Part: Terungkap
Kerumunan kendaraan
tidak menghambat Alex menuju panti jompo. Setibanya di sana, dia segera menuju
lantai dua kamar bernomor 77. Lautan manusia memenuhi lorong lantai dua itu,
mereka ingin melihat jasad korban. Namun garis polisi segera dipasang menjadi
penghalang mereka untuk melihat.
Alex
dan rekannya masuk kamar korban, meneliti dan mengamankan barang bukti. Pihak
panti jompo terlihat syok atas kejadian ini. Pada awak media, dia sangat
menyesali keteledoran dan kurang awas terhadap setiap pengunjung. Receptionis menjadi saksi untuk kasus
ini.
Untuk
memudahkan proses penyidikan, Alex meminta kepada para penghuni panti jompo
untuk meninggalkan tempat kejadian. Tinggalah pihak panti, receptionis dan petugas cleaning
service. Alex akan mewawancarai ketiga saksi, rekan yang lainnya masih
melakukan pemeriksaan pada korban.
“Bagaimana
awal mula kejadian ini? tanya Alex setelah duduk di kursi tamu.
“Aku
melakukan tugas seperti biasa, melayani tamu dan memberi tahu kamar atau sedang
di mana orang yang akan dikunjungi.” Terang receptionis
dengan jujur.
“Siapa
yang terakhir kali mengunjungi Nyonya Lucy setelah aku?
“Seorang
wanita.” jawab receptionis pendek.
“Wanita?
Apa Anda mengenalnya? tanya Alex lagi.
“Tidak.
Salahku lupa menanyakan nama tamu ittu, dia datang sekitar pukul sepuluh.
Menyapa dan mengaku sebagai kerabat jauh korban. Tujuannya ke sini untuk
mengucapkan bela sungkawa atas meniggalnya putra Nyonya Lucy.” ungkap receptionis.
“Dari
mana dia tahu kalau putra Nyonya Lucy meninggal? Mata Alex menatap penuh
selidik.
“Maaf
aku tidak berpikir untuk menanyakan itu. Aku mengira dia mendapat kabar dari
putri korban. Karena sekitar pukul delapan pagi putri korban baru saja
menjenguk Ibunya.” Rasa bersalah terlihat di wajah receptionis itu.
“Apa
kalian tahu kalau putri korban juga telah teerbunuh tadi, sekitar pukul
sembilan.” Alex memberi penjelasan mengenai putri korban.
“Astaga!
Di mana? sahut pihak panti terkejut.
“Di
ruang jenazah rumah sakit The University
of Tokyo Hospital.”
“Aku
tidak meyangka.” Ujar pihak panti sambil mengusap wajah.
“Lalu,
apa yang kau lihat dari tingkah wanita itu? tanya alex pada petugas cleaning service.
“Aku
melihat dia dari meja receptinis masuk ke toilet. Dan di saat sibuk dengan
pekerjaanku, sekelebat bayangan hitam keluar dari toilet itu. Aku tak begitu
peduli dan terus melanjutkan pekerjaan.” Petugas cleaning service memberi keterangan.
“Hanya
itu? Alex meyakinkan.
“Iya,
Tuan. Hanya ada aku di lantai bawah, karena sebagian besar penghuni dan perawat
berada di taman depan panti jompo. Jam pagi kami bertugas membersihkan setiap
kamar penghuni.”
“Apa
kau tidak kelantai atas? Tepatnya kamar ini.”
“Kamar-kamar
lantai atas kami bersihkan di awal. Dan ketika aku membersihkan kamar ini,
Nyonya Lucy sedang sarapan pagi.”
“Terima
kasih atas penjelasannya.” Alex mengakhiri wawancaranya dengan petugas cleaning service.
“Nyonya
Chai. Apa kau mengenal dekat Nyonya Lucy? tanya Alex pada pihak panti yang
diketahui bernama Chai.
“Iya.
Aku sangat dekat dengan Beliau. Sering mendengar cerita tentang keluarga
keluarganya.”
“Apa
saja yang dia ceritakan, Nyonya.” Tangan Alex cekatan mencatat point-point penting dalam book note-nya.
“Sepuluh
rahun yang lalu, dia resmi menjadi penghuni panti ini. awalnya dia bersama
suaminya. Diantar oleh putranya, dia mengaku harus bekerja dan menghidupi adik
perempuannya. Jadi dia menitipkan orang tuanya kepada kami. Namun sayang,
suaminya jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit. Dan setahu kami, hanya
tinggal putrinya yang terus menjenguk kedua orang tuanya, baik di sini maupun
di rumah sakit. Aku benar-benar syok dengan kejadian ini, maaf kami telah
teledor memasukkan pembunuh di panti ini” Panjang lebar Nyonya Chai memberi
penjelasan.
“Semua
sudah terjadi, Nyonya. Kita hanya dapat mengambil hikmah dari kejadian ini.”
kata Alex menenangkan.
“Maaf
Tuan. Ini hasil penyidikan kami.” Seorang polisi memberikan laporan kepada
Alex.
Korban
ditemukan tewas di kamar mandi, sebelum itu mulutnya dibekap oleh pelaku dengan
obat bius yang sangat mematikan. Selanjutnya, korban diseret ke kamar mandi.
Pelaku mengambil pisau buah dan melakukan aksinya. Wajah korban hancur oleh
sayatan pisau. Dan masih dengan ciri-ciri kematian yang sama, sepasang mata
korban hilang dicungkil pelaku.
“Tunggu
bagaimana pelaku masuk kamar ini? tanya Nyonya Chai.
“Tidak
ada bekas dobrakan atau kerusakan pada pintu dan bagian kuncinya. Sidik jaripun
tidak ditemukan, pelaku berkemungkinan memakai alas untuk membuka pintu yang
tidak terkunci.” Terang polisi tersebut.
“Barang
bukti terkumpul, jenazah juga telah diusung ke rumah sakit yang sama dengan
kedua korban sebelumnya. Olah TKP akan dilanjutkan besok. Sekarang kami pamit
dulu, Nyonya.” ujar Alex sambil berdiri dan berjabat tangan.
“Terima
kasih telah menagani kasus ini.” Nyonya Chai menyambut uluran tangan Alex.
“Aku
juga berterima kasih, Anda telah menyempatkan waktu untuk diwanwancara.”
Alex
dan rekannya pamit begitu juga mereka, keluar dari ruangan itu. Untuk sementara
ruangan dikunci, agar tidak menimbulkan hal-hal yang buruk terjadi.
Usai
dari panti jompo, Alex dan rekannya kembali ke rumah sakit. Sampai di sana dia
langsung menuju kamar sakura. Terlihat di depan pintu, dua orang polisi sedang
berjaga. Alex menghampiri dan menyapa ramah.
“Mohon
kerjasamanya.” Ujar Alex sambil berjabat tangan.
“Tentu,
Tuan.”
“Di
mana Thomson dan yang lainnya.” Alex menanyakan rekannya itu.
“Mereka
sudah kembali ke kantor untuk penelitian lebih lanjut.”
“Baiklah.
Aku juga ingin pulang melepas lelah dan memeriksa hasil temuanku.”
“Silahkan,
Tuan.”
Alex
keluar dari rumah sakit melajukan mobilnya menuju rumah. Kepenatan hari ini
benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Tubuhnya lengket oleh keringat. Sampai
rumah, dia dikejutkan oleh keberadaan kekasihnya, meyambut Alex saat dia keluar
dari pintu mobil.
“Kau
tampak lelah sekali, Darling?
“iya.
Pekerjaan hari ini sangat mengurasku.” Alex memijit keningnya.
“Ayo
masuk. Istirahatlah sejenak.” Kekasih Alex memboyong masuk rumah.
“Kau
sudah lama di rumahku? tanya Alex yang telah duduk di kursinya.
“Tidak.
Baru beberapa menit yang lalu. Ini kubuatkan teh hangat untukmu.” Kekasih Alex
kembali dari dapur membawa secangkir teh.
Alex
menerima suguhan teh itu, satu-dua-tiga tegukan teh tersebut meluncur ke
kerongkongannya.
“Apa
saja yang kau lakukan seharian ini, Darling?
“Aa
... Akk ... Hmm kenapa kepalaku pusing sekali? Mata juga terasa berat.”
Terhuyung Alex jatuh ke sandaran kursi. Samar-samar namun masih sempat terlihat
jelas oleh Alex. Sebelum matanya terpejam, dia melihat sepatu kekasihnya mirip
dengan pelaku yang dilihatnya pada kamera pengintai.
“Bug”
Alex
terlelap dalam tidurnya.
“Maafkan
aku, Darling. Aku harus melakukan ini padamu.” Tangannya mengelus lembut pipi
Alex.
“Bunuh dia”
Lagi.
Bisikan itu menghasut.
“Baiklah.
Kau korban selanjutnya.
***
Pukul tujuh malam Alex baru sadarkan
diri. Kepalanya masih terasa pusing dan matanya terasa berkunang-kunang. Sekuat
tenaga dia mengingat kembali kejadian yang menimpanya. Dengan tubuh yang masih
lemas, Alex ke kamarnya dan berganti pakaian serta mencuci muka. Wajah segar
menyegarkan kembali ingatannya.
“Astaga!
Sepatu itu, Sepatu yang sama dengan pelaku. Apa benar kekasihku sendiri
pelakunya? Tidak ... tidak mungkin. Ah benar, postur tubuhnya juga mirip
sekali. Bodoh ... bodoh! Selama ini aku terkecoh dengannya, kenapa aku baru
menyadari? Mengusap kasar wajahnya serta merta meninju angin.
Pikiran
Alex semakin kacau, meraih mobil dan keluar menuju rumah kekasihnya. Sepuluh
menit, waktu yang sangat cepat dia tempuh. Saat itu dia menjadi pengemudi
brutal, berkali-kali hampir meregang nyawa.
Rumah
kekasih Alek hanya berhias lampu lampiion. Cahayanya redup. Satu-dua kali
ketukan masih hening. Berkali-kali juga dia berusaha menghubungi kekasinya, tak
kunjung tersambung.
“Ini
tidak beres! Gerutu Alex.
“Braaak”
Alex
mendobrak paksa pintu rumah itu.
Tumpukan
kertas berserakan, hening tak ada penghuninya. Alex masuk kamar kekasihnya, bau
anyir menyeruap hidung, isi perut seakan ingin keluar saat itu juga. Tiga
toples kaca berjejer rapi di dalam sebuah lemari kaca. Sambil menutup hidung
dan mulut dengan tangan kanannya, Alex membuka lemari itu.
Terperanjat
Alex dengan apa yang dilihatnya. Tiga pasang bola mata tersimpan dalam toples
kaca, tertempel foto korbannya yang tidak lain adalah Daichi, Akio dan Lucy.
Dengan tangan gemetar Alex meraba dinding sebelah lemari itu. di sana juga
tertempel foto korban dengan kepala tertusuk anak panah.
Sekuat
tenaga Alex tetap berdiri menopang tubuhnya. Tidak menyangka kekasih yang amat
dia sayang adalah seorang pembunuh. Begitu rapi dia menyimpan semua itu dari
Alex. dan Alex pun tidak pernah curiga dengan gelagat kekasihnya selama ini.
Sekarang
dia baru menyadari, dialah yang telah membocorkan keberadaan Lucy, yang
jelas-jelas Lucy dan keluarganya tengah bersembunyi selama ini. segera Alex
menghubungi Thomson, menyuruhnya ke tempat sekarang dia berada.
Saat
itu juga Alex teringat suami Lucy di rumah sakit. Meninggalkan rumah kekasinya
alias sang pembunuh, dia menuju ke rumah sakit. Untunglah jalanan sedikit
lengang, sehingga bebas menyalip sana sini.
Keadaan
di rumah sakit. Seseorang mengendap-endap menyelusuri lorong kamar sakura. Dengan
penuh hati-hati, khawatir tertangkap penjaga. Lampu lorong yang redup
keberuntungan baginya.
“Permisi,
Tuan. Ini kopinya.” Seorang perawat shift
malam menyuguhkan dua cangkir kopi kepada para penjaga.
Di
dalam remang-remang lampu lorong, seseorang itu tersenyum, dalam hitungan detik
para penjaga itu terkapar tak berdaya. Dia telah mencampur serbuk racun
mematikan di dalam kopi sebelum disuguhkan oleh perawat.
Misi
berjalan lancar. Mendekati pintu kamar sakura dan membukanya. Tampak olehnya
lelaki tua terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan, detak jatungnya
stabil. Lelaki tua itu terlelap dalam tidur.
Mendekati
ranjang pembaringan. Lelaki tua itu tersentak kaget saat bantalnya ditarik paksa
dan dengan cepat membungkam seluruh wajahnya, hingga dia kesulitan bernafas. Detak
jantung di monitor tak beraturan, tubuh bergelinjangan, perlahan menegang dan
tewas.
Pisau
yang sedari tadi tersimpan dalam balik pakaian dia keluarkan. Lagi. Siksaan pada
korban, menusuk perut dan menyayat-nyayat tubuh korban. Dan terakhir,
mencungkil paksa sepasang bola matanya. Darah berkucuran membanjiri ranjang
pembaringan.
“Braakk”
Aktifitasnya
terhenti saat mendengar dobrakan pintu kamar.
Alex
datang dengan nafas memburu, keringat bercucuran, ditambah ketegangan melihat
suami Lucy terkapar tak berdaya dengan tragis. Menatap tajam pada kekasihnya,
sorot kebencian terlihat jelas di mata Alex.
“Kau
yang selama ini menjadi pembunuh! Kau membunuh mereka dengan keji!” teriak Alex
penuh emosi.
“Darling.
Kau sudah tahu rupanya.” Wanita itu masih tersenyum manis.
“Aku
tahu semuanya, semua tentang masa lalumu. Kau benar-benar keji! Apa sakit yang
selama ini kau derita hah?
“Aku
sakit jiwa, Darling. Ha ha ha. Kau masih mencintaiku, Darling?
“Pembunuh
seperti kau tak pantas di cintai! Alex menepis tangan wanita itu saat ingin
menyentuhnya.
“Kau
seharusnya berada di rumah sakit jiwa!” Ketika Alex semakin mendekati wanita
itu, tatapan sangar masih dia perlihatkan.
“Ha
ha ha.... Aku ingin selalu bersamamu, Darling.”
Wanita itu juga semakin mendekat.
Jarak
keduanya hanya beberapa senti, degupan jantung Alex memburu, tak gentar terus
menatap kebencian wanita itu.
“Bunuh”
“Jleb”
Bersamaan
dengan bisikan itu datang, pisau yang sedari tadi masih dipegang menghujam
perut Alex.
“Dor Dor”
Timah
panas melesat cepat mengenai pelipis wanita itu hingga ke bagian dalam otak. Keduanya
jatuh bersamaan.
***
Pagi
hari di rumah sakit The University of
Tokyo Hospital. Ditemukan korban pembuhan, lagi. Sepanjang lorong kamar
sakura penuh para pihak kepolisian. Para penghuni rumah sakit tercengang atas
kejadian itu.
Kejadian
terjadi sekitar pukul delapan malam, saat penghuni rumah sakit istirhat dan
hanya beberapa penjaga malam. Sangat disayangkan, polisi penjaga ikut menjadi
korban, terbunuh karena meminum kopi beracun.
“Setelah
diteliti, pelaku ternyata mengidap penyakit gangguan jiwa. Skizofrenia termasuk
gangguan psikosis yang disebabkan oleh kelainan atau gangguan kimiawi dalam
otak. Hal ini menyebabkan gangguan pada fungsi sistemik dan impuls saraf
sehingga fungsi otak terganggu dalam mengolah informasi dalam otak. Gejala yang
ditunjukkan penderita skizofenia ini antara lain cara berbicara yang kacau,
lebih senang menyendiri dan takut dengan orang banyak, mengalami delusi,
halusinasi, dan menunjukkan sikap yang berbeda dengan orang pada umumnya. Ada
beberapa ciri-ciri Skizofrenia yang mudah dilihat dalam diri seseorang.”
Jelas dokter yang mengautopsi jenazah pelaku.
“Terima
kasih, Dok. Keterangan Anda sangat membantu kami untuk mendalami kasus ini.”
Thomso menimpali pembicaraan Dokter.
“Dan
kau, Tuan Alex. Bersyukurlah, aku datang di saat sepasang bola matamu belum
tercungkil oleh kekasihmu sendiri. Ha ha ha.” seloroh Thomson yang tengah
berada di ruang rawat Alex.
“Dia
bukan kekasihku lagi.” Air wajah Alex berubah masam.
“Maafkan
aku, Tuan Alex. aku yang telah melesatkan timah panas itu ke kepala kekasihmu.”
balas Thomson sembari meminta maaf.
“Terima
kasih, Tuan Thomson. berkatmu aku masih hidup meski perutku telah menjadi
korban.” Alex meringis menahan sakit.
“Cepat
sembuh. Dan berhati-hatilah memilih pasangan hidup. Bisa-bisa dagingmu yang
akanmenjadi cemilan setiap hari.” Candaan Thomson membuat Alex menyorotkan
tatapan kesal.
“Ha
ha ha ha.” Gelak tawa mereka seketika pecah memenuhi ruangan itu.
_Tamat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar