5
Diary
Tepat saat itu bulan kelahiranku, dan
empat hari lagi aku akan berulang tahun, aku tidak berharap banyak kepada
siapapun, yang aku harap hanyalah keberkahan dalam menjalani hidup untuk
kedepannya. Sebelum Aris pergi untuk melanjutkan study-nya ke luar negeri. Dan
satu minggu setelah ulang tahunku Aris mengajakku untuk bertemu namun sayang aku
tidak bisa memenuhi ajakannya.
Saat sedang memikirkannnya lamunanku
terbuyar, kudengar pintu rumah ada yang mengetuknya dan kudengar pula suara
mama memanggilku, “Syaah, ada Aris ingin bertemu kamu”.
“Hah Aris datang kerumahku?” Aku kaget
setengah tidak percaya, “untuk apa dia datang ke sini?” Dengan rasa penasaran
aku datang menghampirinya.
“Hai,” Dia menyapaku, dengan senyum aku
membalasnya.
“Hai, juga silahkan masuk,” Aku
mempersilahkan dia masuk dan kami berbincang diruang tamu.
“Aku mau memberimu ini,” Dia menyodorkan
bungkusan kecil yang terbungkus rapi dengan kertas kado dengan motif bunga-bunga
warna merah.
“Apa ini?” tanyaku penasaran.
“Nanti saja membukanya pasti kamu akan
tau isinya,” Dia menyengir lucu.
“Masih saja pintar bercanda,” jawabku.
“Tentu dong itu harus. Ya sudah aku pamit
pulang dulu, ya.” Pintanya sambil berdiri dan melangkah dengan ditingaalkannya
senyuman yang manis.
“Iya, hati-hati di jalan, kalau jatuh
bangun sendiri.” Aku meledeknya sebelum dia mengendarai motornya, dan dia hanya
membalas dengan menjulurkan lidah.
Dengan cepat aku menutup pintu dan
berlari ke kamar karena tidak sabar ingin cepat-cepat membuka isi kado yang
diberikannya kepadaku.
Bungkus demi bungkus kubuka dengan
perlahan, semakin membuatku penasaran saja apa isi dalam bungkusan ini, entah
berapa kertas kado yang membungkusnya, tapi akhir dari rasa penasaranku
terlewati, sebuah buku diary mungil berwarna kuning dan putih bergambar boneka,
“lucu sekali,” gumamku.
Aku tidak percaya kamu memberiku sebuah
buku diary di hari ulang tahunku kali ini, sebelumnya aku tidak pernah berpikir
akan kejutan ini, dan aku sangat berterimakasih kepadamu.
Semenjak itu aku sering menulis semua
perasaanku kepada diary pemberiannya, kutumpahkan semua apa yang kurasa, dan
semua itu hanya tentangmu, kamu benar diary ini pengobat rinduku padamu,
pelampiasanku yang tidak tersampaikan kepadamu.
Tahun pun sebentar lagi berganti, menginjak
semester akhir perkuliahan. Aku hanya berharap dipergantian tahun nanti aku
bisa melewatinya bersamamu. Kutulis harapan itu pada diaryku.
Saat itu pula ponselku berdering ada yang
menelponku, kujawab panggilan itu, disebrang sana terdengar suara yang tak
asing lagi ditelingaku,”Syah, kamu mau nggak nanti di malam tahun baru kita
buat acara?” Langsung saja nyerocos tanpa basa-basi lagi, itulah
kebiasaan sahabatku, Eno, dia memang begitu orangnya.
“Emmn nggak, memang mau buat acara apa?”
sahutku bersemangat.
“Kita bakar-bakar jagung, mau nggak,”
ajaknya antusias.
“Oh, mau bakar jagung, ya? Kukira mau
bakar rumahmu.” Aku tertawa geli.
“Ah, kamu bercanda saja, tawaranku belum
dijawab sejak tadi,” sambungnya dengan nada sedikit kesal.
“Ya ya aku mau, memang di mana acaranya?”
“Di rumahmu saja boleh, kan?” Pintanya
memohon izin kepadaku.
“Boleh, kamu ya yang menyiapkan semuanya.”
“Oke, nanti aku hubungi kamu lagi.” Perbincangan
pun kami akhiri dengan ditutupnya telpon darinya.
Tepat pukul 20:00 Wib, Eno sudah datang
ke rumahku, dengan segala perlengkapan untuk membakar jagung pun dia siapkan.
“Hebat kamu datang tepat waktu.” Dengan
senyuman aku menyambut kedatangannya.
“Ya dong, inikan acaraku hanya saja
diadakan di rumahmu,” sahutnya sambil menyiapkan bahan-bahan.
“Terus kenapa harus di rumahku, kenapa nggak
di rumahmu saja?” Aku turut membantunya mengupas jagung.
“Ada kejutan untukmu.” Liriknya kepadaku
sambil menyiapkan pembakaran.
“Untukku?” jawabku dengan penasaran.
“Ya iyalah, untuk siapa lagi dan kamu
tahu tidak aku mengundang seseorang yang spesial untukmu.”
“Sudahlah jangan memberiku teka-teki
langsung saja to the point,” sungutku
kesal.
“Nah itu orangnya datang, sambil menunjuk
seseorang yang tidak asing lagi terlihat olehku.
“Di ... di ... dia...? Ka ... kamu
mengundang dia kesini?” Sontak jantungku berdegup kencang.
“Ya, aku mengundang Aris kesini untuk
bertemu denganmu, aku tahu kamu pasti merindukannya. Ya sudah aku mau berkumpul
dulu dengan yang lain, kamu ngobrol saja empat mata dengannya,” ujarnya sambil
berlalu.
