Halaman

Sabtu, 02 November 2019

Bisikan Membawa Maut_6_End


Part: Terungkap
 
            Kerumunan kendaraan tidak menghambat Alex menuju panti jompo. Setibanya di sana, dia segera menuju lantai dua kamar bernomor 77. Lautan manusia memenuhi lorong lantai dua itu, mereka ingin melihat jasad korban. Namun garis polisi segera dipasang menjadi penghalang mereka untuk melihat.
Alex dan rekannya masuk kamar korban, meneliti dan mengamankan barang bukti. Pihak panti jompo terlihat syok atas kejadian ini. Pada awak media, dia sangat menyesali keteledoran dan kurang awas terhadap setiap pengunjung. Receptionis menjadi saksi untuk kasus ini.
Untuk memudahkan proses penyidikan, Alex meminta kepada para penghuni panti jompo untuk meninggalkan tempat kejadian. Tinggalah pihak panti, receptionis dan petugas cleaning service. Alex akan mewawancarai ketiga saksi, rekan yang lainnya masih melakukan pemeriksaan pada korban.
“Bagaimana awal mula kejadian ini? tanya Alex setelah duduk di kursi tamu.
“Aku melakukan tugas seperti biasa, melayani tamu dan memberi tahu kamar atau sedang di mana orang yang akan dikunjungi.” Terang receptionis dengan jujur.
“Siapa yang terakhir kali mengunjungi Nyonya Lucy setelah aku?
“Seorang wanita.” jawab receptionis pendek.
“Wanita? Apa Anda mengenalnya? tanya Alex lagi.
“Tidak. Salahku lupa menanyakan nama tamu ittu, dia datang sekitar pukul sepuluh. Menyapa dan mengaku sebagai kerabat jauh korban. Tujuannya ke sini untuk mengucapkan bela sungkawa atas meniggalnya putra Nyonya Lucy.” ungkap receptionis.
“Dari mana dia tahu kalau putra Nyonya Lucy meninggal? Mata Alex menatap penuh selidik.
“Maaf aku tidak berpikir untuk menanyakan itu. Aku mengira dia mendapat kabar dari putri korban. Karena sekitar pukul delapan pagi putri korban baru saja menjenguk Ibunya.” Rasa bersalah terlihat di wajah receptionis itu.
“Apa kalian tahu kalau putri korban juga telah teerbunuh tadi, sekitar pukul sembilan.” Alex memberi penjelasan mengenai putri korban.
“Astaga! Di mana? sahut pihak panti terkejut.
“Di ruang jenazah rumah sakit The University of Tokyo Hospital.”
“Aku tidak meyangka.” Ujar pihak panti sambil mengusap wajah.
“Lalu, apa yang kau lihat dari tingkah wanita itu? tanya alex pada petugas cleaning service.
“Aku melihat dia dari meja receptinis masuk ke toilet. Dan di saat sibuk dengan pekerjaanku, sekelebat bayangan hitam keluar dari toilet itu. Aku tak begitu peduli dan terus melanjutkan pekerjaan.” Petugas cleaning service memberi keterangan.
“Hanya itu? Alex meyakinkan.
“Iya, Tuan. Hanya ada aku di lantai bawah, karena sebagian besar penghuni dan perawat berada di taman depan panti jompo. Jam pagi kami bertugas membersihkan setiap kamar penghuni.”
“Apa kau tidak kelantai atas? Tepatnya kamar ini.”
“Kamar-kamar lantai atas kami bersihkan di awal. Dan ketika aku membersihkan kamar ini, Nyonya Lucy sedang sarapan pagi.”
“Terima kasih atas penjelasannya.” Alex mengakhiri wawancaranya dengan petugas cleaning service.
“Nyonya Chai. Apa kau mengenal dekat Nyonya Lucy? tanya Alex pada pihak panti yang diketahui bernama Chai.
“Iya. Aku sangat dekat dengan Beliau. Sering mendengar cerita tentang keluarga keluarganya.”
“Apa saja yang dia ceritakan, Nyonya.” Tangan Alex cekatan mencatat point-point penting dalam book note-nya.
“Sepuluh rahun yang lalu, dia resmi menjadi penghuni panti ini. awalnya dia bersama suaminya. Diantar oleh putranya, dia mengaku harus bekerja dan menghidupi adik perempuannya. Jadi dia menitipkan orang tuanya kepada kami. Namun sayang, suaminya jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit. Dan setahu kami, hanya tinggal putrinya yang terus menjenguk kedua orang tuanya, baik di sini maupun di rumah sakit. Aku benar-benar syok dengan kejadian ini, maaf kami telah teledor memasukkan pembunuh di panti ini” Panjang lebar Nyonya Chai memberi penjelasan.
“Semua sudah terjadi, Nyonya. Kita hanya dapat mengambil hikmah dari kejadian ini.” kata Alex menenangkan.
“Maaf Tuan. Ini hasil penyidikan kami.” Seorang polisi memberikan laporan kepada Alex.
Korban ditemukan tewas di kamar mandi, sebelum itu mulutnya dibekap oleh pelaku dengan obat bius yang sangat mematikan. Selanjutnya, korban diseret ke kamar mandi. Pelaku mengambil pisau buah dan melakukan aksinya. Wajah korban hancur oleh sayatan pisau. Dan masih dengan ciri-ciri kematian yang sama, sepasang mata korban hilang dicungkil pelaku.
“Tunggu bagaimana pelaku masuk kamar ini? tanya Nyonya Chai.
“Tidak ada bekas dobrakan atau kerusakan pada pintu dan bagian kuncinya. Sidik jaripun tidak ditemukan, pelaku berkemungkinan memakai alas untuk membuka pintu yang tidak terkunci.” Terang polisi tersebut.
“Barang bukti terkumpul, jenazah juga telah diusung ke rumah sakit yang sama dengan kedua korban sebelumnya. Olah TKP akan dilanjutkan besok. Sekarang kami pamit dulu, Nyonya.” ujar Alex sambil berdiri dan berjabat tangan.
“Terima kasih telah menagani kasus ini.” Nyonya Chai menyambut uluran tangan Alex.
“Aku juga berterima kasih, Anda telah menyempatkan waktu untuk diwanwancara.”
Alex dan rekannya pamit begitu juga mereka, keluar dari ruangan itu. Untuk sementara ruangan dikunci, agar tidak menimbulkan hal-hal yang buruk terjadi.
Usai dari panti jompo, Alex dan rekannya kembali ke rumah sakit. Sampai di sana dia langsung menuju kamar sakura. Terlihat di depan pintu, dua orang polisi sedang berjaga. Alex menghampiri dan menyapa ramah.
“Mohon kerjasamanya.” Ujar Alex sambil berjabat tangan.
“Tentu, Tuan.”
“Di mana Thomson dan yang lainnya.” Alex menanyakan rekannya itu.
“Mereka sudah kembali ke kantor untuk penelitian lebih lanjut.”
“Baiklah. Aku juga ingin pulang melepas lelah dan memeriksa hasil temuanku.”
“Silahkan, Tuan.”
Alex keluar dari rumah sakit melajukan mobilnya menuju rumah. Kepenatan hari ini benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Tubuhnya lengket oleh keringat. Sampai rumah, dia dikejutkan oleh keberadaan kekasihnya, meyambut Alex saat dia keluar dari pintu mobil.
“Kau tampak lelah sekali, Darling?
“iya. Pekerjaan hari ini sangat mengurasku.” Alex memijit keningnya.
“Ayo masuk. Istirahatlah sejenak.” Kekasih Alex memboyong masuk rumah.
“Kau sudah lama di rumahku? tanya Alex yang telah duduk di kursinya.
“Tidak. Baru beberapa menit yang lalu. Ini kubuatkan teh hangat untukmu.” Kekasih Alex kembali dari dapur membawa secangkir teh.
Alex menerima suguhan teh itu, satu-dua-tiga tegukan teh tersebut meluncur ke kerongkongannya.
“Apa saja yang kau lakukan seharian ini, Darling?
“Aa ... Akk ... Hmm kenapa kepalaku pusing sekali? Mata juga terasa berat.” Terhuyung Alex jatuh ke sandaran kursi. Samar-samar namun masih sempat terlihat jelas oleh Alex. Sebelum matanya terpejam, dia melihat sepatu kekasihnya mirip dengan pelaku yang dilihatnya pada kamera pengintai.
“Bug”
Alex terlelap dalam tidurnya.
“Maafkan aku, Darling. Aku harus melakukan ini padamu.” Tangannya mengelus lembut pipi Alex.
“Bunuh dia”
Lagi. Bisikan itu menghasut.
“Baiklah. Kau korban selanjutnya.

***

Pukul tujuh malam Alex baru sadarkan diri. Kepalanya masih terasa pusing dan matanya terasa berkunang-kunang. Sekuat tenaga dia mengingat kembali kejadian yang menimpanya. Dengan tubuh yang masih lemas, Alex ke kamarnya dan berganti pakaian serta mencuci muka. Wajah segar menyegarkan kembali ingatannya.
“Astaga! Sepatu itu, Sepatu yang sama dengan pelaku. Apa benar kekasihku sendiri pelakunya? Tidak ... tidak mungkin. Ah benar, postur tubuhnya juga mirip sekali. Bodoh ... bodoh! Selama ini aku terkecoh dengannya, kenapa aku baru menyadari? Mengusap kasar wajahnya serta merta meninju angin.
Pikiran Alex semakin kacau, meraih mobil dan keluar menuju rumah kekasihnya. Sepuluh menit, waktu yang sangat cepat dia tempuh. Saat itu dia menjadi pengemudi brutal, berkali-kali hampir meregang nyawa.
Rumah kekasih Alek hanya berhias lampu lampiion. Cahayanya redup. Satu-dua kali ketukan masih hening. Berkali-kali juga dia berusaha menghubungi kekasinya, tak kunjung tersambung.
“Ini tidak beres! Gerutu Alex.
Braaak”
Alex mendobrak paksa pintu rumah itu.
Tumpukan kertas berserakan, hening tak ada penghuninya. Alex masuk kamar kekasihnya, bau anyir menyeruap hidung, isi perut seakan ingin keluar saat itu juga. Tiga toples kaca berjejer rapi di dalam sebuah lemari kaca. Sambil menutup hidung dan mulut dengan tangan kanannya, Alex membuka lemari itu.
Terperanjat Alex dengan apa yang dilihatnya. Tiga pasang bola mata tersimpan dalam toples kaca, tertempel foto korbannya yang tidak lain adalah Daichi, Akio dan Lucy. Dengan tangan gemetar Alex meraba dinding sebelah lemari itu. di sana juga tertempel foto korban dengan kepala tertusuk anak panah.
Sekuat tenaga Alex tetap berdiri menopang tubuhnya. Tidak menyangka kekasih yang amat dia sayang adalah seorang pembunuh. Begitu rapi dia menyimpan semua itu dari Alex. dan Alex pun tidak pernah curiga dengan gelagat kekasihnya selama ini.

Sekarang dia baru menyadari, dialah yang telah membocorkan keberadaan Lucy, yang jelas-jelas Lucy dan keluarganya tengah bersembunyi selama ini. segera Alex menghubungi Thomson, menyuruhnya ke tempat sekarang dia berada.

Saat itu juga Alex teringat suami Lucy di rumah sakit. Meninggalkan rumah kekasinya alias sang pembunuh, dia menuju ke rumah sakit. Untunglah jalanan sedikit lengang, sehingga bebas menyalip sana sini.

Keadaan di rumah sakit. Seseorang mengendap-endap menyelusuri lorong kamar sakura. Dengan penuh hati-hati, khawatir tertangkap penjaga. Lampu lorong yang redup keberuntungan baginya.
“Permisi, Tuan. Ini kopinya.” Seorang perawat shift malam menyuguhkan dua cangkir kopi kepada para penjaga.
Di dalam remang-remang lampu lorong, seseorang itu tersenyum, dalam hitungan detik para penjaga itu terkapar tak berdaya. Dia telah mencampur serbuk racun mematikan di dalam kopi sebelum disuguhkan oleh perawat.
Misi berjalan lancar. Mendekati pintu kamar sakura dan membukanya. Tampak olehnya lelaki tua terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan, detak jatungnya stabil. Lelaki tua itu terlelap dalam tidur.
Mendekati ranjang pembaringan. Lelaki tua itu tersentak kaget saat bantalnya ditarik paksa dan dengan cepat membungkam seluruh wajahnya, hingga dia kesulitan bernafas. Detak jantung di monitor tak beraturan, tubuh bergelinjangan, perlahan menegang dan tewas.
Pisau yang sedari tadi tersimpan dalam balik pakaian dia keluarkan. Lagi. Siksaan pada korban, menusuk perut dan menyayat-nyayat tubuh korban. Dan terakhir, mencungkil paksa sepasang bola matanya. Darah berkucuran membanjiri ranjang pembaringan.
“Braakk”
Aktifitasnya terhenti saat mendengar dobrakan pintu kamar.
Alex datang dengan nafas memburu, keringat bercucuran, ditambah ketegangan melihat suami Lucy terkapar tak berdaya dengan tragis. Menatap tajam pada kekasihnya, sorot kebencian terlihat jelas di mata Alex.
“Kau yang selama ini menjadi pembunuh! Kau membunuh mereka dengan keji!” teriak Alex penuh emosi.
“Darling. Kau sudah tahu rupanya.” Wanita itu masih tersenyum manis.
“Aku tahu semuanya, semua tentang masa lalumu. Kau benar-benar keji! Apa sakit yang selama ini kau derita hah?
“Aku sakit jiwa, Darling. Ha ha ha. Kau masih mencintaiku, Darling?
“Pembunuh seperti kau tak pantas di cintai! Alex menepis tangan wanita itu saat ingin menyentuhnya.
“Kau seharusnya berada di rumah sakit jiwa!” Ketika Alex semakin mendekati wanita itu, tatapan sangar masih dia perlihatkan.
“Ha ha ha.... Aku ingin selalu bersamamu, Darling.” Wanita itu juga semakin mendekat.
Jarak keduanya hanya beberapa senti, degupan jantung Alex memburu, tak gentar terus menatap kebencian wanita itu.
“Bunuh”
“Jleb”
Bersamaan dengan bisikan itu datang, pisau yang sedari tadi masih dipegang menghujam perut Alex.
“Dor Dor”
Timah panas melesat cepat mengenai pelipis wanita itu hingga ke bagian dalam otak. Keduanya jatuh bersamaan.

                                                            ***
Pagi hari di rumah sakit The University of Tokyo Hospital. Ditemukan korban pembuhan, lagi. Sepanjang lorong kamar sakura penuh para pihak kepolisian. Para penghuni rumah sakit tercengang atas kejadian itu.
Kejadian terjadi sekitar pukul delapan malam, saat penghuni rumah sakit istirhat dan hanya beberapa penjaga malam. Sangat disayangkan, polisi penjaga ikut menjadi korban, terbunuh karena meminum kopi beracun.
“Setelah diteliti, pelaku ternyata mengidap penyakit gangguan jiwa. Skizofrenia termasuk gangguan psikosis yang disebabkan oleh kelainan atau gangguan kimiawi dalam otak. Hal ini menyebabkan gangguan pada fungsi sistemik dan impuls saraf sehingga fungsi otak terganggu dalam mengolah informasi dalam otak. Gejala yang ditunjukkan penderita skizofenia ini antara lain cara berbicara yang kacau, lebih senang menyendiri dan takut dengan orang banyak, mengalami delusi, halusinasi, dan menunjukkan sikap yang berbeda dengan orang pada umumnya. Ada beberapa ciri-ciri Skizofrenia yang mudah dilihat dalam diri seseorang.” Jelas dokter yang mengautopsi jenazah pelaku.
“Terima kasih, Dok. Keterangan Anda sangat membantu kami untuk mendalami kasus ini.” Thomso menimpali pembicaraan Dokter.
“Dan kau, Tuan Alex. Bersyukurlah, aku datang di saat sepasang bola matamu belum tercungkil oleh kekasihmu sendiri. Ha ha ha.” seloroh Thomson yang tengah berada di ruang rawat Alex.
“Dia bukan kekasihku lagi.” Air wajah Alex berubah masam.
“Maafkan aku, Tuan Alex. aku yang telah melesatkan timah panas itu ke kepala kekasihmu.” balas Thomson sembari meminta maaf.
“Terima kasih, Tuan Thomson. berkatmu aku masih hidup meski perutku telah menjadi korban.” Alex meringis menahan sakit.
“Cepat sembuh. Dan berhati-hatilah memilih pasangan hidup. Bisa-bisa dagingmu yang akanmenjadi cemilan setiap hari.” Candaan Thomson membuat Alex menyorotkan tatapan kesal.
“Ha ha ha ha.” Gelak tawa mereka seketika pecah memenuhi ruangan itu.


_Tamat.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar