Halaman

Kamis, 02 April 2020

Tulang Rusuk yang Patah


6
Sebuah Kejujuran

Desir ombak menyapa seolah tahu apa yang aku rasakan. Bersandar pada karang yang tegar, bertengadah melihat awan yang memberi mendung. Ingin kutuliskan kata bahwa aku rindu akan canda tawamu, berbagi atas suka duka, meneteskan air mata bersama seolah memiliki rasa yang sama.

Ingin kulantunkan kata lewat lisan namun bibir tak mampu berucap. Hanya terpaku, diam dan membisu. Seakan aku tak peduli denganmu. Apalah daya jika hati ini selalu berontak terus bertanya. Kapan waktu itu kembali? Menceritakan tentang apa saja diselingi canda penuh bahagia.

Kini yang kurasa hanya diam dan sunyi. Berdiam seakan acuh namun diri ini ingin tak seperti itu. Aku hanya bingung harus memulai dari mana dan bagaimana. Dulu kuingat, kaulah yang selalu buatku tak menjadi kesepian. Berikan aku warna begitu indah. Tangis sendu, cerita lalu dan segala hal selalu diceritakan.

Namun kini? Entah apa yang harus kulakukan dan katakan. Aku bagai patung yang tak berarti. Hanya diam dan berbicara pada hati. Mengapa aku tak mampu? Ucapkan kata yang tak pernah terucap, keinginan selalu tak didengar. Apa aku benci padamu? Tentu tidak pernah dan tidak akan pernah.

Lama sudah kita tak bertemu. Saling sapa pun aku tak berani memulai. Bukan, bukan tak berani memulai, hatiku terlalu kaku untuk terbuka kembali. Dan sampai pada akirnya perjumpaan itu terjadi.

Karena kukira kau akan memulai kehidupanmu dengan seseorang yang baru. Tapi aku tak pernah menduga jika pada pertemuan itu adalah suatu awal kepercayaan yang kembali tumbuh. Kau ungkap semua yang selama itu kau simpan.

Selama perpisahan karena jarak terjadi, aku benar-benar tak menyangka sikapmu akan berubah. Kau bilang akan memberiku kabar setiap saat meski kesibukan kuliah terus bergelayut. Kau bilang hatimu akan tetap terjaga meski raga berjauhan. Tapi nyatanya. Aku tahu semuanya hari ini.

Libur tahun baru kali ini kau mengajakku ke sebuah tempat yang dulu sering kami datangi. Awalnya aku sempat menolak, entah kenapa, rasanya aku masih canggung bertemu denganmu lagi. Meski suasana malam tahun baru telah mencair karena kehadiranmu, tapi tetap saja jauh dalam hatiku masih membeku karena sikapmu yang menurutku berubah.

“Kau datang, Ai.” Aku tersenyum melihatnya duduk menunggu kedatanganku.

“Sudah lama,” tanyaku sedikit canggung.

“Belum. Duduk.” Kau memintaku duduk di sampingmu.

“Ada apa?” Aku langsung bertanya selepas memnuhi permintaanmu untuk duduk.

“Kita pesan makan dulu, ya.” Tanpa menunggu aku menjawab dan mengalihkan pertanyaanku, kau melambaikan tangan kepada seorang pelayan.

Pelayan perempuan itu menghampiri kami, tersenyum ramah dan memberikan selembaran menu. Terlihat kau memilih-milih menu makanan dan minuman yang tertera di sana tanpa bertanya padaku. Aku hanya diam memperhatikan.

“Semoga kau masih suka, Ai.” Kau tersenyum setelah pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan kami.

“Suka apa?” Aku bingung apa yang kau maksud.

“Aku,” jawabmu dengan nada serius.

“Eh, kenapa kau bertanya seperti itu.” Kau tampak menggaruk kepalamu yang mungkin saja tak gatal.

“Nanti kita bicarakan.” Kembali kami terdiam. Menikmati suasana hati masing-masing. Kau dengan perasaanmu yang tak aku tahu, sedang aku dengan perasaanku yang  dipenuhi tanda tanya tentangmu.

Caffe ini kecil tapi lihatlah, ramai pengunjung. Suasana di sini membuat betah, pemandangan di luar kaca terpampang indah dengan suasana alam yang asri. Kau memilih tempat duduk di pojok caffe berdekatan dengan kaca besar. Aku melihat ke arah luar, rinai hujan mulai membasahi dedaunan.

Selang beberapa saat pesanan kami datang. Asap panas mengepul dari makanan yang di antar, aromanya mengunggah selera. Ditambah minuman yang terasa menghangatkan suasana saat ini.

Satu porsi nasi goreng lengkap dengan topping-nya; Baso, sosis dan suwiran daging ayam plus telur dadar serta kerupuk. Satu gelas teh lemon hangat. Semua itu adalah menu andalanku setiap kali kau ajak ke sini.

Sedang kau memesan satu porsi mie kuah pedas dengan telur setengah matang ditambah satu gelas es jeruk. Dan itu adalah menu favoritmu.

Sesuai kesepatakan, kami menyantap menu masing-masing baru membicarakan apa yang harus dibicarakan. Disela-sela makan, kau hanya meunduk menikmati makanan, sesekali menatap ke depan tapi pandanganmu bukan ke arahku.

Aku jadi tak terlalu berselera menikmati makananku kali ini. Rinai hujan di luar sana semakin membekukan suasana. Dingin. Pertemuan macam apa ini? Sungguh sangat berbeda dari biasanya.

Makananmu sudah tandas, kau teguk es jeruk yang tinggal separuh gelas. Melihat itu, aku segera menyelesaikan makanku.

“Tumben?” Kau bertanya melihat piring makananku masih tersisa.

“Aku sudah kenyang,” jawabku tersenyum.

Susanan hening kembali. Kau terlihat gugup, baru kali ini aku melihat tingkahmu seperti itu.

“Ada apa?” Aku tak tahan untuk tidak bertanya.

“Mmm ... Aku ...”

“Ayolah, Ris ... Apa sebenarnya yang kau ingin bicarakan?” Aku menatap dalam matamu.

“Apa kau masih merindukanku, menyayangiku? Walau aku sempat menjauh darimu ... Apa kau terlihat jahat terhadapmu?” Kau mencecar pertanyaan yang seharusnya kau tahu jawabannya.

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Jelas bukan aku masih di sini bersamamu, masih mau bertemu denganmu.” Aku berusaha membuatmu yakin dengan perkataanku.

“Bagaimana perasaanmu? Apa masih sama seperti dulu?” Lagi-lagi kau mempertanyakan soal perasaan.

“Apa tak cukup bukti selama ini bahwa aku selalu menunggu waktu bersamamu, Ris?”

“Setelah kau tahu sebenarnya, apa masih sama perasaanmu terhadapku?” Sungguh kau semakin berbelit-belit.

“Sebenarnya apa!” Aku sedikit meninggikan suara.

“Aku pernah menduakanmu di saat jarak dan waktu memisahkan kita.” Kalimatmu kali ini sukses menggores bagian yang paling rapuh. Hati.

Kau menunduk, aku mengalihkan pandang darimu. Tiga tahun kau pergi ke negeri orang, meninggalkan aku di sini, bertahan dengan perasaan yang selalu merindukanmu. Ini balasanmu terhadapku.

“Aku menyesal, aku tahu, aku telah menyakiti hatimu. Sungguh aku minta maaf.” Kau menarik tanganku, berusaha untuk mengenggam jemariku.

“Lalu, kenapa kau kembali? Apa kau kembali hanya untuk menyakitiku lagi?” Aku menarik genggaman jemarimu dariku.

“Bukan.” Kau hanya menggeleng.

“Kau ingin menikahi perempuan itu?”

“Jujur, aku masih sangat menyayangimu. Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Dulu, kupikir hubungan kita tak seharusnya dijalani. Kau juga tahu itu. Tapi nyatanya, aku tak pernah bisa melupakanmu. Dan tentang perempuan itu, aku juga tak lama berhubungan dengannya. Hatiku, perasaanku masih untukmu. Aku sungguh tak bisa berpaling darimu.”

Panjang lebar kau menjelaskan. Pernah aku meminta lebih padamu? Pernahkah aku mengharap lebih tentangmu. Itu tak pernah terbesit dalam pikiranku. Tak pernah ingin kau menjadi orang lain bagiku. Hanya satu hal yang ku pinta darimu yaitu waktumu. Tapi nyatanya kau dibelakangku meyisihkan waktu untuk orang lain.

“Ai ... kumohon.”

“Aku sungguh masih menyayangimu, ingin berarti untukmu. Aku diam bukan tak rasakan, tapi hanya bimbang apa yang harus kulakukan. Hati begitu sulit berdamai dengan jalan pikiranku yang selalu inginkanmu.” Kalimat itu meluncur bebas dari mulutku.

“Aku berjanji, kali ini aku benar-benar ingin menjalani hubungan yang serius denganmu. Kumohon, percayalah, Ai.”

“Jika kepercayaan itu kembali kau hancurkan, aku tak ingin lagi membangunnya bersamamu.”

Kami tersenyum, mengulang kembali perasaan yang sama. Melanjutkan cerita bersama waktu yang tersisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar