Penulis : Gabriella Pauline Djojosaputro
Kisah ini bercerita tentang
perjuangan sepasang suami istri yang terpisah karena penculikan pada masa
penjajahan Jepang untuk bersatu kembali. Sang suami dipekerjakan sebagai
romusha, sedangkan sang istri dijadikan jugun ianfu, yaitu orang-orang yang
dipaksa untuk melayani nafsu seksual para tentara.
Aliyah adalag gadis pujaan Hasan
yang akan segera dinikahinya. Meski pada masa itu tak sedamai hati mereka, tapi
tidak menyurutkan niat untuk berlabuh membiduk rumah tangga. Esok adalah hari
yang ditunggu-tunggu oleh Aliyah. Cukuplah senyum kecil yang mengias wajahnya
demi memyabut pangeran yang di damba.
Begitu juga Hasan. Dia tak punya
pakaian mewah untuk menjadi pengantin pria, hanya baju kebesaran milik sang
ayah yang dia pakai. Tak sabar melihat senyum Aliyah menyambut dirinya. Saat
itu, 23 Januari 1944,adalah hari yang bersejarah karena dia akan mengucap janji
suci untuk menjaga Aliyah selamanya. Hanya maut yang dapat memisahkan mereka.
Janji suci telah terucap.
Kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka. Namun sayang, tak selamanya
kebahagiaan itu menetap. Kebahagiaan itu hanya singgah saat Budanco (panggilan
unttuk komandan regu) Nagata merobek setiap harapan yang baru saja digantung di
udara. Suasana menjadi hening mencekam menjalari setiap manusia yang hadir di
sana.
Pria di bawah umur 15 hingga 60
tahun dipaksa ikut ileh Budanco Akashi. Sedang para wanita umur 10 hingga 30
tahun juga dipaksa ikut Budanco Nagata. Semua tak bisa berontak, Bapak dari
Aliyah yang tak sanggup jika anaknya dibawa oleh orang-orang Jepang menuju
Surabaya. Hasan pun tak sudi jika istrinya dibawa paksa mereka.
Isak tangis, kesedihan,
ketakutan telah mengambil alih kebahagiaan hari itu. Jepang telah berkuasa,
para lelaki tak pandang tua muda, mereka menjalani hari-hari di atas tindasan.
Kerja tiada henti sampai tulang rusuk Hasan dapat dihitung yang melekat pada
daging tipisnya. Hanya kekuatan dari sebuah nama yang bisa membangkitkan
semangatnya. Aliyah.
Dia harus bertemu pujaan hatinya
lagi. Dan sebentar lagi ia 5 Komandan peleton. Melihat para romusha
bergelimpangan karena sakit. Tugas-tugas melelahkan yang ia terima selama ini
tak pernah diimbangi dengan makanan ataupun istirahat yang cukup. Kurang
istirahat. Ia harus bertahan demi mencari Aliyah ke sebuah barak militer tempat
Aliyah disekap.
Pada tanggal 14 Februari 1945
akhirnya Hasan dapat menikmati manisnya kebebasan. Dia pun berusaha untuk
mencari Aliyah. Pos informasi di seantero kota Blitar telah Hasan datangi tanpa
membuahkan hasil. Namun sejak 2 hari yang lalu 15 Agustus 1945, pos-pos
informasi Jepang ditutup. Kabarnya Jepang telah menyerah pada sekutu, sehingga
mereka menarik pasukannya dari bumi Nusantara.
Akhir dari perjuangan pencarian
Aliyah membuahkan hasil. Di hutan belantara di sebuah barak militer, Aliyah
ditemukan oleh Hasan dengan keadaan jiwa yang terguncang. Berbulan-bulan Aliyah
telah mengalami kekerasan fisik dan mental dari tentara Jepang. Dengan penuh
ketulusan dan kasih sayang Hasan tetap menerima bagaimana pun kondisi Aliyah.
Takdir berkata lain, di pelukan
Hasan, Aliyah menghembuskan napas terkahirnya. Setelah tak sanggup lagi menahan
beban yang dia hadapi selama ini. Tubuhnya kurus kering tanpa asupan makanan
yang cukup. Setelah melihat suaminya sesaat lalu pergi untuk selamanya
meninggalkan Hasan yang menangis kencang mendekap istrinya.
Tak lama kemudian, dekapan Hasan
pun mengendur, dia ikut bersama istrinya pergi. Setelah mengalami penyiksaan
dari Jepang, kini tubuhnya menyerah setelah bertemu istri tercintanya. Dua
pasangan yang berpisah kini bertemu kembali namun harus berpisah kembali karena
maut yang menjemputnya.
Cinta adalah hal yang begitu
mudah kita obral saat ini. Sedikit-sedikit bilang cinta, tak lama kemudian
melupakannya. Mencintai sesungguhnya tidak mudah, ada begitu banyak tantangan,
perjuangan, dan masalah yang harus dihadapi. Namun, cinta yang sejati adalah
suatu pemberian, bukan suatu keadaan. Ia tidak bergantung pada sikap, rupa,
ataupun kelemahan yang melekat pada seseorang karena saat memberi cinta, itu
adalah suatu pemberian yang cuma-cuma.
Cerpen ini saya ambil dari
sumber https://dokumen.site/download/cerpen-fiksi-sejarah-jaman-penjajahan-jepang-a5b39ef5a49e29
Dalam penulisan cerita, terdapat
bahasa asing yang (mungkin) tidak dimengerti oleh pembaca, namun penulis telah
menambahkan catatan kaki di setiap sudut cerita yang menggunakan bahasa asing.
Alur cerita juga mudah dipahami membuat pembaca (terutama saya) dapat
membayangkan begitu sadisnya pada masa penjajahan.
Sekian ulasan cerpen dari saya
untuk memenuhi tugas fiksi pekan ke 3.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar