Halaman

Senin, 02 Desember 2019

Sekeping Hati Untuk Fatimah


Sekeping Hati Untuk Fatimah
#SekepinG_HatI_UntuK_Fatimah
#Part_8

Penantian demi penantian kini terasa semakin dekat menghampiri untuk pertemuan. Meski waktu telah ditentukan, serasa lamban pula dia berjalan. Debaran hati kian tak menentu, antara bahagia dan cemas. Dadak sesak seakan kehabisan oksigen untuk bernapas. Hanya untaian shalawat peredam segala rasa.

Pukul 09.00 adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Seorang wanita berbalut gamis merah muda dengan hijab warna senada, mematung di depan cermin, perhatiannya terus tertuju pada pantulan bayangannya. Senyum manis tersungging dikedua bibir. Tak perlu riasan wajah yang terlihat ‘wah’ terpenting sederhana dan tidak memalukan.

Tubuhnya memutar mengerling jam dinding di belakangnya. Sebentar lagi, hanya beberapa menit lagi, dia yang ditunggu akan segera datang. Ah, hatinya semakin ingin keluar dari tempatnya, menari-nari dengan raut kebahagiaan. Terbayang senyuman yang akan berbalas senyuman pula. Duduk bersama membicarakan masa depan yang indah.

Tunggu ditunggu tak kunjung bertamu. Resah, gelisah tak tau arah. Sedari tadi pun kaki layaknya gosokan merapikan pakaian, panas. Berjalan mondar-mandir, sesekali mengecek ke luar rumah, barangkali yang ditunggu sedang berjalan menghampiri. Waktu telah jauh berjalan dari yang ditentukan. Hanya kebosanan yang menghampiri, menyeruap dalam hati.

Getar ponsel menyentakkan dari lamunan. Sebuah pesan singkat masuk. Debaran hati yang melaju semakin berpacu, butir hangat tak kuasa merayap di pipi mulusnya. Tubuh yang tadi berdiri kini terjatuh duduk di atas sofa, tak berdaya lagi menopang beban yang menusuk amat tajam ke relung hati.

“Assalamu’alaikum, Fatimah. Maaf. Aku mendapat kabar dari Fariz kalau dia membatalkan rencana ta’aruf ini. Dan dia tidak menyebutkan alasannya apa. Aku juga minta maaf, tidak bisa sepenuhnya membantumu. Mohon bersabar, ini ujian dari Allah. Tegarkan hatimu, Fatimah. Wassalam....

Pesan singkat itu dari Rifa. Singkat dan sangat membuat gemuruh hati ini runtuh. Hancur menjadi kepingan tak berarti lagi. Hujan turun menyertai deras air mata yang mengalir. Dan waktu itu, rencana pertemuan itu, seakan hanya ilusi yang menyenangkan sesaat. Berjuta tanya terbesit dalam pikiran. Apa? Kenapa? Bagaimana bisa terjadi?

Fatimah tak kuasa menahan lagi, tak kuasa membalas pesan dari Rifa. Berharap itu juga hanya ilusi, hanya mimpi! Tak peduli kalimat tanya yang keluar dari kedua orangtunya. Dirinya menghambur ke kamar, tubuhnya terguncang dalam isak tangis yang terbekap bantal kesayangannya.

Ketukan pintu kamar dan suara orangtuanya memanggil dia abaikan. Rasanya belum sanggup untuk menceritkan semua ini. Begitu cepat kebahagiaan itu berlalu, berganti menyayat sembilu. “Bapak... Ibu... Aku ingin sendiri dulu, aku ingin meredam rasa yang seakan putus asa.” Lirih hati menjawab panggilan dari orangtuanya.

Hujan semakin deras menguyur pagi itu, awan kelabu menutupi mentari hangat yang tadi bersinar binar. Wajah cerahnya kini serupa dengan mentari tertutup awan kelabu. Apa lagi hatinya, serentak dengan gemuruh yang terdengar dari langit. Menggelegar. Sungguh sangat mendukung suasana hati Fatimah. Dirinya masih terhanyut dalam isakan itu.

Dalam diam, dalam hujan, dan masih dengan terisak. Fatimah berdoa, semoga ini jalan terbaik untukku ataupun untuknya. Jika memang akan disatukan, pasti ada jalan untuk pertemuan menuju ikatan halal yang diidam-idamkan. Jika pun tidak, ini cara dan rencana terindah dari-Nya. Akan ada sesuatu yang lebih indah dari semua ini.

***

Fatimah tersadar, tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan dan rasa kecewa. Semua pasti ada hikmahnya. Semua akan lebih indah dari apa yang dibayangkan. Dia harus bangkit lagi, bukankah hatinya sudah terlalu kuat untuk merasakan patah berkali-kali. Untuk orang dulu dia cintai saja, dia sanggup merelakan. Apalagi ini yang belum sempat bertatap muka.

Fatimah juga sudah menjelaskan pada orangtuanya perihal kemarin. Tentu mereka juga merasa kecewa dan juga sedih, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakann anaknya untuk selalu kuat dan tegar. Namun pada kakaknya, Fatimah belum menjelaskan.

Dan baru berniat untuk menceritakan perihal kemarin pada kakaknya. Ponselnya sudah mendapat pesan duluan dari kakaknya. Isinya tentang penyampaian kata maaf dari Fatimah untuk Abdullah telah disampaikannya tadi pagi, dan Abdullah juga telah menerima keputusan Fatimah.

Pada akhirnya, Fatimah menceritakan kejadian kemarin. Tak jauh beda perasaan kakaknya dengan orangtuanya, di pesan terakhir kakaknya berkata: mungkin ini jalan yang Allah tunjukkan, bahwa Abdullah lah yang berhak kamu pilih. Tapi bagaimana? Apakah etis jika meminta kembali pada Abdullah untuk melanjutkan rencana ta’aruf itu.

Fatimah sudah merasa kecewa dengan Fariz, dia juga takut Abdullah malah balik mengecewakan. Apa salahnya mencoba, mungkin benar yang dikatakan kakaknya, ini jalan dari Allah untuk kembali pada Abdullah. Tapi untuk saat ini biarlah dulu, Fatimah ingin menyakinkan hatinya kembali dan meminta petunjuk terbaik dari-Nya.

_Bersambung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar