Halaman

Kamis, 19 Maret 2020

Tulang Rusuk yang Patah



3
Putih Abu-Abu

Rasa itu mulai berkecambah dan bersemi indah. Tak peduli dengan keadaan musim yang silih berganti. Bagi mereka yang sedang jatuh cinta, hanya ada satu musim, yaitu musim semi.

Mendamba yang dicinta untuk menjadi seutuhnya terkadang membuat lupa dengan keadaan yang sedang pelik. Nanti, waktu akan menjawabnya. Apa kau pantas untuk dimiliki seutuhnya oleh sang pujangga?

Bagaimana jika keadaan terbalik? Takdir itu lucu, terkadang yang ditunggu-tunggu tak kunjung temu, yang tak ditunggu malah datang tiba-tiba layaknya hantu.

Jika ada yang bilang benci itu bisa merubah rasa menjadi cinta, apa sebabnya? Jika benci ya benci saja, tak usah merubah rasa. Tapi mau bagaimana lagi, tak ada yang melarangnya. Hanya yang punya rasa harus tahu cara mengahadapinya.

Di kala senja dimusim yang bahagia.. Indahnya senja disore ini dengan langit yang jingga, awan yang menebarkan senyuman, mentari yang mulai perlahan memalingkan wajahnya dibalik awan, burung-burung kembali keperaduannya, suara Azan yang mulai sayup-sayup terdengar menandakan umat Islam wajib memenuhi panggilan-Nya.

Dengan sepeda kesayangannya Aisyah terus mengayuh dengan kencang sambil sesekali melihat mentari yang sebentar lagi tenggelam.

“Kalau bukan karena tugas sekolah aku tidak akan pulang sampai sesore ini, huuh! benar-benar hari yang melelahkan.” Aku bergumam sendiri di atas sepeda seakan bisa diajak berbicara.

Tapi tiba-tiba dari belakang dengan kecepatan tinggi ada motor yang hampir saja menabrak Sena.
“Hey, Hati-hati dong kalau bawa motor liat-liat jalan ada orang disini!” gerutuku yang ditinggal pergi begitu saja oleh pemilik motor yang hampir saja menyelakaiku, tapi aku masih mengingat dengan jelas jenis motor apa yang dikendarainya.

Sesampainya di rumah aku melihat motor yang tadi hampir menabrakku.

“Assalamulaikum ... Bu, Aku puu – .“ Belum sempat aku melanjutkan bicara.

“Hey, Ai, apa kamu masih ingat denganku?” Aku mengerutkan kening dan mencoba mengingat kembali siapa lelaki yang sekarang ada dihadapanku. Sangat jarang sekali orang memanggilku dengan panggilan “Ai”

“Kaa – kaa - kamu Aris, kan? Iya kamu Kak Aris?”

“Syukurlah kamu masih mengingatku, Ai. Kamu apa kabar?” tanya Aris yang duduk bersama ibu di ruang tamu.

“Baik, Kak, kamu sendiri?” Aku balik bertanya.

“Ya, seperti yang kamu lihat sekarang.” Aris terlihat membusungkan dadanya.
“Hmmm ... jadi Kakak yang tadi lewat dan hampir saja menabrakku?” Aku ikut duduk di depan ibu.

“Oh, jadi itu tadi kamu? Maaf aku buru-buru ingin cepat sampai di rumahmu, kamu tidak apa-apa kan?”

Dengan senyum Aku menjawab “Tidak apa-apa, Kak. Oh, ya ada apa Kakak kesini, tumben?” Aku menatap antusias Aris.

“Mulai besok aku pindah ke sekolahmu, karena orang tuaku pindah juga ke sini, tidak masalahkan aku satu sekolah denganmu?” Nadanya bicaranya memohon.

“Tentu saja aku tidak keberatan Kak”. Aku jelas bahagia mendengar kabar ini

Sejak saat itulah akumulai dekat dengan Aris, bahkan tak jarang Aris berkunjung ke rumahku karena keluargaku dan Aris masih ada ikatan keluarga. Dan dari situlah mulai muncul perasaan-perasaan layaknya seseorang yang sedang jatuh cinta.


Sikap Aris terhadapku yang melebihi terhadap adiknya sendiri, mungkin karena sikap Aris yang penuh dengan kasih sayang. Begitu juga Aris yang katakan kalau aku adalah seorang wanita yang begitu luar biasa baginya. Tapi kami masih tetap menyimpan perasaannya masing-masing karena mustahil jika harus menjalin hubungan dengan saudara sendiri.

Tentu saja aku sebagai seorang wanita tidak bisa terus memendam rasa, ini yang membuatku tertekan merasakan rasa yang terlarang. Apalah daya kami jika setiap hari selalu bertemu di sekolah, komunikasi yang lancar, bercengkrama, suka dukanya hari dilewati bersama.

Sampai di suatu senja saat aku dan Aris tengah duduk berdua di sebuah taman kecil depan rumah, menikmati senja yang indah, semilir angin yang akan berganti dengan angin malam.

Aris memecah suasana tenang itu, “Ai, apa kamu tahu?” Sambil menatapku, Aris melanjutkan kata-katanya “Aku tidak percaya kita akan sedekat ini, seingatku dulu kau begitu polos dan manja, sampai sekarang kau tidak pernah berubah, dulu aku menganggapmu sebagai adik kesayanganku, tapi sekarang aku ingin menganggapmu lebih dari seorang adik.”

“Maksud, Kakak?” Aku tidak mengerti apa yang dimaksud Aris.

“Maksudku, aku ingin kau menjadi kekasihku, aku tahu ini tidak wajar aku rasakan tapi jujur, aku tidak bisa memendam perasaan ini, aku ingin selalu menjagamu, Ai, mencintaimu lebih dari seorang adik.” Mata Aris menatap serius padaku.

“Kak, apa kamu tahu? Akupun merasakan hal yang sama sepertimu, merasa ini tidak mungkin terjadi, tapi hatiku yang terus memaksa perasaan ini, aku juga mencintaimu lebih dari seorang Kakak, merasa nyaman denganmu.” Anak rambutku melayang tertiup angin, sama seperti rasaku, melayang ke awan.

Aris merapikan rambutku, lalu mendekapku bersamaan dengan tenggelamya matahari senja itu. “Mulai senja ini kita bangun cinta kita sampai senja tak muncul lagi, terima kasih Ai, kau telah membalas cintaku.”

“Aku yang seharusnya berterimakasih denganmu, telah hadir di hatiku mulai senja ini.” Kami sama-sama tersenyum bahagia tanpa terasa beban, yang nanti akan kami alami.

Di masa putih abu-abu hati ini mulai bercumbu, dengan rindu yang selalu menggebu, berontak ingin segera bertemu. Tak peduli dengan waktu yang selalu bergulir tanpa jemu.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya laki-laki itu saat menjengukku.

“Baik.” Aku menjawab singkat, mengulum senyum,.

“Nggak usah mikir sekolah dulu. Yang penting kamu harus pulih.” sambungnya lagi, meletakkan satu kantong plastik di dekatku. Entah apa isinya.

“Iya.” Aku melirik pada kantong plastik yang dari luar terlihat mengembung.

“Semoga kamu suka.” Tangannya menepuk-nepuk kantong plastik itu.

“Apa?” tanyaku penasaran.

“Jeruk.” Gigi rapinya berjejer saat senyum itu mengembang.

“Apa orang yang sakit itu harus selallu dibawakan jeruk?” Aku berusaha untuk duduk, ingin bersandar pada dinding ranjang.

“Engg ...” menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lalu sigap membantuku duduk.

“Aku maunya es krim.” Aku sok menggelengkan kepala dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

“Iya, nanti kalau kamu sudah pulih. Kita jalan-jalan dan memborong semua es krim.” Guraunya mengundang tawa kami pecah.

Laki-laki itu Aris. Dialah yang berbaik hati ingin mengantarku ke pukesmas saat musibah kecelakaan itu menimpaku. Dia selalu datang menjengguku. Dulu, rupanya kami satu sekolah. Namun aku tak mengenalnya karena berbeda ruang kelas.

Aku sampai, terlihat ibu, ayah dan kakak menunggu di depan rumah. Pastilah mereka harap-harap cemas saat jam pulang aku belum juga pulang. Apa lagi wajah ibu terlihat amat sedih saat aku turun dari boncengan motor, dipapah orang yang mengantarku. Ayah dan kakak degera turun tangan mengambil alih memapahku masuk rumah.

Orang-orang yang tak sengaja lewat, para tetangga datang berbondong-bondong ke rumah melihat keadaanku. Tentu mereka penasaran apa yang terjadi dan apa yang menyebabkan terjadi. Seseorang juga terlihat membawa tukang urut, takut kalau-kalau ada yang patah di tubuhku, terutama bagian kaki.

“Ya Allah, Nduk. Kamu kenapa? apa yang terjadi?” Ibu meraung-raung terpuruk melihat keadaanku.

“Siapa yang menabrakmu, Nduk?” Ayah ganti bertanya, wajahnya geram. Putri bungsunya harus mengalami seperti ini.

Kakakku sibuk mengambil kasur lantai dan bantal. Membaringkan tubuhku dengan hati-hati. Aku hanya meringis, mengaduh, menggelen, tersenyum tipis saat ditanya-tanya. Sungguh mulutku kelu, tak tahu apa yang ingin dijelaskan. Aku juga menangis, berteriak-teriak saat tukang urut itu memijat kakiku. Luar biasa sakitnya. Bukan dengan cara halus malah ditarik-tarik, pijatannya pun tak lembut membuat ngilu seluruh tubuh.

Akhirnya ibu menyuruh tukang urut itu berhenti dengan aktifitasnya. Tak tega melihatku terus menangis merasakan sakit. Beberapa menit kemudian, aku sudah tenang. Sakit itu masih berdenyut-denyut di kakiku, terutama bagian lutut. Ternyata tempurung lututku bergeser naik ke atas, bengkak. Tak bisa sama sekali ditekuk.

Tangan kananku lecet-lecet, telapak tangan terdapat baret-baret dan siku juga ada luka memar. Sedangkan tangan kiri dan kaki kananku baik-baik saja tak ada lecet, luka atau pun memar. Entah bagaimana posisi tubuhku saat tertabrak itu.

Menurut saksi mata, tubuhku terpental tinggi, sepatuku terlepas sebelah kiri. Baju dan rokku robek tergores aspal, hanya tasku yang masih tersandang dipunggung, hand bag-ku juga terlepas dari tangan. Mereka juga bilang kalau yang menabarakku adalah seorang perempuan masih sekolah menengah.

Sejak kejadian itu aku izin tak masuk sekolah selama seminggu. Mengingat ujian kelulusan semakin dekat, aku tetap memaksa sekolah dan ikut les. Meski jalanku masih terseok-seok, aku tetap semangat menjalani aktifitas. Lututku sudah kembali normal berkat Pamanku yang juga bisa mengurut dengan baik. Pada akhirnya pergi dan pulang sekolah aku selalu diantar jemput. Sepedaku? aku tak mau lagi mengayuhnya. Truma. Aris yang membawa sepedaku pulang, dia juga yang selalu menjenggukku saat-saat masa pemulihan kakiku.

Dan sekarang masa putih abu-abu aku lalui dengan Aris. Berjuang bersama, saling menyemangati agar bisa lulus dengan nilai terbaik.

Cinta putih abu-abu, membuat semangat menggebu, walau perpisahan menunggu, hanya takdir yang bisa membuat kembali bertemu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar