Halaman

Rabu, 15 April 2020

Ttulang Rusuk yang Patah


14
Pilihan Hati

Selepas makan malam aku berkumpul dengan kedua orang tuaku di ruang tamu. Canda tawa sesekali menyelingi obrolan kami. Aku anak bungsu, Putra adalah kakakku satu-satunya. Jadi akulah yang selalu menemani kedua orang tuaku di rumah. Entah bagaimana nanti kalau aku sudah menikah dan tinggal dengan suamiku. Sepi.

“Bagaimana tadi acara bakti sosialnya, Aisyah?” tanya ayah.

Alhamdulillah lancar, Yah. Seru juga ramai,” sahutku sambil mengupas pisang.

“Lho, Kakakmu nggak di suruh mampir, Nakk?” Ibuku datang dari dapur membawa segelas kopi untuk bapak.

“Tadi sudah aku bilang ke Kakak, Bu. Katanya sudah sore, besok saja mampirnya pulang dari kerja.” Aku menjelaskan, sesaat pisang yang kukupas tadi telah habis kulahap.

“Itu ada banyak pisang sudah mateng-mateng, nanti keburu busuk. Biasanya Kakakmu paling suka.”

“Ya sudah, Bu. Besok kan dia ke sini, masih tahan kok pisangnya nggak bakal busuk.” Ayah menyahut.

“Iya, asal jangan di habisin sama Ayah pisangnya.” Ibu melirik ayah yang ingin mencomot pisang yang masih tersisa dalam piring.

Diletakkannya kembali pisang yang ingin ayah ambil. “Nggak-nggak, Bu. Baru juga makan tiga biji.” Ayah menunjukkan 3 jarinya.

“Tiga, Yah? Terus yang tadi sebelum makan, ngambil pisang siapa, ya?” Aku menyelidik ayah yang hanya cengar-cengir.
“Tuh kan, Ayah!” Ibu mendengus kesal dengan kelakuan ayah.

Aku yang melihat kejadian itu hanya geleng-geleng kepala sambis tertawa. Hanya soal pisang saja bisa menjadi bahan keributan untuk mereka. Tapi itulah yang menjadi bumbu penyedap sebuah rumah tangga. Tak apa ribut asal mengundang kelucuan dari pada ribut mengundang kekacauan.

Selesai perkara pisang, kami beranjak menunaikan salat isya. Usai salat ayah memilih menonton televisi di temani ibu. Sedang aku pamit ke kamar untuk istirahat. Kegiatan hari ini cukup menguras tenaga, juga pikiran. Sebelum bersiap tidur, aku ingat Cv taaruf yang di berikan Rifa. Kubuka tas ransel dan mengeluarkan isinya.

Dengan mengucap basmalah perlahan aku membaca Cv yang kupegang. Tanganku gemetar, debaran jantung berpacu lebih cepat dari mulut yang membaca. Perasaan seketika ingin terbang begitu tahu siapa orang yang ingin bertaaruf denganku.

Al - Zukri atau biasa di panggil Zukri. Kakak tingka sewaktu kuliah, satu jurusan denganku. Sosok lelaki yang pertama kali aku suka pada pandangan pertama, sebelum aku berhubungan serius dengan Aris.

Zukri adalah sosok lelaki yang humoris, tak jarang aku mencuri pandang saat sedang bercengkrama dengan teman-temannya. Berpawakan sedang, hitam manis, hidung yang mancung dengan alis yang tebal. Tak pelak setiap bertemu Zukri, aku selalu beristigfar. Cepat-cepat menundukkan pandangan.

Semasa kuliah, aku dan Zukri tidak banyak bertemu. Apa lagi obrolan panjang, jarang sekali terjadi. Berpapasan hanya saling berbalas senyum. Pernah ketahuan tentang perasaanku kepadanya. Gara-gara temanku yang lumayan akrab dengannya, usil berbicara lewat pesan bahwa aku  menyukai dia.
Pesan itu tidak begitu di respon oleh Zukri, mungkin dia menganggapnya hanya candaan biasa. Tapi aku, sejak kejadian itu aku sangat malu jika berpapasan dengannya. Perlahan mulai menyurutkan rasaku. Meski belum benar-benar surut. Setiap kali bersitatap dengannya debaran hatiku tak dapat di kontrol. Dulu.

Dan sekarang, rasa itu kembali menyerbu hatiku. Seakan lupa kejadian tadi siang saat bertemu dengan Ahmad. Lelaki yang juga kusuka, walau baru beberapa bulan yang lalu. Benar-benar tak kusangka, seindah ini jalan Allah kabulkan keinginan yang pernah  kumohon.

Di sepertiga malam, aku terbangun. Bayangan dua sosok lelaki yang sama-sama kusukai kembali muncul. Menggugahku untuk segera memohon petunjuk kepada yang Maha Cinta. Usai mengambil air wudu, aku menggelar sajadah. Mulai bercengkrama dengan Rabb-ku.

Terhanyut dalam suasana heningnya malam, begitu damainya hati jika sudah memasrahkan segala yang dirisaukan. Memohon kemantapan hati, kelancaran dan  jalan yang diridai-Nya. Jika berjodoh serumit apapun, pasti akan menemukan jalan untuk pertemuan, begitupun jika tidak berjodoh, seindah apapun pasti akan menemukan jalan perpisahan.

Tidak hanya sekali dua aku beristikharah. Setelah hatiku yakin dan mantap atas petunjuk-Nya. Hilang semua beban yang bergelayut di pikiranku selama ini. Mengembuskan napas ketenangan setelah aku memberi kabar lewat pesan kepada Rifa. Inilah pilihan yang terbaik dari Allah untukku. Semoga.

Selang beberapa hari, aku beraktifitas seperti biasa. Mengajar di waktu siang dengan anak-anak yang super aktif. Sungguh menguras emosi dan butuh kesabaran ekstra. Bagi mereka yang aktif belajar bisa saja melesat jauh pemikirannya. Namun untuk anak yang perlu bimbingan, perlu ketelatenan dalam memprosesnya.

Tetapi dari mereka aku banyak belajar. Bagaimana mengatur emosi, cara memotivasi mereka, dan yang paling penting adalah perhatian yang adil. Kelak aku juga akan menjadi seorang ibu, tentu harus banyak belajar dari sekarang. Cara mendidik anak yang berkarakter baik sesuai agama.

Pukul setengah lima sore aku sampai di rumah. Memarkirkan motor dan masuk ke rumah sambil mengucap salam. Terlihat kedua orang tuaku duduk santai di ruang tamu sambil bercengkrama. Aku menghampiri dan mencium takzim tangan kedua orang tuaku.

Setelah mandi tubuhku terasa segar, beban pikiran hari ini pudar. Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada ayah dan ibu. Bagaimana hasilnya nanti pasrah lillahita’ala. Ini sudah keputusan yang kuambil. Meski berat memilih harus merelakan satu di antara lelaki yang selama ini kusuka.

“Ayah, Bu.” Aku menyapa dan duduk di seblah ibu.

“Tadi Kakakmu ke sini lho.” Belum sempat aku mengutaran, ibu sudah membahas kedatangan kak Putra.

“Iya, tapi sama temennya,” sambung ayah.

“Siapa, Yah?” tanyaku penasaran.

“Ahmad, Nak.” Ibuku yang menjawab.

“Lho, kok tumben Kakak bawa temennya ke rumah, Bu?” Keningku berkerut bertambah penasaran.

“Itu dia mau bertaaruf sama kamu,” ujar ayah menjelaskan. “Jadi begini ceritanya.”

Sepulang kerja tadi Putra mampir ke rumah dengan membawa Ahmad. Kebetulan hari Sabtu jam kerjanya hanya sampai pukul dua.

“Jadi langsung saja, Pak, Bu. Maksud kedatangan saya ke sini yang pertama, untuk bersilahturahim dengan keluarga Bapak. Karena saya sudah lama mengenal Putra selaku teman kerja saya. Maka ingin pula saya mengenal Bapak dan Ibu. Yang ke dua, saya bermaksud meminta izin kepada Bapak, untuk bertaaruf dengan Aisyah, putri Bapak.”

Akhirnya kalimat itu terucap juga. Susah payah Ahmad menyiapkan agar tidak salah ucap. Debaran jantungnya yang tadi berpacu hebat, kini mulai bisa di kontrol. Tangan Ahmad berkeringat dingin menahan gerogi. Hanya beberapa kata namun sulit jika sudah berurusan dengan perasaan.

Selama ini sudah berbagai ikhtiar dijalani, menitipkan Cv taruf kepada ustaznya. Dan yang paling penting, Ahmad tidak pernah menutup diri jika ada perempuan yang mengajukan taruf padanya. Lewat email, meminta menemui ayahnya, bahkan ada yang ibunya menelepon Ahmad menawarkan anaknya. Namun belum ada yang cocok bagi Ahmad.

Bukan tanpa alasan mengapa Ahmad seberani itu. Hanya sosok Aisyah yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya. Hati terus membuncah, apa lagi ingat pertemuannya dengan Aisyah Ahad kemarin. Ingin rasa berucap langsung pada Aisyah, namun lidah terasa kelu. Maka dari itu dia menyampaikan lewat Putra, kakak Aisyah.

“Nak Abdullah sudah lama mengenal Aisyah?”

“Belum, Pak. Saya hanya mengenal sedikit dari sosial media, yang ternyata Aisyah adalah adik Putra. Saya juga banyak mendengar tentang Aisyah melalui Putra.”

Menepuk pundak anaknya, Putra.

“Kamu kok nggak cerita-cerita, ada yang ingin dekat dengan adikmu.”

“Biar jadi kejutan, Yah,” sahut Putra sambil senyum semringah.

“Memang aku sudah kenal lama dengan Ahmad. Sekitar setahun yang lalu saat dia pindah kerja dari Riau ke Jakarta. Tetapi baru-baru minggu lalu tahu, kalau dia kenal juga dengan Aisyah, Yah.” Lanjut Putra menjelaskan.

“Oh, gitu ... Alhamdulillah, kita di pertemukan oleh Allah dengan cara yang indah.” Ibu ikut berbicara.

“Iya, Bu. Alhamdulillah. Tapi maaf saya baru sekarang main ke sini,” jawab Ahmad tersipu malu.

“Ya nggak masalah bagi kami ya kan, Yah?” Ibu melirik ke ayah.

“Kan membawa niat baik-baik, kok di tolak. Pamalih itu,” sambung ayah.

“Insya Allah aku akan jadi Kakak iparmu. Haha.” Putra menyikut Ahmad.

Alhamdulillah jika Bapak dan Ibu menerima kedatangan saya, dan insya Allah rekan kerja saya ini akan berubah menjadi Kakak ipar saya.” Menjawab omomgan kedua orang tua Putra dan melirik sebentar ke Putra melayangkan candaannya.

Ketegangan berubah menghangat. Ahmas bersyukur keluarga Aisyah begitu ramah mau menerima niat baiknya.

“Ahmad ini selepas acara bakti sosial Ahad kemarin cerita kalau ingin mengajukan ta’aruf dengan Aisyah. Jelas aku kaget sekaligus seneng, karena diam-diam selama ini dia tertarik dengan Aisyah. Jadi mumpung ada waktu luang juga, aku bawa di ke rumah, Yah.” Kembali Putra menjelaskan pada orang tuanya.

“Kalau Ayah sama Ibu setuju-setuju saja, ya kan Bu.” Ayah meminta persetujuan ibu.

“Iya, Nak Ahmad. Kami bahagia akhirnya putri bungsu kami ada yang ingin berniat serius.” Ibu juga menyetujui niat baik Ahmad.

“Tapi semuanya tergantung bagaimana Aisyah. Karena dia yang akan menjalankannya nanti. Berhubung Aisyah belum pulang dari mengajar, sore dia baru pulang. Atau Nak Ahmad mau menjalin komunikasi dulu dengan Aisyahh?” ujar ayah menawarkan.

“Mmm ... sepertinya Aisyah bakal malu, Yah. Kalau chattingan dengan Ahmad. Biar lewat aku saja bagaimana keputusan Aisyah.”

“Ya sudah, bagaimana baiknya saja. Nanti kalau sudah pulang mengajar akan Ayah sampaikan ke Aisyah. Biar dia kabari lewat Putra.”

“Ayo silahkan, Nak. Diminum lagi tehnya sama itu ada kue jangan di anggurin.” Ibu  mempersilahkan.

“Iya, Bu.” Ahmad mengambil segelas teh yang sedari tadi hanya terminum sedikit untuk menetralkan perasaanya.

Bercengkrama sebentar lalu Ahmad izin pamit, begitu juga Putra. Dia pulang ke rumah mertuanya bersama Ahmad. Tergopoh-gopoh ibu membawa dua kresek putih berisi pisang. Satu di serahkan pada Putra dan satu lagi untuk Ahmad. Ahmad yang menerima itu tersanjung sekali.

Aku tercekat, kaget bukan main. Napas seakan berat kuhembuskan. Terjebak kebingungan, lantaran aku akan menyampaikan bahwa telah menerima tawaran taaruf dengan seseorang. Sekarang Ahmad muncul di saat aku telah menerima tawaran itu. Meski telah mempertimbangkan mana yang kupilih. Tetap saja ada desiran tak enak di hatiku.

“Bagaimana menurutmu, Nak?” Pertanyaan ibu membuyarkan lamunanku.

“Tapi ... maaf Ayah, Bu ... Aku sudah terlanjur menerima tawaran taaruf lebih dulu dari lelaki lain. Besok mau bersilahturahim ke sini. Dia sepupu Rifa, temanku. Lelaki itu namanya Al - Zukri. Tadinya aku mau menyampaikan itu sama Ayah dan Ibu. Dan maaf baru memberi tahu soal ini.” Aku tertunduk, melilin ujung jilbab.

“Ya sudah nggak masalah, Nak. Ayah ikuti saja mana yang menurut hatimu,” ucap ayah menenangkan.

“Ibu juga nggak masalah, Nak. Selama itu baik dan membahagiakanmu, Ibu juga akan ikut bahagia.” Ibu mengelus pucuk kepalaku.

“Kasih kabar Kakakmu. Jelaskan sama dia kalau kamu sudah menerima tawaran taaruf laki-laki lain. Nanti Kakakmu yang akan menyampaikan sama Ahmad.”

“Terima kasih, Ayah, Ibu ... selalu mendukung untuk kebahagianku.” Mataku berkaca-kaca.

“Iya, Nak,” jawab ibu sambil tersenyum begitu juga ayah.

Usai menelepon kak Putra di hadapan ayah dan ibu, aku izin ke kamar. Menghempaskan tubuh mungilku ke ranjang menatap nanar langit-langit kamar. Sejak tadi aku bendung air yang ingin menganak sungai di mataku. Kini tak kuat lagi bendungan itu, tumpah bebas ke pipi. Hatiku di antara bahagia sekaligus sedikit sesal menyeruap.

Mungkin sedikit lebih cepat saja Ahmad mengajukan taaruf kepadaku, pasti sudah kuterima tanpa mempertimbangankan yang lain. Atau jika saja aku tidak bertemu Rifa, aku tak akan menerima Cv taaruf itu. Qadarullah. Sebuah jalan yang telah Allah tunjukan padaku untuk pertemuan ini.

“Jika kamu mencintai dua orang dalam waktu yang sama, pilihlah yang kedua. Karena jika kamu memilih yang pertama, kamu tidak akan jatuh cinta pada yang kedua.”

Aku bergumam membaca quote yang tertera pada layar ponsel. Berawal dari pertemuan dengan Ahmad dan di susul oleh kemunculan lelaki yang telah lama kupendam rasanya, Zukri. Debaran hebat hatiku telah menunjukkan ke mana arah yag dituju. Inilah pilihan hatiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar