8
Kehendak
Dari-Nya
“Sepertinya kamu dengan Aris semakin dekat? Apa kalian pacaran?”
tanya ibuku curiga.
“Memangnya kenapa, Bu? Aku dan dia masih seperti biasa, aku
menganggapnya Kakakku begitupun dia.” Aku masih menyembunyikan status
hubunganku dengan Aris.
“Ibu pernah seusiamu, Nak, jadi tahu mana yang hanya berteman dan
mana yang memiliki hubungan khusus. Dengar Ibu baik-baik. Ibu nggak melarang
kamu dekat dengan lelaki ataupun sampai memiliki hubungan khusus, tapi Ibu minta
jangan sampai kalian terikat hubungan serius, Ibu juga nggak melarang kamu
dekat dengan dia.” Kali ini ibu benar-benar serius dengan ucapannya. Ada rasa
menyesal menyusup hatiku.
“Tapi, Bu, aku sudah terlanjur sayang dengannya, kami saling suka,
apa harus kami mengakhiri ini semua?” Aku mulai meneteskan air mata, tidak
sanggup harus mendengar kenyataan ini.
“Aisyah, Ibu mengerti perasaanmu, tapi cobalah kamu pikir, Nak. Apa
kata orang kalau kamu berhubungan dengannya? Pokoknya Ibu nggak setuju kalau
kamu terus melanjutkan hubunganmu dengan Aris!” tegas ibu meninggalkanku yang terus saja meneteskan air
mata.
Semenjak kejadian itu, aku berusaha menjauh darimu. Tak lagi
menghubungimu atau meminta bertemu. Menjalani hari dengan rasa yang entah apa
namanya. Hatiku masih milikmu, rasaku juga masih untukmu. Tapi untuk urusan
masa depan, aku tak berani menjamin bisa menemanimu.
Kamu pun begitu. Seakan menghilang dari pandangan. Tak juga
memberiku kabar, meski aku tak ingin menghubungimu dulu, aku masih berharap
kamu bertanya tentangku.
Aku tahu, kamu tidak lagi pergi jauh ke negeri orang. Terakhir
bilang bahwa kamu ingin tetap di sini. menghabiskan waktu bersamaku. Namun
nyatanya setelah kamu rangkai kembali kebahagiaan beberapa hari yang lalu, kini
seakan kamu hancurkan lagi.
“Hanya
karena merasa kehilangan sosok dia, kamu sudah ingin berputus asa. Seakan-akan
hidup tak berarti lagi tanpa dia,” ujar Eno memecah kesunyian.
“Terkadang
seperti itulah manusia. Tanpa sadar apa yang diperbuat menyakiti diri sendiri,
keluarga dan bahkan orang lain,” sahutku tak bersemangat.
“Seandainya
saja masih bisa berpikir jernih kamu pasti bisa lebih baik dari sebelumnya.”
Eno melihat ke arahku. Kami duduk berseberangan di sebuah taman kecil depan
rumahku.
“Mungkin
aku terlihat menyedihkan sekali.” Aku berusaha tersenyum.
“Rasa
sedihmu bukan tanpa maksud Allah membuatnya. Boleh jadi akan ada hal indah di kemudian hari. Nggak ada gunanya
meratapi diri, kamu hanya membuang-buang waktu tanpa berbuat apa-apa.”
“Aku
hanya takut, sekaligus nggak mengerti dengan sikapnya.”
“Sudah
kubilang berkali-kali. Bangkit dan melangkahlah lagi. Meski berat, meski akan
banyak aral merintang teruslah optimis buang semua duka laramu.” Dulu aku yang
menasehati Eno, sekarang aku yang berada di posisinya.
“Sekali
lagi kuingatkan, jangan meratapi diri. Bersyukur atas apa yang telah ditetapkan
untukmu meski itu bukan maumu, tapi Allah lebih tahu apa yang kamu butuhkan,”
tegas Eno sebelum beranjak pulang.
Setelah Eno pamit pulang, aku langsung masuk rumah menuju kamar.
Aku berdiri di depan jendela kamar, lagi dan lagi mengingat tentangmu yang
selalu membayang-bayangi otakku, kebersamaan itu sepertinya tidak bisa
kurasakan lagi bersamanmu, entah bagaimana kelanjutan hubungan ini.
Sunyi,
sepi, sendiri tanpa ada yang menemani. Hidup serasa seorang diri dimuka bumi.
Hilang arah, rasa gundah dan akhirnya menyerah. Akal kehilangan fokus sampai
jiwa tak terurus. Aku tak ingin hal itu terjadi pada diriku.
Mentari pagi
tersenyum hangatkan hati. Bau basah tetesan embun semerbak menyeruak indera
penciuman. Udara pagi yang segar mengisi atmosfer hati yang menyesakkan. Pikiran
yang lusuh terganti dengan senyuman yang membuat hati luluh.
Apa kabarmu
hari ini? Ah, aku tak tahu apa jawabmu di sana, tapi yang ingin selalu kudengar
semoga kamu selalu baik-baik saja.
Saat
kamu datang kuberi ruang, kusambut dengan hati riang, lama berbincang mengisi
waktu luang. Lelaki berpawakan sedang, sedikit tinggi dariku 10 cm, berkulit
sawo matang, hidung mancung serta alis tebalnya yang hampir menyatu. Aku
lagi-lagi membayangkan tentangmu.
Menyebalkan.
Itu kata pertama yang kuungkap mengenai sifatnya. Bagaimana tidak, bagai diteror
hantu tak bernama. Setiap hari di jejali dengan pesan-pesan aneh dari nomor
yang tak kukenal. Kusebut saja nomor hantu. Untung saat itu kamu tak mengetahui
atau mendengar aku menyebutnya seperti itu.
Sejak aku tertimpa
musibah kecelakaan, kamu memang sering menjengukku. Tapi setiap kubahas
mengenai nomor yang tak dikenal itu kamu selalu berdalih. Bilang kalau itu
bukan kamu. Nyatanya di belakangku kamu tertawa girang melihat tingkah polosku
ini.
Aneh memang,
apa kamu juga seorang pesulap? Bagai tak gentar menghadapi lawan di medan perang
yang akhirnya berhasil ditaklukan. Dasar aku, terhipnotis dengan sulapnmu serta
kalah melawan rasa dan raga sehingga bisa di taklukan olehmu.
Kuyakin
bendera kemenangan telah berkibar meliuk-liuk bersama senyum yang mengembang
bagai kerupuk yang menyentuh minyak panas. Dan hatinya berbinar cerah
mengalahkan mentari kala itu yang masih di balut awan mendung.
Sudahlah.
Lupakan semua itu, aku tak ingin lagi mengingatnya. Kini, tak ada lagi kamu
bertamu, tak ada lagi pesan-pesan singkat yang selalu kutunggu. Tak ada lagi
kejailan-kejailan yang membuatku bersungut kesal Kamu hilang bagai ditelan
bumi, kamu lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Makhluk
sejenis apa kamu? Kukira kamu manusia yang tahu adab bertamu. Senja saja tahu
bagaimana indahnya untuk permisi. Sedang kamu? Aroma tubuhmu saja tak tercium
lagi. Apa kamu benar-benar pesulap? Bisa menghilang sekejap mata.
Hampir tiga
bulan kita tak saling memberi kabar. Jangan tanya lagi soal rasaku bagaimana. Jelas
tetap untukmu. Hanya saja bisa sedikit lupa karena kesibukan kuliahku. Mungkin juga
kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan barumu.
Dan setelah
sekian lama tak ada kabar. Hari ini kamu mengirimiku pesan, bahwa ada hal
penting yang ingin kamu bicarakan. Jantungku berdebar tak keruan, rasa rindu
yang membuncah tak sabar lagi. Namun ada juga rasa takut, kalau saja itu
tentang hubungan kita.
“Aku sudah
bicarakan mengenai hubungan kita dengan orang tuaku, Ai,” ucapmu membuka
pembicaraan.
“Lalu?”
sahutku pendek.
Kamu hanya
terdiam. Perasaanku semakin tak enak.
“Gimana,
Ris.” Aku mendesak.
“Aku bingung
mau memulai dari mana?” Kamu mengacak rambut yang tadi terlihat rapi menjadi
sedikit berantakan.
“Apa?”
tanyaku sambil menggelengkan kepala.
“Ai ...” Kamu
meraih tanganku, digenggamnya erat sekali.
“Aku tahu,
Ris.” Kutatap matanya yang terlihat sendu itu.
“Aku sudah
berusaha untuk mempertahankan hubungan kita.” Sorot matamu mengatakan tak ingin
melepasku.
“Mmm ...
Emang gimana ceritanya,” tanyaku
penasaran meski hatiku tak keruan.
“Kujelaskan semua
tentang hubungan kita, bahwa aku ingin lebih serius denganmu.” Aku hanya
mengaduk-aduk minuman di depanku. Seperti biasa, kami bertemu di cafe siang
itu.
“Bagaimanapun kerasnya hati untuk meminta, apalah daya jika takdir Allah
lebih berkuasa,” ujarku kemudian.
“Ayahku yang lebih nggak menyetujui hubungan kita, aku nggak bisa
melawan, tapi nggak sanggup juga kalau harus mengakhiri hubungan ini. Maaf aku
yang telah membawamu kedalam hubungan ini, sejak awal aku sudah mengkhawatirkan
ini akan terjadi, dan sekarang....”
“Nggak ada yang perlu disesali semua sudah terjadi, aku sudah
merasa bahagia selama ini bersamamu, walau mungkin kita sudah tahu akhirnya
bagaimana, aku sudah memikirkannya, lebih baik kita jalani saja apa yang sudah
terjadi ini. Masalah hubungan kita, biarkan saja berjalan sampai waktu
benar-benar memisahkan. Semua sudah ada yang mengaturnya.” Aku mencoba
menenangkan hatimu walau hatiku sendiri masih sulit untuk menerima kenyataan
ini.
Tak
ada yang bisa melawan takdir dari-Nya. Jika Allah hanya mempertemukan tanpa
menyatukan, kita bisa apa?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar