Halaman

Jumat, 10 April 2020

Tulang rusuk yang Patah


11
Gerimis Panas

Terkadang ada rasa keterpaksaan, kejenuhan, dan bimbang antara lanjut atau tidak. Tapi seiring berjalannya waktu aku lulus dan selesai sudah aral rintangan selama perkuliahan mengahadapi tumpukan rumus-rumus.

Perjuanganku selama ini tidak sia-sia meski harus jatuh bangun mengejar ketertinggalan. Kulakukan semua karena orang tuaku yang juga berjuang susah payah demi aku.

Hari ini adalah hari paling bersejarah untuk pertama kalinya bagiku. Berjalan menuju podium untuk memindahkan tali toga dari sebelah kiri ke kanan. Simbol bahwa mahasiswa sudah dianggap lulus dan siap untuk terjun ke masyarakat.

Tali toga yang pada awalnya ditaruh di samping kepala sebelah kiri dan oleh rektor akan dipindahkan ke bagian kanan. Tali toga pada sebelah kiri artinya selama menjadi mahasiswa, bagian otak yang dipakai mahasiswa kebanyakannya adalah otak kiri di mana otak itu berhubungan dengan bahasa juga hafalan.

Ketika tali toga dipindahkan dari samping kiri kesamping kanan, itu diartikan agar setelah lulus para sarjana tidak hanya menggunakan otak kirinya, melainkan harus lebih banyak menggunakan otak kanan. Otak kanan itu sendiri berhubungan dengan daya imajinasi, kreativitas juga inovasi seseorang.

Hal ini juga berhubungan dengan jenis pekerjaan yang harus dipilih oleh para lulusan. Yang diharapkan setelah lulus adalah mereka para sarjana tidak hanya menggunakan otak kiri yang hanya berkerja pada orang lain, tapi harus bisa berpikir kreatif, imajinatif dan inovatif dan menggunakan otak kanan untuk menciptakan pekerjaan sendiri.

Senyum bahagia, bangga sekaligus haru menyelimuti hati para sarjana. Keluarga sanak saudara yang turut hadir tak luput dari ucapan selamat. Ah, apa lagi bagi para orang tua, tentu mereka sangat-sangat bahagia dan bangga atas pencapaian anaknya. Dan orang tuaku salah satunya.

Setelah acara selesai, beribu orang luber memenuhi kampus. Mereka sibuk berfoto ria, ada yang memilih foto dengan latar belakang auditorium atau bagian depan rektorat. Stand-stand studio foto berebut merayu para pengunjung untuk foto keluarga. Berbagai  pernak-pernik wisuda berjejer rapi sepanjang tenpat yang telah disediakan. Tak kalah juga stand makanan dan minuman memenuhi arena.

Setelah puas melepas kebahagiaan bersama Tuti dan Vina juga yang lain. Aku keluar dari auditorium mencari keluarga dan para sahabatku. Mereka ternyata sudah menunggu kehadiranku. Menyambut dengan ucapan selamat. Kupeluk erat mereka satu persatu.

Namun sayang, di balik kebahagiaan ini ada kesedihan yang menyelinap hatiku. Setelah perpisahan terkahir bersamamu beberapa waktu lalu, jelas kamu tak datang dalam acara wisudaku. Beralasan jika kamu sibuk bekerja. Aku mengerti, posisi kami sekarang.

Terlepas dari itu semua. Aku tetap bahagia, ada orang tuaku, kakak dan sahabat yang menemani hari bersejarah ini. Dan perpisahan lagi-lagi terjadi. Sebelum pulang, aku, Tuti dan Vina melepas pertemuan kami yang terakhir. Jarak dan waktu akan membuat kami terpisah setelah ini.

Tak ada lagi kebersamaan saat menghadapi sibuknya perkuliahan, tak ada lagi senda gurau antara kami. Indahnya persahabatan, kami masuk kuliah bersama dan lulus pun bersama.

Beberapa bulan telah berlalu. Aku sudah fokus kembali bekerja. Aku bekerja di sebuah Madrasah dekat rumah, yang mana dulu sewaktu kecil aku juga bersekolah di sana. Sewaktu kuliah, aku harus membagi waktu dengan pekerjaanku. Meski dengan jurusan Pendidikan Matematika, sejak semester dua perkulihan aku sudah bekerja di sana. Setidaknya bisa membantu pengeluaranku saat kuliah.

Satu hal yang tak kuduga sebelumnya. Aris kembali menghubungiku.

“Assalamu’alaikum ...,” sapamu di seberang telpon.

“Waalaikumussalam ...” Aku menjawab salammu dengan debaran hati yang tak tentu. Ada apa gerangan?

“Apa kabar?” tanyamu lagi.

“Alhamdulillah, aku baik,” balasku sambil menetralkan rasa.

“Syukurlah. Ada yang ingin aku sampaikan.”

“Apa?” tanyaku berusaha untuk tenang.

“Minggu depan aku akan melamar perempuan itu.” Napasku tercekat, sesak lagi-lagi menyusup dada.

“Oh, selamat, ya,” sahutku patah-patah.

“Terima kasih ... Maaf, aku nggak berniat membuka luka lama. Tapi aku hanya menepati janji.”

Aku tahu dan aku ingat ucapanmu. Kamu berjanji padaku jika nanti kamu akan menikah dengan perempuan itu, orang yang pertama akan kamu beri kabar adalah aku.

“Kamu nangis?” tanyamu lagi karena aku hanya diam di sini.

“Mmm ... Nggak. Mungkin aku menangis bahagia dan haru karena kamu sebentar lagi akan menikah,” ucapku menahan agar air mata ini tak tumpah semakin banyak.

“Aku juga mohon doa dan restu padamu. Semoga inilah jalan yang terbaik.”
“Tentu aku merestui kalian. Aku bahagia asal kamu juga bahagia.”

“Terima kasih sekali lagi. Dan aku juga harap kamu datang di hari pernikahanku.” Permintaanmu untuk sekarang rasanya sulit aku kabulkan. Luka itu belum sepenuhnya sembuh.

“Insya Allah.” Hanya itu yang dapat kuucapkan.

“Baiklah. Kutunggu kedatanganmu, ya. Dan selamat atas gelar sarjana yang telah kamu peroleh. Maaf aku nggak bisa datang.” Harapan dan ucapan selamat darimu, membuat sesakku mereda. Kamu masih mengingat aku.

Tak apa. Tak jadi masalah untukku. Selagi tak ada yang kamu bawa pergi dariku. Hatiku masih utuh meski sempat terguncang karena kepergianmu. Hanya patah, Tidak sampai hancur berkeping-keping. Nanti bisa kuperbaiki sendiri.

Waktu berlalu begitu cepatnya. Tak terasa kesibukanku telah membuatku lupa denganmu. Bukan lupa, hanya tak ingin untuk mengingat. Biarlah semua reda dengan sendirinya. Biar semua luka itu berangsur sembuh.

“Kamu nggak kenapa-kenapa ‘kan, Syah?” tanya Eno saat tahu kabar tentang kamu akan menikah.

“Aku baik, kok. Aku sudah tahu semua darinya . Kamu nggak usah cemas.” Aku tersenyum, senyum tak kubuat-buat lagi.

Hari ini aku datang untuk melihatmu menjadi seorang imam bagi perempuan itu yang akan menjadi istrimu.

Awan kelabu masih berarak serentak dengan jatuh rintiknya. Mega biru secerah mentari yang menemani. Seulas senyum keikhlasan membalut perih hatiku, yang sedari tadi hanya duduk terpaku, menunduk. Menahan agar rintik di kelopak mataku tak ikut jatuh.
Cuaca hari ini sama persis dengan apa yang kurasa. Gerimis, panas,  mendung, namun masih ada mentari yang menyinari.

Satu tarikan nafas mengucap janji suci telah tunai. Lelaki itu kini telah sah menjadi seorang suami. Uluran tangan untuk menyambut salam takzim dari wanita sahnya. Kecupan hangat mendarat di pucuk kepala, menguarkan desir panas di hati.

Sekelabat adegan itu tertangkap oleh ekor mataku yang sedari tadi tak ingin bersitatap. Bulir hangat tak terasa telah merayapi pipi.

Akulah kini seorang diri yang menanggung rasa perih itu. Bertahun-tahun lelaki itu bersamaku, namun bukan dia yang berjabat tangan dengan ayahku. Ada tembok yang amat kokoh sehingga aku tak bisa menghancurkannya. Meski sama-sama berkorban merelakan perpisahan terjadi. Hanya aku yang benar-benar merasa kepingan hatiku hancur.

Kamu adalah lelaki yang tak bisa kumiliki seutuhnya. Keputusan yang amat berat saat kamu berucap orang tuamu  memilih wanita itu di banding aku. Wanita yang kini akan mengantikan posisiku, memiliki kamu seumur hidup.

Inilah badai terdasyat bagiku. Senyum kebahagiaan mengembang dari pasangan itu. Usai acara aku menguatkan hati dan raga, serta senyum di bibir untuk mendorong kata selamat keluar dari mulutku.

Setidaknya aku bisa berdamai dengan hatiku yang bergejolak menahan semua sesak yang di rasa. Tak terhitung berapa kali aku harus berkata pada hati untuk selalu kuat dan sabar.

Takdir telah berpihak untuk tidak mengizinkan kamu menjadi milikku. Maka hanya pasrah lillahita’ala yang bisa kuperbuat. Akan ada yang lebih baik selepas kehilangan. Kebahagian yang sesungguhnya telah menanti untuk di jemput.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar