Halaman

Selasa, 07 April 2020

Tulang Rusuk yang Patah



8
Kehendak Dari-Nya

“Sepertinya kamu dengan Aris semakin dekat? Apa kalian pacaran?” tanya ibuku curiga.

“Memangnya kenapa, Bu? Aku dan dia masih seperti biasa, aku menganggapnya Kakakku begitupun dia.” Aku masih menyembunyikan status hubunganku dengan Aris.

“Ibu pernah seusiamu, Nak, jadi tahu mana yang hanya berteman dan mana yang memiliki hubungan khusus. Dengar Ibu baik-baik. Ibu nggak melarang kamu dekat dengan lelaki ataupun sampai memiliki hubungan khusus, tapi Ibu minta jangan sampai kalian terikat hubungan serius, Ibu juga nggak melarang kamu dekat dengan dia.” Kali ini ibu benar-benar serius dengan ucapannya. Ada rasa menyesal menyusup hatiku.

“Tapi, Bu, aku sudah terlanjur sayang dengannya, kami saling suka, apa harus kami mengakhiri ini semua?” Aku mulai meneteskan air mata, tidak sanggup harus mendengar kenyataan ini.

“Aisyah, Ibu mengerti perasaanmu, tapi cobalah kamu pikir, Nak. Apa kata orang kalau kamu berhubungan dengannya? Pokoknya Ibu nggak setuju kalau kamu terus melanjutkan hubunganmu dengan Aris!” tegas ibu  meninggalkanku yang terus saja meneteskan air mata.

Semenjak kejadian itu, aku berusaha menjauh darimu. Tak lagi menghubungimu atau meminta bertemu. Menjalani hari dengan rasa yang entah apa namanya. Hatiku masih milikmu, rasaku juga masih untukmu. Tapi untuk urusan masa depan, aku tak berani menjamin bisa menemanimu.

Kamu pun begitu. Seakan menghilang dari pandangan. Tak juga memberiku kabar, meski aku tak ingin menghubungimu dulu, aku masih berharap kamu bertanya tentangku.
Aku tahu, kamu tidak lagi pergi jauh ke negeri orang. Terakhir bilang bahwa kamu ingin tetap di sini. menghabiskan waktu bersamaku. Namun nyatanya setelah kamu rangkai kembali kebahagiaan beberapa hari yang lalu, kini seakan kamu hancurkan lagi.

“Hanya karena merasa kehilangan sosok dia, kamu sudah ingin berputus asa. Seakan-akan hidup tak berarti lagi tanpa dia,” ujar Eno memecah kesunyian.

“Terkadang seperti itulah manusia. Tanpa sadar apa yang diperbuat menyakiti diri sendiri, keluarga dan bahkan orang lain,” sahutku tak bersemangat.

“Seandainya saja masih bisa berpikir jernih kamu pasti bisa lebih baik dari sebelumnya.” Eno melihat ke arahku. Kami duduk berseberangan di sebuah taman kecil depan rumahku.

“Mungkin aku terlihat menyedihkan sekali.” Aku berusaha tersenyum.

“Rasa sedihmu bukan tanpa maksud Allah membuatnya. Boleh jadi akan ada  hal indah di kemudian hari. Nggak ada gunanya meratapi diri, kamu hanya membuang-buang waktu tanpa berbuat apa-apa.”

“Aku hanya takut, sekaligus nggak mengerti dengan sikapnya.”

“Sudah kubilang berkali-kali. Bangkit dan melangkahlah lagi. Meski berat, meski akan banyak aral merintang teruslah optimis buang semua duka laramu.” Dulu aku yang menasehati Eno, sekarang aku yang berada di posisinya.

“Sekali lagi kuingatkan, jangan meratapi diri. Bersyukur atas apa yang telah ditetapkan untukmu meski itu bukan maumu, tapi Allah lebih tahu apa yang kamu butuhkan,” tegas Eno sebelum beranjak pulang.

Setelah Eno pamit pulang, aku langsung masuk rumah menuju kamar. Aku berdiri di depan jendela kamar, lagi dan lagi mengingat tentangmu yang selalu membayang-bayangi otakku, kebersamaan itu sepertinya tidak bisa kurasakan lagi bersamanmu, entah bagaimana kelanjutan hubungan ini.

Sunyi, sepi, sendiri tanpa ada yang menemani. Hidup serasa seorang diri dimuka bumi. Hilang arah, rasa gundah dan akhirnya menyerah. Akal kehilangan fokus sampai jiwa tak terurus. Aku tak ingin hal itu terjadi pada diriku.

Mentari pagi tersenyum hangatkan hati. Bau basah tetesan embun semerbak menyeruak indera penciuman. Udara pagi yang segar mengisi atmosfer hati yang menyesakkan. Pikiran yang lusuh terganti dengan senyuman yang membuat hati luluh.

Apa kabarmu hari ini? Ah, aku tak tahu apa jawabmu di sana, tapi yang ingin selalu kudengar semoga kamu selalu baik-baik saja.

Saat kamu datang kuberi ruang, kusambut dengan hati riang, lama berbincang mengisi waktu luang. Lelaki berpawakan sedang, sedikit tinggi dariku 10 cm, berkulit sawo matang, hidung mancung serta alis tebalnya yang hampir menyatu. Aku lagi-lagi membayangkan tentangmu.

Menyebalkan. Itu kata pertama yang kuungkap mengenai sifatnya. Bagaimana tidak, bagai diteror hantu tak bernama. Setiap hari di jejali dengan pesan-pesan aneh dari nomor yang tak kukenal. Kusebut saja nomor hantu. Untung saat itu kamu tak mengetahui atau mendengar aku menyebutnya seperti itu.

Sejak aku tertimpa musibah kecelakaan, kamu memang sering menjengukku. Tapi setiap kubahas mengenai nomor yang tak dikenal itu kamu selalu berdalih. Bilang kalau itu bukan kamu. Nyatanya di belakangku kamu tertawa girang melihat tingkah polosku ini.

Aneh memang, apa kamu juga seorang pesulap? Bagai tak gentar menghadapi lawan di medan perang yang akhirnya berhasil ditaklukan. Dasar aku, terhipnotis dengan sulapnmu serta kalah melawan rasa dan raga sehingga bisa di taklukan olehmu.

Kuyakin bendera kemenangan telah berkibar meliuk-liuk bersama senyum yang mengembang bagai kerupuk yang menyentuh minyak panas. Dan hatinya berbinar cerah mengalahkan mentari kala itu yang masih di balut awan mendung.

Sudahlah. Lupakan semua itu, aku tak ingin lagi mengingatnya. Kini, tak ada lagi kamu bertamu, tak ada lagi pesan-pesan singkat yang selalu kutunggu. Tak ada lagi kejailan-kejailan yang membuatku bersungut kesal Kamu hilang bagai ditelan bumi, kamu lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Makhluk sejenis apa kamu? Kukira kamu manusia yang tahu adab bertamu. Senja saja tahu bagaimana indahnya untuk permisi. Sedang kamu? Aroma tubuhmu saja tak tercium lagi. Apa kamu benar-benar pesulap? Bisa menghilang sekejap mata.

Hampir tiga bulan kita tak saling memberi kabar. Jangan tanya lagi soal rasaku bagaimana. Jelas tetap untukmu. Hanya saja bisa sedikit lupa karena kesibukan kuliahku. Mungkin juga kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan barumu.

Dan setelah sekian lama tak ada kabar. Hari ini kamu mengirimiku pesan, bahwa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan. Jantungku berdebar tak keruan, rasa rindu yang membuncah tak sabar lagi. Namun ada juga rasa takut, kalau saja itu tentang hubungan kita.

“Aku sudah bicarakan mengenai hubungan kita dengan orang tuaku, Ai,” ucapmu membuka pembicaraan.

“Lalu?” sahutku pendek.

Kamu hanya terdiam. Perasaanku semakin tak enak.

“Gimana, Ris.” Aku mendesak.

“Aku bingung mau memulai dari mana?” Kamu mengacak rambut yang tadi terlihat rapi menjadi sedikit berantakan.

“Apa?” tanyaku sambil menggelengkan kepala.

“Ai ...” Kamu meraih tanganku, digenggamnya erat sekali.

“Aku tahu, Ris.” Kutatap matanya yang terlihat sendu itu.

“Aku sudah berusaha untuk mempertahankan hubungan kita.” Sorot matamu mengatakan tak ingin melepasku.

“Mmm ... Emang gimana ceritanya,” tanyaku penasaran meski hatiku tak keruan.

“Kujelaskan semua tentang hubungan kita, bahwa aku ingin lebih serius denganmu.” Aku hanya mengaduk-aduk minuman di depanku. Seperti biasa, kami bertemu di cafe siang itu.
Bagaimanapun kerasnya hati untuk meminta, apalah daya jika takdir Allah lebih berkuasa,” ujarku kemudian.

“Ayahku yang lebih nggak menyetujui hubungan kita, aku nggak bisa melawan, tapi nggak sanggup juga kalau harus mengakhiri hubungan ini. Maaf aku yang telah membawamu kedalam hubungan ini, sejak awal aku sudah mengkhawatirkan ini akan terjadi, dan sekarang....”

“Nggak ada yang perlu disesali semua sudah terjadi, aku sudah merasa bahagia selama ini bersamamu, walau mungkin kita sudah tahu akhirnya bagaimana, aku sudah memikirkannya, lebih baik kita jalani saja apa yang sudah terjadi ini. Masalah hubungan kita, biarkan saja berjalan sampai waktu benar-benar memisahkan. Semua sudah ada yang mengaturnya.” Aku mencoba menenangkan hatimu walau hatiku sendiri masih sulit untuk menerima kenyataan ini.

Tak ada yang bisa melawan takdir dari-Nya. Jika Allah hanya mempertemukan tanpa menyatukan, kita bisa apa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar