
14
Pilihan
Hati
Selepas
makan malam aku berkumpul dengan kedua orang tuaku di ruang tamu. Canda tawa sesekali
menyelingi obrolan kami. Aku anak bungsu, Putra adalah kakakku satu-satunya.
Jadi akulah yang selalu menemani kedua orang tuaku di rumah. Entah bagaimana
nanti kalau aku sudah menikah dan tinggal dengan suamiku. Sepi.
“Bagaimana
tadi acara bakti sosialnya, Aisyah?” tanya ayah.
“Alhamdulillah lancar, Yah. Seru juga
ramai,” sahutku sambil mengupas pisang.
“Lho,
Kakakmu nggak di suruh mampir, Nakk?” Ibuku datang dari dapur membawa segelas
kopi untuk bapak.
“Tadi sudah
aku bilang ke Kakak, Bu. Katanya sudah sore, besok saja mampirnya pulang dari
kerja.” Aku menjelaskan, sesaat pisang yang kukupas tadi telah habis kulahap.
“Itu ada
banyak pisang sudah mateng-mateng, nanti keburu busuk. Biasanya Kakakmu paling
suka.”
“Ya sudah,
Bu. Besok kan dia ke sini, masih tahan kok pisangnya nggak bakal busuk.” Ayah
menyahut.
“Iya, asal
jangan di habisin sama Ayah pisangnya.” Ibu melirik ayah yang ingin mencomot
pisang yang masih tersisa dalam piring.
Diletakkannya
kembali pisang yang ingin ayah ambil. “Nggak-nggak, Bu. Baru juga makan tiga
biji.” Ayah menunjukkan 3 jarinya.
“Tiga, Yah?
Terus yang tadi sebelum makan, ngambil pisang siapa, ya?” Aku menyelidik ayah
yang hanya cengar-cengir.
“Tuh kan,
Ayah!” Ibu mendengus kesal dengan kelakuan ayah.
Aku yang
melihat kejadian itu hanya geleng-geleng kepala sambis tertawa. Hanya soal
pisang saja bisa menjadi bahan keributan untuk mereka. Tapi itulah yang menjadi
bumbu penyedap sebuah rumah tangga. Tak apa ribut asal mengundang kelucuan dari
pada ribut mengundang kekacauan.
Selesai
perkara pisang, kami beranjak menunaikan salat isya. Usai salat ayah memilih menonton
televisi di temani ibu. Sedang aku pamit ke kamar untuk istirahat. Kegiatan
hari ini cukup menguras tenaga, juga pikiran. Sebelum bersiap tidur, aku ingat
Cv taaruf yang di berikan Rifa. Kubuka tas ransel dan mengeluarkan isinya.
Dengan
mengucap basmalah perlahan aku membaca Cv yang kupegang. Tanganku gemetar,
debaran jantung berpacu lebih cepat dari mulut yang membaca. Perasaan seketika
ingin terbang begitu tahu siapa orang yang ingin bertaaruf denganku.
Al - Zukri
atau biasa di panggil Zukri. Kakak tingka sewaktu kuliah, satu jurusan denganku.
Sosok lelaki yang pertama kali aku suka pada pandangan pertama, sebelum aku
berhubungan serius dengan Aris.
Zukri adalah
sosok lelaki yang humoris, tak jarang aku mencuri pandang saat sedang
bercengkrama dengan teman-temannya. Berpawakan sedang, hitam manis, hidung yang
mancung dengan alis yang tebal. Tak pelak setiap bertemu Zukri, aku selalu
beristigfar. Cepat-cepat menundukkan pandangan.
Semasa
kuliah, aku dan Zukri tidak banyak bertemu. Apa lagi obrolan panjang, jarang
sekali terjadi. Berpapasan hanya saling berbalas senyum. Pernah ketahuan
tentang perasaanku kepadanya. Gara-gara temanku yang lumayan akrab dengannya, usil
berbicara lewat pesan bahwa aku menyukai
dia.
Pesan itu tidak
begitu di respon oleh Zukri, mungkin dia menganggapnya hanya candaan biasa.
Tapi aku, sejak kejadian itu aku sangat malu jika berpapasan dengannya.
Perlahan mulai menyurutkan rasaku. Meski belum benar-benar surut. Setiap kali
bersitatap dengannya debaran hatiku tak dapat di kontrol. Dulu.
Dan
sekarang, rasa itu kembali menyerbu hatiku. Seakan lupa kejadian tadi siang
saat bertemu dengan Ahmad. Lelaki yang juga kusuka, walau baru beberapa bulan
yang lalu. Benar-benar tak kusangka, seindah ini jalan Allah kabulkan keinginan
yang pernah kumohon.
Di sepertiga
malam, aku terbangun. Bayangan dua sosok lelaki yang sama-sama kusukai kembali
muncul. Menggugahku untuk segera memohon petunjuk kepada yang Maha Cinta. Usai
mengambil air wudu, aku menggelar sajadah. Mulai bercengkrama dengan Rabb-ku.
Terhanyut
dalam suasana heningnya malam, begitu damainya hati jika sudah memasrahkan
segala yang dirisaukan. Memohon kemantapan hati, kelancaran dan jalan yang diridai-Nya. Jika berjodoh serumit
apapun, pasti akan menemukan jalan untuk pertemuan, begitupun jika tidak
berjodoh, seindah apapun pasti akan menemukan jalan perpisahan.
Tidak hanya
sekali dua aku beristikharah. Setelah hatiku yakin dan mantap atas
petunjuk-Nya. Hilang semua beban yang bergelayut di pikiranku selama ini.
Mengembuskan napas ketenangan setelah aku memberi kabar lewat pesan kepada
Rifa. Inilah pilihan yang terbaik dari Allah untukku. Semoga.
Selang
beberapa hari, aku beraktifitas seperti biasa. Mengajar di waktu siang dengan
anak-anak yang super aktif. Sungguh menguras emosi dan butuh kesabaran ekstra.
Bagi mereka yang aktif belajar bisa saja melesat jauh pemikirannya. Namun untuk
anak yang perlu bimbingan, perlu ketelatenan dalam memprosesnya.
Tetapi dari
mereka aku banyak belajar. Bagaimana mengatur emosi, cara memotivasi mereka,
dan yang paling penting adalah perhatian yang adil. Kelak aku juga akan menjadi
seorang ibu, tentu harus banyak belajar dari sekarang. Cara mendidik anak yang
berkarakter baik sesuai agama.
Pukul
setengah lima sore aku sampai di rumah. Memarkirkan motor dan masuk ke rumah
sambil mengucap salam. Terlihat kedua orang tuaku duduk santai di ruang tamu
sambil bercengkrama. Aku menghampiri dan mencium takzim tangan kedua orang
tuaku.
Setelah
mandi tubuhku terasa segar, beban pikiran hari ini pudar. Aku ingin menyampaikan
sesuatu kepada ayah dan ibu. Bagaimana hasilnya nanti pasrah lillahita’ala. Ini
sudah keputusan yang kuambil. Meski berat memilih harus merelakan satu di antara
lelaki yang selama ini kusuka.
“Ayah, Bu.”
Aku menyapa dan duduk di seblah ibu.
“Tadi
Kakakmu ke sini lho.” Belum sempat aku mengutaran, ibu sudah membahas
kedatangan kak Putra.
“Iya, tapi
sama temennya,” sambung ayah.
“Siapa, Yah?”
tanyaku penasaran.
“Ahmad, Nak.”
Ibuku yang menjawab.
“Lho, kok
tumben Kakak bawa temennya ke rumah, Bu?” Keningku berkerut bertambah
penasaran.
“Itu dia mau
bertaaruf sama kamu,” ujar ayah menjelaskan. “Jadi begini ceritanya.”
Sepulang kerja
tadi Putra mampir ke rumah dengan membawa Ahmad. Kebetulan hari Sabtu jam
kerjanya hanya sampai pukul dua.
“Jadi
langsung saja, Pak, Bu. Maksud kedatangan saya ke sini yang pertama, untuk
bersilahturahim dengan keluarga Bapak. Karena saya sudah lama mengenal Putra
selaku teman kerja saya. Maka ingin pula saya mengenal Bapak dan Ibu. Yang ke
dua, saya bermaksud meminta izin kepada Bapak, untuk bertaaruf dengan Aisyah,
putri Bapak.”
Akhirnya
kalimat itu terucap juga. Susah payah Ahmad menyiapkan agar tidak salah ucap.
Debaran jantungnya yang tadi berpacu hebat, kini mulai bisa di kontrol. Tangan
Ahmad berkeringat dingin menahan gerogi. Hanya beberapa kata namun sulit jika
sudah berurusan dengan perasaan.
Selama ini
sudah berbagai ikhtiar dijalani, menitipkan Cv taruf kepada ustaznya. Dan yang
paling penting, Ahmad tidak pernah menutup diri jika ada perempuan yang
mengajukan taruf padanya. Lewat email, meminta menemui ayahnya, bahkan ada yang
ibunya menelepon Ahmad menawarkan anaknya. Namun belum ada yang cocok bagi Ahmad.
Bukan tanpa
alasan mengapa Ahmad seberani itu. Hanya sosok Aisyah yang akhir-akhir ini
memenuhi pikirannya. Hati terus membuncah, apa lagi ingat pertemuannya dengan Aisyah
Ahad kemarin. Ingin rasa berucap langsung pada Aisyah, namun lidah terasa kelu.
Maka dari itu dia menyampaikan lewat Putra, kakak Aisyah.
“Nak Abdullah
sudah lama mengenal Aisyah?”
“Belum, Pak.
Saya hanya mengenal sedikit dari sosial media, yang ternyata Aisyah adalah adik
Putra. Saya juga banyak mendengar tentang Aisyah melalui Putra.”
Menepuk
pundak anaknya, Putra.
“Kamu kok nggak
cerita-cerita, ada yang ingin dekat dengan adikmu.”
“Biar jadi
kejutan, Yah,” sahut Putra sambil senyum semringah.
“Memang aku
sudah kenal lama dengan Ahmad. Sekitar setahun yang lalu saat dia pindah kerja
dari Riau ke Jakarta. Tetapi baru-baru minggu lalu tahu, kalau dia kenal juga
dengan Aisyah, Yah.” Lanjut Putra menjelaskan.
“Oh, gitu
... Alhamdulillah, kita di pertemukan
oleh Allah dengan cara yang indah.” Ibu ikut berbicara.
“Iya, Bu. Alhamdulillah. Tapi maaf saya baru
sekarang main ke sini,” jawab Ahmad tersipu malu.
“Ya nggak
masalah bagi kami ya kan, Yah?” Ibu melirik ke ayah.
“Kan membawa
niat baik-baik, kok di tolak. Pamalih itu,” sambung ayah.
“Insya Allah
aku akan jadi Kakak iparmu. Haha.” Putra menyikut Ahmad.
“Alhamdulillah jika Bapak dan Ibu
menerima kedatangan saya, dan insya Allah rekan kerja saya ini akan berubah
menjadi Kakak ipar saya.” Menjawab omomgan kedua orang tua Putra dan melirik
sebentar ke Putra melayangkan candaannya.
Ketegangan
berubah menghangat. Ahmas bersyukur keluarga Aisyah begitu ramah mau menerima
niat baiknya.
“Ahmad ini
selepas acara bakti sosial Ahad kemarin cerita kalau ingin mengajukan ta’aruf
dengan Aisyah. Jelas aku kaget sekaligus seneng, karena diam-diam selama ini dia
tertarik dengan Aisyah. Jadi mumpung ada waktu luang juga, aku bawa di ke rumah,
Yah.” Kembali Putra menjelaskan pada orang tuanya.
“Kalau Ayah
sama Ibu setuju-setuju saja, ya kan Bu.” Ayah meminta persetujuan ibu.
“Iya, Nak Ahmad.
Kami bahagia akhirnya putri bungsu kami ada yang ingin berniat serius.” Ibu juga
menyetujui niat baik Ahmad.
“Tapi semuanya
tergantung bagaimana Aisyah. Karena dia yang akan menjalankannya nanti.
Berhubung Aisyah belum pulang dari mengajar, sore dia baru pulang. Atau Nak Ahmad
mau menjalin komunikasi dulu dengan Aisyahh?” ujar ayah menawarkan.
“Mmm ...
sepertinya Aisyah bakal malu, Yah. Kalau chattingan
dengan Ahmad. Biar lewat aku saja bagaimana keputusan Aisyah.”
“Ya sudah,
bagaimana baiknya saja. Nanti kalau sudah pulang mengajar akan Ayah sampaikan
ke Aisyah. Biar dia kabari lewat Putra.”
“Ayo silahkan,
Nak. Diminum lagi tehnya sama itu ada kue jangan di anggurin.” Ibu mempersilahkan.
“Iya, Bu.” Ahmad
mengambil segelas teh yang sedari tadi hanya terminum sedikit untuk menetralkan
perasaanya.
Bercengkrama
sebentar lalu Ahmad izin pamit, begitu juga Putra. Dia pulang ke rumah
mertuanya bersama Ahmad. Tergopoh-gopoh ibu membawa dua kresek putih berisi
pisang. Satu di serahkan pada Putra dan satu lagi untuk Ahmad. Ahmad yang
menerima itu tersanjung sekali.
Aku
tercekat, kaget bukan main. Napas seakan berat kuhembuskan. Terjebak
kebingungan, lantaran aku akan menyampaikan bahwa telah menerima tawaran taaruf
dengan seseorang. Sekarang Ahmad muncul di saat aku telah menerima tawaran itu.
Meski telah mempertimbangkan mana yang kupilih. Tetap saja ada desiran tak enak
di hatiku.
“Bagaimana
menurutmu, Nak?” Pertanyaan ibu membuyarkan lamunanku.
“Tapi ...
maaf Ayah, Bu ... Aku sudah terlanjur menerima tawaran taaruf lebih dulu dari
lelaki lain. Besok mau bersilahturahim ke sini. Dia sepupu Rifa, temanku.
Lelaki itu namanya Al - Zukri. Tadinya aku mau menyampaikan itu sama Ayah dan
Ibu. Dan maaf baru memberi tahu soal ini.” Aku tertunduk, melilin ujung jilbab.
“Ya sudah
nggak masalah, Nak. Ayah ikuti saja mana yang menurut hatimu,” ucap ayah menenangkan.
“Ibu juga nggak masalah, Nak. Selama itu baik dan
membahagiakanmu, Ibu juga akan ikut bahagia.” Ibu mengelus pucuk kepalaku.
“Kasih kabar
Kakakmu. Jelaskan sama dia kalau kamu sudah menerima tawaran taaruf laki-laki
lain. Nanti Kakakmu yang akan menyampaikan sama Ahmad.”
“Terima kasih,
Ayah, Ibu ... selalu mendukung untuk kebahagianku.” Mataku berkaca-kaca.
“Iya, Nak,”
jawab ibu sambil tersenyum begitu juga ayah.
Usai
menelepon kak Putra di hadapan ayah dan ibu, aku izin ke kamar. Menghempaskan
tubuh mungilku ke ranjang menatap nanar langit-langit kamar. Sejak tadi aku
bendung air yang ingin menganak sungai di mataku. Kini tak kuat lagi bendungan
itu, tumpah bebas ke pipi. Hatiku di antara bahagia sekaligus sedikit sesal
menyeruap.
Mungkin sedikit
lebih cepat saja Ahmad mengajukan taaruf kepadaku, pasti sudah kuterima tanpa
mempertimbangankan yang lain. Atau jika saja aku tidak bertemu Rifa, aku tak
akan menerima Cv taaruf itu. Qadarullah. Sebuah jalan yang telah Allah tunjukan
padaku untuk pertemuan ini.
“Jika kamu mencintai dua orang dalam waktu yang sama,
pilihlah yang kedua. Karena jika kamu memilih yang pertama, kamu tidak akan
jatuh cinta pada yang kedua.”
Aku bergumam
membaca quote yang tertera pada layar
ponsel. Berawal dari pertemuan dengan Ahmad dan di susul oleh kemunculan lelaki
yang telah lama kupendam rasanya, Zukri. Debaran hebat hatiku telah menunjukkan
ke mana arah yag dituju. Inilah pilihan hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar