Sekeping Hati Untuk Fatimah
#SekepinG_HatI_UntuK_Fatimah
#SekepinG_HatI_UntuK_Fatimah
#Part_8
Penantian
demi penantian kini terasa semakin dekat menghampiri untuk pertemuan. Meski
waktu telah ditentukan, serasa lamban pula dia berjalan. Debaran hati kian tak
menentu, antara bahagia dan cemas. Dadak sesak seakan kehabisan oksigen untuk
bernapas. Hanya untaian shalawat peredam segala rasa.
Pukul
09.00 adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Seorang wanita berbalut gamis merah
muda dengan hijab warna senada, mematung di depan cermin, perhatiannya terus
tertuju pada pantulan bayangannya. Senyum manis tersungging dikedua bibir. Tak
perlu riasan wajah yang terlihat ‘wah’ terpenting sederhana dan tidak
memalukan.
Tubuhnya
memutar mengerling jam dinding di belakangnya. Sebentar lagi, hanya beberapa
menit lagi, dia yang ditunggu akan segera datang. Ah, hatinya semakin ingin
keluar dari tempatnya, menari-nari dengan raut kebahagiaan. Terbayang senyuman
yang akan berbalas senyuman pula. Duduk bersama membicarakan masa depan yang
indah.
Tunggu
ditunggu tak kunjung bertamu. Resah, gelisah tak tau arah. Sedari tadi pun kaki
layaknya gosokan merapikan pakaian, panas. Berjalan mondar-mandir, sesekali
mengecek ke luar rumah, barangkali yang ditunggu sedang berjalan menghampiri.
Waktu telah jauh berjalan dari yang ditentukan. Hanya kebosanan yang
menghampiri, menyeruap dalam hati.
Getar
ponsel menyentakkan dari lamunan. Sebuah pesan singkat masuk. Debaran hati yang
melaju semakin berpacu, butir hangat tak kuasa merayap di pipi mulusnya. Tubuh
yang tadi berdiri kini terjatuh duduk di atas sofa, tak berdaya lagi menopang
beban yang menusuk amat tajam ke relung hati.
“Assalamu’alaikum, Fatimah. Maaf.
Aku mendapat kabar dari Fariz kalau dia membatalkan rencana ta’aruf ini. Dan
dia tidak menyebutkan alasannya apa. Aku juga minta maaf, tidak bisa sepenuhnya
membantumu. Mohon bersabar, ini ujian dari Allah. Tegarkan hatimu, Fatimah.
Wassalam....
Pesan
singkat itu dari Rifa. Singkat dan sangat membuat gemuruh hati ini runtuh.
Hancur menjadi kepingan tak berarti lagi. Hujan turun menyertai deras air mata
yang mengalir. Dan waktu itu, rencana pertemuan itu, seakan hanya ilusi yang
menyenangkan sesaat. Berjuta tanya terbesit dalam pikiran. Apa? Kenapa?
Bagaimana bisa terjadi?
Fatimah
tak kuasa menahan lagi, tak kuasa membalas pesan dari Rifa. Berharap itu juga
hanya ilusi, hanya mimpi! Tak peduli kalimat tanya yang keluar dari kedua
orangtunya. Dirinya menghambur ke kamar, tubuhnya terguncang dalam isak tangis
yang terbekap bantal kesayangannya.
Ketukan
pintu kamar dan suara orangtuanya memanggil dia abaikan. Rasanya belum sanggup
untuk menceritkan semua ini. Begitu cepat kebahagiaan itu berlalu, berganti
menyayat sembilu. “Bapak... Ibu... Aku ingin sendiri dulu, aku ingin meredam
rasa yang seakan putus asa.” Lirih hati menjawab panggilan dari orangtuanya.
Hujan
semakin deras menguyur pagi itu, awan kelabu menutupi mentari hangat yang tadi
bersinar binar. Wajah cerahnya kini serupa dengan mentari tertutup awan kelabu.
Apa lagi hatinya, serentak dengan gemuruh yang terdengar dari langit.
Menggelegar. Sungguh sangat mendukung suasana hati Fatimah. Dirinya masih
terhanyut dalam isakan itu.
Dalam
diam, dalam hujan, dan masih dengan terisak. Fatimah berdoa, semoga ini jalan
terbaik untukku ataupun untuknya. Jika memang akan disatukan, pasti ada jalan
untuk pertemuan menuju ikatan halal yang diidam-idamkan. Jika pun tidak, ini cara
dan rencana terindah dari-Nya. Akan ada sesuatu yang lebih indah dari semua
ini.
***
Fatimah
tersadar, tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan dan rasa kecewa. Semua pasti
ada hikmahnya. Semua akan lebih indah dari apa yang dibayangkan. Dia harus
bangkit lagi, bukankah hatinya sudah terlalu kuat untuk merasakan patah
berkali-kali. Untuk orang dulu dia cintai saja, dia sanggup merelakan. Apalagi
ini yang belum sempat bertatap muka.
Fatimah
juga sudah menjelaskan pada orangtuanya perihal kemarin. Tentu mereka juga
merasa kecewa dan juga sedih, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa
selain mendoakann anaknya untuk selalu kuat dan tegar. Namun pada kakaknya,
Fatimah belum menjelaskan.
Dan
baru berniat untuk menceritakan perihal kemarin pada kakaknya. Ponselnya sudah
mendapat pesan duluan dari kakaknya. Isinya tentang penyampaian kata maaf dari
Fatimah untuk Abdullah telah disampaikannya tadi pagi, dan Abdullah juga telah
menerima keputusan Fatimah.
Pada
akhirnya, Fatimah menceritakan kejadian kemarin. Tak jauh beda perasaan kakaknya
dengan orangtuanya, di pesan terakhir kakaknya berkata: mungkin ini jalan yang
Allah tunjukkan, bahwa Abdullah lah yang berhak kamu pilih. Tapi bagaimana? Apakah
etis jika meminta kembali pada Abdullah untuk melanjutkan rencana ta’aruf itu.
Fatimah
sudah merasa kecewa dengan Fariz, dia juga takut Abdullah malah balik
mengecewakan. Apa salahnya mencoba, mungkin benar yang dikatakan kakaknya, ini
jalan dari Allah untuk kembali pada Abdullah. Tapi untuk saat ini biarlah dulu,
Fatimah ingin menyakinkan hatinya kembali dan meminta petunjuk terbaik
dari-Nya.
_Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar