Halaman

Selasa, 10 Desember 2019

Ulasan Cerpen Historical Fiction



Cerpen Pada Zaman Penjajahan Jepang
Judul Cerpen   : Mencarinya
Penulis           : Gabriella Pauline Djojosaputro

Kisah ini bercerita tentang perjuangan sepasang suami istri yang terpisah karena penculikan pada masa penjajahan Jepang untuk bersatu kembali. Sang suami dipekerjakan sebagai romusha, sedangkan sang istri dijadikan jugun ianfu, yaitu orang-orang yang dipaksa untuk melayani nafsu seksual para tentara.

Aliyah adalag gadis pujaan Hasan yang akan segera dinikahinya. Meski pada masa itu tak sedamai hati mereka, tapi tidak menyurutkan niat untuk berlabuh membiduk rumah tangga. Esok adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Aliyah. Cukuplah senyum kecil yang mengias wajahnya demi memyabut pangeran yang di damba.

Begitu juga Hasan. Dia tak punya pakaian mewah untuk menjadi pengantin pria, hanya baju kebesaran milik sang ayah yang dia pakai. Tak sabar melihat senyum Aliyah menyambut dirinya. Saat itu, 23 Januari 1944,adalah hari yang bersejarah karena dia akan mengucap janji suci untuk menjaga Aliyah selamanya. Hanya maut yang dapat memisahkan mereka.

Janji suci telah terucap. Kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka. Namun sayang, tak selamanya kebahagiaan itu menetap. Kebahagiaan itu hanya singgah saat Budanco (panggilan unttuk komandan regu) Nagata merobek setiap harapan yang baru saja digantung di udara. Suasana menjadi hening mencekam menjalari setiap manusia yang hadir di sana.

Pria di bawah umur 15 hingga 60 tahun dipaksa ikut ileh Budanco Akashi. Sedang para wanita umur 10 hingga 30 tahun juga dipaksa ikut Budanco Nagata. Semua tak bisa berontak, Bapak dari Aliyah yang tak sanggup jika anaknya dibawa oleh orang-orang Jepang menuju Surabaya. Hasan pun tak sudi jika istrinya dibawa paksa mereka.

Isak tangis, kesedihan, ketakutan telah mengambil alih kebahagiaan hari itu. Jepang telah berkuasa, para lelaki tak pandang tua muda, mereka menjalani hari-hari di atas tindasan. Kerja tiada henti sampai tulang rusuk Hasan dapat dihitung yang melekat pada daging tipisnya. Hanya kekuatan dari sebuah nama yang bisa membangkitkan semangatnya. Aliyah.

Dia harus bertemu pujaan hatinya lagi. Dan sebentar lagi ia 5 Komandan peleton. Melihat para romusha bergelimpangan karena sakit. Tugas-tugas melelahkan yang ia terima selama ini tak pernah diimbangi dengan makanan ataupun istirahat yang cukup. Kurang istirahat. Ia harus bertahan demi mencari Aliyah ke sebuah barak militer tempat Aliyah disekap.

Pada tanggal 14 Februari 1945 akhirnya Hasan dapat menikmati manisnya kebebasan. Dia pun berusaha untuk mencari Aliyah. Pos informasi di seantero kota Blitar telah Hasan datangi tanpa membuahkan hasil. Namun sejak 2 hari yang lalu 15 Agustus 1945, pos-pos informasi Jepang ditutup. Kabarnya Jepang telah menyerah pada sekutu, sehingga mereka menarik pasukannya dari bumi Nusantara.

Akhir dari perjuangan pencarian Aliyah membuahkan hasil. Di hutan belantara di sebuah barak militer, Aliyah ditemukan oleh Hasan dengan keadaan jiwa yang terguncang. Berbulan-bulan Aliyah telah mengalami kekerasan fisik dan mental dari tentara Jepang. Dengan penuh ketulusan dan kasih sayang Hasan tetap menerima bagaimana pun kondisi Aliyah.

Takdir berkata lain, di pelukan Hasan, Aliyah menghembuskan napas terkahirnya. Setelah tak sanggup lagi menahan beban yang dia hadapi selama ini. Tubuhnya kurus kering tanpa asupan makanan yang cukup. Setelah melihat suaminya sesaat lalu pergi untuk selamanya meninggalkan Hasan yang menangis kencang mendekap istrinya.

Tak lama kemudian, dekapan Hasan pun mengendur, dia ikut bersama istrinya pergi. Setelah mengalami penyiksaan dari Jepang, kini tubuhnya menyerah setelah bertemu istri tercintanya. Dua pasangan yang berpisah kini bertemu kembali namun harus berpisah kembali karena maut yang menjemputnya.


Cinta adalah hal yang begitu mudah kita obral saat ini. Sedikit-sedikit bilang cinta, tak lama kemudian melupakannya. Mencintai sesungguhnya tidak mudah, ada begitu banyak tantangan, perjuangan, dan masalah yang harus dihadapi. Namun, cinta yang sejati   adalah suatu pemberian, bukan suatu keadaan. Ia tidak bergantung pada sikap, rupa, ataupun kelemahan yang melekat pada seseorang karena saat memberi cinta, itu adalah suatu pemberian yang cuma-cuma.


Dalam penulisan cerita, terdapat bahasa asing yang (mungkin) tidak dimengerti oleh pembaca, namun penulis telah menambahkan catatan kaki di setiap sudut cerita yang menggunakan bahasa asing. Alur cerita juga mudah dipahami membuat pembaca (terutama saya) dapat membayangkan begitu sadisnya pada masa penjajahan.

Sekian ulasan cerpen dari saya untuk memenuhi tugas fiksi pekan ke 3.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar