Sabtu, 14 Maret 2020

Tulang rusuk yang Patah




2
Trauma

Dia seperti hantu, selalu mengusik tiap kali aku menatapnya. Semakin lama kutatap semakin nyata kehadirannya. Ingin rasanya berlari tapi tetap saja mengejarku. Ingin menutup mata namun diingatan masih terpampang nyata.

Setiap kali menyebrang jalan yang begitu ramai lalu lintas atau berjalan di pinggir jalan, aku merasa seperti ada yang ingin menabrak dari arah mana saja. Pernah aku terjebak di tengah jalan sendiri karena begitu takut untuk lanjut menyebrang. Deru kendaraan serta klakson tak membuatku cepat berlalu. Untungnya terkadang aku berdua teman. Sehingga dia begitu telaten menggandeng tanganku untuk sampai di sebrang jalan.

Sudah seperti jompo saja. Tapi mau bagaimana lagi? Aku masih sulit untuk melawan trauma itu. Musibah yang membuatku kehilangan semangat hidup.

Kek, usiaku 15. Sebentar lagi aku berseragam putih abu-abu. Kakek tahu, aku sebenarnya tak ingin melanjutkan sekolah di SMP. Aku ingin melanjutkan sekolah di MTS. Menurutku akan mendapat porsi yang lebih banyak dalam mempelajari agama Islam. Di banding mata pelajaran umum.

“Sudahlah, masuk SMP kakakmu saja,” kata ayah saat aku menentukan pilihan.

“Tapi, Yah ....”

“Biar semua urusan pendaftaran Kakak yang mengurus, kamu tinggal masuk sekolah saja.” Belum sempat aku melanjutkan, ayah sudah memotong omonganku.

“Iya, biar nanti kalau pergi bisa bareng sama Kakakmu.” Ibu menyambung omongan ayah.

Setelah kupikir-pikir, ada benarnya juga kata mereka. Daripada harus merepotkan ayah yang mengantarku sekolah ke MTS yang masuk siang. Lebih baik aku menurut apa kata mereka. Setidaknya aku tak sendiri yang bersekolah di SMP itu. Berdua sepupuku, Tina.

Kelas satu dan dua, aku masih diantar jemput oleh kakak. Naik kelas tiga, aku sukses memecah celengan ayam. Mengumpulkan uang koin seratus, lima ratusan, uang kertas pun juga ada, meski tak lebih dari seribu rupiah. Hasil menyisihkan uang saku dan  kutabung. Jadilah ayah membelikan sepeda seharga uang tabunganku, dua ratus ribu. Rasanya puas sekali bisa membeli sepeda dengan hasil tabungan sendiri.

“Hati-hati, ya.” Ibu melepas kepergianku dengan rasa khawatir. Maklum, hari pertama aku sekolah mengendarai sepeda.

“Iya, Bu,” jawabku takzim mencium tangannya.

“Nggak usah ngebut-ngebut.” Teriak ibu lagi saat aku sudah lima meter meninggalkan pekarangan rumah. Aku hanya mengacungkan jempol, entah ibu masih berdiri melihatku atau tidak.

“Wah ... Sepeda baru ya.” Tetangga yang melihat aku melintas di depan pekarangan runahnya menyapa.

Kring ... Kring!

Bunyi bel di sepedaku tiap kali aku melewati orang-orang yang kukenal.

Pagi yang begitu cerah. Ah, secerah hati ini. Mentari mulai hangat menyapa kulitku. Jalanan desa ramai lalu lalang mereka yang beraktifitas. Para orang tua sibuk mengantarkan anaknya sekolah. Ada juga yang pergi ke kebun lengkap dengan peralatannya. Lain lagi dengan mereka yang berdasi, rambut klimis, sepatu mengkilat, kendaraan pun bukan lagi roda dua, jelas roda empat.

“Hey, Ais. Kamu pakai sepeda sekarang?” sapa temanku ketika kami bertemu di persimpangan jalan.

“Iya,” jawabku mengulum senyum.

Sepanjang jalan kami berceloteh di atas sepeda. Sengaja mensejajarkan laju sepeda dua jalur saat sepi kendaraan dan mundur salah satu dari kami jika ada kendaraan yang lewat. Satu persatu kami bertemu, bersama mengayuh sepeda. Bergerombol bagai ular besi yang merayapi jalan aspal.

“Kita titip sepeda di rumah ini saja,” ucap salah satu temanku ketika berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua.

“Memangnya boleh?” sahutku di belakangnya.

“Aku biasa menitip sepeda di sini, lagi pula tak begitu jauh melanjutkan berjalan kaki untuk sampai sekolah.” jelasnya lagi.

Aku melihat yang lain juga mendorong sepedanya masuk pekarangan rumah itu. Terlihat wanita paruh baya tengah menyapu halaman. Senyumnya mengembang saat melihat kami datang.

“Pagi, anak-anak,” sapanya lembut.

“Pagi juga, Bu.” Rosa temanku balas menyapa.

“Maaf, Bu. Saya titip sepeda di sini.” Aku sedikit malu-malu dan takut, kalau tak di beri izin.

“Silahkan, Nak ....”

“Saya Aisyah, Bu. Baru hari ini saya pakai sepeda ke sekolah.” Aku langsung memperkenalkan diri melihat ibu itu melipat kening, penuh tanya.

“Oh, pantas saja Ibu baru lihat kamu.”

Kami pun berpamitan pada ibu Emi pemilik rumah sekaligus tempat aku dan teman-teman menitipkan sepeda. Setelah meletakkan sepeda pada tempat yang telah di sediakan. Lahan kecil sekitar 3 x 3 meter dengan pohon jambu air di tengahnya.

Kami berjalan menuju sekolah, dalam waktu lima menit sampai. Menurut penjelasan teman-temanku sesama bersepeda, mereka bukan tak mau membawa sepedanya sampai di sekolah, meski tempat parkir telah di sediakan oleh pihak sekolah. Kejadian ban bocor atau ada bagian sepeda yang hilang, rusak. Menjadi momok bagi mereka. Entah bagaimana keamanan sekolah ini sampai kejadian seperti itu. Meski sudah ada peringatan keras, tetap saja terulang. Sayang, tak ada kamera pengintai.

Dan bagi mereka, menitip sepeda di rumah ibu Emi aman-aman saja. Tak pernah ada kejadian yang terjadi seperti di sekolah. Ibu Emi negitu ketat menjaga amanahnya. Lihatlah tadi, pekarangannya terkurung gerbang yang tinggi menjulang. Teman-teman juga bilang, ibu Emi hanya tinggal sendiri. Jadi tak mungkin ada anak-anak yang jahil merecoki sepeda kami.

Aku menyakinkan diri supaya tenang, dan tak khawatir dengan sepeda baruku. Semoga selalu terjaga sampai aku pulang sekolah nanti. Begitu doaku tiap kali meletakkan sepedaku di sana.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Peribahasa yang cocok untukku hari itu. Jumat siang waktu pulang sekolah. Jalanan ramai siswa-siswa keluar dari gerbang, layaknya anak ayam yang baru dilepas dari kandang, menyerbu bebas.

Ada yang menghampiri orang tuanya menjemput, ada yang membawa kendaraan sendiri, berlalu ingin cepat sampai rumah masing-masing. Dan ada juga satu-dua yang memilih berjalan kaki, karena jarak yang dekat dari rumah ke sekolah sekaligus supaya bisa saling tukar cerita. Dan diantaranya rombongan kami, berjalan menuju tempat penitipan sepeda, saling bercanda, memadati jalanan.

Aku menenteng sebuah paper bag berisi buku paket pelajaran. Lumayan berat, tapi tak begitu terasa jika sepanjang jalan diselingi candaan teman-teman.

Saat hampir sampai di tempat penitipan sepeda, kami akan menyebrang. Karena memang tempat itu terletak di seberang jalan. Begitu ramainya kami yang ingin menyebrang, sampai-sampai aku merasa ada yang mendorongku dari belakang. Sejurus aku melihat di depan sana ada sebuah motor melaju kencang.

Braak!!

Bagian depan motor itu menubrukku sekuat mungkin. Aku tak sadar lagi apa yang terjadi. Semua gelap.

Beberapa menit kemudian, tubuhku terasa digotong ramai-ramai ke sebuah toko yang terletak di samping rumah tempat aku menitipkan sepeda. Entah siapa saja aku tak melihat jelas. Lalu tubuhku dibaringkan pada sebuah kasur lantai. Ingin rasanya aku langsung berdiri dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Apalah daya, kaki tak kuat untuk berpijak.

“Ya Allah, kasihan sekali kamu. Tega sekali yang menabraknya sampai seperti ini.” Usapan jemari seseorang yang tak kukenal mejalari keningku.

“Ayo, cepat beri minum air putih,” seru yang lainnya.

“Kotak P3K mana?” Beberapa orang lagi terlihat panik, mencari-cari kotak pertolongan pertama.

“Dia nggak pingsan, cuma syok saja.” Suara lembut dari seorang gadis jauh lebih tua dari umurku.

“Bawa ke pukesmas saja,” sahut seorang laki-laki yang juga tak aku kenal.

Aku masih mendengar jelas apa yang mereka bicarakan, namun mulutku kelu tak bisa berucap. Yang kupikir ingin segera berlari mengambil sepeda dan pulang. Aku juga menolak saat seseorang dengan baik hati ingin mengantarku ke puskesmas yang tak begitu jauh dari lokasi kejadian.

“Aku ingin pulang,” ucapku lirih sambil dipapah berdiri.

“Tapi sebaiknya diperiksa dulu ke puskesmas, Nak,” ajak si pemilik toko.

Aku tetap menggeleng lemah, ingin pulang. Lagi pula aku tak merasa sakit di bagian tubuhku. Hanya kaki yang tak bisa untuk berdiri kuat.

Sepedaku masih tergelatak di sana, belum aku ambil. Kejadian itu cepat sekali menimpaku. Entah siapa nanti yang membawa sepedaku. Aku sudah diantar pulang terlebih dahulu mengendarai motor, bonceng tiga. Aku diapit di tengah.

“Ibu ... Ayah ....” gumamku dalam hati.

Tidak ada komentar:

Diksi 18_Ayu

Kenapa Jatuh Cinta? Karena Tuhan yang menghadirkan rasa, meski tidak ditakdirkan bersama. Pertanyaan yang kadang membuat kita bingung ...