Senin, 13 April 2020

Tulang Rusuk yang Patah


12
Motivasi Hijrah

Berjalan di malam yang gelap gulita, kaki melangkah tak tahu arah yang dituju. Mengharapkan seberkas cahaya muncul di depan mata, menuntun langkah kaki untuk keluar dari kegelapan.

Namun begitu kasih sayang Allah terus menuntun kaki untuk melangkah dan pada akhirnya kutemukan seberkas cahaya yang di Ridai Allah “Hidayah”, aku berhasil menjemput hidayah dari Allah, tak lain tujuannya yaitu agar dapat keluar dari jalan yang gelap gulita.

Manusia diciptakan paling sempurna di banding makhluk Allah lainnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi, memperlakukan diri kita sendiri dengan sebaik-baiknya. Bukankah nanti semua akan dipertanggungjawabkan atas apa yang kita perbuat pada diri kita.

Kamu pernah jatuh, terpuruk, hancur, dan tak berdaya lagi? Kamu pernah berada di padang pasir yang tandus nan gersang? Dan apa kamu pernah berada pada titik kegelapan? Sehingga kamu kalut untuk melangkah, lantas kamu berpikir, seperti inikah rasanya menjadi orang buta?.

Jujur, aku pernah berada di posisi itu. Sampai pada akhirya kutemukan titik terang untuk kembali pulang. Pertanyaannya, apakah mulus perjalananku di dalam kegelapan itu? Tentu tidak. Bayangkan saja, berjalan selangkah demi selangkah menapaki kegelapan, jatuh bangun, menangis, bingung, menggapai apa saja yang dapat menjadi pegangan. Jatuh lagi, terpuruk lagi. Lika liku jiwapun kuhadapi.

Satu hal yang membuatku ingin terus bangkit dan melangkah, yaitu keluar dari kegelapan itu. Tekad yang kuat memacu hati untuk terus termotivasi. Berkata untuk hijrah bukanlah hal yang berat, namun mengistiqomahkan diri yang berat. Melawan segala rintangan pada saat perjalanan hijrah. Butuh motivasi yang kuat dari diri sendiri maupun dari orang lain atau dari lingkungan sekitar.

Gerakkan hatimu dengan niat yang tulus mengharap Rida Allah bukan semata ingin dipandang orang lain. Ayo bangkit dan melangkah. Yakinkan hatimu bahwa selangkah saja kamu melangkah, kamu akan mengalami perubahan besar dalam hidupmu. Jangan takut dan jangan pernah menyerah untuk terus berhijrah di jalan Allah. Karena Allah akan membersamimu setiap saat.

Setiap manusia pasti mempunyai masa lalu. Entah itu buruk, sangat buruk atau mungkin sangat kelam. Apa ada yang mempunyai masa lalu yang indah? Bisa jadi seperti itu. Bukankah kehidupan ini sudah ada yang mengaturnya.

Bagaimanapun masa lalumu, ucapkan terimakasih kepadanya. Mengapa? Karena masa lalu adalah suatu pelajaran yang sangat berharga untuk masa mendatang. Hatimu tidak akan sekuat ini jika sebelumnya pernah patah.

Lihatlah kupu-kupu. Sebelum menjadi indah dia pernah menjadi seekor ulat yang menjijikkan bagi sebagian orang yang memandangnya. Namun seiring berjalannya waktu takdir Allah berkehendak menjadikan dia seekor kupu-kupu yang indah dan cantik.

Begitulah manusia seharusnya. Berproses dari yang kurang baik menjadi lebih baik lagi. Bangkitlah dari keterpurukkanmu, berjalanlah menuju titik terang yang Allah Ridai. Karena Allah tidak akan membiarkanmu terpuruk dengan masa lalumu.

“Apa kabar hatimu? Yang kemarin terluka apa telah sembuh? Yang kemarin kehilangan kepingan hatinya apa telah menemukan kepingan hati yang baru? Aku juga tak tahu pasti apa jawabmu akan seperti apa.”

“Kuharap kamu telah sembuh, hatinya maksudku. Iya sembuh dari luka masa lalu, bangkit dari terpurukmu, dan yang paling penting mulai menata kembali kepingan-kepingan hatimu yang hancur menjadi sebuah hati yang baru, meski kutahu apapun itu bila pernah hancur jika diperbaiki takkan indah seperti saat pertama dilahirkan.”

“Tak apa. Aku akan sangat bahagia dengan usahamu itu. Setidaknya kamu mau sembuh. Kamu ingat kalimat ini “akan ada jalan jika ada kemauan”. Jika kamu sudah menata hati tinggal menunggu tambatan hati. Menunggu dengan berbenah diri, menjadi lebih baik dari sebelumnya.”

“Perlahan tapi pasti karena semua butuh proses. Bercerminlah pada diri, apa sudah cukup baik untuk mendapatkan yang lebih baik dari sebelumnya. Jika kamu merasa belum cukup, maka teruslah  latih dirimu menjadi baik seperti apa yang kau ingin.”

“Jangan lupa, ingat Dia yang telah menemanimu bahkan yang tak pernah meninggalkanmu barang sekejap (Allah). Berjalanlah menuju Rida sang Ilahi, niatkan hati tulus berbenah diri karena ingin selalu dekat dengan-Nya.”

“Menuju jalan Ilahi sampai nanti kamu akan menemukan kecintaan yang luar biasa pada sang Ilahi. Karena sebaik-baiknya hati adalah hati yang terpaut cinta kepada sang Maha Cinta, kepada sang Maha Pencipta, pencipta segala-galanya. Termasuk rasa cinta dan kasih kepada yang halal untukmu nanti.”

Aku selalu ingat petuah-petuah dari para sahabatku. Merekalah yang membuatku tetap semangat untuk terus bangkit. Mereka selalu ada di saat bahagia maupun sedihku.

Beberapa bulan setelah kisah cintaku kandas bersamamu. Aku mulai bangit dari keterpurukan, butuh waktu untuk menghilangkan rasa perihnya. Berangsur-angsur pulih meski masih membekas. Masih ada bayang-bayang masa lalu yang kerap menggelayuti pikiranku. Aku mencoba menepis semua itu, membiarkan pudar seiring berjalannya waktu.

Aku kini menyibukkan diri dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Di samping mengajar Madrasah Diniyah, aku juga mulai sering mengikuti kajian-kajian setiap minggunya. Kecintaan akan dunia tulis pun kusalurkan lewat komunitas menulis. Gejolak hatiku benar-benar mereda dari yang dulu amat menyesakkan. Tak ada lagi senyum yang dipaksakan untuk kisah masa lalu itu.

Drrtt... Dering ponselku nyaring terdengar.

Assalamu’alaikum, Dek.” Suara Putra, kakakku.

Waalaikumussalam, ada apa, Kak? sahutku.

“Nanti ba’da zuhur kamu ikut Kakak ya ke panti asuhan untuk acara bakti sosial.”

“Insyaa Allah, iya, Kak.”

Pada hari Ahad, sekolah tempat kak Putra bekerja akan berkunjungan ke Panti Asuhan Yatim Piatu Darul 'Aitam di kawasan 16, kota Jakarta. Kegiatan ini merupakan acara tahunan SMAN 1 Jakarta untuk mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Penyelenggaraan bakti sosial ini akan dilaksankan pada pukul 13.30 – 15.00 WIB.

Ahad ini tidak ada jadwal apapun sehingga aku menerima ajakan kak Putra. Percakapan lewat telepon itu tidak lama, hanya sepuluh menit, saling bertanya kabar, kesibukkan masing-masing dan kesepakatan untuk nanti bertemu jam berapa. Putra adalah kakakku satu-satunya, dia sekarang telah menikah dan tinggal bersama keluarga istri. Hanya jika ada waktu luang menyempatkan bertandang untuk menjenguk orang tuanya.

“Siapa tadi yang meneleponmu, Nduk? Ibuku bertanya.

“Kakak, Bu. Dia minta ditemani ke panti asuhan ba’da zuhur nanti,” sahutku, duduk di sebelah ibu.

“Oh ya sudah, bilang nanti ke Kakakmu, kalau sempat mampir ke sini,” sambungya lagi.

“Iya, nanti aku sampaikan, Bu.”

Tepat pukul satu siang aku sudah sampai ke tempat yang di maksud. Sesaat setelah menunggu, kak Putra datang. Namun tidak sendirian, dia datang dengan seorang lelaki.

“Sudah lama kamu menunggu, Dek? tanyanya setelah sampai di dekatku.

“Baru beberapa menit yang lalu, Kak.”

“Oh iya, ini Ahmad, teman satu kerja Kakak.” Dia mengenalkan Ahmad padaku.

Lelaki itu, Ahmad tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Aku pun membalas senyumnya. Yang sebenarnya aku sudah mengenal dia, lelaki yang selama ini aku kagumi diam-diam. Hanya berteman lewat sosial media, namun hanya aku yang mengenal Ahmad sebelumnya, dan tahu tentang aktifitasnya menjadi seorang penulis.

“Ayo masuk, acara bakti sosialnya sebentar lagi di mulai.” Kak Putra mengajak kami untuk segera masuk.

Kami bertiga masuk menyelusuri lorong panti asuhan untuk sampai di ruang acara penyambutan. Sepanjang lorong hanya kak Putra dan Ahamd yang banyak bercerita, sesekali membicarakan masalah pekerjaan. Sedang aku, sibuk menenangkan debaran hati yang sedari tadi membuncah saat pertama kali melihatnya datang.

“Apa Aisyah sudah mempunyai calon, Putra? Tiba-tiba dia menanyakan perihal itu ke kak Putra.

“Sepertinya belum, memang kenapa?” sahut kak Putra.

“Aa ... akuuu ...” jawabnya terbata-bata.

Bruk....!

Tidak ada komentar:

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...