Judul
Buku : Syukur Tiada Akhir Jejak Langkah
Jakob Oetama
Penyusun : St. Sularto
ISBN : 978-979-709-952-7
Penerbit : Kompas
Tahun
Terbit : 2015
Jumlah
Halaman: 478 halaman
Pada
umumnya, buku ini menceritakan tentang perjalanan Jakob Oetama dalam membangun
dan mempertahankan Kompas bersama Ojong dan rekannya yang lain. Buku yang
berisi 478 halaman ini dibagi menjadi 9 bab. Berikut adalah 10 pembahasan yang
menurut saya menarik.
1.
Tiga Titik
Balik Yang Menentukan
Menceritakan
tentang perubahan cita-cita Jakob yang semula ingin menjadi pastor namun
sekarang menjadi pendiri surat kabar yang sukses.
2.
Titik Balik
I :
Pilihan
tegas meskipun dengan berat hati untung menandatangani surat pernyataan dan
kesetiaan agar harian Kompas bisa terbit kembali pada tanggal 6 Februari 1978.
3.
Titik Balik
II:
Perubahan
profesi yang semulanya Jakob sempat menjadi guru pada tahun 1963. Namun niatnya
yang awalnya menjadi guru harus berubah menjadi wartawan dan perubahan itu yang
membawa Jakob sukses sampai saat ini.
4.
Titik Balik
III:
Kepergian
P.K Ojong, rekan perintis dan pendiri Kompas Gramedia tanggal 30 Mei 1980, dari
yang semula lebih bertanggung jawab menangani pengembangan sisi redaksional ke
sisi bisnis juga.
5.
Dari “Sang
Pemula”ke “Sang Pengibar Bendera”
Sebutan
“Sang Pemula”bagi majalah Intisari disampaikan pertama kali oleh Jakob Oetama
dalam perayaan 40 tahun majalah itu, tahun 2003. Sebutan Kompas sebagai “Sang
Pengibar Bendera”baru muncul beberapa waktu kemudian. Yang pertama disampaikan
secara resmi, yang kedua disampaikan dalam berbagai kesempatan tidak resmi,
bahkan cenderung sambil lalu. Tetapi, di kalangan karyawan Kompas Gramedia,
khususnya wartawan Kelompok Majalah dan Kelompok Surat Kabar khususnya Kompas,
kedua sebutan itu menempel dan ditabalkan sebagai nama diri karya-karya awal
duet pendiri/perintis P.K. Ojong-Jakob Oetama. Intisari ibarat biji sesawi,
Kompas mengibarkan bendera usaha Kompas Gramedia.
6.
Kemanusiaan
Yang Beriman
Merefer apa
yang pernah disampaikan pada menjelang usia Jakob Oetama 70 tahun, Sindhunata
menulis “humanisme akan roboh dengan sendirinya jika tempat di mana ia
dihidupkan adalah tanah yang miskin dan berkekurangan secara materi.” Itulah
sebagian besar tanah perjuangan yang harus ditapaki dan dihadapi Kompas. Mau
tidak mau Kompas menghayati humanisme sebagai pro yustitiae, perjuangan demi
keadilan.
7.
Profesi
Jurnalistik
Ketika
menyampaikan pidato pengukuhan Doktor Kehormatan dari Universitas Sebelas
Maret, Surakarta, 5 September 2014, Jakob Oetama menyinggung peran yang dicoba
dikembangkan Kompas menuju 50 tahun ke depan. “Ketika memberikan ruang
perdebatan bagi berbagai pemikiran, ia sudah mengambil peran politiknya. Karena
melalui perdebatan itu lahir kebijakan public yang membuat masyarakat yang
menikmati situasi semakin adil dan setara dalam kesempatan,”tegasnya dalam
pidato yang dibacakan Irwan Oetama, putra sulungnya.
8.
Manajemen
Kompas Gramedia
Penerbitan
pers harus memosisikan diri secara strategis dalam eksistensinya dan
interdepensinya dengan Negara, masyarakat, dan bisnis. Manajemen penertbitan
pers, teristimewa grup pers, meyadari tanggung jawab sosialnya sebagai pelayan
dari masyarakat (servant of the public) dan jufa sebagai pelayan dari para
pelayan (the servant of the servants) dalam konteks pengabdian dan loyalitasnya
kepada Negara dan masyarakat.
9.
Bagaimanakah
Pers Bekerja?
Jakob
menggolongkan media sebagai commited observer, pengamat yang mempunyai komitmen
terhadap kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negaranya. Kemajuan ekonomi, di
samping meningkatkan tingkat hidup rakyat, sekaligus membawa permasalahannya
seperti kesenjangan. Permasalahan itu menjadi lebih besar karena ukuran
penduduk dan Negara kepulauan Indonesia.
10. Bekerja Itu
“All Out”
Jakob Oetama
sangat menghargai makna kerja keras dan tidak jemu-jemu mengingatkan.
Perusahaan yang dirintisnya bersama P.K. Ojong juga berkembang berkat kerja
keras. Tidak setengah-setengah. All Out. Selain kerja keras, juga kerja bersama
(sinergik), itulah dua kata kunci yang dipegang erat-erat agar berhasil dalam
usaha
