Halaman

Rabu, 08 April 2020

Tulang Rusuk yang Patah


9

Ada titik aku merasa hanya butuh diriku sendiri. Memeluk diriku sendiri. Menenangkan kegelisahan yang ada di dalam dada. Meyakinkan bahwa kecemasan-kecemasan akan segera reda. Lalu megajarkan bibirku tersenyum – apa pun yang sedang dijalani.

Aku butuh kekuatan dari dalam diriku sendiri; yang menguatkan dalam segala suasana. Tidak akan menjatuhkan dan merendahkan meski aku gagal mendapatkan apa yang aku cita-cita. Bukan gagal kurasa, hanya Allah tahu mana yang lebih baik untukku.

Mungkin benar, aku memang hanya butuh diriku sendiri. Mendekap semua impian yang dimiliki. Yang masih jauh, yang sudah hampir didekap, yang masih harus diperjuangkan. Maka, kuatlah diriku. Jalan ini masih butuh semua keyakinan itu.

Terkadang. Semua terasa sulit untuk terus melangkah, rapuh, jatuh, dan tak ingin lagi bangkit, seperti belenggu menggelayuti kaki, seperti kabut yang menyesakkan nafas. Terkadang ingin menghentikan semua ini, berjalan sendiri semauku.

Ya Rabb. Jika semua ini adalah rasa yang Engkau hadirkan dalam hatiku, aku mohon jagalah hatiku dari gejolak egoku, tuntulah aku dalam jalan lurus-Mu. Aku mencoba untuk selalu mendekat pada-Mu, mencari Rida-Mu.

Kamu.... Kamu yang ada tapi tidak pernah hadir di hadapanku, kita saling kenal dari beberapa tahun yang lalu sampai detik ini, sampai kamu membuat aku bisa menumbuhkan rasa yang dari pertama mengenalmu sedikit demi sedikit singgah di hati ini.

Ini sama sulitnya seperti aku dengan sengaja menikam dan mengubur hidup-hidup segala rasa. Aku menjadi tersangka karena kesalahan sendiri, dan mendekam dalam penjara yang sunyi, dingin dan terdiam sendiri.
“Ada hal yang belum kamu ketahui dariku, Ris.” Melanjutkan bicaraku, menatapmu, tersenyum tipis.

“Apa?” tanyamu mngerutkan dahi.

“Kamu ingat aku pernah kecelakaan?”

“Iya, jelas aku ingat. Memang kenapa?” tanyamu masih penasaran.

“Karena kejadian itu ... menyebabkan tulang rusukku patah,” jawabku. Mengingat kembali bagaimana dokter saat itu memvonis.

Hari itu aku tak sanggup lagi rasanya menahan sakit dan nyeri di sekujur punggungku. Ibu tentu cemas dengan kondisiku ini. Entah apa sebabnya, gejala ini mulai terasa saat aku terlalu sibuk dengan aktifitas kuliahku.

Mengejar target agar aku bisa wisuda tahun ini. membuat tenagaku terkuras habis. Setiap hari beban berat yang ada di tas punggungku selalu menemani kemana pun aku beraktivitas di kampus. Sebuah skripsi yag nantinya akan kupersembahkan untuk kedua orang tuaku

Untungya aku sekarang pergi dan pulang kampus mengendarai motor sendiri. Itu hasil nekad saat aku berbeda jadwal kuliah dengan Rifa, memaksaku untuk berani mengendarai motor sendiri ke kampus.

Ibu sudah melarang, bilang baiknya ayah saja yang mengantarku. Namun aku takut telat jika harus menunggu ayah pulang dari kebun. Dengan terpaksa ibu mengizinkan aku mengendarai motor. Sejak itulah aku bebas, tidak tergantung lagi dengan Rifa.
“Apa kamu mengalami (benturan) dada, seperti akibat jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor, atau benturan saat berolahraga dalam waktu dekat ini?” tanya dokter setelah melihat hasil rontgen yang telah kujalani beberapa hari yang lalu.
“Iya, Dok. Tapi itu beberapa tahun yang lalu,” jawabku yang duduk di kursi pasien dengan ayah.

“Memangnya anak saya kenapa, Dok?” tanya ayah tanpak cemas.

“Jadi seperti ini, hasil rontgen menunjukkan bahwa ada tulang rusuk yang patah di bagian punggung dan dada sebelah kanan,” jelas dokter sambil memaparkan selembaran foto hasil rontgen.
Foto Rontgen adalah prosedur pemeriksaan dengan menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik guna menampilkan gambaran bagian dalam tubuh. Gambaran dari benda padat seperti tulang atau besi ditampilkan sebagai area berwarna putih, sedangkan udara yang terdapat pada paru-paru akan tampak berwarna hitam, dan gambaran dari lemak atau otot ditampilkan dengan warna abu-abu. Dalam beberapa jenis foto Rontgen, digunakan tambahan zat  pewarna  (kontras) yang diminum atau disuntikkan, misalnya iodine atau barium, untuk menghasilkan gambaran yang lebih detail.
Aku mengeluhkan beberapa gelaja sakit seperti ditusuk pada bagian tulang rusuk belakang. Jika bergerak kadang-kadang terasa tertusuk. Maka dari itu dokter mengharuskan untuk menjalani rontgen.
Aku hanya bisa terduduk lemas saat dokter mengatakan hasil pemeriksaan hari ini. Selama ini aku mengira sakit ini hanya sekadar sakit karena terlalu lelah dengan aktivitas sehari-hari.

