Halaman

Sabtu, 28 Maret 2020

Riview : Dalam Mihrab Cinta

DALAM MIHRAB CINTA 2020 – Republika Penerbit
Identitas Buku
Judul : Dalam Mihrab Cinta
Penerbit : Ihwah Publishing House
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Kategori : Novel Islami
Jumlah Halaman : vi + 270 halaman
Cetakan : I, Desember 2010
ISBN : 978-602-98221-4-4

Novel ini bercerita tentang perjalanan kehidupan tokoh utama yaitu Syamsul Hadi. Seorang anak saudagar batik dari Pekalongan yang hidup berkecukupan. Syamsul tergolong anak pandai dan cerdas, ia siswa terbaik di sekolahnya. Terbukti selama SMA ia dikenal sebagai jagonya matematika dan memenangkan Olimpiade Matematika Tingkat SMA se-Jawa Tengah. Bahkan ada dua perguruan tinggi negeri terkemuka di Semarang menawarinya beasiswa setelah ia memenangkan lomba tersebut. Namun, ia justru memilih jalur yang sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh seluruh anggota keluarganya, yaitu memilih nyantri di sebuah pondok pesantren.

Ayahnya sangat murka dan kecewa dengan keputusan sang anak. Sejumlah dana sudah disiapkan jika saja ia mau kuliah mengambil jurusan matematika, akuntansi atau ekonomi. Namun Syamsul melihat matematika tidak lagi menjadi tantangan mengasyikkan bagi dirinya. Ia butuh sebuah tantangan baru. Hingga akhirnya ia memilih nyantri di pondok pesantren Al Furqan, Pagu, Kediri ketimbang menuruti kehendak sang ayah agar kuliah selepas SMA.

Di pesantren, prestasi Syamsul terbilang sangat cemerlang, ia bisa melompat kelas berkali-kali guna mengejar ketertinggalannya. Tetapi seperti kata pepatah, jika kehidupan ini ibarat sebuah roda. Kadang di atas dan kadang di bawah. Begitu pula dengan kehidupan Syamsul. Akibat fitnah pencurian dari teman sekamarnya, Burhan, dirinya harus babak belur dihajar seluruh penghuni pondok dan diusir dari pesantren tempatnya menimba ilmu. Ia merasa dizalimi dan tidak terima atas perlakuan tidak adil tersebut. Belum lagi hukuman tazir dari pesantren yang ia terima, rambutnya harus rela digunduli dihadapan seluruh penghuni pesantren. Hatinya sangat hancur, apalagi tekanan dan ketidakpercayaan dari pihak keluarganya. Berkali-ia ia mencoba meyakinkan keluarganya, berulang kali pula cibiran dan hinaan ia dapatkan. Hingga akhirnya ia pergi meninggalkan rumah dan keluarganya. Menurutnya apalah arti hidup ini jika keluarga sendiri sudah tidak mempercayainya.

Membaca novel ini dapat kita ambil pelajaran sekaligus kesimpulan bahwa lingkungan mempunyai pengaruh besar untuk membentuk pribadi seseorang. Pada mulanya tokoh utama yaitu Syamsul Hadi hanya difitnah maling oleh temannya yaitu Burhan, namun kemudian lingkungannya mengiyakan hal tersebut, bahkan keluarga yang ia andalkan pun ikut mempercayai fitnah itu. Tokoh utama merasa tidak tahan, dan akhirnya ia menjadi copet sungguhan sampai pernah mendekam di penjara. Namun, ketika lingkungan menganggap di adalah seorang ustad semenjak menjadi guru mengaji seorang anak kecil, maka jadilah ia seorang ustad, bahkan tenar sampai masuk pada program religi sebuah stasiun televisi. Jadi, lingkungan mempunyai peran penting dalam membentuk Pribadi seseorang.

Novel Dalam Mihrab Cinta ini sangat bagus dan layak untuk dibaca karena memberikan pelajaran kehidupan. Banyak hikmah serta manfaat yang dapat kita petik untuk dijadikan pedoman hidup kedepan.

Buku ini benar-benar layak untuk kita pelajari dan kita anut karena isinya mengajak para pembaca untuk selalu menuju jalan yang benar dan senantiasa bersabar.

 Saran untuk jenis buku selanjutnya yaitu novel fiksi, tentang detektif/trhiller/horor/misteri.

Rabu, 25 Maret 2020

Tulang Rusuk yang Patah

 

5
Diary

Tepat saat itu bulan kelahiranku, dan empat hari lagi aku akan berulang tahun, aku tidak berharap banyak kepada siapapun, yang aku harap hanyalah keberkahan dalam menjalani hidup untuk kedepannya. Sebelum Aris pergi untuk melanjutkan study-nya ke luar negeri.  Dan satu minggu setelah ulang tahunku Aris mengajakku untuk bertemu namun sayang aku tidak bisa memenuhi ajakannya.

Saat sedang memikirkannnya lamunanku terbuyar, kudengar pintu rumah ada yang mengetuknya dan kudengar pula suara mama memanggilku, “Syaah, ada Aris ingin bertemu kamu”.

“Hah Aris datang kerumahku?” Aku kaget setengah tidak percaya, “untuk apa dia datang ke sini?” Dengan rasa penasaran aku datang menghampirinya.

“Hai,” Dia menyapaku, dengan senyum aku membalasnya.

“Hai, juga silahkan masuk,” Aku mempersilahkan dia masuk dan kami berbincang diruang tamu.

“Aku mau memberimu ini,” Dia menyodorkan bungkusan kecil yang terbungkus rapi dengan kertas kado dengan motif bunga-bunga warna merah.
“Apa ini?” tanyaku penasaran.

“Nanti saja membukanya pasti kamu akan tau isinya,” Dia menyengir lucu.

“Masih saja pintar bercanda,” jawabku.

“Tentu dong itu harus. Ya sudah aku pamit pulang dulu, ya.” Pintanya sambil berdiri dan melangkah dengan ditingaalkannya senyuman yang manis.

“Iya, hati-hati di jalan, kalau jatuh bangun sendiri.” Aku meledeknya sebelum dia mengendarai motornya, dan dia hanya membalas dengan menjulurkan lidah.

Dengan cepat aku menutup pintu dan berlari ke kamar karena tidak sabar ingin cepat-cepat membuka isi kado yang diberikannya kepadaku.

Bungkus demi bungkus kubuka dengan perlahan, semakin membuatku penasaran saja apa isi dalam bungkusan ini, entah berapa kertas kado yang membungkusnya, tapi akhir dari rasa penasaranku terlewati, sebuah buku diary mungil berwarna kuning dan putih bergambar boneka, “lucu sekali,” gumamku.

Aku tidak percaya kamu memberiku sebuah buku diary di hari ulang tahunku kali ini, sebelumnya aku tidak pernah berpikir akan kejutan ini, dan aku sangat berterimakasih kepadamu.

Semenjak itu aku sering menulis semua perasaanku kepada diary pemberiannya, kutumpahkan semua apa yang kurasa, dan semua itu hanya tentangmu, kamu benar diary ini pengobat rinduku padamu, pelampiasanku yang tidak tersampaikan kepadamu.

Tahun pun sebentar lagi berganti, menginjak semester akhir perkuliahan. Aku hanya berharap dipergantian tahun nanti aku bisa melewatinya bersamamu. Kutulis harapan itu pada diaryku.

Saat itu pula ponselku berdering ada yang menelponku, kujawab panggilan itu, disebrang sana terdengar suara yang tak asing lagi ditelingaku,”Syah, kamu mau nggak nanti di malam tahun baru kita buat acara?” Langsung saja nyerocos tanpa basa-basi lagi, itulah kebiasaan sahabatku, Eno, dia memang begitu orangnya.

“Emmn nggak, memang mau buat acara apa?” sahutku bersemangat.

“Kita bakar-bakar jagung, mau nggak,” ajaknya antusias.

“Oh, mau bakar jagung, ya? Kukira mau bakar rumahmu.” Aku tertawa geli.

“Ah, kamu bercanda saja, tawaranku belum dijawab sejak tadi,” sambungnya dengan nada sedikit kesal.

“Ya ya aku mau, memang di mana acaranya?”

“Di rumahmu saja boleh, kan?” Pintanya memohon izin kepadaku.

“Boleh, kamu ya yang menyiapkan semuanya.”

“Oke, nanti aku hubungi kamu lagi.” Perbincangan pun kami akhiri dengan ditutupnya telpon darinya.

Tepat pukul 20:00 Wib, Eno sudah datang ke rumahku, dengan segala perlengkapan untuk membakar jagung pun dia siapkan.

“Hebat kamu datang tepat waktu.” Dengan senyuman aku menyambut kedatangannya.
“Ya dong, inikan acaraku hanya saja diadakan di rumahmu,” sahutnya sambil menyiapkan bahan-bahan.

“Terus kenapa harus di rumahku, kenapa nggak di rumahmu saja?” Aku turut membantunya mengupas jagung.

“Ada kejutan untukmu.” Liriknya kepadaku sambil menyiapkan pembakaran.

“Untukku?” jawabku dengan penasaran.

“Ya iyalah, untuk siapa lagi dan kamu tahu tidak aku mengundang seseorang yang spesial untukmu.”

“Sudahlah jangan memberiku teka-teki langsung saja to the point,” sungutku kesal.

“Nah itu orangnya datang, sambil menunjuk seseorang yang tidak asing lagi terlihat olehku.

“Di ... di ... dia...? Ka ... kamu mengundang dia kesini?” Sontak jantungku berdegup kencang.

“Ya, aku mengundang Aris kesini untuk bertemu denganmu, aku tahu kamu pasti merindukannya. Ya sudah aku mau berkumpul dulu dengan yang lain, kamu ngobrol saja empat mata dengannya,” ujarnya sambil berlalu.

Dengan perasaan yang masih tidak percaya Eno meninggalkanku sendiri yang terpaku melihat Aris menuju kearahku.

“Hei, bengong saja nanti kesambet loh.” Bagai tersengat aliran listrik saat dia menepuk pundakku.

“H ... hai, mmm ka ... kamu sudah lama berdiri di sini?” tanyaku terbata-bata karena kaget melihat Aris sudah ada di hadapanku.

“Nggak kok aku baru saja sampai, kamu kenapa bengong, Ai?” Tatapan matanya begitu jelas terlihat dibawah sinar rembulan membuatku semakin gugup untuk berbicara dengannya.

“Oh, begitu, ya? A ... ayo kita berkumpul dengan yang lainnya saja.” Aku masih saja gugup karena lama tidak bertemu dengannya.

“Tunggu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, Ai.” Tanganya yang kekar menahan tanganku yang saat itu aku mengajaknya beranjak pergi berkumpul dengan yang lainnya.

“Ada apa? Apa yang perlu dibicarakan, Ris?” Segudang pertanyaan timbul dibenakku.

“A ... aaku sebenarnya ...” Aries tak melanjutkan kata-katanya dan langsung kupotong, “sebenarnya apa?”

“Aku sebenarnya merindukanmu, Ai, aku harap kita bisa seperti dulu lagi.” Aku masih terdiam membisu, aku tidak tahu harus berbicara apa hanya membalas pertanyaannya dengan anggukan kepalaku.
“Aku juga merindukanmu, Ris.” Tatapan mata kami bertemu, begitu hangat pertemuan ini. Sekian lama kutunggu, akhirnya waktu menjawab.

“Ya sudah, ayo kita berkumpul dengan yang lain, aku sudah tidak sabar ingin melahap jagung bakarnya.” Lamunanku buyar saat dia mengajakku memakan jagung bakar, hanya dengan senyuman aku membalas ajakannya.

Sesampainya kami di tengah berkumpulnya teman-temanku, “Ciye-ciye yang seneng di malam tahun baru.” Eno meledek kami disambut dengan gelakan tawa teman-teman yang lain.

Itulah kebersamaanku bersama Aris, Tuhan telah mengabulkan harapanku, betapa bahagianya aku bisa melewati malam pergantian tahun bersama orang yang sangat kusayangi, terima kasih Tuhan.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, jam hampir menujukkan pukul 00:00 tanda pergantian tahun baru, aku dan Aris sama-sama memegang bunga api yang akan kami nyalakan bersama-sama, hitungan 5 ... 4 ... 3 ...  2 ... 1. Suara terompet bergema bersamaan dengan suara bunga api yang kami nyalakan bersama-sama.

“Selamat tahun baru ya, Ris, semoga di tahun baru ini semua angan dan cita-citamu terkabul dan bisa menjadi yang lebih baik. aku menyanyangimu, Ris. Tatapku sambil memegang erat tangannya.

“Sama-sama, Ai, aku juga berharap aku dan kamu bisa selalu bersama.” Balasnya lembut.

“Aaamiin,” sahutku.

Selang beberapa menit setelah itu aku dan Aris masih saling mencurahkan melepas rasa rindu kami yang sudah lama membeku. Tibalah saatnya kini dia izin untuk pulang, serasa berat aku melepasnya walau hanya ditinggal dia pulang kerumah.

“Aku pulang dulu ya, Ai. Selamat tidur, semoga mimpi indah.”

“Iya, kamu hati-hati di jalan, sampai di rumah langsung tidur dan selamat istirahat. Terima kasih untuk malam ini.”

“Iya, sama-sama.” Lambaian tangannya mengiringi langkahnya pergi meninggalkannku yang masih diam menatap bayanganya hilang diterpa suasana malam. Sementara teman-temanku dan Eno sudah lebih dulu pulang kerumahnya masing-masing.

Sampai kamar, langsung kusambar diary yang terletak di atas meja belajar, dan aku menulis tentang malam itu.

Di tahun baru ini kuingin meninggalkan luka lama untuk menyambut senyum yang baru, kutinggalkan jejak di tahun yang baru berlalu mencoba melangkah menembus waktuku semampuku, telusuri jalan yang panjang yang pasti ada akhirnya, mencoba dengan segenap daya yang bisa tuk wujudkan sebuah cita-cita. Renung jiwa saat malam berganti siang, awan biru seakan tak mau berpisah, angin pun bertiup ungkapkan hasrat,  burung ingin berenang bersama ombak pasir tak mau terpisahkan oleh pantai, semua ingin menatap hari esok. Jiwa akan sepi tanpa teman, hati akan mati tanpa iman, hari ini adalah kenyataan, esok adalah impian, semalam adalah kenangan, sucikan hati jernihkan pikiran.. Ya Allah ya Robbi semoga di tahun ini hamba bisa menjadi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, semoga semua harapan, keinginan, impian, dan cita-cita hamba terkabul di tahun ini, mendapat limpahan nikmat umur panjang, rizki, kesehatan, kecerdasan, menjadi kebanggaan orang tuaku dan mendapat jodoh yang terbaik.. Aaamiin ya Allah..

Kututup diary dan kupejamkan mata bersama dekapan diary yang terletak didadaku, berharap mimpi indah bersama Arisku.

 

Tulang Rusuk yang Patah


4
Kampus Biru


Masa-masa sekolah adalah masa yang menyenangkan. Bersyukur tentunya dapat mengeyam dunia pendidikan. Berkumpul dengan teman sebaya dipenuhi dengan canda dan tawa. Banyak di luar sana yang masih terlantar tanpa ilmu. Sungguh miris rasanya melihat kondisi seperti itu di zaman sekarang ini.

Dan aku masih beruntung dan bersyukur dibesarkan dalam keluarga yang mengerti akan pentingnya pendidikan bagi anak. Meski orang tuaku tak mampu bersekolah sampai tingkat tinggi tapi mereka tidak mau melihat anaknya putus sekolah. Mereka menginginkan aku menuntut ilmu setinggi-tingginya

Seiring berjalannya waktu. Wajar bukan seorang pelajar mengalami kejenuhan dalam belajar. Terutama dalam mata pelajaran yang dihadapi. Tidak semua pelajar menyukai pelajaran yang mereka terima. Menyukai tidak menyukai menjadi dampak bagi para pelajar dalam proses pembelajaran berlangsung.

Contohnya aku. Aku sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, dan tidak menyukai pelajaran Matematika. Aku suka belajar Bahasa Indonesia menurutku banyak cerita-cerita yang menarik. Mulai dari sanalah suka membacaku tumbuh. Dibanding dengan pelajaran Matematika yang penuh dengan rumus-rumus membuat jenuh sampai ingin menyerah walau hanya mengerjakan satu soal.

Sampai aku duduk di Sekolah Menengah Atas aku masih tidak tertarik dengan yang namanya pelajaran Matematika. Mulutku pernah berucap "jika nanti aku lulus sekolah dan masuk perguruan tinggi, aku tidak ingin mengambil jurusan yang berbau dengan rumus, terutama matematika". Dulu kuanggap ucapanku akan kutepati, tapi nyatanya.

Qadarallah, apalah dayaku. Setelah lulus sekolah dan aku masuk perguruan tinggi, nyatanya aku mengkhianati ucapanku dulu. Aku mengambil jurusan Pendidikan Matematika. Yang kataku dulu tidak ingin mengambil jurusan Matematika apa kabar? Sadarkah apa yang kau ucap dulu sekarang malah kau jalani?

Sedikit kujelaskan apa yang terjadi dibalik semua itu. Berawal dari temanku, Dian, mengajakku masuk perguruan tinggi yang sama, karena kupikir biaya masuknya masih terjangkau oleh orang tuaku, meski mereka mampu membiayai lebih dari itu tapi aku yang tidak ingin menyusahkan mereka. Dan kupikir tak apa nantinya beda jurusan kan masih satu kampus.

Keinginanku untuk beda jurusan dengan temanku tidak disetujui oleh orang tuaku. Aku harus mengambil jurusan yang sama dengan temanku dengan alasan "supaya pergi dan pulang bareng". Mau tidak mau, suka tidak suka aku menuruti perintah orang tuaku, karena dulu aku memang belum berani kemana-mana sendiri.

Jadilah aku mengambil jurusan yang sama dengan temanku yaitu Pendidikan Matematika. Karena dia memang menyukai pelajaran Matematika. Sedangkan aku? Aku harus berjuang semester demi semester perkuliahan kuhadapi dengan usaha dan kemampuanku mengenai Matematika. Tidak mudah rasanya melakukan apa yang tidak kita sukai.

Dan di sinilah aku sekarang duduk di salah satu Universitas Islam Negeri di kotaku, atau lebih dikenal dengan sebutan Kampus Biru. Di kerenakan almamater kampus tersebut berwarna biru. Aku yang menyukai warna biru, tentu senang memakainya. Seakan hilang ketidak sukaan dengan jurusan yang dipilih.

Ketika masih memakai putih abu-abu aku memiliki mimpi bisa menduduki bangku perkuliahan dan sekarang Allah telah mewujudkan mimpiku.

Memasuki semester dua sekarang jadwal kuliahku begitu padat, banyak kegiatan dan tentu tiada hari tanpa tugas. Aku memiliki sahabat namanya Astuti, kami memiliki sifat yang hampir sama mungkin dikarenakan kami terlahir di bulan yang sama, tapi bedanya aku feminim dan dia tomboy.

Hari ini aku disibukkan dengan kegiatan ARITMATIKA (Ajang Kreativitas Matematika), kegiatan itu hanya diadakan oleh jurusan kami yaitu Matematika, yang sering dikatakan bahwa Matematika itu lebih seram daripada hantu. Tapi bagiku itu adalah keputusanku yang sudah yakin aku ambil dan sekarang aku hanya menjalani sewajarnya seorang Mahasiswi.

“Syah, kamu liat deh cowok yang memakai baju kaos hitam merah bergaris-garis itu.” Tuti menunjuk kearah cowok yang dimaksud.

“Memangnya kenapa, Ti?" sahutku.

“Dia itu yang menjadi kakak voluntirku waktu ospek," jawab Tuti memberi penjelasan.

“Terus apa hubungannya denganmu?" Aku penasaran apa yang dimaksud sahabatku itu.

“Dia keren, kan?" Manis lagi. Hehe ... aku suka melihatnya.” Kulihat wajah Tuti bersemu merah.

Sejenak aku melirik sosok lelaki yang diceritakan Tuti, benar apa yang Tuti bilang dia keren dengan gayanya yang cool.

“Hei, kamu kenapa melamun, Syah?” Suara Tuti mengagetkanku.

“Oh, emm ... nggak apa-apa kok,” jawabku sekenanya.

“Kamu pasti suka juga sama cowok itu?” Tuti meyikut lenganku.

“Sekadar suka dan kagum saja,” jawabku sambil tersenyum.

“Nah loh ... Tidak lebih dari itu?” tanyanya menyelidik.

“Sudalah seperti nggak tahu aku saja kamu, Ti.” Aku masih lekat memandangnya.

Itulah awalnya aku mengenal dia dari sahabatku Tuti, memang benar apa yang dibilang Tuti, dia keren, berwibawa, santai dan tentu banyak kaum hawa yang terpikat dengannya.

Tentunya aku juga sadar. Aku masih memiliki hubungan dengan Aris. Tak mungkin rasaku berpaling pada yang lain. Meski sekarang hubunganku dengan Aris merenggang, jarak dan waktu yang membuat kami seperti terpisah jauh.

Setelah lulus sekolah, Aris memustuskan untuk kuliah di luar negeri. Aku sempat tak setuju dengan keputusan itu, namun demi masa depan bersama, akhirnya aku melepas dia pergi.

“Eh, kalian ngomongin apa?" Tiba-tiba suara Via sahabatku dan Tuti mengagetkan kami yang sedari tadi tidak lepas pandangannya melihat sosok cowok misterius itu.

“Cowok itu siapa namanya, Vi?" tanya Tuti pada Via.

“Oh itu? Kak Uki namanya,” jawab Via.

“Uki? Nama lengkapnya siapa?” sambungku penasaran.

“Aku tidak tahu tapi aku tahu nama facebooknya, kalian mau?"

“Tentu dong!” jawab kami semangat.

Via memberi tahu apa nama facebook kak Uki dan langsung saja aku membuka facebookku dan mencari namanya, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencari namanya tentu saja aku langsung mengirim pertemananku kepadanya, ternyata saat aku melihat nama lengkapnya yang tertera dalam profilnya nama lengkap dia yaitu Zukri, Masa iya aku setengah tidak percaya.

“Kamu kenapa Ri?" tanya Tuti.

“Kamu lihat deh, Ti, cowok yang kamu maksud itu nama lengkapnya Zukri.” Aku memperlihatkan ponselku pada Tuti dan menujukkan nama cowok yang kami maksud.

“Hah? Ganteng-genteng kok namanya Zukri? Tidak sesuai dengan orangnya tuh ....”

“Eh, kamu tidak boleh berbicara seperti itu Ti,” tegurku.

“Ya, maaf, Syah, habisnya aku tidak percaya.”

“Hmmm pantas saja nama samarannya Uki," sahutku.

Sejak mengenal namanya aku semakin penasaran dengannya, setiap kali bertemu aku tidak pernah menyapanya, begitupun dia, aku mengenalnya tapi dia tidak dan tidak jarang aku melihatnya duduk-duduk di depan kelas bersama teman-temannya dan setiap hari pula tidak lepas perbincanganku dengan Tuti mengenai cowok yang benama Uki.

Hari demi hari berlalu, sesaat aku sudah lupa dengan Uki, tapi setiap kali aku melihatnya harapan itu selalu saja muncul, harapan untuk bisa mengenalnya lebih jauh dan tidak sekedar bertatap muka tapi tidak pernah berucap. Aku tidak berani menyapanya apalagi untuk memulai berkenalan dengannya dan mungkin saja dia tidak pernah tahu bahkan mungkin dia tidak perduli ada aku disini yang selalu memperhatikannya walau hanya dari jauh, jauh dari pandangan mataku.

Tersadar dengan apa yang kurasa sekarang bukanlah perasaan cinta yang sebenarnya, aku hanya sekedar kagum. Mulai sekarang kubatasi perasaan ini. Tentang Aris, tentu rasaku masih begitu kuat. Meski tak ada kabar lagi, aku selalu berharap hubungan kami baik-baik saja.