Halaman

Selasa, 14 April 2020

Tulang Rusuk yang Patah


13
Pertemuan

Suara sesuatu jatuh terdengar keras oleh kak Putra dan Ahmad. Otomatis pembicaraan Ahmad terputus, aku tersandung X-banner yang terpampang di pinggir lorong, aku jatuh dan tentu itu sangat memalukan.

Sedari tadi aku hanya fokus menatap punggung bidang Ahmad yang berjalan di depanku. Apa lagi pertanyaannya membuat aku hilang arah untuk menatap jalan.

“Ya Allah, Aisyah, kenapa kamu sampai jatuh seperti itu?” Kak Putra membantuku berdiri.

“Kamu baik-baik saja, Aisyahh?” Iris mata Ahmad terlihat sangat mengkhawatirkanku.

“Aku baik-baik saja, Kak. Hanya kurang fokus saja tadi,” jawabku sambil menahan malu.
“Eh apa kamu belum makan siang? Wajahmu pucat sekali.”

Jelas wajahku pucat sangking menahan malu, “Iya, Kak, aku baik-baik saja, nggak perlu cemas. Tadi aku sudah makan siang.”

“Syukurlah kalau begitu, Aisyah. Mari masuk kita sudah sampai di ruang acara,” sahut Ahmad.

Aku hanya membalas senyum dan ikut masuk ke ruangan. Dalam kunjungan bakti sosial ini diisi dengan beberapa rangkaian acara yang dipandu oleh  Lupita, Acara pertama yaitu sambutan dari Kepala SMAN 1 Jakarta yaitu Bapak Halim dan dilanjutkan sambutan dari Pengurus Panti Asuhan yang diwakili oleh Ibu Kholidah dan dilanjutkan dengan doa bersama.

Tidak hanya itu, mereka juga mengadakan permainan seusai doa, untuk menghibur adik-adik yang ada di panti asuhan. Gelak tawa pun tak dapat dibendung oleh tingkah lucu para siswa-siswi yang memeragakan suatu gerakan untuk ditebak oleh adik-adik panti, dan bagi adik-adik panti yang bisa menjawab akan mendapat hadiah dari pihak sekolah. Kebahagian yang sangat luar biasa saat kami bisa menghibur anak-anak yatim.

Selama acara berlangsung, aku masih penasaran dengan apa yang akan di ucapkan oleh Ahmad. Kenapa dia tidak bertanya langsung padaku? Kalau saja aku tadi tidak terjatuh pasti sudah tahu jawabannya apa.  Sungguh kejadian  terkonyol yang pernah aku alami. Sampai sebegitu gugupnya berdekatan dengan orang yang sudah lama kukagumi.

Menjelang asar acara bakti sosial telah selesai. Menunggu waktu salat tiba kami beranjak ke masjid yang ada di panti asuhan. Aku langsung menuju tempat wudu perempuan, sedang kak Putra dan Ahmad memilih duduk-duduk di teras masjid.

Usai melaksanakan salat, aku termenung. Ingat kali pertama mengenal Ahmad lewat sosial media, membaca tulisan-tulisannya membuatku tersentuh. Banyak tulisan yang memotivasi dan menginspirasi. Hanya lewat aksara saja dia telah membuatku jatuh hati. Berharap jika suatu saat dipertemukan dengannya.

Hari ini terjawab sudah harapanku. Lelaki berwajah teduh dengan tulisan-tulisan yang menyentuh, lelaki yang amat  kukagumi. Kini berdiri dihadapanku dengan senyum yang nyata. “Sungguh beruntung sekali wanita yang kelak mendapatkannya,” gumamku.

“Hei! Assalamu’alaikum, Aisyah.” Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk pundakku. Refleks, kaget dan gugup kumenjawab salam.

Wa ... waalaikumussalam, masya Allah Rifa, kamu buat aku kaget saja.” Aku mengelus dada melihat dia tiba-tiba muncul.

“Habis kamu melamun terus dari tadi aku panggil-panggil nggak nyaut-nyaut,” sungut Rifa, sahabat di kampus dulu juga rekan kerjaku.

“Iyakah, aku melamun? Ya Allah maafin aku, Fa.”

“Mmm ... kamu mikirin apa hayo? Jangan banyak pikiran nanti cepat tua, belum menikah lagi, hehe,” guraunya, menyikut lenganku.

“Bisa saja kmu, Fa.” Eh kok kamu di sini?” tanyaku.

“Aku tadi temani Ibu, ngasih donasi bulanan untuk panti ini, dan kebetulan sudah asar jadi aku salat dulu, eh ketemu kamu lagi melamun,” jelas Rifa.

“Terus mana Ibumu?” tanyaku kemudian. Melihat ibunya tak terlihat.

“Lagi di toilet sepertinya. Eh, iya aku mau salat dan kamu jangan pulang dulu. Mumpung ketemu di sini, ada yang mau aku sampaikan ke kamu,” jawabnya sambil mengambil mukena untuk salat.

“Tentang apa itu?” Aku berrtanya, penasaran.
“Makanya kamu jangan pulang dulu, nanti aku kasih tahu.”

“Kebiasaan kamu, Fa. Selalu buat aku penasaran.” Dia hanya nyengir melihat raut wajahku, kesal.

“Ya sudah aku salat dulu.”

Obrolan kami terjeda, bersamaan dengan itu ponselku berdering. Panggilan dari kak Putra.

“Iya, Kak ada apa?” Setelah menjawab sapaan di seberang sana.

“Kamu masih di dalam masjid? Ayo kita pulang, Kakak tunggu di depan.”

“Kakak pulang duluan saja, aku ketemu dengan Rifa, ada yang mau dia omongin ke aku tapi sekarang dia lagi salat, jadi aku nunggu dia, Kak,” jelasku.

“Oh, baiklah, Kakak pulang dulu dengan Ahmad.”
“Iya, Kak hati-hati. Oh ya, kata Ibu, kalau Kakak sempat mampir ke rumah.” Aku ingat pesan ibu tadi.

“Sudah sore, Dek. besok saja sepulang Kakak kerja, Mbakmu nelepon barusan, katanya Kia nanyain Kakak terus.”

“Ya sudah kalau begitu, Kak.”

Sambungan telepon terputus, ada rasa sesal di diriku karena tak sempat melihat Ahmad menjelang mereka puang. Tapi aku juga penasaran apa yang akan di sampaikan oleh Rifa. Beberapa saat menunggu, Rifa telah selesai salat.

“Nggak masalahkan kamu pulang agak soreaa? Soalnya ini penting.” Rifa membuka percakapan setelah membereskan mukenanya.

“Iya nggak masalah, Fa. Memang apa yang mau kamu sampaikan? Aku sudah penasaran dari tad,” sahutku memasang wajah penasaran.
Rifa mengeluarkan beberapa lembaran kertas dari tasnya dan menyerahkan padaku.

“Itu ada yang menitipkan Cv ta’aruf sama aku, untuk di sampaikan ke kamu. Dia sepupuku, orangnya humoris dan yang pasti sholeh. Insya Allah cocok untuk kamu.” Rifa menjelaskan setelah memberikan lembaran kertas itu padaku.

“Tapi, Fa –“

“Kamu pikir-pikir dulu dan istikharah, minta petunjuk. Jika sudah mantap, kabari aku secepatnya, ya,” potong Rifa tak memberiku kesempatan bicara.

“Aamiin, insya Allah, akan aku pertimbangkan dulu, Fa. Mohon doanya juga ya.”

“Semoga dia jodoh terbaik untukmu. Aamiin. Jangan lupa kabri aku bagaimana selanjutnya.”

“Iya, Insya Allah, Fa.”
Obrolan berlanjut panjang lebar, maklum sudah lama tak bertemu. Rifa sedang disibukkan dengan persiapan pernikahannya.

“Oh, ya. Gimana persiapan pernikahan kamu?” Lanjutku.

“Alhamdulillah, sudah 50%.” Rifa terlihat begitu bahagia.

“Masya Allah. Semoga selalu lancar sampai hari H nanti,” balasku.

Sahabatku satu ini sungguh luar biasa bejuang untuk bertemu jodohnya. Bagaimana tidak, berkali-kali taaruf belum ada kecocokan, sampai bertemu yang cocok namun harus menanti. Sekian lama penantian, akhirnya Rifa lebih memilih laki-laki yang dikenalkan oeh saudara perempuannya.

Dari pada menanti yang tak pasti lebih baik melanjutkan berlabuh dengan seseorang yang sudah siap berlayar. Begitulah keputusan Rifa.

Sampai waktu hampir beranjak senja, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Berpelukan melepas perpisahan dan saling berucap hati-hati di jalan. Rifa dan ibunya lebih dulu meninggalkanku dengan taksi online yang dipesannya.

Sedangkan aku, hatiku gamang atas apa yang terjadi hari ini. Kebahagian bertemu orang yang selama ini kutunggu pertemuannya sekaligus bingung dengan Cv taaruf yang kuterima dari Rifa.

Dengan langkah gontai aku menuju parkiran, menaiki motor bebekku dan menstater. Pulang adalah jalan kembali untuk pikiran segera tenang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar