Kamis, 16 April 2020

Tulang Rusuk yang Patah


15
Kembali Patah

Seusai shalat dhuha dan tilawah, aku termenung. Pikiran  menerawang kejadian kemarin. Kenapa bisa seperti itu? Pertemuanku dengan Zukri. Pesan Zukri kepadaku. Apa maksudnya sungguh aku tidak mengerti.  Ini di luar dugaan. Benar memang. Kita boleh berencana, tapi yang menentukan berhasil atau tidak hanya Allah yang berkehendak

Penantian demi penantian kini terasa semakin dekat menghampiri untuk pertemuan. Meski waktu telah ditentukan, serasa lamban pula dia berjalan. Debaran hati kian tak menentu, antara bahagia dan cemas. Dada sesak seakan kehabisan oksigen untuk bernapas. Hanya untaian shalawat peredam segala rasa.

Pukul 09.00 adalah waktu yang kutunggu-tunggu. dengan berbalut gamis merah muda dengan hijab warna senada, mematung di depan cermin, perhatianku terus tertuju pada pantulan bayangan. Senyum manis tersungging dikedua bibir. Tak perlu riasan wajah yang terlihat ‘wah’ terpenting sederhana dan tidak memalukan.

Tubuhku memutar mengerling jam dinding di belakang. Sebentar lagi, hanya beberapa menit lagi, dia yang ditunggu akan segera datang. Ah, hatiku semakin ingin keluar dari tempatnya, menari-nari dengan raut kebahagiaan. Terbayang senyuman yang akan berbalas senyuman pula. Duduk bersama membicarakan masa depan yang indah.

Tunggu ditunggu tak kunjung bertamu. Resah, gelisah tak tau arah. Sedari tadi pun kaki layaknya gosokan merapikan pakaian, panas. Berjalan mondar-mandir, sesekali mengecek ke luar rumah, barangkali yang ditunggu sedang berjalan menghampiri. Waktu telah jauh berjalan dari yang ditentukan. Hanya kebosanan yang menghampiri, menyeruap dalam hati.

Getar ponsel menyentakkan dari lamunan. Sebuah pesan singkat masuk. Debaran hati yang melaju semakin berpacu, butir hangat tak kuasa merayap di pipi. Tubuh yang tadi berdiri kini terjatuh duduk di atas sofa, tak berdaya lagi menopang beban yang menusuk amat tajam ke relung hati.

“Assalamu’alaikum, Aisyah. Maaf. Aku mendapat kabar dari Zukri kalau dia membatalkan rencana taaruf ini. Dan dia tidak menyebutkan alasannya apa. Aku juga minta maaf, tidak bisa sepenuhnya membantumu. Mohon bersabar, ini ujian dari Allah. Tegarkan hatimu, Aisyah. Wassalam....

Pesan singkat itu dari Rifa. Singkat dan sangat membuat gemuruh hati ini runtuh. Hancur menjadi kepingan tak berarti lagi. Hujan turun menyertai deras air mata yang mengalir. Dan waktu itu, rencana pertemuan itu, seakan hanya ilusi yang menyenangkan sesaat. Berjuta tanya terbesit dalam pikiran. Apa? Kenapa? Bagaimana bisa terjadi?

Aku tak kuasa menahan lagi, tak kuasa membalas pesan dari Rifa. Berharap itu juga hanya ilusi, hanya mimpi! Tak peduli kalimat tanya yang keluar dari ayah dan  ibu. Aku menghambur ke kamar, tubuhku terguncang dalam isak tangis yang terbekap bantal kesayangan.

Ketukan pintu kamar dan suara orang tuaku memanggil  kuabaikan. Rasanya belum sanggup untuk menceritakan semua ini. Begitu cepat kebahagiaan itu berlalu, berganti menyayat sembilu. “Ayah... Ibu... Aku ingin sendiri dulu, aku ingin meredam rasa yang seakan putus asa.” Lirih hati menjawab panggilan dari mereka.

Hujan semakin deras menguyur pagi itu, awan kelabu menutupi mentari hangat yang tadi bersinar binar. Wajah cerahku kini serupa dengan mentari tertutup awan kelabu. Apa lagi hatiku, serentak dengan gemuruh yang terdengar dari langit. Menggelegar. Sungguh sangat mendukung suasana hati ini. Aku masih terhanyut dalam isakan.

Dalam diam, dalam hujan, dan masih dengan terisak. Aku berdoa, semoga ini jalan terbaik untukku ataupun untuknya. Jika memang akan disatukan, pasti ada jalan untuk pertemuan menuju ikatan halal yang diidam-idamkan. Jika pun tidak, ini cara dan rencana terindah dari-Nya. Akan ada sesuatu yang lebih indah dari semua ini.

Aku tersadar, tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan dan rasa kecewa. Semua pasti ada hikmahnya. Semua akan lebih indah dari apa yang dibayangkan. Harus bangkit lagi, bukankah hatiku sudah terlalu kuat untuk merasakan patah berkali-kali. Untuk orang yang dulu kucintai saja, aku sanggup merelakan. Apalagi ini yang belum sempat bertatap muka.

Aku juga sudah menjelaskan pada orang tuaku perihal kemarin. Tentu mereka juga merasa kecewa dan juga sedih, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakann anaknya untuk selalu kuat dan tegar. Namun pada kak Putra, aku belum menjelaskan.

Dan baru berniat untuk menceritakan perihal kemarin pada kak Putra. Ponselku sudah mendapat pesan duluan darinya. Isinya tentang penyampaian kata maaf dariku untuk Ahmad telah disampaikannya tadi pagi, dan Ahmad juga telah menerima keputusanku.

Pada akhirnya, aku menceritakan kejadian kemarin. Tak jauh beda perasaan kak Putra dengan orang tuaku, di pesan terakhir kak Putra berkata: mungkin ini jalan yang Allah tunjukkan, bahwa Ahmad lah yang berhak kamu pilih. Tapi bagaimana? Apakah etis jika meminta kembali padanya untuk melanjutkan rencana taaruf itu.

Aku sudah merasa kecewa dengan Zukri, aku juga takut Ahmad malah balik mengecewakan. Apa salahnya mencoba, mungkin benar yang dikatakan kak Putra, ini jalan dari Allah untuk kembali pada Ahmad. Tapi untuk saat ini biarlah dulu, aku ingin menyakinkan hati kembali dan meminta petunjuk terbaik dari-Nya.

Sekolah masih sepi sekali. Waktu masih menunjukkan pukul 13.00. Hanya ada beberapa murid yang datang saat aku sampai dan memarkirkan kendaraan di tempat parkir. Menyelusuri koridor untuk menuju ruang guru. Hari ini aku sengaja datang lebih awal.

Menarik gagang kunci pintu tralis ruang guru dan membukanya. Lengang. Hanya bau wangi pengharum ruangan menyeruak hidung. Bersih dan rapi ruangan itu, membuat nyaman perasaanku. Namun tidak sepenuhnya nyaman. Ada sesuatu hal yang sejak kemarin aku tunggu.

Penjelasan mengenai kejadian kemarin dari Rifa. Hatiku begitu terombang-ambing, masih ada yang menganjal rasanya. Untuk menetralkan hati, aku membuka laptop dan menulis. Ya kebisaanku sekaligus hobi yang sudah lama ditekuni.

“Hei!” tegur seseorang, aku masih menatapa layar laptop.

“Bu Aisyah!” suaranya agak dikeraskan dan akhirnya berhasil membuatku mendogakkan kepala.

“Oh, kamu rupanya. Ada apa memanggilku, Bu Rifa?” tanyaku, melanjutkan mengetik di laptop.

“Sungguh apa duniamu hanya berkutat dengan benda itu?” Rifa bukannya menjawab pertanyaanku malah balik bertanya.

“Baiklah,” ujarku mengerti maksud Rifa dan menutup laptop.

Ck Ck.” Rifa menggelengkan kepala melihat tingkahku.

“Tumben cepat sekali kamu sampai sekolah?” Rifa bertanya saambil melihat jam yang melingkar di tangannya.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu ke kamu, Bu Rifa.”

“Haha. Iya, benar juga.” Rifa tertawa melihat ekspresiku yang muram.

“Ada yang mau aku bicarakan mengenai Zukri.” Rifa bersikap tenang sambil memperbaiki posisi duduknya.

Gimana cerita sebenarnya, Fa? Insya Allah aku sudah terima apapun itu,” ucapku tak kalah seriusnya.

“Sebelumnya aku mewakili Zukri minta maaf padamu. Langsung to the point saja ya. Mengingat sebentar lagi masuk dan guru-guru yang lain sudah banyak yang berdatangan,” jelas Rifa.

“Baik,” jawabku singkat. Ada perasaan tidak enak di hati. Degupan jantung berpacu cepat mengalahkan detik jarum jam.

“Mmm begini. Zukri nggak bisa melanjutkan taaruf sama kamu karena ternyata orang tuanya menjodohkan dia dengan teman dekat mereka..” Rifa menjelaskan apa yang dipesankan oleh Zukri.
Mendengar itu sontak hatiku kaget bukan main. Kecewa tentu menyelusup dan kentara dari raut wajah. Tapi di depan Rifa, aku harus tetap tegar dan tidak menyalahkan siapa pun. Mungkin ini keputusan terbaik dari Zukri dan ujian kesabaran dari Allah yang diberikan padaku.

“Oh, baiklah. Insya Allah aku sudah terima keputusannya. Mungkin ini jalan terbaik bagi kami.” Aku menanggapi sambil tersenyum yang sedikit dipaksakan.

“Aku juga minta maaf, Syah. Aku nggak mungkin memaksa karena itu sudah keputusan dari orang tuanya.”

“Nggak masalah. Aku hanya ingin saja tahu alasannya kenapa tiba-tiba membatalkam pertemuan itu.”

Teettt!!

Bunyi bel masuk. Para guru dan murid-murid segera masuk ruangan. Begitu juga kami. Beranjak dari duduk dan keluar.


Tidak ada komentar:

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...