Rabu, 25 Maret 2020

Tulang Rusuk yang Patah

 

5
Diary

Tepat saat itu bulan kelahiranku, dan empat hari lagi aku akan berulang tahun, aku tidak berharap banyak kepada siapapun, yang aku harap hanyalah keberkahan dalam menjalani hidup untuk kedepannya. Sebelum Aris pergi untuk melanjutkan study-nya ke luar negeri.  Dan satu minggu setelah ulang tahunku Aris mengajakku untuk bertemu namun sayang aku tidak bisa memenuhi ajakannya.

Saat sedang memikirkannnya lamunanku terbuyar, kudengar pintu rumah ada yang mengetuknya dan kudengar pula suara mama memanggilku, “Syaah, ada Aris ingin bertemu kamu”.

“Hah Aris datang kerumahku?” Aku kaget setengah tidak percaya, “untuk apa dia datang ke sini?” Dengan rasa penasaran aku datang menghampirinya.

“Hai,” Dia menyapaku, dengan senyum aku membalasnya.

“Hai, juga silahkan masuk,” Aku mempersilahkan dia masuk dan kami berbincang diruang tamu.

“Aku mau memberimu ini,” Dia menyodorkan bungkusan kecil yang terbungkus rapi dengan kertas kado dengan motif bunga-bunga warna merah.
“Apa ini?” tanyaku penasaran.

“Nanti saja membukanya pasti kamu akan tau isinya,” Dia menyengir lucu.

“Masih saja pintar bercanda,” jawabku.

“Tentu dong itu harus. Ya sudah aku pamit pulang dulu, ya.” Pintanya sambil berdiri dan melangkah dengan ditingaalkannya senyuman yang manis.

“Iya, hati-hati di jalan, kalau jatuh bangun sendiri.” Aku meledeknya sebelum dia mengendarai motornya, dan dia hanya membalas dengan menjulurkan lidah.

Dengan cepat aku menutup pintu dan berlari ke kamar karena tidak sabar ingin cepat-cepat membuka isi kado yang diberikannya kepadaku.

Bungkus demi bungkus kubuka dengan perlahan, semakin membuatku penasaran saja apa isi dalam bungkusan ini, entah berapa kertas kado yang membungkusnya, tapi akhir dari rasa penasaranku terlewati, sebuah buku diary mungil berwarna kuning dan putih bergambar boneka, “lucu sekali,” gumamku.

Aku tidak percaya kamu memberiku sebuah buku diary di hari ulang tahunku kali ini, sebelumnya aku tidak pernah berpikir akan kejutan ini, dan aku sangat berterimakasih kepadamu.

Semenjak itu aku sering menulis semua perasaanku kepada diary pemberiannya, kutumpahkan semua apa yang kurasa, dan semua itu hanya tentangmu, kamu benar diary ini pengobat rinduku padamu, pelampiasanku yang tidak tersampaikan kepadamu.

Tahun pun sebentar lagi berganti, menginjak semester akhir perkuliahan. Aku hanya berharap dipergantian tahun nanti aku bisa melewatinya bersamamu. Kutulis harapan itu pada diaryku.

Saat itu pula ponselku berdering ada yang menelponku, kujawab panggilan itu, disebrang sana terdengar suara yang tak asing lagi ditelingaku,”Syah, kamu mau nggak nanti di malam tahun baru kita buat acara?” Langsung saja nyerocos tanpa basa-basi lagi, itulah kebiasaan sahabatku, Eno, dia memang begitu orangnya.

“Emmn nggak, memang mau buat acara apa?” sahutku bersemangat.

“Kita bakar-bakar jagung, mau nggak,” ajaknya antusias.

“Oh, mau bakar jagung, ya? Kukira mau bakar rumahmu.” Aku tertawa geli.

“Ah, kamu bercanda saja, tawaranku belum dijawab sejak tadi,” sambungnya dengan nada sedikit kesal.

“Ya ya aku mau, memang di mana acaranya?”

“Di rumahmu saja boleh, kan?” Pintanya memohon izin kepadaku.

“Boleh, kamu ya yang menyiapkan semuanya.”

“Oke, nanti aku hubungi kamu lagi.” Perbincangan pun kami akhiri dengan ditutupnya telpon darinya.

Tepat pukul 20:00 Wib, Eno sudah datang ke rumahku, dengan segala perlengkapan untuk membakar jagung pun dia siapkan.

“Hebat kamu datang tepat waktu.” Dengan senyuman aku menyambut kedatangannya.
“Ya dong, inikan acaraku hanya saja diadakan di rumahmu,” sahutnya sambil menyiapkan bahan-bahan.

“Terus kenapa harus di rumahku, kenapa nggak di rumahmu saja?” Aku turut membantunya mengupas jagung.

“Ada kejutan untukmu.” Liriknya kepadaku sambil menyiapkan pembakaran.

“Untukku?” jawabku dengan penasaran.

“Ya iyalah, untuk siapa lagi dan kamu tahu tidak aku mengundang seseorang yang spesial untukmu.”

“Sudahlah jangan memberiku teka-teki langsung saja to the point,” sungutku kesal.

“Nah itu orangnya datang, sambil menunjuk seseorang yang tidak asing lagi terlihat olehku.

“Di ... di ... dia...? Ka ... kamu mengundang dia kesini?” Sontak jantungku berdegup kencang.

“Ya, aku mengundang Aris kesini untuk bertemu denganmu, aku tahu kamu pasti merindukannya. Ya sudah aku mau berkumpul dulu dengan yang lain, kamu ngobrol saja empat mata dengannya,” ujarnya sambil berlalu.

Dengan perasaan yang masih tidak percaya Eno meninggalkanku sendiri yang terpaku melihat Aris menuju kearahku.

“Hei, bengong saja nanti kesambet loh.” Bagai tersengat aliran listrik saat dia menepuk pundakku.

“H ... hai, mmm ka ... kamu sudah lama berdiri di sini?” tanyaku terbata-bata karena kaget melihat Aris sudah ada di hadapanku.

“Nggak kok aku baru saja sampai, kamu kenapa bengong, Ai?” Tatapan matanya begitu jelas terlihat dibawah sinar rembulan membuatku semakin gugup untuk berbicara dengannya.

“Oh, begitu, ya? A ... ayo kita berkumpul dengan yang lainnya saja.” Aku masih saja gugup karena lama tidak bertemu dengannya.

“Tunggu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, Ai.” Tanganya yang kekar menahan tanganku yang saat itu aku mengajaknya beranjak pergi berkumpul dengan yang lainnya.

“Ada apa? Apa yang perlu dibicarakan, Ris?” Segudang pertanyaan timbul dibenakku.

“A ... aaku sebenarnya ...” Aries tak melanjutkan kata-katanya dan langsung kupotong, “sebenarnya apa?”

“Aku sebenarnya merindukanmu, Ai, aku harap kita bisa seperti dulu lagi.” Aku masih terdiam membisu, aku tidak tahu harus berbicara apa hanya membalas pertanyaannya dengan anggukan kepalaku.
“Aku juga merindukanmu, Ris.” Tatapan mata kami bertemu, begitu hangat pertemuan ini. Sekian lama kutunggu, akhirnya waktu menjawab.

“Ya sudah, ayo kita berkumpul dengan yang lain, aku sudah tidak sabar ingin melahap jagung bakarnya.” Lamunanku buyar saat dia mengajakku memakan jagung bakar, hanya dengan senyuman aku membalas ajakannya.

Sesampainya kami di tengah berkumpulnya teman-temanku, “Ciye-ciye yang seneng di malam tahun baru.” Eno meledek kami disambut dengan gelakan tawa teman-teman yang lain.

Itulah kebersamaanku bersama Aris, Tuhan telah mengabulkan harapanku, betapa bahagianya aku bisa melewati malam pergantian tahun bersama orang yang sangat kusayangi, terima kasih Tuhan.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, jam hampir menujukkan pukul 00:00 tanda pergantian tahun baru, aku dan Aris sama-sama memegang bunga api yang akan kami nyalakan bersama-sama, hitungan 5 ... 4 ... 3 ...  2 ... 1. Suara terompet bergema bersamaan dengan suara bunga api yang kami nyalakan bersama-sama.

“Selamat tahun baru ya, Ris, semoga di tahun baru ini semua angan dan cita-citamu terkabul dan bisa menjadi yang lebih baik. aku menyanyangimu, Ris. Tatapku sambil memegang erat tangannya.

“Sama-sama, Ai, aku juga berharap aku dan kamu bisa selalu bersama.” Balasnya lembut.

“Aaamiin,” sahutku.

Selang beberapa menit setelah itu aku dan Aris masih saling mencurahkan melepas rasa rindu kami yang sudah lama membeku. Tibalah saatnya kini dia izin untuk pulang, serasa berat aku melepasnya walau hanya ditinggal dia pulang kerumah.

“Aku pulang dulu ya, Ai. Selamat tidur, semoga mimpi indah.”

“Iya, kamu hati-hati di jalan, sampai di rumah langsung tidur dan selamat istirahat. Terima kasih untuk malam ini.”

“Iya, sama-sama.” Lambaian tangannya mengiringi langkahnya pergi meninggalkannku yang masih diam menatap bayanganya hilang diterpa suasana malam. Sementara teman-temanku dan Eno sudah lebih dulu pulang kerumahnya masing-masing.

Sampai kamar, langsung kusambar diary yang terletak di atas meja belajar, dan aku menulis tentang malam itu.

Di tahun baru ini kuingin meninggalkan luka lama untuk menyambut senyum yang baru, kutinggalkan jejak di tahun yang baru berlalu mencoba melangkah menembus waktuku semampuku, telusuri jalan yang panjang yang pasti ada akhirnya, mencoba dengan segenap daya yang bisa tuk wujudkan sebuah cita-cita. Renung jiwa saat malam berganti siang, awan biru seakan tak mau berpisah, angin pun bertiup ungkapkan hasrat,  burung ingin berenang bersama ombak pasir tak mau terpisahkan oleh pantai, semua ingin menatap hari esok. Jiwa akan sepi tanpa teman, hati akan mati tanpa iman, hari ini adalah kenyataan, esok adalah impian, semalam adalah kenangan, sucikan hati jernihkan pikiran.. Ya Allah ya Robbi semoga di tahun ini hamba bisa menjadi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, semoga semua harapan, keinginan, impian, dan cita-cita hamba terkabul di tahun ini, mendapat limpahan nikmat umur panjang, rizki, kesehatan, kecerdasan, menjadi kebanggaan orang tuaku dan mendapat jodoh yang terbaik.. Aaamiin ya Allah..

Kututup diary dan kupejamkan mata bersama dekapan diary yang terletak didadaku, berharap mimpi indah bersama Arisku.

 

Tidak ada komentar:

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...