Selasa, 26 November 2019

Sekeping Hati Untuk Fatimah


Sekeping Hati Untuk Fatimah
#Sekeping_Hati_Untuk_Fatimah
#Part_7

Sekolah masih sepi sekali. Hanya ada penjaga sekolah dan tukang kebun saat Abdullah sampai dan memarkirkan kendaraannya di tempat parkir. Waktu masih menunjukkan pukul 06.00. Bulir-bulir embun memandikan dedauan serta bunga yang bermekaran di taman. Abdullah menyelusuri koridor untuk menuju ruang guru.

Menarik gagang kunci pintu tralis ruang guru dan membukanya. Lengang. Hanya bau wangi pengharum ruangan menyeruak hidung Abdullah. Bersih dan rapi ruangan itu, membuat nyaman perasaan Abdullah. Namun tidak sepenuhnya nyaman. Ada sesuatu hal yang sejak kemarin Abdullah tunggu.

Kepastian dari Fatimah. Jelasnya dia menunggu jawaban Fatimahh dari Putra. Hatinya begitu terombang-ambing, ketakutan akan penolakan tentu ada dipikiran Abdullah. Untuk menetralkan hatinya itu, Abdullah membuka laptopnya dan menulis. Ya kebisaan Abdullah sekaligus hobi yang sudah lama ditekuni.

Buku-buku karya Abdullah pun sudah ada yang terbit. Terkadang dia disibukkan dengan banyaknya pesanan buku. Tapi dia juga bersyukur, cita-citanya menjadi penulis dan menerbitkan buku tercapai. Sebuah tambahan rezeki selain penghasilannya dari mengajar. Meski menjadi guru Fisika. Jauh sekali dari sastra.

Sedang menikmati pikirannya berkelana dengan imajinasi. Sosok lelaki berpawakan tinggi dan tegap menghampiri Adullah. Sebelumnya dia duduk dan meletakkan tas kerjanya. Melihat Abdullah begitu asyik dengan laptopnya lelaki itu memutar kursi duduknya 180 derajat menghadap Abdullah.

“Hey!” tegurnya.

Namun yang ditegur masih terdiam, melihat pun tidak.
“Pak Abdullah!” suaranya agak dikeraskan dan akhirnya berhasil membuat Abdullah mendogakkan kepalanya.

“Oh kamu rupa, Putra. Ada apa memanggilku Pak Putra?” tanya Abdullah melanjutkan mengetik di laptopnya.

“Sungguh apa duniamu hanya berkutat dengan benda itu?” Putra bukannya menjawab pertanyaan Abdullah malah balik bertanya.

“Oke baiklah.” ujar Abdullah mengerti maksud Putra dan menutup laptopnya.

“Ck Ck.” Putra menggelengkan kepala melihat tingkah rekannya itu.

“Tumben pagi sekali kamu sampai sekolah?” Abdullah bertanya saambil melihat jam yang melingkar di tangannya.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu ke kamu, Pak Abdulah!”

“Haha. Iya benar juga.” Abdullah tertawa melihat ekspresi Putra yang seperti ingin sarapan dengan dagingnya.

“Ada yang mau aku bicarakan mengenai Fatimah.” Putra bersikap tenang sambil memperbaiki posisi duduknya.

“Bagaimana keputusannya, Putra? Insya Allah aku akan terima apapun itu.” ucap Abdullah tak kalah seriusnya.

“Sebelumnya aku mewakili Fatimah minta maaf padamu, Abdullah. Langsung to the point saja ya. Mengingat sebentar lagi waktu upacara dan guru-guru yang lain sudah banyak yang berdatangan.” Jelas Putra.

“Baik.” jawab Abdullah singkat. Ada perasaan tidak enak di hatinya. Degupan jantung berpacu cepat mengalahkan detik jarum jam.

“Ehmm begini. Fatimah tidak bisa menerima ajakan ta’aruf dari kamu. Sebenarnya dia sudah memberiku kabar sejak hari Sabtu sore. Tapi akan lebih baik kalau aku menyampaikan langsung padamu hari ini.” Putra menjelaskan apa yang dipesankan oleh Fatimah.

Mendengar itu sontak hati Abdullah kaget bukan main. Kecewa tentu menyelusup dan kentara dari raut wajahnya. Tapi di depan Putra, Abdullah harus tetap tegar dan tidak menyalahkan siapa pun. Mungkin ini keputusan terbaik dari Fatimah dan ujian kesabaran dari Allah yang diberikan pada Abdullah.

“Oh baiklah. Insya Allah aku terima keputusan Fatimah. Mungkin ini jalan terbaik bagi kami.” Abdullah menanggapi sambil tersenyum yang sedikit dipaksakan.

“Aku juga minta maaf, Abdullah. Aku tidak bisa memaksa karena itu sudah keputusan darinya.”

“Tidak masalah. Kalau memang Fatimah adalah jodohku, pasti dia akan kembali dengan cara-Nya.”

Sesaat hening dengan pikiran masing-masing. Abdullah tidak mau menanyakan alasan mengapa dia ditolak. Cukup baginya tahu perihal diterima tidaknya. Dan Putra juga tidak mau menjelaskan alasan mengapa Fatimah menolak Abdullah. Mungkin dia takut akan menambah kecewa hati Abdullah.

Teettt!!

Bunyi bel pertanda upacara akan segera dimulai. Para guru dan murid-murid berhambur keluar ruangan menuju lapangan upacara. Begitu juga Abdullah dan Putra. Beranjak dari duduknya dan keluar. Abdullah dengan langkah gontai berjalan di belakang Putra. Hatinya masih terasa sesak tergiang ucapan Putra tadi. Semoga dia tak pingsang sewaktu upacara.

                                                                        ***

Seusai shalat dhuha dan tilawah, Fatimah termenung. Pikirannya menerawang kejadian kemarin. Kenapa bisa seperti itu? Pertemuannya dengan Fariz. Pesan Faris kepadanya. Apa maksudnya sungguh Fatimah tidak mengerti.  Ini di luar dugaan. Benar memang. Kita boleh berencana, tapi yang menentukan berhasil atau tidak hanya Allah yang berkehendak.


 ­_Bersambung.

Tidak ada komentar:

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...