Dengan perasaan yang masih tidak percaya
Eno meninggalkanku sendiri yang terpaku melihat Aris menuju kearahku.
“Hei, bengong saja nanti kesambet loh.” Bagai
tersengat aliran listrik saat dia menepuk pundakku.
“H ... hai, mmm ka ... kamu sudah lama
berdiri di sini?” tanyaku terbata-bata karena kaget melihat Aris sudah ada di
hadapanku.
“Nggak kok aku baru saja sampai, kamu
kenapa bengong, Ai?” Tatapan matanya begitu jelas terlihat dibawah sinar
rembulan membuatku semakin gugup untuk berbicara dengannya.
“Oh, begitu, ya? A ... ayo kita berkumpul
dengan yang lainnya saja.” Aku masih saja gugup karena lama tidak bertemu
dengannya.
“Tunggu sebentar, ada yang ingin aku
bicarakan sama kamu, Ai.” Tanganya yang kekar menahan tanganku yang saat itu
aku mengajaknya beranjak pergi berkumpul dengan yang lainnya.
“Ada apa? Apa yang perlu dibicarakan, Ris?”
Segudang pertanyaan timbul dibenakku.
“A ... aaku sebenarnya ...” Aries tak
melanjutkan kata-katanya dan langsung kupotong, “sebenarnya apa?”
“Aku sebenarnya merindukanmu, Ai, aku
harap kita bisa seperti dulu lagi.” Aku masih terdiam membisu, aku tidak tahu
harus berbicara apa hanya membalas pertanyaannya dengan anggukan kepalaku.
“Aku juga merindukanmu, Ris.” Tatapan
mata kami bertemu, begitu hangat pertemuan ini. Sekian lama kutunggu, akhirnya
waktu menjawab.
“Ya sudah, ayo kita berkumpul dengan yang
lain, aku sudah tidak sabar ingin melahap jagung bakarnya.” Lamunanku buyar
saat dia mengajakku memakan jagung bakar, hanya dengan senyuman aku membalas
ajakannya.
Sesampainya kami di tengah berkumpulnya
teman-temanku, “Ciye-ciye yang seneng di malam tahun baru.” Eno meledek kami
disambut dengan gelakan tawa teman-teman yang lain.
Itulah kebersamaanku bersama Aris, Tuhan
telah mengabulkan harapanku, betapa bahagianya aku bisa melewati malam
pergantian tahun bersama orang yang sangat kusayangi, terima kasih Tuhan.
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, jam
hampir menujukkan pukul 00:00 tanda pergantian tahun baru, aku dan Aris sama-sama
memegang bunga api yang akan kami nyalakan bersama-sama, hitungan 5 ... 4 ... 3
... 2 ... 1. Suara terompet bergema
bersamaan dengan suara bunga api yang kami nyalakan bersama-sama.
“Selamat tahun baru ya, Ris, semoga di tahun
baru ini semua angan dan cita-citamu terkabul dan bisa menjadi yang lebih baik.
aku menyanyangimu, Ris. Tatapku sambil memegang erat tangannya.
“Sama-sama, Ai, aku juga berharap aku dan
kamu bisa selalu bersama.” Balasnya lembut.
“Aaamiin,” sahutku.
Selang beberapa menit setelah itu aku dan
Aris masih saling mencurahkan melepas rasa rindu kami yang sudah lama membeku.
Tibalah saatnya kini dia izin untuk pulang, serasa berat aku melepasnya walau
hanya ditinggal dia pulang kerumah.
“Aku pulang dulu ya, Ai. Selamat tidur, semoga
mimpi indah.”
“Iya, kamu hati-hati di jalan, sampai di rumah
langsung tidur dan selamat istirahat. Terima kasih untuk malam ini.”
“Iya, sama-sama.” Lambaian tangannya
mengiringi langkahnya pergi meninggalkannku yang masih diam menatap bayanganya
hilang diterpa suasana malam. Sementara teman-temanku dan Eno sudah lebih dulu
pulang kerumahnya masing-masing.
Sampai kamar, langsung kusambar diary
yang terletak di atas meja belajar, dan aku menulis tentang malam itu.
“Di tahun baru ini kuingin
meninggalkan luka lama untuk menyambut senyum yang baru, kutinggalkan jejak di tahun
yang baru berlalu mencoba melangkah menembus waktuku semampuku, telusuri jalan
yang panjang yang pasti ada akhirnya, mencoba dengan segenap daya yang bisa tuk
wujudkan sebuah cita-cita. Renung jiwa saat malam berganti siang, awan biru
seakan tak mau berpisah, angin pun bertiup ungkapkan hasrat, burung ingin berenang bersama ombak pasir tak
mau terpisahkan oleh pantai, semua ingin menatap hari esok. Jiwa akan sepi
tanpa teman, hati akan mati tanpa iman, hari ini adalah kenyataan, esok adalah
impian, semalam adalah kenangan, sucikan hati jernihkan pikiran.. Ya Allah ya
Robbi semoga di tahun ini hamba bisa menjadi yang lebih baik dari tahun-tahun
sebelumnya, semoga semua harapan, keinginan, impian, dan cita-cita hamba
terkabul di tahun ini, mendapat limpahan nikmat umur panjang, rizki, kesehatan,
kecerdasan, menjadi kebanggaan orang tuaku dan mendapat jodoh yang terbaik..
Aaamiin ya Allah..
Kututup diary dan kupejamkan mata bersama
dekapan diary yang terletak didadaku, berharap mimpi indah bersama Arisku.