
4
Kampus
Biru
Masa-masa sekolah adalah masa yang menyenangkan. Bersyukur tentunya dapat mengeyam dunia pendidikan. Berkumpul dengan teman sebaya dipenuhi dengan canda dan tawa. Banyak di luar sana yang masih terlantar tanpa ilmu. Sungguh miris rasanya melihat kondisi seperti itu di zaman sekarang ini.
Dan aku
masih beruntung dan bersyukur dibesarkan dalam keluarga yang mengerti akan
pentingnya pendidikan bagi anak. Meski orang tuaku tak mampu bersekolah sampai
tingkat tinggi tapi mereka tidak mau melihat anaknya putus sekolah. Mereka
menginginkan aku menuntut ilmu setinggi-tingginya
Seiring
berjalannya waktu. Wajar bukan seorang pelajar mengalami kejenuhan dalam
belajar. Terutama dalam mata pelajaran yang dihadapi. Tidak semua pelajar
menyukai pelajaran yang mereka terima. Menyukai tidak menyukai menjadi dampak
bagi para pelajar dalam proses pembelajaran berlangsung.
Contohnya
aku. Aku sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, dan tidak menyukai
pelajaran Matematika. Aku suka belajar Bahasa Indonesia menurutku banyak
cerita-cerita yang menarik. Mulai dari sanalah suka membacaku tumbuh. Dibanding
dengan pelajaran Matematika yang penuh dengan rumus-rumus membuat jenuh sampai
ingin menyerah walau hanya mengerjakan satu soal.
Sampai aku
duduk di Sekolah Menengah Atas aku masih tidak tertarik dengan yang namanya
pelajaran Matematika. Mulutku pernah berucap "jika nanti aku lulus sekolah
dan masuk perguruan tinggi, aku tidak ingin mengambil jurusan yang berbau
dengan rumus, terutama matematika". Dulu kuanggap ucapanku akan kutepati,
tapi nyatanya.
Qadarallah,
apalah dayaku. Setelah lulus sekolah dan aku masuk perguruan tinggi, nyatanya
aku mengkhianati ucapanku dulu. Aku mengambil jurusan Pendidikan Matematika.
Yang kataku dulu tidak ingin mengambil jurusan Matematika apa kabar? Sadarkah
apa yang kau ucap dulu sekarang malah kau jalani?
Sedikit
kujelaskan apa yang terjadi dibalik semua itu. Berawal dari temanku, Dian,
mengajakku masuk perguruan tinggi yang sama, karena kupikir biaya masuknya
masih terjangkau oleh orang tuaku, meski mereka mampu membiayai lebih dari itu
tapi aku yang tidak ingin menyusahkan mereka. Dan kupikir tak apa nantinya beda
jurusan kan masih satu kampus.
Keinginanku
untuk beda jurusan dengan temanku tidak disetujui oleh orang tuaku. Aku harus
mengambil jurusan yang sama dengan temanku dengan alasan "supaya pergi dan
pulang bareng". Mau tidak mau, suka tidak suka aku menuruti perintah orang
tuaku, karena dulu aku memang belum berani kemana-mana sendiri.
Jadilah aku
mengambil jurusan yang sama dengan temanku yaitu Pendidikan Matematika. Karena
dia memang menyukai pelajaran Matematika. Sedangkan aku? Aku harus berjuang
semester demi semester perkuliahan kuhadapi dengan usaha dan kemampuanku
mengenai Matematika. Tidak mudah rasanya melakukan apa yang tidak kita sukai.
Dan di
sinilah aku sekarang duduk di salah satu Universitas Islam Negeri di kotaku, atau
lebih dikenal dengan sebutan Kampus Biru. Di kerenakan almamater kampus
tersebut berwarna biru. Aku yang menyukai warna biru, tentu senang memakainya.
Seakan hilang ketidak sukaan dengan jurusan yang dipilih.
Ketika masih
memakai putih abu-abu aku memiliki mimpi bisa menduduki bangku perkuliahan dan
sekarang Allah telah mewujudkan mimpiku.
Memasuki
semester dua sekarang jadwal kuliahku begitu padat, banyak kegiatan dan tentu
tiada hari tanpa tugas. Aku memiliki sahabat namanya Astuti, kami memiliki
sifat yang hampir sama mungkin dikarenakan kami terlahir di bulan yang sama,
tapi bedanya aku feminim dan dia tomboy.
Hari ini aku
disibukkan dengan kegiatan ARITMATIKA (Ajang Kreativitas Matematika), kegiatan
itu hanya diadakan oleh jurusan kami yaitu Matematika, yang sering dikatakan
bahwa Matematika itu lebih seram daripada hantu. Tapi bagiku itu adalah
keputusanku yang sudah yakin aku ambil dan sekarang aku hanya menjalani
sewajarnya seorang Mahasiswi.
“Syah, kamu
liat deh cowok yang memakai baju kaos hitam merah bergaris-garis itu.” Tuti
menunjuk kearah cowok yang dimaksud.
“Memangnya
kenapa, Ti?" sahutku.
“Dia itu
yang menjadi kakak voluntirku waktu ospek," jawab Tuti memberi penjelasan.
“Terus apa
hubungannya denganmu?" Aku penasaran apa yang dimaksud sahabatku itu.
“Dia keren,
kan?" Manis lagi. Hehe ... aku suka melihatnya.” Kulihat wajah Tuti
bersemu merah.
Sejenak aku
melirik sosok lelaki yang diceritakan Tuti, benar apa yang Tuti bilang dia
keren dengan gayanya yang cool.
“Hei, kamu
kenapa melamun, Syah?” Suara Tuti mengagetkanku.
“Oh, emm ...
nggak apa-apa kok,” jawabku sekenanya.
“Kamu pasti
suka juga sama cowok itu?” Tuti meyikut lenganku.
“Sekadar
suka dan kagum saja,” jawabku sambil tersenyum.
“Nah loh ...
Tidak lebih dari itu?” tanyanya menyelidik.
“Sudalah
seperti nggak tahu aku saja kamu, Ti.” Aku masih lekat memandangnya.
Itulah
awalnya aku mengenal dia dari sahabatku Tuti, memang benar apa yang dibilang
Tuti, dia keren, berwibawa, santai dan tentu banyak kaum hawa yang terpikat
dengannya.
Tentunya aku
juga sadar. Aku masih memiliki hubungan dengan Aris. Tak mungkin rasaku
berpaling pada yang lain. Meski sekarang hubunganku dengan Aris merenggang,
jarak dan waktu yang membuat kami seperti terpisah jauh.
Setelah
lulus sekolah, Aris memustuskan untuk kuliah di luar negeri. Aku sempat tak
setuju dengan keputusan itu, namun demi masa depan bersama, akhirnya aku
melepas dia pergi.
“Eh, kalian
ngomongin apa?" Tiba-tiba suara Via sahabatku dan Tuti mengagetkan kami
yang sedari tadi tidak lepas pandangannya melihat sosok cowok misterius itu.
“Cowok itu
siapa namanya, Vi?" tanya Tuti pada Via.
“Oh itu? Kak
Uki namanya,” jawab Via.
“Uki? Nama
lengkapnya siapa?” sambungku penasaran.
“Aku tidak
tahu tapi aku tahu nama facebooknya, kalian mau?"
“Tentu
dong!” jawab kami semangat.
Via memberi
tahu apa nama facebook kak Uki dan langsung saja aku membuka facebookku dan
mencari namanya, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencari namanya tentu
saja aku langsung mengirim pertemananku kepadanya, ternyata saat aku melihat
nama lengkapnya yang tertera dalam profilnya nama lengkap dia yaitu Zukri, Masa
iya aku setengah tidak percaya.
“Kamu kenapa
Ri?" tanya Tuti.
“Kamu lihat
deh, Ti, cowok yang kamu maksud itu nama lengkapnya Zukri.” Aku memperlihatkan
ponselku pada Tuti dan menujukkan nama cowok yang kami maksud.
“Hah?
Ganteng-genteng kok namanya Zukri? Tidak sesuai dengan orangnya tuh ....”
“Eh, kamu
tidak boleh berbicara seperti itu Ti,” tegurku.
“Ya, maaf,
Syah, habisnya aku tidak percaya.”
“Hmmm pantas
saja nama samarannya Uki," sahutku.
Sejak
mengenal namanya aku semakin penasaran dengannya, setiap kali bertemu aku tidak
pernah menyapanya, begitupun dia, aku mengenalnya tapi dia tidak dan tidak
jarang aku melihatnya duduk-duduk di depan kelas bersama teman-temannya dan
setiap hari pula tidak lepas perbincanganku dengan Tuti mengenai cowok yang
benama Uki.
Hari demi
hari berlalu, sesaat aku sudah lupa dengan Uki, tapi setiap kali aku melihatnya
harapan itu selalu saja muncul, harapan untuk bisa mengenalnya lebih jauh dan
tidak sekedar bertatap muka tapi tidak pernah berucap. Aku tidak berani
menyapanya apalagi untuk memulai berkenalan dengannya dan mungkin saja dia
tidak pernah tahu bahkan mungkin dia tidak perduli ada aku disini yang selalu
memperhatikannya walau hanya dari jauh, jauh dari pandangan mataku.
Tersadar
dengan apa yang kurasa sekarang bukanlah perasaan cinta yang sebenarnya, aku
hanya sekedar kagum. Mulai sekarang kubatasi perasaan ini. Tentang Aris, tentu
rasaku masih begitu kuat. Meski tak ada kabar lagi, aku selalu berharap
hubungan kami baik-baik saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar