
11
Gerimis
Panas
Terkadang
ada rasa keterpaksaan, kejenuhan, dan bimbang antara lanjut atau tidak. Tapi
seiring berjalannya waktu aku lulus dan selesai sudah aral rintangan selama
perkuliahan mengahadapi tumpukan rumus-rumus.
Perjuanganku
selama ini tidak sia-sia meski harus jatuh bangun mengejar ketertinggalan.
Kulakukan semua karena orang tuaku yang juga berjuang susah payah demi aku.
Hari
ini adalah hari paling bersejarah untuk pertama kalinya bagiku. Berjalan
menuju podium untuk memindahkan tali toga dari sebelah kiri ke kanan. Simbol
bahwa mahasiswa sudah dianggap lulus dan siap untuk terjun ke masyarakat.
Tali
toga yang pada awalnya ditaruh di samping kepala sebelah kiri dan oleh rektor
akan dipindahkan ke bagian kanan. Tali toga pada sebelah kiri artinya selama
menjadi mahasiswa, bagian otak yang dipakai mahasiswa kebanyakannya adalah otak
kiri di mana otak itu berhubungan dengan bahasa juga hafalan.
Ketika
tali toga dipindahkan dari samping kiri kesamping kanan, itu diartikan agar
setelah lulus para sarjana tidak hanya menggunakan otak kirinya, melainkan
harus lebih banyak menggunakan otak kanan. Otak kanan itu sendiri berhubungan
dengan daya imajinasi, kreativitas juga inovasi seseorang.
Hal
ini juga berhubungan dengan jenis pekerjaan yang harus dipilih oleh para
lulusan. Yang diharapkan setelah lulus adalah mereka para sarjana tidak hanya
menggunakan otak kiri yang hanya berkerja pada orang lain, tapi harus bisa
berpikir kreatif, imajinatif dan inovatif dan menggunakan otak kanan untuk
menciptakan pekerjaan sendiri.
Senyum
bahagia, bangga sekaligus haru menyelimuti hati para sarjana. Keluarga sanak
saudara yang turut hadir tak luput dari ucapan selamat. Ah, apa lagi bagi para
orang tua, tentu mereka sangat-sangat bahagia dan bangga atas pencapaian
anaknya. Dan orang tuaku salah satunya.
Setelah
acara selesai, beribu orang luber memenuhi kampus. Mereka sibuk berfoto ria,
ada yang memilih foto dengan latar belakang auditorium atau bagian depan
rektorat. Stand-stand studio foto berebut merayu para pengunjung untuk foto
keluarga. Berbagai pernak-pernik wisuda
berjejer rapi sepanjang tenpat yang telah disediakan. Tak kalah juga stand
makanan dan minuman memenuhi arena.
Setelah
puas melepas kebahagiaan bersama Tuti dan Vina juga yang lain. Aku keluar dari
auditorium mencari keluarga dan para sahabatku. Mereka ternyata sudah menunggu
kehadiranku. Menyambut dengan ucapan selamat. Kupeluk erat mereka satu persatu.
Namun
sayang, di balik kebahagiaan ini ada kesedihan yang menyelinap hatiku. Setelah perpisahan
terkahir bersamamu beberapa waktu lalu, jelas kamu tak datang dalam acara
wisudaku. Beralasan jika kamu sibuk bekerja. Aku mengerti, posisi kami
sekarang.
Terlepas
dari itu semua. Aku tetap bahagia, ada orang tuaku, kakak dan sahabat yang
menemani hari bersejarah ini. Dan perpisahan lagi-lagi terjadi. Sebelum pulang,
aku, Tuti dan Vina melepas pertemuan kami yang terakhir. Jarak dan waktu akan
membuat kami terpisah setelah ini.
Tak
ada lagi kebersamaan saat menghadapi sibuknya perkuliahan, tak ada lagi senda
gurau antara kami. Indahnya persahabatan, kami masuk kuliah bersama dan lulus
pun bersama.
Beberapa bulan
telah berlalu. Aku sudah fokus kembali bekerja. Aku bekerja di sebuah Madrasah
dekat rumah, yang mana dulu sewaktu kecil aku juga bersekolah di sana. Sewaktu
kuliah, aku harus membagi waktu dengan pekerjaanku. Meski dengan jurusan
Pendidikan Matematika, sejak semester dua perkulihan aku sudah bekerja di sana.
Setidaknya bisa membantu pengeluaranku saat kuliah.
Satu hal
yang tak kuduga sebelumnya. Aris kembali menghubungiku.
“Assalamu’alaikum
...,” sapamu di seberang telpon.
“Waalaikumussalam
...” Aku menjawab salammu dengan debaran hati yang tak tentu. Ada apa gerangan?
“Apa kabar?”
tanyamu lagi.
“Alhamdulillah,
aku baik,” balasku sambil menetralkan rasa.
“Syukurlah. Ada
yang ingin aku sampaikan.”
“Apa?”
tanyaku berusaha untuk tenang.
“Minggu
depan aku akan melamar perempuan itu.” Napasku tercekat, sesak lagi-lagi
menyusup dada.
“Oh,
selamat, ya,” sahutku patah-patah.
“Terima
kasih ... Maaf, aku nggak berniat membuka luka lama. Tapi aku hanya menepati
janji.”
Aku tahu dan
aku ingat ucapanmu. Kamu berjanji padaku jika nanti kamu akan menikah dengan
perempuan itu, orang yang pertama akan kamu beri kabar adalah aku.
“Kamu
nangis?” tanyamu lagi karena aku hanya diam di sini.
“Mmm ...
Nggak. Mungkin aku menangis bahagia dan haru karena kamu sebentar lagi akan
menikah,” ucapku menahan agar air mata ini tak tumpah semakin banyak.
“Aku juga
mohon doa dan restu padamu. Semoga inilah jalan yang terbaik.”
“Tentu aku
merestui kalian. Aku bahagia asal kamu juga bahagia.”
“Terima
kasih sekali lagi. Dan aku juga harap kamu datang di hari pernikahanku.” Permintaanmu
untuk sekarang rasanya sulit aku kabulkan. Luka itu belum sepenuhnya sembuh.
“Insya
Allah.” Hanya itu yang dapat kuucapkan.
“Baiklah. Kutunggu
kedatanganmu, ya. Dan selamat atas gelar sarjana yang telah kamu peroleh. Maaf aku
nggak bisa datang.” Harapan dan ucapan selamat darimu, membuat sesakku mereda. Kamu
masih mengingat aku.
Tak apa. Tak
jadi masalah untukku. Selagi tak ada yang kamu bawa pergi dariku. Hatiku masih
utuh meski sempat terguncang karena kepergianmu. Hanya patah, Tidak sampai
hancur berkeping-keping. Nanti bisa kuperbaiki sendiri.
Waktu berlalu
begitu cepatnya. Tak terasa kesibukanku telah membuatku lupa denganmu. Bukan lupa,
hanya tak ingin untuk mengingat. Biarlah semua reda dengan sendirinya. Biar semua
luka itu berangsur sembuh.
“Kamu nggak
kenapa-kenapa ‘kan, Syah?” tanya Eno saat tahu kabar tentang kamu akan menikah.
“Aku baik,
kok. Aku sudah tahu semua darinya . Kamu nggak usah cemas.” Aku tersenyum,
senyum tak kubuat-buat lagi.
Hari ini aku
datang untuk melihatmu menjadi seorang imam bagi perempuan itu yang akan
menjadi istrimu.
Awan kelabu
masih berarak serentak dengan jatuh rintiknya. Mega biru secerah mentari yang
menemani. Seulas senyum keikhlasan membalut perih hatiku, yang sedari tadi
hanya duduk terpaku, menunduk. Menahan agar rintik di kelopak mataku tak ikut
jatuh.
Cuaca hari
ini sama persis dengan apa yang kurasa. Gerimis, panas, mendung, namun masih ada mentari yang
menyinari.
Satu tarikan
nafas mengucap janji suci telah tunai. Lelaki itu kini telah sah menjadi
seorang suami. Uluran tangan untuk menyambut salam takzim dari wanita sahnya.
Kecupan hangat mendarat di pucuk kepala, menguarkan desir panas di hati.
Sekelabat
adegan itu tertangkap oleh ekor mataku yang sedari tadi tak ingin bersitatap.
Bulir hangat tak terasa telah merayapi pipi.
Akulah kini
seorang diri yang menanggung rasa perih itu. Bertahun-tahun lelaki itu
bersamaku, namun bukan dia yang berjabat tangan dengan ayahku. Ada tembok yang
amat kokoh sehingga aku tak bisa menghancurkannya. Meski sama-sama berkorban
merelakan perpisahan terjadi. Hanya aku yang benar-benar merasa kepingan hatiku
hancur.
Kamu adalah
lelaki yang tak bisa kumiliki seutuhnya. Keputusan yang amat berat saat kamu
berucap orang tuamu memilih wanita itu
di banding aku. Wanita yang kini akan mengantikan posisiku, memiliki kamu
seumur hidup.
Inilah badai
terdasyat bagiku. Senyum kebahagiaan mengembang dari pasangan itu. Usai acara
aku menguatkan hati dan raga, serta senyum di bibir untuk mendorong kata
selamat keluar dari mulutku.
Setidaknya
aku bisa berdamai dengan hatiku yang bergejolak menahan semua sesak yang di rasa.
Tak terhitung berapa kali aku harus berkata pada hati untuk selalu kuat dan
sabar.
Takdir telah
berpihak untuk tidak mengizinkan kamu menjadi milikku. Maka hanya pasrah
lillahita’ala yang bisa kuperbuat. Akan ada yang lebih baik selepas kehilangan.
Kebahagian yang sesungguhnya telah menanti untuk di jemput.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar