” Rifa terlihat begitu bahagia.
“Masya
Allah. Semoga selalu lancar sampai hari H nanti,” balasku.
Sahabatku satu
ini sungguh luar biasa bejuang untuk bertemu jodohnya. Bagaimana tidak,
berkali-kali taaruf belum ada kecocokan, sampai bertemu yang cocok namun harus
menanti. Sekian lama penantian, akhirnya Rifa lebih memilih laki-laki yang
dikenalkan oeh saudara perempuannya.
Dari pada
menanti yang tak pasti lebih baik melanjutkan berlabuh dengan seseorang yang
sudah siap berlayar. Begitulah keputusan Rifa.
Sampai waktu
hampir beranjak senja, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Berpelukan
melepas perpisahan dan saling berucap hati-hati di jalan. Rifa dan ibunya
lebih dulu meninggalkanku dengan taksi online yang dipesannya.
Sedangkan
aku, hatiku gamang atas apa yang terjadi hari ini. Kebahagian bertemu orang
yang selama ini kutunggu pertemuannya sekaligus bingung dengan Cv taaruf yang
kuterima dari Rifa.
Dengan
langkah gontai aku menuju parkiran, menaiki motor bebekku dan menstater. Pulang
adalah jalan kembali untuk pikiran segera tenang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar