
15
Kembali
Patah
Seusai shalat
dhuha dan tilawah, aku termenung. Pikiran menerawang kejadian kemarin. Kenapa bisa
seperti itu? Pertemuanku dengan Zukri. Pesan Zukri kepadaku. Apa maksudnya
sungguh aku tidak mengerti. Ini di luar
dugaan. Benar memang. Kita boleh berencana, tapi yang menentukan berhasil atau
tidak hanya Allah yang berkehendak
Penantian
demi penantian kini terasa semakin dekat menghampiri untuk pertemuan. Meski
waktu telah ditentukan, serasa lamban pula dia berjalan. Debaran hati kian tak
menentu, antara bahagia dan cemas. Dada sesak seakan kehabisan oksigen untuk
bernapas. Hanya untaian shalawat peredam segala rasa.
Pukul 09.00
adalah waktu yang kutunggu-tunggu. dengan berbalut gamis merah muda dengan
hijab warna senada, mematung di depan cermin, perhatianku terus tertuju pada
pantulan bayangan. Senyum manis tersungging dikedua bibir. Tak perlu riasan
wajah yang terlihat ‘wah’ terpenting sederhana dan tidak memalukan.
Tubuhku
memutar mengerling jam dinding di belakang. Sebentar lagi, hanya beberapa menit
lagi, dia yang ditunggu akan segera datang. Ah, hatiku semakin ingin keluar
dari tempatnya, menari-nari dengan raut kebahagiaan. Terbayang senyuman yang
akan berbalas senyuman pula. Duduk bersama membicarakan masa depan yang indah.
Tunggu
ditunggu tak kunjung bertamu. Resah, gelisah tak tau arah. Sedari tadi pun kaki
layaknya gosokan merapikan pakaian, panas. Berjalan mondar-mandir, sesekali
mengecek ke luar rumah, barangkali yang ditunggu sedang berjalan menghampiri.
Waktu telah jauh berjalan dari yang ditentukan. Hanya kebosanan yang
menghampiri, menyeruap dalam hati.
Getar ponsel
menyentakkan dari lamunan. Sebuah pesan singkat masuk. Debaran hati yang melaju
semakin berpacu, butir hangat tak kuasa merayap di pipi. Tubuh yang tadi
berdiri kini terjatuh duduk di atas sofa, tak berdaya lagi menopang beban yang
menusuk amat tajam ke relung hati.
“Assalamu’alaikum, Aisyah. Maaf. Aku mendapat kabar
dari Zukri kalau dia membatalkan rencana taaruf ini. Dan dia tidak menyebutkan
alasannya apa. Aku juga minta maaf, tidak bisa sepenuhnya membantumu. Mohon
bersabar, ini ujian dari Allah. Tegarkan hatimu, Aisyah. Wassalam....
Pesan
singkat itu dari Rifa. Singkat dan sangat membuat gemuruh hati ini runtuh.
Hancur menjadi kepingan tak berarti lagi. Hujan turun menyertai deras air mata
yang mengalir. Dan waktu itu, rencana pertemuan itu, seakan hanya ilusi yang
menyenangkan sesaat. Berjuta tanya terbesit dalam pikiran. Apa? Kenapa?
Bagaimana bisa terjadi?
Aku tak
kuasa menahan lagi, tak kuasa membalas pesan dari Rifa. Berharap itu juga hanya
ilusi, hanya mimpi! Tak peduli kalimat tanya yang keluar dari ayah dan ibu. Aku menghambur ke kamar, tubuhku
terguncang dalam isak tangis yang terbekap bantal kesayangan.
Ketukan pintu
kamar dan suara orang tuaku memanggil kuabaikan.
Rasanya belum sanggup untuk menceritakan semua ini. Begitu cepat kebahagiaan
itu berlalu, berganti menyayat sembilu. “Ayah... Ibu... Aku ingin sendiri dulu,
aku ingin meredam rasa yang seakan putus asa.” Lirih hati menjawab panggilan
dari mereka.
Hujan
semakin deras menguyur pagi itu, awan kelabu menutupi mentari hangat yang tadi
bersinar binar. Wajah cerahku kini serupa dengan mentari tertutup awan kelabu.
Apa lagi hatiku, serentak dengan gemuruh yang terdengar dari langit.
Menggelegar. Sungguh sangat mendukung suasana hati ini. Aku masih terhanyut
dalam isakan.
Dalam diam,
dalam hujan, dan masih dengan terisak. Aku berdoa, semoga ini jalan terbaik
untukku ataupun untuknya. Jika memang akan disatukan, pasti ada jalan untuk
pertemuan menuju ikatan halal yang diidam-idamkan. Jika pun tidak, ini cara dan
rencana terindah dari-Nya. Akan ada sesuatu yang lebih indah dari semua ini.
Aku
tersadar, tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan dan rasa kecewa. Semua pasti
ada hikmahnya. Semua akan lebih indah dari apa yang dibayangkan. Harus bangkit
lagi, bukankah hatiku sudah terlalu kuat untuk merasakan patah berkali-kali.
Untuk orang yang dulu kucintai saja, aku sanggup merelakan. Apalagi ini yang
belum sempat bertatap muka.
Aku juga
sudah menjelaskan pada orang tuaku perihal kemarin. Tentu mereka juga merasa
kecewa dan juga sedih, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa selain
mendoakann anaknya untuk selalu kuat dan tegar. Namun pada kak Putra, aku belum
menjelaskan.
Dan baru
berniat untuk menceritakan perihal kemarin pada kak Putra. Ponselku sudah mendapat
pesan duluan darinya. Isinya tentang penyampaian kata maaf dariku untuk Ahmad
telah disampaikannya tadi pagi, dan Ahmad juga telah menerima keputusanku.
Pada
akhirnya, aku menceritakan kejadian kemarin. Tak jauh beda perasaan kak Putra
dengan orang tuaku, di pesan terakhir kak Putra berkata: mungkin ini jalan yang
Allah tunjukkan, bahwa Ahmad lah yang berhak kamu pilih. Tapi bagaimana? Apakah
etis jika meminta kembali padanya untuk melanjutkan rencana taaruf itu.
Aku sudah
merasa kecewa dengan Zukri, aku juga takut Ahmad malah balik mengecewakan. Apa
salahnya mencoba, mungkin benar yang dikatakan kak Putra, ini jalan dari Allah
untuk kembali pada Ahmad. Tapi untuk saat ini biarlah dulu, aku ingin
menyakinkan hati kembali dan meminta petunjuk terbaik dari-Nya.
Sekolah
masih sepi sekali. Waktu masih menunjukkan pukul 13.00. Hanya ada beberapa murid
yang datang saat aku sampai dan memarkirkan kendaraan di tempat parkir. Menyelusuri
koridor untuk menuju ruang guru. Hari ini aku sengaja datang lebih awal.
Menarik
gagang kunci pintu tralis ruang guru dan membukanya. Lengang. Hanya bau wangi
pengharum ruangan menyeruak hidung. Bersih dan rapi ruangan itu, membuat nyaman
perasaanku. Namun tidak sepenuhnya nyaman. Ada sesuatu hal yang sejak kemarin aku
tunggu.
Penjelasan
mengenai kejadian kemarin dari Rifa. Hatiku begitu terombang-ambing, masih ada
yang menganjal rasanya. Untuk menetralkan hati, aku membuka laptop dan menulis.
Ya kebisaanku sekaligus hobi yang sudah lama ditekuni.
“Hei!” tegur
seseorang, aku masih menatapa layar laptop.
“Bu Aisyah!”
suaranya agak dikeraskan dan akhirnya berhasil membuatku mendogakkan kepala.
“Oh, kamu
rupanya. Ada apa memanggilku, Bu Rifa?” tanyaku, melanjutkan mengetik di laptop.
“Sungguh apa
duniamu hanya berkutat dengan benda itu?” Rifa bukannya menjawab pertanyaanku
malah balik bertanya.
“Baiklah,”
ujarku mengerti maksud Rifa dan menutup laptop.
“Ck Ck.” Rifa menggelengkan kepala
melihat tingkahku.
“Tumben
cepat sekali kamu sampai sekolah?” Rifa bertanya saambil melihat jam yang melingkar
di tangannya.
“Seharusnya
aku yang bertanya seperti itu ke kamu, Bu Rifa.”
“Haha. Iya,
benar juga.” Rifa tertawa melihat ekspresiku yang muram.
“Ada yang mau
aku bicarakan mengenai Zukri.” Rifa bersikap tenang sambil memperbaiki posisi
duduknya.
“Gimana cerita sebenarnya, Fa? Insya
Allah aku sudah terima apapun itu,” ucapku tak kalah seriusnya.
“Sebelumnya
aku mewakili Zukri minta maaf padamu. Langsung to the point saja ya. Mengingat sebentar lagi masuk dan guru-guru
yang lain sudah banyak yang berdatangan,” jelas Rifa.
“Baik,”
jawabku singkat. Ada perasaan tidak enak di hati. Degupan jantung berpacu cepat
mengalahkan detik jarum jam.
“Mmm begini.
Zukri nggak bisa melanjutkan taaruf sama kamu karena ternyata orang tuanya
menjodohkan dia dengan teman dekat mereka..” Rifa menjelaskan apa yang
dipesankan oleh Zukri.
Mendengar itu
sontak hatiku kaget bukan main. Kecewa tentu menyelusup dan kentara dari raut
wajah. Tapi di depan Rifa, aku harus tetap tegar dan tidak menyalahkan siapa
pun. Mungkin ini keputusan terbaik dari Zukri dan ujian kesabaran dari Allah
yang diberikan padaku.
“Oh,
baiklah. Insya Allah aku sudah terima keputusannya. Mungkin ini jalan terbaik
bagi kami.” Aku menanggapi sambil tersenyum yang sedikit dipaksakan.
“Aku juga
minta maaf, Syah. Aku nggak mungkin memaksa karena itu sudah keputusan dari
orang tuanya.”
“Nggak masalah.
Aku hanya ingin saja tahu alasannya kenapa tiba-tiba membatalkam pertemuan itu.”
Teettt!!
Bunyi bel
masuk. Para guru dan murid-murid segera masuk ruangan. Begitu juga kami.
Beranjak dari duduk dan keluar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar