
6
Sebuah
Kejujuran
Desir ombak
menyapa seolah tahu apa yang aku rasakan. Bersandar pada karang yang tegar,
bertengadah melihat awan yang memberi mendung. Ingin kutuliskan kata bahwa aku
rindu akan canda tawamu, berbagi atas suka duka, meneteskan air mata bersama
seolah memiliki rasa yang sama.
Ingin
kulantunkan kata lewat lisan namun bibir tak mampu berucap. Hanya terpaku, diam
dan membisu. Seakan aku tak peduli denganmu. Apalah daya jika hati ini selalu berontak
terus bertanya. Kapan waktu itu kembali? Menceritakan tentang apa saja diselingi
canda penuh bahagia.
Kini yang kurasa
hanya diam dan sunyi. Berdiam seakan acuh namun diri ini ingin tak seperti itu.
Aku hanya bingung harus memulai dari mana dan bagaimana. Dulu kuingat, kaulah
yang selalu buatku tak menjadi kesepian. Berikan aku warna begitu indah. Tangis
sendu, cerita lalu dan segala hal selalu diceritakan.
Namun kini?
Entah apa yang harus kulakukan dan katakan. Aku bagai patung yang tak berarti.
Hanya diam dan berbicara pada hati. Mengapa aku tak mampu? Ucapkan kata yang
tak pernah terucap, keinginan selalu tak didengar. Apa aku benci padamu? Tentu
tidak pernah dan tidak akan pernah.
Lama
sudah kita tak bertemu. Saling sapa pun aku tak berani memulai. Bukan, bukan
tak berani memulai, hatiku terlalu kaku untuk terbuka kembali. Dan sampai pada
akirnya perjumpaan itu terjadi.
Karena
kukira kau akan memulai kehidupanmu dengan seseorang yang baru. Tapi aku tak
pernah menduga jika pada pertemuan itu adalah suatu awal kepercayaan yang
kembali tumbuh. Kau ungkap semua yang selama itu kau simpan.
Selama
perpisahan karena jarak terjadi, aku benar-benar tak menyangka sikapmu akan
berubah. Kau bilang akan memberiku kabar setiap saat meski kesibukan kuliah
terus bergelayut. Kau bilang hatimu akan tetap terjaga meski raga berjauhan.
Tapi nyatanya. Aku tahu semuanya hari ini.
Libur
tahun baru kali ini kau mengajakku ke sebuah tempat yang dulu sering kami
datangi. Awalnya aku sempat menolak, entah kenapa, rasanya aku masih canggung
bertemu denganmu lagi. Meski suasana malam tahun baru telah mencair karena
kehadiranmu, tapi tetap saja jauh dalam hatiku masih membeku karena sikapmu
yang menurutku berubah.
“Kau
datang, Ai.” Aku tersenyum melihatnya duduk menunggu kedatanganku.
“Sudah
lama,” tanyaku sedikit canggung.
“Belum.
Duduk.” Kau memintaku duduk di sampingmu.
“Ada
apa?” Aku langsung bertanya selepas memnuhi permintaanmu untuk duduk.
“Kita
pesan makan dulu, ya.” Tanpa menunggu aku menjawab dan mengalihkan
pertanyaanku, kau melambaikan tangan kepada seorang pelayan.
Pelayan
perempuan itu menghampiri kami, tersenyum ramah dan memberikan selembaran menu.
Terlihat kau memilih-milih menu makanan dan minuman yang tertera di sana tanpa
bertanya padaku. Aku hanya diam memperhatikan.
“Semoga
kau masih suka, Ai.” Kau tersenyum setelah pelayan itu pergi untuk menyiapkan
pesanan kami.
“Suka
apa?” Aku bingung apa yang kau maksud.
“Aku,”
jawabmu dengan nada serius.
“Eh,
kenapa kau bertanya seperti itu.” Kau tampak menggaruk kepalamu yang mungkin
saja tak gatal.
“Nanti
kita bicarakan.” Kembali kami terdiam. Menikmati suasana hati masing-masing.
Kau dengan perasaanmu yang tak aku tahu, sedang aku dengan perasaanku yang dipenuhi tanda tanya tentangmu.
Caffe
ini kecil tapi lihatlah, ramai pengunjung. Suasana di sini membuat betah,
pemandangan di luar kaca terpampang indah dengan suasana alam yang asri. Kau
memilih tempat duduk di pojok caffe berdekatan dengan kaca besar. Aku melihat
ke arah luar, rinai hujan mulai membasahi dedaunan.
Selang
beberapa saat pesanan kami datang. Asap panas mengepul dari makanan yang di
antar, aromanya mengunggah selera. Ditambah minuman yang terasa menghangatkan
suasana saat ini.
Satu
porsi nasi goreng lengkap dengan topping-nya;
Baso, sosis dan suwiran daging ayam plus telur dadar serta kerupuk. Satu gelas
teh lemon hangat. Semua itu adalah menu andalanku setiap kali kau ajak ke sini.
Sedang
kau memesan satu porsi mie kuah pedas dengan telur setengah matang ditambah
satu gelas es jeruk. Dan itu adalah menu favoritmu.
Sesuai
kesepatakan, kami menyantap menu masing-masing baru membicarakan apa yang harus
dibicarakan. Disela-sela makan, kau hanya meunduk menikmati makanan, sesekali
menatap ke depan tapi pandanganmu bukan ke arahku.
Aku
jadi tak terlalu berselera menikmati makananku kali ini. Rinai hujan di luar
sana semakin membekukan suasana. Dingin. Pertemuan macam apa ini? Sungguh
sangat berbeda dari biasanya.
Makananmu
sudah tandas, kau teguk es jeruk yang tinggal separuh gelas. Melihat itu, aku
segera menyelesaikan makanku.
“Tumben?”
Kau bertanya melihat piring makananku masih tersisa.
“Aku
sudah kenyang,” jawabku tersenyum.
Susanan
hening kembali. Kau terlihat gugup, baru kali ini aku melihat tingkahmu seperti
itu.
“Ada
apa?” Aku tak tahan untuk tidak bertanya.
“Mmm
... Aku ...”
“Ayolah,
Ris ... Apa sebenarnya yang kau ingin bicarakan?” Aku menatap dalam matamu.
“Apa
kau masih merindukanku, menyayangiku? Walau aku sempat menjauh darimu ... Apa
kau terlihat jahat terhadapmu?” Kau mencecar pertanyaan yang seharusnya kau
tahu jawabannya.
“Kenapa
kau bertanya seperti itu? Jelas bukan aku masih di sini bersamamu, masih mau
bertemu denganmu.” Aku berusaha membuatmu yakin dengan perkataanku.
“Bagaimana
perasaanmu? Apa masih sama seperti dulu?” Lagi-lagi kau mempertanyakan soal
perasaan.
“Apa
tak cukup bukti selama ini bahwa aku selalu menunggu waktu bersamamu, Ris?”
“Setelah
kau tahu sebenarnya, apa masih sama perasaanmu terhadapku?” Sungguh kau semakin
berbelit-belit.
“Sebenarnya
apa!” Aku sedikit meninggikan suara.
“Aku
pernah menduakanmu di saat jarak dan waktu memisahkan kita.” Kalimatmu kali ini
sukses menggores bagian yang paling rapuh. Hati.
Kau
menunduk, aku mengalihkan pandang darimu. Tiga tahun kau pergi ke negeri orang,
meninggalkan aku di sini, bertahan dengan perasaan yang selalu merindukanmu.
Ini balasanmu terhadapku.
“Aku
menyesal, aku tahu, aku telah menyakiti hatimu. Sungguh aku minta maaf.” Kau
menarik tanganku, berusaha untuk mengenggam jemariku.
“Lalu,
kenapa kau kembali? Apa kau kembali hanya untuk menyakitiku lagi?” Aku menarik
genggaman jemarimu dariku.
“Bukan.”
Kau hanya menggeleng.
“Kau
ingin menikahi perempuan itu?”
“Jujur,
aku masih sangat menyayangimu. Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Dulu,
kupikir hubungan kita tak seharusnya dijalani. Kau juga tahu itu. Tapi
nyatanya, aku tak pernah bisa melupakanmu. Dan tentang perempuan itu, aku juga
tak lama berhubungan dengannya. Hatiku, perasaanku masih untukmu. Aku sungguh
tak bisa berpaling darimu.”
Panjang
lebar kau menjelaskan. Pernah aku meminta lebih padamu? Pernahkah aku mengharap
lebih tentangmu. Itu tak pernah terbesit dalam pikiranku. Tak pernah ingin kau
menjadi orang lain bagiku. Hanya satu hal yang ku pinta darimu yaitu waktumu. Tapi
nyatanya kau dibelakangku meyisihkan waktu untuk orang lain.
“Ai
... kumohon.”
“Aku
sungguh masih menyayangimu, ingin berarti untukmu. Aku diam bukan tak rasakan,
tapi hanya bimbang apa yang harus kulakukan. Hati begitu sulit berdamai dengan
jalan pikiranku yang selalu inginkanmu.” Kalimat itu meluncur bebas dari
mulutku.
“Aku
berjanji, kali ini aku benar-benar ingin menjalani hubungan yang serius
denganmu. Kumohon, percayalah, Ai.”
“Jika
kepercayaan itu kembali kau hancurkan, aku tak ingin lagi membangunnya
bersamamu.”
Kami
tersenyum, mengulang kembali perasaan yang sama. Melanjutkan cerita bersama
waktu yang tersisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar