Halaman

Minggu, 15 Maret 2020

Riview Novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

 Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah by Tere Liye

Judul Buku : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan kedua puluh, April 2018
Tebal buku : 512 halaman

Sinopsis:
 
Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.

Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.

Maka Tere Liye dengan Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah-nya memulai cerita kehidupan di sungai Kapuas (Sungai Kapuas atau sungai batang Lawai (Laue) merupakan sungai yang berada di provinsi Kalimantan Barat. Sungai ini merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang total 1.143 km.). Budaya Dayak, Melayu dan Cina peranakan, dengan alur ceritanya sederhana dan kisah kehidupan sehari-hari, maka aroma Pontianak-lah yang membuat buku ini memiliki nilai plus. Setting tempatnya sangat menarik, baru pertama kali saya membaca buku dengan setting kota Pontianak.

Novel ini menceritakan Kisah Cinta sederhana yang diceritakan dengan penuh perjuangan dan kejutan. Jalan cerita tidak mudah ditebak, sehingga membuat saya ingin terus menerus membaca kelanjutannya. Tere Liye berhasil memainkan perasaan, melalui perasaan tokoh utama yang dengan cepat dibuat berubah.

Yang menarik dari novel ini yaitu, adanya misteri yang disajikan. Mulai dari, amplop merah, ketidak sukaannya Papa Mei, dan menjauhnya Mei dari kehidupan Borno. Misteri itu disajikan dengan menarik, sehingga membuat saya penasaran.

BORNO, bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas. Selepas lulus sekolah, dihabiskan waktunya mencari nafkah dengan kerja serabutan. Mulai dari bekerja di pabrik pengolah karet yang baunya luar biasa, membantu Cik Tulani di warungnya, menunggu toko kelontong Koh Acong, ikut melaut mencari sotong. Disuruh-suruh tetangga memperbaiki genteng, toilet mampet, jendela lepas, bahkan mencari kucing hilang. Hingga akhirnya menjadi pengemudi sepit. Kemudian ia berkembang menjadi pemilik bengkel dan berkongsi dengan bapaknya Andi, sahabat baiknya.

MEI, si gadis sendu yang misterius. Seorang guru di sebuah yayasan. Wanita yang telah menyita perhatian Borno, penumpang specialnya di sepit Borneo. Rambutnya panjang, keturunan Melayu Pontianak, dengan wajahnya Cina Peranakan.

PAK TUA, begitulah beliau dipanggil. Pria yang sudah mengelilingi separuh bumi, namun tetap hidup bersahaja dan menjadikan pekerjaannya sebagai pengemudi sepit miliknya sebagai hobi, bernama asli Hidir. Selain memang menyenangkan dan berpengetahuan luas, beliau juga pandai membaca raut wajah. Karakter pak Tua ini, merupakan salah satu karakter favorit saya. Perhatikan saja, bahkan selain tokoh utama Mei dan Borno, karakter Pak Tua ini pun mendominasi cerita dalam novel ini. Satu hal lagi, tentang kisah si Fulan dan si Fulani, sahabat baiknya pak Tua, yang diceritakan pak Tua pada Borno dan Andi, ini merupakan kisah tentang cinta sejati yang sangat menyentuh dan hebat.

Karakter Ibu, Andi, Bang Togar, Cik Tulani, Koh Acong, dan kemunculan Sarah pun menjadikan novel ini lebih lengkap dan seru dengan karakter kuat yang mereka miliki.

Kau disini adalah Mei, Aku adalah Borno, dan sepucuk angpau merah yang merupakan surat yang ditulis Mei untuk Borno, sebagai misteri menjadi penutup paling sakti dari sebuah rahasia besar, yang kebenarannya baru bisa diketahui di bab terakhir novel ini. Ikuti terus perjalanan mereka dari awal hingga saat Mei menjadi guide Pak Tua dan Borno di kota Surabaya. Berlanjut Borno menjadi guide Mei di kota Pontianak. Hingga akhirnya rahasia besar pun terungkap! Baca bukunya yuk, biar makin seru menikmati cerita dalam novel ini. Meskipun cukup tebal, tak akan terasa membacanya. Buku ini membuat saya senang, sedih, bahkan bisa membuat saya tertawa dengan kelakuan karakter Bang Togar, Borno saat saling jail dengan teman baiknya yaitu Andi, apalagi Pak Tua, meskipun beliau merupakan karakter paling bijak dalam buku ini, tapi ada saat-saat dimana beliau pun memiliki selera humor yang baik, apalagi kalau lagi ‘iseng nyindir’ Borno

Tidak ada komentar:

Posting Komentar