“Lantas bagaimana, Dok?” Ayah tetap tenang meski kutahu jauh dalam hatinya pasti sedih.

“Banyak kondisi tulang rusuk patah yang hanya retak. Meskipun hanya retak, kondisinya tetap menyakitkan sekalipun potensi bahayanya tidak sebesar tulang rusuk yang patah menjadi beberapa bagian. Ujung tulang patah yang bergerigi dapat merusak pembuluh darah utama atau organ dalam, seperti paru-paru.” Penjelasan dokter membuatku semakin kalut. Serasa hilang harapan untuk melanjutkan hidup.

“Apa anak saya bisa disembuhkan, Dok?” Besar harapan ayah agar anaknya ini bisa sembuh seperti semula.

“Dalam kebanyakan kasus, patah tulang rusuk biasanya sembuh dengan sendirinya dalam satu atau dua bulan. Tulang rusuk melindungi organ dalam, terutama paru-paru. Untuk itu, mengatasi nyeri yang tepat saat kondisi patah tulang rusuk menjadi hal yang penting agar kamu tetap dapat bernapas dalam-dalam dan menghindari komplikasi paru.” Dokter memandangku dengann penuh simpati.

“Tapi kejadian kecelakaan itu sudah lama, Dok. Kenapa baru sekarang anak saya mengalami sakit dan nyeri?”

“Apa sewaktu kecelakaan dulu tidak langsung dibawa kerumah sakit?” tanya dokter menatapku dan ayah bergantian. Aku menggeleng lemah.

“Umumnya orang yang mengalami kecelakaan harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Agar segera diketahui apa ada yang serius dari bagian tubuhnya.” Aku hanya menunduk dalam. Menyesali keegoisanku dulu tak mau dibawa ke pukesmas.

“Lalu bagaimana dengan anak saya, Dok? Masih bisa sembuh, ‘kan?” Ayah terus memastikan kalau aku harus bisa sembuh bagaiamapun caranya.

“Terdapat beberapa cara pengobatan yang dapat kamu pakai untuk mengobati kondisi yang dialami ini. Yang pertama yaitu obat-obatan. Penting untuk mendapatkan pereda nyeri yang tepat. Sebab, nyeri yang muncul akibat patah tulang terutama saat kamu menarik napas dalam dapat membuat kamu bisa terkena pneumonia jika tidak ditangani. Jika obat-obatan oral tidak cukup membantu, saya menganjurkan untuk melakukan suntikan anestesi yang bertahan lama di sekitar saraf yang menopang tulang rusuk.” Ibu, ayah ... Aku tahu kalian sangat merasa terpukul dengan keadaan anakmu ini.
“Atau bisa juga melakukan terapi. Olahraga atau latihan pernapasan untuk membantu kamu bernapas lebih dalam karena pernapasan pendek dapat menempatkan kamu pada risiko pneumonia. Cara lain juga bisa digunakan untuk meringankan nyeri akibat patah tulang rusuk adalah dengan membebat dada. Hanya saja, pembebatan tidak boleh terlalu kencang karena dapat menghambat paru-paru untuk mengembang dan meningkatkan risiko terjadinya pneumonia.”
“Akan tetapi, bila tulang rusuk benar-benar patah dan ujung patahannya menusuk organ dalam, dapat terjadi komplikasi timbunan udara di rongga dada dan penimbunan darah di rongga dada. Jika seperti ini, perlu dilakukan operasi untuk memperbaiki tulang yang patah dan kerusakan pada organ dalam. Selain itu, operasi juga diperlukan bila satu tulang rusuk patah di dua tempat, sehingga ada satu ruas tulang yang terlepas dan “mengambang”. Kondisi ini disebut flail chest.”
Panjang lebar dokter memberi penjelasan pada kami. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Hanya menggeleng atau mengangguk dan senyum tipis yang kupaksanakan.
Ibu ... ayah ... aku masih bisa berlari, aku kuat untuk berjalan. Bahkan aku masih bisa tertawa lepas saat sedang berada di kerumunan teman-temanku. Terasa tak ada beban, terasa semua baik-baik saja. Namun jauh di dalam, mereka tak tahu. Dan kamu juga baru mengetahui yang sesungguhnya sekarang.

Meski rasa sakit, nyeri sering aku rasakan. Aku tak ingin membuatmu cemas. Dan mungkin inilah saat yang tepat kamu tahu.

Ini sudah menjadi jalan takdirku. Aku yakin Allah selalu menguatkan di saat aku ingin rapuh. Meski sekarang benar-benar patah, bukan hanya tulang rusukku yang patah, hatiku juga patah saat mendengar kabar seperti itu darimu.

“Jangan khawatir, aku baik-baik saja,” ucapku mengulum senyum demi melihatmu juga tersenyum. Meski kutahu kau juga merasakan kesedihan yang sama sepertiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar