
10
Di
Persimpangan Jalan
“Maaf
... belakangan aku seolah tak peduli denganmu,” ucapmu dengan penuh rasa
penyesalan.
“Mungkin
ini yang terbaik,” sahutku.
“Maksudmu,
Ai?” tanyamu, menangkupkan kedua tangan di atas meja.
“Iya,
bukankah sudah jelas. Kita nggak bisa memaksakan ego,” jawabku serius.
“Maaf
...” Entah berapa kali kata maaf keluar dari mulutmu.
“Maaf
... Untuk apa lagi, Ris? Nggak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah terjadi.”
“Aku
memilih dia. Tepatnya, ayahku. Ayahku lebih merestui aku dengan dia.” Kali ini
aku tak mengerti siapa yang kamu maksud itu.
“Dia
siapa? Perempuan yang pernah kamu
ceritakan itu?” sesak di dada mulai menjalariku.
“Bukan
...” sahutmu pendek.
“Lalu?”
Aku mendesak meminta penjelasan.
“Sejujurnya
aku punya teman dekat perempuan. Baru beberapa bulan ini kenal,” ungkapmu
dengan nada lembut.
“Jadi
ini alasanmu menghilang beberapa bulan?” tanyaku menyelidik.
“Iya.
Aku hanya mencari jalan terbaik. Kamu tentu tahu bagaimana hubungan kita ini.
Meski begitu, aku tetap utamakan kamu, Ai. Kamu yang pertama aku minta restu
pada orang tuaku.” Aku hanya diam, mencerna baik-baik setiap kata yang kamu
ucapkan.
“Saat
aku meminta restu tentang hubungan kita, ayahku keras menolak. Aku nggak bisa
berbuat apa-apa lagi. Dengan berat, aku mengenalkan dia pada orang tuaku. Dan ternyata
ayahku langsung menyetujui, begitu juga ibuku.” Aku benci keadaan seperti ini.
Terasa sesak di dada menahan semuanya.
“Aku
memang laki-laki yang nggak baik untukmu, Ai. Aku nggak bisa mempertahankan
hubungan kita. Kalau kamu mau membenciku, silahkan, Ai, silahkan. Aku pantas
dibenci olehmu.” Aku terkejut saat kamu menarik tanganku, melayangkan ke arah
pipimu. Aku tak bisa, kukeraskan tangan ini agar tak sampai menampar pipimu.
“Aku
nggak bisa melakukan itu, Ris. Seberapa besar kesalahanmu, aku nggak bisa benci
kamu. Rasa cintaku mengalahkan semuanya,” suaraku sedikit meninggi, orang-orang
terlihat heran dengan tingkah kami.
Untunglah
suasana cafe hari ini lumayan sepi. Hanya ada beberapa orang yang berkunjung. Lagi
pula tempat duduk kami lumayan jauh dari orang-orang. Beberapa remaja tanggung
bergerombol di luar cafe.
“Kamu
menangis, Ai?” tanyamu ingin menyeka air mataku yang sedikit demi sedikit turun
tak sanggup aku tahan.
“Mungkin
tangis kebahagiaan,” jawabku membiarkan tanganmu mengahpus air mataku.
“Kenapa?”
“Aku
bahagia sudah membersamaimu sejauh ini. Meski akhirnya ...”
“Kamu
tetap cinta pertamaku. Nggak ada yang bisa membuatku lupa akan kenangan kita,”
sambungmu memegang pipiku.
“Kamu
sudah menemukan kebahagiaan yang barus, Ris. Bukan aku lagi.”
“Kamu
tetaplah kamu yang selalu aku sayang, meski nanti rasa sayangku nggak bisa
lebih. Seperti dulu sebelum kita kenal. Kita hanya sebatas Kakak dan Adik.” Sesaat
hatiku tenang mendengar ucapanmu itu.
“Kamu
juga harus bahagia, Ris. Nggak akan ada lagi yang membuatmu kesal dan marah
karena sifat manjaku.” Aku tersenyum. Berusaha menghibur hatiku juga hatimu.
“Aku
akan tetap kehilangan sosok kamu,” ucapmu lembut.
“Nggak
ada yang benar-benar merasa kehilangan, sekejap pasti terganti dengan
pertemuan.” Setidaknya aku bisa berdamai dengan hati yang bergejolak menahan
semua sesak ini.
“Aku
belum begitu mengenal dia,” ungakpamu memalingkan pandang pada orang sekitar.
“Tapi
Allah yang mengenalkan dia padamu. Allah lebih tahu dia yang terbaik untukumu,
bukan aku.”
“Aku
nggak berniat serius awalnya dengan dia. Hanya sebatas teman,” ucapmu membela
diri.
“Aku
tahu, tapi ini jalan Allah. Kamu harus ikuti, seberapa pun menyakitkan bagi
kita.”
“Baiklah,
aku akan berusaha. Mungkin memang ini yang terbaik untuk kita. Aku bukan yang
terbaik untukmu – “
“Aku
juga bukan yang terbaik untukmu,” potongku, “Tapi Allah menghadirkan yang
terbaik untuk kita.”
“Kamu
harus tetap bahagia tanpa aku. Carilah penggantiku yang lebih baik dari segala
di banding aku.” Matamu mengembun, baru kali ini aku melihatmu seperti ini.
“Terima
kasih atas semua usaha untuk membuatku bahagia. Berada di sisimu, berdampingan
denganmu, aku nyaman dan bahagia.” Lagi-lagi aku tak sanggup membendung air
mataku.
Kami
sama-sama menghembuskan napas. Menetralkan rasa yang harus dipadamkan saat itu
juga. Sama-sama tersenyum meski senyum itu tak seindah dulu. Duduk bersama
bukan lagi membahas masa depan tentang kita. Tapi membahas masa depan
masing-masing.
Di Persimpangan Jalan
Bersama sang waktu
Mempertemukan ku dengan sosok itu
Menjadikan aku dan kamu
Yang ku bilang tak ada kata jemu
Di persimpangan jalan kita bertemu
Menautkan hatiku dan hatimu
Berjalan beriringan menapaki lika
liku
Tak terasa hatiku makin terpaku
Seiring waktu berjalan
Pun sampai pula di persimpangan
jalan
Melepaskan jemari yang saling
bertautan
Meninggalkan hati yang penuh
goresan
Di persimpangan jalan kita harus berpisah
Mengacau angan yang penuh dengan
kisah
Kisah yang tak sampai dengan mimpi
yang membuncah
Sungguh hati siapa yang tak patah
Kini jalan kita telah berbeda
Kau berbelok untuk menapaki jalan
bersamanya
Meski terasa menyesakkan dada
Ku yakin ini rencana terbaik
dari-Nya
“Terima
kasih untuk waktu yang selalu kamu beri untukku,” ucapku saat kami akan
berpisah untuk terakhir kalinya.
“Aku
yang seharusnya berterima kasih padamu. Terima kasih telah membersamaiku selama
ini,” balasmu.
Kami
berpisah di persimpangan jalan. Menyusuri sendiri tapak demi tapak. Terima kasih
sudah pernah menguatkan, terima kasih untuk semua hal yang kamu berikan. Canda,
tawa, luka, sedih. Semua kujalani bersamamu. Dan terima kasih telah menemani
hidupku yang pada akhirnya kita juga harus berpisah, saling melepas,
mengikhlaskan perasaan masing-masing.
Aku sadar,
benar-benar sadar. Tak boleh mencintai dan membenci sesuatu secara berlebihan.
Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Boleh jadi apa yang kau
cinta tak baik untukmu dan boleh jadi apa yang kau benci amat baik untukmu.
Mencintai sewajarnya dan membenci secukupmya terhadap apapun dan siapapun itu.
Langkah kaki
yang tak bisa kuhentikkan. Mulai terpisah jarak, ruang dan waktu. Hanya doa dan
air mata yang mengiringi kepergianmu. Aku hargai semua keputusanmu. Semoga kamu
bahagia bersamanya seumur hidupmu. Jaga dia seperti kamu pernah menjagaku.
Kepergianmu
Aku yang lebih dulu mengenalmu
Menemani di sepanjang harimu
Menjadi pelangi indah di matamu
Melukis senyum di setiap kita
bertemu
Dan di saat kau mengenal dirinya
Menempatkan aku di hatimu
bersamanya
Rasa sesak dada tak kuat menahannya
Ku pilih pergi membiarkan kau
bersamanya
Ku tahu jalan ini terpaksa kau
tempuh
Dengan perasaan yang bergemuruh
Membuat pondasi ikatan menjadi
runtuh
Tak kuat menyuarakan hati untuk
tetap teguh
Aku rela kau tinggalkan
Ku korbankan hati dan perasaan
Biarlah melayang bersama
angan-angan
Meski berat hati dengan semua
keputusan
Terimalah semua keputusan orang
tuamu
Aku disini baik-baik saja tanpamu
Meski masih dengan mimpi yang semu
Ku yakin akan ada penggantimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar