
12
Motivasi
Hijrah
Berjalan di
malam yang gelap gulita, kaki melangkah tak tahu arah yang dituju. Mengharapkan
seberkas cahaya muncul di depan mata, menuntun langkah kaki untuk keluar dari
kegelapan.
Namun begitu
kasih sayang Allah terus menuntun kaki untuk melangkah dan pada akhirnya kutemukan
seberkas cahaya yang di Ridai Allah “Hidayah”, aku berhasil menjemput hidayah
dari Allah, tak lain tujuannya yaitu agar dapat keluar dari jalan yang gelap
gulita.
Manusia
diciptakan paling sempurna di banding makhluk Allah lainnya. Tinggal bagaimana
kita menyikapi, memperlakukan diri kita sendiri dengan sebaik-baiknya. Bukankah
nanti semua akan dipertanggungjawabkan atas apa yang kita perbuat pada diri kita.
Kamu pernah
jatuh, terpuruk, hancur, dan tak berdaya lagi? Kamu pernah berada di padang
pasir yang tandus nan gersang? Dan apa kamu pernah berada pada titik kegelapan?
Sehingga kamu kalut untuk melangkah, lantas kamu berpikir, seperti inikah
rasanya menjadi orang buta?.
Jujur, aku
pernah berada di posisi itu. Sampai pada akhirya kutemukan titik terang untuk
kembali pulang. Pertanyaannya, apakah mulus perjalananku di dalam kegelapan
itu? Tentu tidak. Bayangkan saja, berjalan selangkah demi selangkah menapaki
kegelapan, jatuh bangun, menangis, bingung, menggapai apa saja yang dapat
menjadi pegangan. Jatuh lagi, terpuruk lagi. Lika liku jiwapun kuhadapi.
Satu hal
yang membuatku ingin terus bangkit dan melangkah, yaitu keluar dari kegelapan
itu. Tekad yang kuat memacu hati untuk terus termotivasi. Berkata untuk hijrah
bukanlah hal yang berat, namun mengistiqomahkan diri yang berat. Melawan segala
rintangan pada saat perjalanan hijrah. Butuh motivasi yang kuat dari diri
sendiri maupun dari orang lain atau dari lingkungan sekitar.
Gerakkan
hatimu dengan niat yang tulus mengharap Rida Allah bukan semata ingin dipandang
orang lain. Ayo bangkit dan melangkah. Yakinkan hatimu bahwa selangkah saja kamu
melangkah, kamu akan mengalami perubahan besar dalam hidupmu. Jangan takut dan
jangan pernah menyerah untuk terus berhijrah di jalan Allah. Karena Allah akan
membersamimu setiap saat.
Setiap manusia pasti mempunyai masa lalu. Entah itu buruk, sangat buruk
atau mungkin sangat kelam. Apa ada yang mempunyai masa lalu yang indah? Bisa
jadi seperti itu. Bukankah kehidupan ini sudah ada yang mengaturnya.
Bagaimanapun masa lalumu, ucapkan terimakasih kepadanya. Mengapa?
Karena masa lalu adalah suatu pelajaran yang sangat berharga untuk masa
mendatang. Hatimu tidak akan sekuat ini jika sebelumnya pernah patah.
Lihatlah kupu-kupu. Sebelum menjadi indah dia pernah menjadi seekor
ulat yang menjijikkan bagi sebagian orang yang memandangnya. Namun seiring
berjalannya waktu takdir Allah berkehendak menjadikan dia seekor kupu-kupu yang
indah dan cantik.
Begitulah manusia seharusnya. Berproses dari yang kurang baik menjadi
lebih baik lagi. Bangkitlah dari keterpurukkanmu, berjalanlah menuju titik
terang yang Allah Ridai. Karena Allah tidak akan membiarkanmu terpuruk dengan
masa lalumu.
“Apa kabar hatimu? Yang kemarin terluka apa telah
sembuh? Yang kemarin kehilangan kepingan hatinya apa telah menemukan kepingan
hati yang baru? Aku juga tak tahu pasti apa jawabmu akan seperti apa.”
“Kuharap kamu telah sembuh, hatinya maksudku. Iya sembuh
dari luka masa lalu, bangkit dari terpurukmu, dan yang paling penting mulai
menata kembali kepingan-kepingan hatimu yang hancur menjadi sebuah hati yang
baru, meski kutahu apapun itu bila pernah hancur jika diperbaiki takkan indah
seperti saat pertama dilahirkan.”
“Tak apa. Aku akan sangat bahagia dengan usahamu itu.
Setidaknya kamu mau sembuh. Kamu ingat kalimat ini “akan ada jalan jika ada
kemauan”. Jika kamu sudah menata hati tinggal menunggu tambatan hati. Menunggu
dengan berbenah diri, menjadi lebih baik dari sebelumnya.”
“Perlahan tapi pasti karena semua butuh proses.
Bercerminlah pada diri, apa sudah cukup baik untuk mendapatkan yang lebih baik
dari sebelumnya. Jika kamu merasa belum cukup, maka teruslah latih dirimu menjadi baik seperti apa yang
kau ingin.”
“Jangan lupa, ingat Dia yang telah menemanimu bahkan
yang tak pernah meninggalkanmu barang sekejap (Allah). Berjalanlah menuju Rida
sang Ilahi, niatkan hati tulus berbenah diri karena ingin selalu dekat
dengan-Nya.”
“Menuju jalan Ilahi sampai nanti kamu akan menemukan
kecintaan yang luar biasa pada sang Ilahi. Karena sebaik-baiknya hati adalah
hati yang terpaut cinta kepada sang Maha Cinta, kepada sang Maha Pencipta,
pencipta segala-galanya. Termasuk rasa cinta dan kasih kepada yang halal
untukmu nanti.”
Aku selalu
ingat petuah-petuah dari para sahabatku. Merekalah yang membuatku tetap
semangat untuk terus bangkit. Mereka selalu ada di saat bahagia maupun sedihku.
Beberapa bulan
setelah kisah cintaku kandas bersamamu. Aku mulai bangit dari keterpurukan,
butuh waktu untuk menghilangkan rasa perihnya. Berangsur-angsur pulih meski
masih membekas. Masih ada bayang-bayang masa lalu yang kerap menggelayuti
pikiranku. Aku mencoba menepis semua itu, membiarkan pudar seiring berjalannya
waktu.
Aku kini
menyibukkan diri dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Di samping mengajar
Madrasah Diniyah, aku juga mulai sering mengikuti kajian-kajian setiap
minggunya. Kecintaan akan dunia tulis pun kusalurkan lewat komunitas menulis.
Gejolak hatiku benar-benar mereda dari yang dulu amat menyesakkan. Tak ada lagi
senyum yang dipaksakan untuk kisah masa lalu itu.
Drrtt... Dering ponselku nyaring terdengar.
“Assalamu’alaikum, Dek.” Suara Putra,
kakakku.
“Waalaikumussalam, ada apa, Kak? sahutku.
“Nanti ba’da
zuhur kamu ikut Kakak ya ke panti asuhan untuk acara bakti sosial.”
“Insyaa
Allah, iya, Kak.”
Pada hari Ahad, sekolah tempat kak Putra bekerja akan berkunjungan ke Panti Asuhan Yatim Piatu Darul 'Aitam di kawasan 16, kota Jakarta. Kegiatan ini merupakan acara tahunan SMAN 1 Jakarta untuk mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Penyelenggaraan bakti sosial ini akan dilaksankan pada pukul 13.30 – 15.00 WIB.
Ahad ini tidak
ada jadwal apapun sehingga aku menerima ajakan kak Putra. Percakapan lewat
telepon itu tidak lama, hanya sepuluh menit, saling bertanya kabar, kesibukkan
masing-masing dan kesepakatan untuk nanti bertemu jam berapa. Putra adalah
kakakku satu-satunya, dia sekarang telah menikah dan tinggal bersama keluarga istri.
Hanya jika ada waktu luang menyempatkan bertandang untuk menjenguk orang
tuanya.
“Siapa tadi
yang meneleponmu, Nduk? Ibuku
bertanya.
“Kakak, Bu.
Dia minta ditemani ke panti asuhan ba’da zuhur nanti,” sahutku, duduk di sebelah
ibu.
“Oh ya
sudah, bilang nanti ke Kakakmu, kalau sempat mampir ke sini,” sambungya lagi.
“Iya, nanti
aku sampaikan, Bu.”
Tepat pukul
satu siang aku sudah sampai ke tempat yang di maksud. Sesaat setelah menunggu,
kak Putra datang. Namun tidak sendirian, dia datang dengan seorang lelaki.
“Sudah lama
kamu menunggu, Dek? tanyanya setelah sampai di dekatku.
“Baru
beberapa menit yang lalu, Kak.”
“Oh iya, ini
Ahmad, teman satu kerja Kakak.” Dia mengenalkan Ahmad padaku.
Lelaki itu,
Ahmad tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Aku pun
membalas senyumnya. Yang sebenarnya aku sudah mengenal dia, lelaki yang selama
ini aku kagumi diam-diam. Hanya berteman lewat sosial media, namun hanya aku
yang mengenal Ahmad sebelumnya, dan tahu tentang aktifitasnya menjadi seorang
penulis.
“Ayo masuk,
acara bakti sosialnya sebentar lagi di mulai.” Kak Putra mengajak kami untuk
segera masuk.
Kami bertiga
masuk menyelusuri lorong panti asuhan untuk sampai di ruang acara penyambutan.
Sepanjang lorong hanya kak Putra dan Ahamd yang banyak bercerita, sesekali
membicarakan masalah pekerjaan. Sedang aku, sibuk menenangkan debaran hati yang
sedari tadi membuncah saat pertama kali melihatnya datang.
“Apa Aisyah
sudah mempunyai calon, Putra? Tiba-tiba dia menanyakan perihal itu ke kak Putra.
“Sepertinya
belum, memang kenapa?” sahut kak Putra.
“Aa ...
akuuu ...” jawabnya terbata-bata.
Bruk....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar